
[Nona Aisyah, apakah anda sudah belajar? Aku dengar dari Tuan Hao, anda adalah adik kandung dari mendiang Tuan Muda Wang, atau bisa kami panggil dengan Tuan Chen. Aku sangat tidak sabar ingin bertemu dan berkenalan secara langsung dengan anda.] - pesan dari Dishi.
"Kau tau istriku, aku sangat merindukanmu. Hish, aku tidak boleh merusak fokusmu dalam menggapai cita-cita. Iya, begini jauh lebih baik," Dishi sebenarnya tidak ingin melakukan itu.
"Ayo, cepat balas lah! Kalau bisa ini, aku akan langsung terbang ke sana dan memelukmu tidak akan aku lepaskan. Sayangnya aku belum bisa mendapatkan visa dan ada beberapa masalah, harus nunggu dua bulan, sangat lama sekali__"
Tak lama kemudian, datanglah balasan pesan dari Aisyah.
[Alhamdulillah kabarku sangat baik ketika mendengar kamu baik-baik saja. Apa Ko Feng tidak menceritakan siapa aku, kecuali adiknya dari Tuanmu?] - tanya Aisyah.
Mendapatkan balasan dari sang istri, Dishi langsung membukanya. Rasa ingin langsung membalas memang meningkat. Tapi, ia tunda itu karena tidak mau terlihat begitu semangat mendapatkan balasan pesan dari istri tercintanya.
"Kau istriku, siapa lagi? Hah, ini sangat menyakiti hatiku. Tahan, tahan, tahan," gumamnya.
Seminggu lamanya Aisyah baru bisa memberanikan diri menghubugi Dishi. Keduanya saling berbalas pesan meski terasa asing. Sementara itu, Tama dan Xia semakin merenggang setelah insiden melarikan diri hari itu.
Selama satu minggu itu, Tama dan Xia hanya diam. Apalagi Tama, dia selalu menghindari Xia ketika berada di dalam satu ruangan yang sama. Tak ingin semakin kesalahpahaman semakin berangsur-angsur, sepulang sekolah, Xia pun meminta Tama menjemputnya dan ingin mengatakan sesuatu kepadanya.
"Kenapa dia belum datang? Padahal aku sudah memintanya untuk menjemputku. Aku ingin bicara dengannya. Jika di rumah, aku mana bisa bicara dengannya," gumam Xia masih setia menunggu.
Hampir 2 jam menunggu, Tama belum juga datang menjemput Xia. Masih sabar menunggu, Xia juga rela menahan lapar. Perutnya terus berbunyi dan membuat tenaganya hampir habis.
Sementara itu, Tama baru saja selesai rapat bersama dengan Dishi juga. Kemudian, hendak mengantar Dishi ke rumah sakit untuk memeriksa tubuhnya, apakah ada luka dalam yang tidak di ketahui atau tidaknya.
"Kau yakin bisa mengantarku? Sejak tadi, aku dengar ponselmu terus berdering," tanya Dishi.
"Ini tidak penting, aku akan mengantarmu saja. Ayo, kita segera berangkat," jawab Tama, mengabaikan ponsel yang ada dalam genggamannya.
Kembali ponselnya bergetar. Dishi gemas karena Tama terus mengabaikan telepon tersebut. Terpaksa, Dishi pun merebutnya dari genggaman tangan Tama.
"Dishi!" teriak Tama.
"Apa? Ada telpon tuh diangkat! Apa ini … Xia?" ketus Dishi. "Kau tidak mau mengangkat panggilan Xia? Why? Is there something diantara kalian berdua?" sambungnya.
Tama hanya diam saja. Menunduk, kemudian merebut ponselnya dari tangan Dishi. "Hash, iya, iya. Aku akan jawab panggilan darinya. Bersisik banget dah!" ketusnya.
Panggilan telah berakhir. Melihat ada sesuatu di wajah Tama, Dishi pun menyarankan untuk menyelesaikan masalahnya lebih dulu bersama dengan Xia. Kebetulan taksi lewat dan Dishi pun memanggil taksi.
"Taksi!" teriak pria berusia 27 tahun itu. "Aku pamit dulu, kamu bisa selesaikan masalahmu sekarang. Sampai bertemu di rumah," pamitnya.
"Dishi, aku bisa mengantarmu," ucap Tama tetap menghindari dari Xia.
