Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Cemburunya Chen dan Kelakuan Gwen Kumat



Lima hari lamanya Aisyah di rawat di rumah sakit. Saat ini, Aisyah sudah diperbolehkan pulang dan harus melakukan cek up rutin agar lukanya dapat terpantau dengan baik. Selama itu juga, semua keluarga merawat Aisyah dengan baik. 


Selama lima hari terakhir, Chen dan juga Gwen selalu bergantian menemani saudarinya. Meski ingatan Aisyah belum pulih, namun perlahan ingatan itu mulai terbangun. Hal yang terduga, Aisyah mengingat siapa Asisten Dishi, namun tak mengingat Raza.


Saat itu sedang diperjalanan pulang, Aisyah menanyakan Asisten Dishi kepada Chen. "Kakak, dimana Asisten Dishi?" tanya Aisyah. 


"Apa? Kau ingat dengannya … tapi tidak ingat siapa aku?" sulut Chen. 


"Tapi aku tidak menyangkal kenyataan jika kau kakakku, bukan? Kenapa harus marah?" gumam Aisyah. "Gitu aja lebay banget, marahnya sampai begitu. Tak pantas jika dirinya masih berumur 22 tahun, harusnya 40 tahun." umpatnya. 


"Apa? Kau berani mengumpat tentangku, Ai?" 


Gwen tertawa mendengar jawaban Aisyah itu. Sudah lama tidak melihat Aisyah menjadi dirinya sendiri sejak terakhir duduk di bangku sekolah dasar. Sejak masuk sekolah menengah pertama, Gwen dan Aisyah sekolah di sekolahan yang berbeda. Gwen lebih memilih sekolah di negeri, sedangkan Aisyah memilih sekolah yang dipilihkan Rebecca di swasta. 


"Sial! Dia mengingat Asisten Dishi, tapi tidak denganku? Lihat saja apa yang aku perhitungkan denganmu nanti Asisten sialan!" Chen mulai membual. 


Gwen yakin jika memang ada sesuatu diantara Asisten Dishi dengan saudaranya itu. Tak mungkin jika tidak ada sesuatu, tapi Aisyah bahkan lebih cepat mengingat siapa Asisten Dishi dari pada saudara kandungnya sendiri. 


Sesampainya di rumah, Chen tak henti-hentinya mengomel. Ia masih tak terima jika Aisyah mengingat Asisten Dishi dengan cepat daripada dengannya. "Aku marah padamu Ai, kau lebih menyayangi Asistenku daripada kakakmu sendiri? Kejam sekali dirimu." celetuk Chen merapikan sofa untuk saudarinya itu duduk. 


"Kakak, aku mengingatnya begitu saja. Jangan marah, aku mengingat dirinya karena kami pernah mengunjungi tempat yang bagus saat di Tiongkok. Tolong jangan cemburu dengannya, oke?" jelas Aisyah. 


"Tapi aku kakakmu, Ai …,"


"Kak Chen, sudahlah. Jangan di tekan lagi saudariku ini. Sebaiknya kau hubungi Asistenmu itu untuk segera kemari, siapa tau bisa membantu memulihkan ingatannya," usul Gwen. 


"Tidak! Hanya aku dan Ayah yang boleh menemaninya kemanapun dia pergi." tolak Chen dengan melipat tangannya dan memalingkan muka seperti anak kecil yang tak ingin jajannya diminta anak lain. 


Gwen dan Aisyah kompak melirik ke arah Chen. Mereka juga mengatakan hal yang sama secara bersamaan , "Over protektif, posesif, dan sif sif lainnya." 


Yusuf bahagia melihat putrinya telah kembali. Sekian lama sifat ceria Aisyah yang memudar, kini kembali lagi seperti dahulu. Ada apa dengan Aisyah dulu dan saat itu? Aisyah remaja sampai menjadi seorang dokter memang terkenal ramah, namun senyumnya kurang, rasa humornya juga tak seperti Gwen. 


"Kak, apa kamu tidak bekerja?" tanya Aisyah di saat kakaknya hendak menyuapi dirinya. 


"Kau sudah tanya sebanyak 78 kali dalam lima hari ini. Apakah aku perlu menjawab?" rupanya Chen masih kesal karena Aisyah telah mengingat Asisten Dishi. 


"Sebenarnya, ada apa dengan otakku ini. Aku menjadi sering lupa dan setiap aku hendak mengingatnya, kepalaku sangat sakit …," keluh Aisyah. 


