
"Ya sudah, sekarang cepat pulang. Nanti keburu istrimu hilang selera," ucap Ibu dari remaja tersebut.
"Haduh, tapi saya malah jadi enak, loh. Di kasih gratisan begini. Mbok ya yang banyak gitu, hehehe," lawak Agam.
"Hoalah, Masnya malah ngelawak. Masnya jauh banget sampai ke sini, jadi tak kasih gratis untuk bumil. Lainnya ya mesti di bayar hehe," tawa bapak dari remaja itu sangat renyah.
Agam segera berpamitan. Tak ingin membuat sang istri menunggunya lama. Sebelum pulang, Agam bertemu dulu dengan beberapa santrinya di jalan dan memberikan sebungkus nasi per orangnya.
Setelah itu, ia memacu gas mobilnya dengan laju kembali ke rumah. Tak di sangka, Gwen ternyata sudah menunggunya di depan rumah.
"Assalamualaikum, Dek. Sudah menunggu to?" salam Agam.
"Wa'alaikumsallam, lama banget sih, Mas? Hampir 3 jam loh ini,"
"Sabar, ya. Mas tak ambil piring dulu. Mas juga beli beberapa paha kecap untuk kamu. Kamu suka, 'kan?" tutur Agam dengan lembut.
Gwen mengangguk semangat melihat menu yang suaminya bawa pulang. Sungguh sangat diberkahi hamil tidak terlalu rewel. Gwen masih bisa makan sepuasnya tanpa harus mual muntah yang berlebihan.
"Assalamu'alaikum," salam Tama, akhirnya sampai juga.
"Wa'alaikumsallam. Mas Tama? Mas Tama beneran datang?" sungguh girangnya Gwen kalau melihat Tama datang.
Saking bahagianya, Gwen sampai meloncat memeluk Tama. Hal itu, rupanya diketahui oleh Syifa yang sengaja berkunjung untuk membuat masalah lagi dengan Gwen.
Pikirannya semakin mengada-ngada tentang Gwen kala berpelukan dengan Tama. "Apa-apaan dah? Dia pelukan dengan pria lain, di depan rumahnya dengan kondisi masih terang begini?" duganya.
"Benar-benar wanita yang tak punya malu!" desis Syifa. "Eh, ini bisa aku jadikan bukti kalau dia--"
Ucapan Syifa berhenti kala melihat Agam keluar dari rumahnya, dengan wajah yang sangat santai. "Lah, kok, Ustadz Agam malah senyum-senyum santai gitu, sih?" lanjutnya heran.
Syifa berjalan perlahan menguping pembicaraan mereka. Di sisi lain, Tama berusaha melepaskan pelukan Gwen dan memintanya untuk segera turun.
"Gwen, ada suamimu, loh! Nggak baik tau begini, lepaskan aku dan segera turun!" perintah Tama.
"Hih, Mas Tama!" kesal Gwen turun dengan segera. "Kita udah biasa begini juga kali. Mas Tama juga tidak mungkin memiliki hasrat juga kan ke aku? Kenapa berubah, sih?" lanjutnya dengan bibir manyun.
"Mari Mas, silahkan duduk dulu. Saya tak ambil minuman buat, Mas," ucap Agam dengan santun.
"Tidak usah repot-repot. Lihatlah apa yang aku bawa. Aku membawa minuman segar untuk kita bertiga, kuy minum dan makan camilan juga yang aku bawa," jawab Tama menunjukkan buah tangannya.
"Alhamdulillah, terima kasih, Mas," ucap Agam menerima buah tangan dari Tama.
Tama menjelaskan kepada Gwen, jika diantara mereka berdua sudah ada jarak yang memang harus dijaga. Meski mereka sepupuan, tetap saja keduanya bukanlah mahramnya.
Memang, sejak kecil sampai sebelum menikah, Gwen selalu mengekor kepada Tama ketika Aisyah sedang tak ingin bersamanya. Diantara sepupu yang lain, hanya Tama yang paling perhatian padanya.
"Ya kan kita udah biasa pelukan," protes Gwen.
"Benar. Aku juga tak mungkin memiliki hasrat dengan adikku sendiri. Tapi, kamu sudah bersuami, sungguh tidak pantas lagi jika kamu memelukku, bahkan sampai meloncat seperti tadi," tutur Tama.
"Mas Agam_" Gwen seolah meminta penjelasan kepada suaminya.
