Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Pertemuan Adam dengan Chen.



Malam itu juga, Yusuf meminta Yue dan Rebecca untuk menyelidiki keadaan keluarga Wang. Yusuf menceritakan semua petunjuk yang diberikan oleh Adam dan kedua putrinya tentang anak lelaki yang hadir dalam hidup mereka.


"Mas, boleh aku lihat anaknya seperti apa?" tanya Rebecca.


"Aku belum pernah bertemu dengannya. Yang pernah bertemu dengannya hanya Mas Adam dan juga anak-anak, Re. Bagaimana kalau kamu ke Tiongkok lagi dan selidiki keluarga itu," Yusuf sangat berharap jika anak lelaki itu adalah putranya yang hilang.


Rebecca berkata, jika dirinya tetap bisa ke Tiongkok dalam waktu dekat. Ia masih harus menjalani beberapa pertemuan dengan hakim untuk menyelesaikan pernikahannya dengan Willy. Yusuf hanya perlu bersabar, ia juga berharap dirinya bisa bertemu dengan anak lelaki yang dikira adalah anaknya yang hilang oleh Adam.


Dua hari berlalu, Yusuf semakin tidak tenang karena anak itu tidak muncul lagi di restoran. Bekerja pun membuatnya tidak semangat karena terus saja kepikiran dengan anak lelakinya.


Namun, di suatu tempat, Adam berhasil berjumpa dengan Chen kembali. Saat itu, Adam tengah bersama Airy menikmati masa tuanya dengan jalan-jalan sore di taman kota.


Chen terlihat duduk sendiri di sana, dengan earphone yang menyumpal telinganya. Chen terus belajar bahasa Indonesia agar ia bisa berkumpul dan berkomunikasi dengan keluarga kelak nanti.


"Anak itu?" gumam Adam.


"Siapa, Bi?" tanya Airy mencari-cari sumber pandangan suaminya.


"Kita harus ke sana!" Adam menggandeng tangan Airy mendekat kepada Chen yang saat itu duduk sendirian di bangku taman.


"Permisi, Nak--" sapa Adam menyentuh bahu Chen.


Chen terkejut sampai ponselnya terjatuh. Ia juga rupanya sedang membaca kamus terjemahan juga. Airy membantu Chen memungut buku-buku tersebut dengan mata terus tertuju kepada mata Chen yang pupilnya lebih besar.


"Hey, anak kecil tidak boleh menggunakan soflents. Apalagi seoang lelaki, tidak boleh!" desis Airy dengan tatapan tajam.


"Apa yang dikatakan bibi ini? Sebaiknya aku pergi saja, dia paman yang sama juga. Yang ada, nanti aku malah akan membuat masalah!" batin Chen.


Saat Chen hendak pergi, Adam menahan tangannya dan mengatakan jika dirinya memiliki keperluan dengan Chen. Airy masih bingung mengapa suaminya ingin bicara dengan anak lelaki.


"Lepaskan saya, saya tidak mengenali anda!" desis Chen berusaha meronta.


"Apa kau anaknya Yusuf dan Rebecca yang di culik sembilan tahun lalu? Apa kau ke sini karena mencari orang tuamu?" Adam tidak pernah bisa basi jika mengenai hal segenting itu.


Airy hanya bisa menatap suaminya, kemudian bergantian menatap Chen dengan tatapan bingung. Adam berjanji akan merahasiakan apa yang ingin Chen rahasiakan kepada orang tua kandungnya.


Lagi-lagi, Chen menurut kepada Adam seperti dirinya menuruti perkataan Adam dalam mimpinya dua tahun lalu untuk tidka memakan daging non halal itu. Mereka mencari tempat yang aman untuk Chen mengatakan semuanya.


"Kalian, Paman dan Bibiku?" tanya Chen masih terdengar canggung.


"Iya, istriku adalah kakaknya Ayahmu. Nak, dimana kamu selama ini? Ayah dan Ibumu sampai harus berpisah agar kedua adikmu juga merasakan perpisahan yang menyakitkan ini," ucap Adam membelai rambut Chen.


"Selama ini, mereka mencarimu kemana-mana. Bagaimana cara Cindy merawatmu, Nak?" sahut Airy tak bisa menahan air matanya lagi.


Kembali Airy memeluk Chen dan Chen hanya bisa diam. Selama hidupnya, belum pernah ada seseorang yang memeluknya seperti itu. Chen merasa tersentuh dan tiba-tiba mengeluarkan air matanya.