Chen menyentuh kepala saudarinya itu seraya mengusapnya. Meyakinkannya untuk tetap berpikir positif jika dirinya pasti akan sembuh. Sementara itu, Gwen dan Agam sedang pergi ke makam Uminya. Sudah lima hari kepergiaannya, dan malam nanti akan di adakan pengajian tujuh hari kematian sang Umi. 


"Dia sudah berangkat ke Tarim, saya mengirimnya dua hari yang lalu. Waktu belajar sudah dimulai," jawab Agam. "Lalu, bagaimana ke adaan kakak kamu, Dek?" Agam berbalik bertanya. 


"Alhamdulillah sudah jauh lebih baik, ingatannya juga perlahan mulai bisa diingat. Pagi tadi, dia sudah bisa mengingat satu orang lagi. Semoga saja segera dipulihkan ingatannya, aku merindukan sosok kakakku yang galak, Mas," terang Gwen.


"Aamiin, doakan saja yang terbaik. InsyaAllah semua akan kembali seperti semula lagi."


Usai dari makam, mereka berpisah di jalan, sebab sore itu Agam harus ke rumah Kyai yang akan mengisi acara tahlilan malam nanti. Sementara Gwen akan pergi ke toko buku untuk membeli titipan buku yang Aisyah inginkan. 


"Tapi Mas merasa kurang tenang saja jika tidak mengantar kamu sampai ke rumah, Dek. Mas antar saja, ya. Ini juga sudah sore banget," Agam mengkhawatirkan calon istrinya. 


"Justru nanti malah Mas yang akan kehabisan waktu jika mengantarku kesana-kemari. Sowan dalem Kyai juga kan tidak bagus kalau sudah maghrib," 


"Baiklah kalau memang kamu tidak mau saya antar, Dek. Em, hati-hati di jalan, ya. Segera pulang kalau sudah selesai urusannya. Mas pamit dulu, Assallamu'alaikum warahmatullahi wabbarakatuh," pamit Agam. 


"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabbaokatuh, hati-hati ya, Mas."


Perubahan juga tak hanya Aisyah yang mengalaminya. Gwen juga mengalami perubahan yang terlihat jelas. Meski masih semaunya sendiri, namun bersama Agam … Gwen sudah bisa berbicara dengan lebih baik dari sebelumnya. 


Akan tetapi, keusilan Gwen tetap saja masih melekat. Setelah membeli buku untuk Aisyah, diperjalanan pulang ada dua anak laki-laki sedang nongkrong di samping gapura masuk dusunnya. Gwen membuat mereka kaget sampai terjatuh dan salah satu dari anak itu menangis. 


"Kakak kan sudah mau menikah, kenapa masih suka mengganggu kami, huaa …," anak laki-laki itu menangis masih saja bisa protes. "Iya, kakak kan sudah mau menikah. Harusnya baik-baikin kita, dong!" sahut anak laki-laki yang satunya. 


"Tobat, kak, tobat Ya Allah Gusti--" 


Gwen masih saja bisa tertawa mendengar anak itu menyebut asma Allah. Sampai pada akhirnya Airy datang langsung menjewer telinganya. "E buset, siapa ini yang me … hehe apa kabar, cantik." 


"Apa ini? Masih saja membuat keributan dengan anak kecil? Ayo pulang!" 


Airy masih saja menarik telinga Gwen tanpa melihat ada banyak anak-anak dan ibu-ibu yang sore itu sedang berada di depan rumah. Tak sedikit dari mereka juga tertawa melihat Gwen di jewer seperti itu. 


Tak peduli Gwen memohon, Airy tetap tidak melepaskan jewerannya sampai di depan rumahnya. "Malu, ih. Kenapa juga Bi Airy jewer aku dari depan gapura sampai di depan rumah,  sih?" protes Gwen. 


"Emang Bibi pikirin!" seru Airy melepaskan jewerannya dan masuk ke rumah. "Assalamu'alaikum." salam Airy. 


Gwen menggerutu, ia masih saja selalu diperlakukan seperti anak kecil ketika dengan Airy. Sampai pernah Gwen mengatakan jika dirinya hanya 11 12 saja dengan Airy muda dulu. Meski Airy selalu menyangkalnya, namun memang itulah kenyataannya. 


Sore itu, Airy datang membawakan jenang sagu kesukaan Aisyah. Airy sangat menyayangi ketiga keponakannya. Ia juga tak pernah membedakan diantara mereka.