"Tama, Xia masih kecil. Saat ini memang sedang mencari perhatian siapapun. Kau bisa memberikan nasehat-nasehat yang baik kepadanya supaya bisa berubah menjadi gadis baik, hm? Aku percayakan Xia kepadamu, assalamu'alaikum," ucap Dishi, menepuk-nepuk bahu Tama.
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarokatuh. Hati-hati di jalan__" jawab Tama, menundukkan kepalanya.
"Hah, ini sungguh merepotkan!"
Tama kembali ke parkiran di kantor dan segara menyalakan mobilnya menuju sekolahan Xia. Dengan kecepatan penuh, sekitar 15 menitan, Tama sampai di depan gedung sekolah nan megah di tengah Kota tersebut.
Ternyata benar, Xia masih menunggu kedatangannya dengan duduk termenung sendirian di samping pagar besi gedung sekolah yang sudah tertutup.
"Kenapa dia masih menungguku? Sedangkan untuk bicara saja bisa dikatakan di rumah atau bisa menyusul juga ke kantor," gumam Tama dalam hati.
Langkah kami yang dilalui Tama perlahan demi perlahan sampai juga di depan Xia. Xia yang saat itu sedang berjongkok, menunduk dan menahan lapar, melihat kaki Tama yang bersepatu di depannya langsung melongok ke atas. Memastikan jika pria yang berdiri di hadapannya benar-benar orang yang diharapkan.
"Kak Tama? Kau sudah datang? Apakah aku mengganggu rapatnya? Aku su ... Ah! Kakiku!" Xia berteriak kesakitan karena kakinya mengalami kebas dan kesemutan.
"Apa kau kebas? Sudah berapa lama kau berjongkok seperti ini?" melihat wajah Tama yang seketika terlihat khawatir di mata Xia, membuat gadis berusia 15 tahun itu semakin tersentuh.
"Aku tidak bisa berdiri, bagaimana ini?" Xia merintih lirih.
Tanpa berpikir lagi, Tama langsung menggendong tubuh bongsor Xia. Berjalan dengan tegap menuju ke mobil, membimbing Xia duduk dengan pelan.
"Ada apa dengan jantungku? Kenapa berdegup sangat kencang seperti ini?" gumam Xia dalam hati, menatap wajah manis nan terus Tama kala berdekatan dengan wajahnya.
Cara seluruh pembuluh tubuhnya terasa berdesir, membuat getaran hebat yang semakin mengguncang perasaannya. Xia jatuh cinta kepada Tama, meski Xia belum tahu bahwa dirinya jatuh cinta kepada pria setengah matang itu.
"Terima kasih," ucap Xia lirih.
Tidak menjawab, Tama hanya menatap Xia sekejap dengan tatapan dinginnya itu. Kemudian menutup pintu mobilnya dan masuk ke sisi lain di bagian stir. Kemudian menyalakan mesin mobilnya dan segera berangkat pulang ke rumah.
"Apakah aku benar mengganggumu? Aku minta maaf atas itu, dan terima kasih sudah mau datang menjemputku meski terlambat sedikit," ucap Xia merasa bersalah dan menyesal.
"Apa kamu marah kepadaku, kak?" lanjut Xia.
Tak ada jawaban apapun yang keluar dari mulut Tama. Pengusaha muda itu hanya fokus menyetir, sampai dirinya saja tidak menoleh sedikitpun ke arah Xia. Meski begitu, tak bisa membuat nyali Xia menciut. Dia terus akan berusaha sampai kecanggungan diantara mereka musnah.
Keheningan itu sampai membuat suara perut Xia terdengar jelas. Lapar, dahaga, dan juga pusing sudah menyerang tubuhnya sejak 1 jam yang lalu. Membuat Xia sedikit lemas dan akhirnya tertidur.
"Jika kau lapar, kita bisa me--" ucapan Tama terhenti, kala melihat Xia terpejam. "Apa dia tidur? Bukankah dia lapar?" gumamnya.
Tama mencari tempat untuk memberhentikan mobilnya. Tepat di depan taman kota, di parkiran yang ada, Tama pun berhenti. Mencoba membangunkan Xia, karena takut gadis kecilnya itu pingsan akibat kelaparan. Namun, berulang kali Tama mengguncang tubuh Xia, Xia tak kunjung terbangun juga.
Lalu, apakah Xia benar-benar pingsan?