Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Lin Aurora, Muslim?



"Tuan, kenapa Anda se-marah itu? Kuah panas ini ternyata tidak terlalu panas. Kulitku baik-baik saja, aku pakai lengan panjang juga, 'kan?" ujar Lin dengan nada lembutnya. 


"Aku bukan mengkhawatirkan dirimu. Tapi pelayan ceroboh seperti itu memang harus mendapat teguran. Aku akan pesankan makanan lagi untukmu. Jadi jangan merasa besar kepala, aku tidak membelamu, hanya meluruskan keadilan!" alasan Chen masih bersikap dingin. 


Lin tak bisa berkata apapun lagi. Seperti yang ia ketahui, jika Chen memang seseorang yang susah disenangi. Menerima dengan ikhlas adalah pilihan Lin. Ketika hendak mengambil tisu, tak sengaja Lin menjatuhkan suatu benda yang tak asing bagi Chen. Apa benda itu?


"Ada barang milikmu yang jatuh," kata Chen menunjuk kebawah. "Biar aku ambilkan, tanganmu pasti masih sakit. Sungguh merepotkan!" Chen memungut barang tersebut. 


Barangnya kecil, melingkar seperti cincin. Ada LCD kecil di dalam barang tersebut. "Kamu, seorang muslim?" tanya Chen dengan tatapan mencurigai. Ya, benda itu adalah tasbih digital. Tasbih yang sama yang sellau dibawa Aisyah dan Agam kemana-mana. Bahkan, Asistennya saja saat itu juga sering kali membawanya ke sana-kemari. 


Lin tercengang. Ia juga tidak menyangka jika Chen paham benda apa yang dipegangnya. Segera Lin merebut barang miliknya dan langsung memasukkannya kedalam tas kecilnya. 


"Um, ini hanya mainan saja. Mungkin milik anak didik saya yang tak sengaja saya bawa," jawab Lin memberikan alasan palsu. 


Chen menatapnya penuh ragu. " Apa kau menganggap diriku ini sangat bodoh, Nona Lin?" Aku tau, itu adalah sebuah tasbih digital. Bukan mainan, bagaikan caramu menjelaskan padaku?" ujar Chen, melipat kembali tangannya. 


Masih tak memberi jawaban. Lin hanya menunduk, mulai berkeringat dingin dan jantung berdebat karena takut. Bagaimana mungkin dirinya memiliki sebuah tasbih, jika dirinya bukan seorang muslimah. 


"Nona Lin, kamu memiliki waktu 10 menit untuk menjelaskannya. Jika tidak, aku akan--" 


"Ya, ini sebuah tasbih dan ini milikku!" jawab Lin.


Chen kembali menatap Lin dengan tatapan curiga. Ia mendekatkan diri kepada wajah Lin, memastikan jika Lin sedang tidak membohongi dirinya. "Apa ini sebabnya kamu selalu menolak untuk menghadiri kencan buta? Bukankah Putri seorang Tuan Besar Natt adalah gadis yang angkuh dan sombong?" Chen memprovokasi Lin supaya ia mau jujur kepadanya. 


"Itu bukan saya. Tapi kakak perempuan saya. Sebelumnya, perjodohan ini memang diatur untuk saya. Namun, karena saya tidak mau, maka kakak saya yang selalu datang ke rumah dan menolak jadwal kencan buta itu," jelas LIn. 


"Lalu, tasbih itu?" lanjut Chen.


"Saya menjadi mualaf sekitar 4 tahun lalu. Saya belum bisa mengenakan jilbab, karena pada kenyataannya seluruh keluarga besar saya belum mengetahui jika saya sudah menjadi seorang mualaf, termasuk kakakku. Lin Jian, itu adalah nama kakakku, Tuan," 


"Dalam kepercayaan yang aku ikuti sekarang, seorang muslimah tidak bisa menikah dengan pria yang bukan dari kalangan muslim juga. Kecuali jika pria itu memang mau memeluk agama Islam dan saling berkomitmen," tukas Lin. 


Lin mengatakan, bahwa dirinya menolak perjodohan itu karena keyakinannya sekarang. Rupanya, hal yang membuat Chen marah, bukan perjodohannya. Hanya saja, cara keluarga Tuan Besar Natt lah yang telah membohongi dirinya dengan mempertemukan kakak dari Lin Aurora, Lin Jiang sebagai Lin Aurora. 