"Bahkan, jika kamu menikah dengan Mas Tama, bisa saja," lanjut Agam.
"Hih, ogah! Dia cukup jadi kakakku saja. Geli banget kalau nikah sama sepupu sendiri," sulut Gwen.
Agam dan Tama pun tertawa mendengar ucapan Gwen. Memang pada dasarnya, keluarga besar Gwen membesarkan penerusnya untuk menjaga perasaan mereka juga. Tak boleh ada yang menikahi antar sepupu, atau masih dalam keluarga besar dengan garis keturunan pemilik Pesantren Darussalam terdahulu. Yakni peranakan dari Ikhsan dan Ruchan Al-Jazeera.
"Apa? Dia sepupunya Gwen?" Syifa mulai bergumam.
"Dih, kenapa Gwen selalu beruntung, sih? Kemarin dia punya kakak ganteng, terus paman juga lumayan meski sudah berumur. Kakak perempuan yang cantik, dan sekarang …?"
"Aku benci hidupmu, Gwen! Kamu jelek dan tidak pantas untuk Ustadz Agam!" umpat Syifa, geram sendiri.
Tak peduli apa yang terjadi, Syifa masih tetap kekeh ingin menjadi dapatkan apa yang dia mau. Menikah dengan Agam adalah keinginan terbesarnya.
"Sejak awal, pernikahan ini direncanakan untuk aku dan Ustadz Agam. Kenapa Gwen hadir main nyelonong gitu saja, dan tiba-tiba menikah dengan Ustadz-ku?"
"Andai saja, empat tahun lalu aku tidak kabur. Pasti, aku sudah hidup bahagia bersama dengan Ustadz Agam,"
"Aku akan merebut kembali, apa yang seharusnya menjadi milikku!"
Gwen dan Agam susah maju dan fokus menata masa depan. Namun, Syifa masih masih saja jalan di tempat dengan argumentasinya serta angan-angan menikah dengan Agam.
Saat hamil, Agam selalu memanjakan Gwen setiap saat. Hadirnya Tama juga menambah rasa senang di hati Gwen sendiri. Setiap pagi, dan hendak tidur, tak lupa Agam juga selalu melantunkan shalawat dengan dihembuskannya napas ke perut Gwen yang masih rata itu.
***
Beralih di kehidupan Chen yang masih termenung dalam sebuah insiden hilangnya kedua orang tuanya. Chen masih terus sibuk mencari keberadaan mereka. Meski hanya Chen yang bergerak, Aisyah dan Gwen juga tidak melupakan kasus hilangnya kedua orang tua mereka.
Triplets ini tak ada hentinya ikhtiar tak putus doa dan terus berusaha agar bisa berkumpul kembali dengan kedua orang tuanya.
"Ayah, Ibu, kalian ada dimana? Apa kalian tidak ingin melihat aku menikah? Atau kalian tidak ingin melihat Ratu dan Putri kita bahagia telah mengikuti jadi seorang istri?"
"Ayah, Ibu, kalian juga akan memiliki cucu lagi. Putri yang nakal kita akan menjadi ibu. Apa kalian tidak mau menyaksikan jalan hidupnya?"
"Rifky, dia masih sangat kecil. Apakah kalian tidak ingin menjadikannya sebagai seorang yang hebat?"
"Ayah, Ibu. Aku juga ingin kalian membimbing diriku menjadi seorang muslim yang benar. Aku bagaikan sendirian saat ini. Aku harus kesana kemari menjaga kebahagiaan tiga adikku sekaligus. Apa kalian tidak menyayangiku?"
Air mata yang terus mengalir membuat matanya lelah. Chen terpejam di kantornya saat bekerja. Sesuai janji, Lin Aurora datang untuk mengatakan hal penting kepada Chen.
"Apa ini? Dia tidur di waktu kerja? Ih, tidak profesional sekali," gumam Lin Aurora dalam hati.
Lin Aurora memastikan lagi, jika Chen benar-benar tertidur. Ia menggibaskan tangannya persis di depan wajah Chen. "Hum, sepertinya dia memang tidur. Aku akan kembali lagi nanti lah." ujarnya.
Saat Lin Aurora hendak pergi, Chen mengigau dan membuat langkah Lin Aurora terhenti sejenak.
"Kembalilah. Ayah, Ibu--" begitu igauan Chen.