"Paman, Bibi. Tolong jangan katakan jika aku mencari orang tuaku. Aku belum bisa kembali kepada mereka saat ini," ujar Chen mulai berbicara.


"Aku harus kembali lagi ke keluargaku di Tiongkok. Ada hal yang harus aku selesaikan. Bisakah kalian membantuku?"


Adam dan Airy mengangguk, mereka mengerti apa yang dikatakan Chen meski bahasa Inggris Chen masih terbata-bata. Chen berharap jika Adam dan Airy bisa menyatukan orang tuanya kembali.


"Chen, hanya kamu yang bisa menyatukan orang tuamu kembali. Kenapa harus kita?" ucap Airy.


"Bibi, ketahuilah. Aku sudah bertemu dengan Ibu kandungku ketika dia ke Tiongkok dan menceritakan semua tentang putranya yang hilang," ucap Chen terbata-bata.


"Aku masih marah ketika ibu angkatku, ternyata bukan ibu kandungku. Kemudian, sepupuku mengajukan tes DNA dengan antara aku dan Ibu kandungku, dan aku mengetahui jika Nyonya Lim adalah Ibu kandungku,"


"Lalu, aku sendiri juga melakukan tes DNA dengan Ayah Wang, ternyata aku bukan putranya. Hatiku terluka, Bibi. Belum lagi banyak orang yang beranggapan bahwa aku ini adalah anak haram,"


"Hatiku hancur, orang tua yang membesarkanku, bukan orang tuaku sendiri. Lalu, orang tua kandungku, mereka harus berpisah karena aku di culik. Semua ini didasari oleh ibu angkatku, aku harus memberinya pelajaran terlebih dahulu sebelum aku bisa kembali kepada keluarga kandungku!" tukas Chen penuh dengan amarah.


Chen menunjukkan luka di tangannya yang selalu ia gunakan untuk melampiaskan amarahnya dengan memukul benda tajam di tempat ia latihan bela diri di rumahnya. Hidup Chen di dewasakan oleh keadaan.


Bagaimana tidak, ia harus mampu menanggung luka mengetahui Ibunya yang telah membesarkannya bukanlah orang tua kandungnya. Antara benci dan balas budi. Chen benci karena Cindy ia jadi terpisah oleh keluarga kandungnya.


Akan tetapi, ia juga harus bersyukur. Cindy masih mau merawatnya sampai sekarang. Di tambah lagi, fakta tentang Tuan Wang yang merupakan seorang Mafia besar dan Klan-nya bermusuhan dengan Klan Ibu kandungnya, Rebecca.


Bukan hanya itu. Chen juga merasa, karena dirinya lah orang tuanya berpisah. Kemudian, kedua adiknya juga ikut menderita merasakan sakitnya perpisahan.


"Paman, Bibi. Coba katakan kepadaku, apakah kelahiranku ini … merupakan kesalahan? Ancaman dan hal lainnya? Mengapa semua maslaah bersumber dariku?"


Pernyataan yang hanya membuat Airy dan Adam semakin tergores hatinya. Mereka tidak menyangka jika anak kecil seusia Chen mampu berpikir sejauh itu.


"Kelahiranmu, sangat diharapkan, Nak. Kami, keluarga besar menantikan kau lahir. Kami menjagamu dengan baik ketika kau masih dalam kandungan," jelas Airy.


"Bagaimana mungkin jika kamu ini tidak diinginkan. Kami merindukanmu, pulanglah bersama kami … Chen." ucap Airy mengulurkan tangannya.


Semua itu takdir yang menentukan. Manusia hanya mampu berencana dan berusaha. Ketentuan hanya Allah yang menetapkan.


"Hapus air matamu, Bi. Kau sangat cantik, hatimu juga baik. Aku yakin, kau dengan Paman mampu membantuku untuk membuat orang tua dan kedua adikku bersatu selayaknya keluarga utuh. Bisa?" nada lirih Chen membuat hati Airy teriris.


Dibalik keras dan dinginnya Chen, rupanya hanya Airy yang mampu mencairkan hatinya. Airy mengusap rambut kriwil Chen dan mencubit pipinya yang tembam.


"Bibi boleh minta imbalannya?" tanya Airy.


"Apa itu? Aku tidak punya barang berharga di sini. Jika Bibi mau bersabar, aku akan kirimkan hadiahnya nanti ketika aku kembali ke Tiongkok," jawab Chen polos.


Airy tersenyum memandang Adam. Bukan hal besar yang Airy mau. Ia hanya ingin melihat kornea mata asli Chen dan tanda lahir berbentuk elang di lengannya. Airy ingat betul dengan tanda lahir itu.