
Keesokan harinya, setelah salat subuh, Gwen membantu yang lainnya memasak di dapur. Malam itu, Gwen dan Agam belum tidur dalam satu kamar karena memang keadaan belum memungkinkan untuk mereka bersama.
"Kakakmu mana?" tanya Rebecca kepada Gwen.
"Mereka jalan pagi katanya. Tapi aku nggak boleh ikut," jawab Gwen dengan cemberut.
"Heh, kamu dah ada suami. Ngapain masih mau berkeliaran. Kalau jalan sama suami boleh lah!" cetus Ayyana menyentil kening Gwen.
"Mami, Kak Ay nyentil keningku. Kalau aku bodoh kek mana …?" rengek Gwen seperti anak kecil.
"Ayyana, jangan ganggu bayi yang baru meretas. Kamu ini, usil aja kalau sama adiknya!" tegur Rebecca.
"Halah, dah nikah juga. Lihat aja, kalau kamu begini sifatnya. Mas Adam-mu juga ogah padamu!" goda Ayyana lagi.
"Mami … Jelas saja Mas Adam ogah. Beliau bapakmu! Kalau suamiku kan, Mas Agam, woy!"
Tawa Ayyana begitu receh. Mendengar Gwen mengatakan bapakmu saja sudah membuatnya tertawa terpingkal-pingkal. Berbeda dengan Anthea dan juga Gehna, Ayyana selalu datang ke rumah Rebecca sewaktu-waktu, sebab suaminya hanya ada ketika malam saja dan di siang hari Ayyana selalu berada di tokonya.
"Beuh, masakan apa yang kamu buat? Bukannya kamu nggak bisa masak?" goda Ayyana.
"Nggak usah sok asik, jangan pernah menjadi nada dering dengan orang yang sedang dalam mode senyap," ketus Gwen.
"MasyaAllah, kata-kata dari mana itu ...?" Ayyana tak henti-hentinya mengganggu adiknya yang baru saja belajar memasak.
"Barusan aku lihat di salah satu stori temen," celetuk Gwen jujur saja.
Ayyana kembali tertawa melihat raut wajah adiknya yang terlihat serius saat belajar memasak. Memang Gwen ini tidak bisa memasak, teringat saat dirinya berada di Bangkok beberapa waktu lalu bersama dengan Raza. Ia bahkan menggoreng telur saja masih ada cangkangnya dan itu saja gosong. Menggoreng ikan juga tidak di sembelih dulu, hidup-hidup langsung di masukkan ke minyak panas.
Meninggalkan kesibukan Gwen yang masih belajar memasak, Aisyah ditemani keempat saudara laki-lakinya beserta Asisten Dishi sedang makan bubur di pinggir jalan sembari menikmati pemandangan orang berolah raga di taman Kota.
"Ai, bagaimana buburnya? Aku lihat tadi kau menambahkan sambal dalam buburmu. Apa kau kepedasan?" tanya Chen.
"Hey, Tuan Muda Wang. Aisyah bukan anak kecil yang makan sambal menangis. Lagian dia kan sudah mendingan, ditambah lagi ... kau juga menjadi tangan kanannya, bukan?" sulut Feng.
"Tau nih. Meski Ai tangannya sakit, dia juga kali makan sendiri, nggak usah di suapin juga kek gini," Faaz menepis tangan Chen yang sibuk menyuapi Aisyah.
"Sudahlah, kalian ini apa-apaan. Wajar jika Tuan Muda kita ini posesif kepada adiknya. Mereka baru saja berkumpul. Ayo makan lagi, sudah lama juga aku tidak makan di pinggir jalan seperti ini," sahut Ayden mengusap kepala Aisyah.
"Jangan sentuh adikku!" Chen menepis tangan Ayden.
"Dia juga adikku, Tuan Muda Wang!" Ayden terpancing emosi.
"Dia adik kandungku, Tuan Muda Lee" sulut Chen tak mau kalau. "Kau juga, Tuan Muda Hao!" ketus Chen menunjuk ke arah Feng saat Feng ingin mengatakan sesuatu.
"Dih, kalian punya marga. Kok, aku enggak, sih?" sela Faaz.
"Cukup!" teriak Aisyah menghentikan keempat saudaranya. Seketika saudaranya langsung diam dan tunduk.