"Apa ini? Aku melepas Puspa. Apa dia memang dikirim untukku? Dia seiman dengan keluargaku, apa aku akan menyetujui perjodohan ini? Tapi, itu sama saja aku menerima kekalahan dari Tuan Besar yang sombong itu, bukan?" Chen sedang bergumam dengan hatinya. 


"Jadi, keluarga kalian membohongiku? Dengan mengirim Lin Jiang ke rumah dan mengaku sebagai dirimu? Apakah itu pantas?" sulut Chen. 


"Tuan Muda, saya ti--"


"Panggil aku Chen! Aku muak dengan semua orang yang memanggilku dengan sebutan Tuan Muda, paham?" tegasnya dengan membuang muka. 


Lin Aurora benar-benar menyesal atas tindakannya. Demi membatalkan perjodohan, dirinya juga sering menolak kencan buta tersebut sebelumnya. 


"Astaghfirullah hal'dzim," sebut Chen dengan lirih. 


Seketika, Lin langsung menutup bibirnya. Ia menanyakan mengapa Chen mengucap kata itu dan berani menyebut di depan umum. 


"Lah, memangnya kenapa? Apakah salah? Apa aku salah tempat jika menyebut sebutan itu? Urus saja urusanmu sendiri!" sentak Chen semakin angkuh. 


Tak banyak kata yang mereka katakan saat pertemuan itu. Tapi, ada dorongan tersendiri bagi Chen untuk mengenal lebih jauh siapa Lin Aurora itu. 


"Aku akan hubungi dirimu nanti. Soal perjodohan, hanya aku yang boleh menentukannya," kata Chen merapikan jaketnya. 


Lin geram karena sejak pertemuannya dengan Chen, merasa jika Chen itu semaunya sendiri. Bahkan, Chen juga pergi begitu saja setelah mengucapkan kata selamat tinggal.


"Ah, iya. Ada hal yang ingin aku katakan. Meski kamu menjadi istriku nanti, aku masih mencintai wanita lain. Jadi, jangan sakit hati jika suatu saat aku menyebut nama wanita itu di depanmu, salam!" ujar Chen mengetuk kening Lin sedikit kuat. 


"Aw!" jerit Lin Aurora mengusap-usap keningnya. 


"Hih, aku datang ke sini supaya bisa membuatnya benci padaku dan membatalkan perjodohan itu. Kenapa dia malah mau memikirkannya lagi, sih! Astaghfirullah hal'dzim~" Lin tak menyangka jika usahanya sia-sia. 


Chen meninggalkan tempat dan segera menuju bandara. Bersama dengan Jovan, Jovan menanyakan tentang bagaimana Lin Aurora yang sebenarnya.


"Apakah kau tau, kalau gadis yang waktu itu datang ke rumah, bukanlah Lin Aurora. Melainkan Lin Jiang, kakak perempuannya?" tanya Chen serius. 


"Uh, itu … Aku ti-tidak tau. Iya, tidak tau. Ada apa memangnya? Sejak kapan Tuan Besar Natt punya dua putri?" jawab Jovan gugup. 


Bruak! 


"Brengsek! Kau tau itu sejak awal, kenapa kau tak bilang, Jovan!" bentak Chen menggebrak jok mobil. 


"Astaga, kaget aku Chen. Kenapa juga sifatmu yang lama kembali secepat ini, sih? Driver, lebih cepat lajunya, aku tidak ingin mati mudah bersama dengan pria ini!" perintah Jovan kepada drivernya. 


Chen masih memasang wajah kesal kepada Jovan. "Jovan! Katakan dengan jujur!" gertaknya. 


"Aku tidak tau!" tampik Jovan. 


"Jovan!"


"Chen!"


"Jovan, kau--"


"Diamlah! Baik aku jujur sekarang. Iya aku mengetahui hal itu. Dan sebenarnya Lin Jiang adalah kekasihku," ungkap Jovan, akhirnya jujur. 


Chen menggertakkan gigi, mengepalkan tangannya dan hampir saja memukul sepupunya itu. Namun, hal itu ia urungkan, karena bagaimanapun juga, ia senang tidak terlibat hubungan rumit antara sepupunya dan salah satu putri dari Tuan Besar Natt. 


Chen memang belum melupakan perasaannya terhadap Puspa, wanita yang mampu membuatnya bersikap lembut. Hanya saja, ia harus tetap melanjutkan hidupnya setelah Puspa meninggalkannya. Akankah Chen menerima Lin Aurora sebagai calon istrinya di masa depan? Lalu, bagaimana bisa Lin Aurora seorang muslimah?