"Tak bisakah kalian tidak bertengkar? Dan kenapa kalian bertengkar menggunakan bahasa kalian sendiri, sih? Sebel tau dengernya!"
"Bisa diam nggak? Bisa diam nggak?"
Keempatnya hanya mengangguk pelan. Mereka lahir di tahun yang sama meski di bulan berbeda. Membuat mereka terlihat seperti sahabat, bukan saudara lagi karena memang wajah mereka tidak ada yang mirip.
"Aku mau makan buburnya lagi, suapin aku!" pinta Aisyah.
Semuanya mengarahkan sendoknya kepada Aisyah. Tapi, yang dipilih Aisyah adalah Chen, karena bagaimana pun juga, yang sedarah dengannya adalah Chen.
"Kalian bertiga ngapain ikutan nyuapin? Sendok kalian udah dipakai, aku mau di suapin Kak Chen aja, karena dia mahram aku," sulut Aisyah.
Chen merasa menang, ia bahkan menjulurkan lidahnya kepada ketiga saudara lelakinya itu. Di sebelahnya, Asisten Dishi hanya bisa tersenyum melihat mereka.
Betapa beruntungnya Aisyah memiliki saudara yang perhatian kepadanya. Membuat nyali Asisten Dishi menciut jika dirinya berani jujur menyatakan cinta.
"Penjaganya yang nyata saja sudah ada empat. Belum lagi, Ai memiliki Ayah dan kedua paman yang sangat menyayanginya. Sedangkan aku ...?" gumam Asisten Dishi sedih.
"Ai benar-benar menjadi ratu. Tak salah jika dirinya selalu mengatakan bahwa dirinya adalah ratu dalam keluarganya. Jika dia menikah denganku ... Apakah aku bisa menjadikannya ratu seperti ini?"
Melihat Asisten Dishi terus diam dan berusaha makan sendiri, Feng menghampirinya. Luka yang Asisten Dishi alami, adalah lengan kiri dan tidak terlalu dalam seperti lengan Aisyah. Jadi, sembuhnya akan lebih cepat daripada luka yanga Aisyah miliki.
"Kau melamunkan apa?" tanya Feng.
"Em, bolehkah saya bertanya sesuatu tentang keluarga besar Anda dan Nona Aisyah, Tuan Muda Hao?" tanya Asisten Dishi kembali.
Feng mengangguk, ia juga mengambilkan sebotol air untuk Asisten Dishi. Benar-benar Asisten Dishi diperlakukan seperti keluarga olehnya.
"Kalian lahir di negara yang berbeda, dengan latar keluarga juga berbeda. Tapi, apakah kalian seiman? Maaf, pertanyaan saya sangat sensitif," Asisten Dishi memastikan jika tidak ada keluarga pesantren yang menikah dengan beda keyakinan.
"Aku masuk islam belum lama ini. Faaz sejak kecil islam, Ayden juga sejak kecil memutuskan menjadi islam. Di keluarga kami, menikah dengan beda keyakinan tidak ada. Tapi, seberapa dari keluarga kami, memiliki perbedaan keyakinan sebelumnya, maksud nggak?" jelas Feng.
"Bro, aku kasih saran kepadamu. Jika kamu mencintai seorang wanita dan kalian memiliki perbedaan dalam menyembah Tuhan, jawabannya cuma satu. Kamu tinggalkan Tuhan-mu, atau kamu akan tinggalkan wanita yang kamu cintai itu,"
"Tapi sebelumnya, kamu pelajari dulu keyakinan yang akan kamu ikuti itu. Mencintai Tuhannya, akan mempermudah kamu mendapatkan umat-Nya. Semangat!" Feng meninggalkan Asisten Dishi dan kembali duduk di samping Faaz.
"Sayangnya, sampai saat ini ... aku belum merasakan getaran keyakinan itu. Meski aku seorang agnostik, lalu Tuhan siapa yang akan aku tinggalkan, dan Tuhan siapa yang ingin aku anut?" gumam Asisten Dishi dalam hati.
Chen, Faaz dan Ayden bisa akur, tapi tidak dengan Chen dan Feng yang selalu meributkan apapun. Jangankan tentang Aisyah, tentang warna baju saja, keduanya selalu bertengkar jika bertemu. Namun, semua itu hanya ucapan saja. Keduanya tetap masih selalu peduli satu sama lain.