Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Xia ... oh, Xia



"Oh, gadis ini sedang mengatakan untuk bercerita. Ah, susah dimengerti tapi ya, Alhamdulillah aku paham," batin Tama seraya mengangguk-angguk.


Xia terus menangis sembari memeluk bingkai foto Chen dan Jovan. Keduanya adalah kakak yang baik bagi Xia. "Kak Dishi? Kemana?" tanya Xia kepada Sachi. 


"Dishi? Siapa Dishi?" Sachi belum mengenal betul siapa Dishi. 


"Apakah kamu bisa berbahasa Inggris?" tanya Tama kepada Xia. 


Xia mengangguk pelan sembari menyeka air matanya. 


Tama mengatakan bahwa Dishi masih hilang. Jika meninggal, jenazah yang ada di gedung terbakar itu tidak ada yang teridentifikasi atas dirinya. Sementara itu, masih ada harapan jika Dishi hidup di luar dana. Sebab, pagi tadi orang suruhan Feng menemukan ada bekas tangan di pintu belakang yang di duga itu telapak tangan Dishi. 


"Kita semua masih berusaha untuk mencari Dishi." tukas Tama. 


Xia menghela napas panjang. "Ibuku?" lanjutnya bertanya. 


Sachi menatap Tama, begitu juga dengan Tama yang menatap Sachi. Tama tidak tega hendak mengatakan kenyataan pahit itu. 


"Kakak, ibuku dimana? Ibuku pasti terlibat, bukan? Ibuku dimana?" Xia kembali menangis. Membuat Tama semakin tidak tega ingin mengatakan kebenaran itu. 


Namun, memang sudah seharusnya Xia tahu. Xia juga sudah berusia 15 tahun. Dengan suara lirih, Tama mengatakan jika Cindy meninggal karena berkelahi dengan Aisyah. Xia terkejut mendengarnya. Sebab, Ibunya ternyata tidak meninggal terbakar di dalam gedung tersebut. 


"Ibuku dan Kak Ai, berkelahi? Lalu bagaimana keadaan Kak Ai?" pertanyaan Tama membuat Tama yang terkejut. Bukan menanyakan kondisi terakhir Ibunya, tapi Xia malah mengkhawatirkan keadaan Aisyah. 


Tama menjawab, "Ai dalam keadaan mental yang tidak baik-baik saja. Chen, Lin Aurora, Ibunya, bibi Rebecca, tuan Jovan, tuan dan nyonya Wang serta Gwen pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya. Kemudian, suaminya, Dishi … hilang." 


Sakit yang dirasakan oleh Xia rupanya tidak sebanding dengan apa yang dialami oleh Aisyah. Memang tidak ada yang perlu dibandingkan tentang kehilangan seseorang. Di dunia ini, memang seperti itu adanya. Ada yang datang, ada yang pergi. Itu sudah hukum alam.


Sachi menenangkan Xia sampai seseorang dari pihak lelang datang. 


"Kakak, siapa mereka?" tanya Xia kepada Sachi. 


"Mereka dari balai pelelangan. Pria yang disana, tadi mengatakan bahwa barang-barang yang ads di sini, akan dilelang. Tidak semuanya, hanya barang yang sekiranya memang tidak perlu di simpan," jelas Sachi. 


Xia merasa tidak terima jika barang-barang peninggalan keluarganya akan di lelang. Apalagi, rumah itu juga sudah akan terjual. Xia pun protes kepada Tama. 


"Kakak, ini semua bukan barang milikmu. Kenapa kamu ingin melelangnya?" protesnya. 


Tama yang saat itu masih mengarahkan orang yang datang dari balai lelang pun menghela napas panjang. "Ini semua akan di lelang. Kamu duduklah dengan tenang di sana," 


"Barang-barang disini milik keluarga Wang. Mengapa Kakak dengan seenaknya ingin melelang semua barang-barang yang bukan hak milik kakak?" ketus Xia. 


"Siapa namamu?" tanya Tama.


"Xia," 


"Biarkan kakak menjelaskan sesuatu. Rumah ini memang sudah hampir terjual. Ya, mungkin tidak lama, kira-kira malam nanti ada orang yang mentransfer uang dan ini sudah tidak menjadi milik keluarga Wang lagi," jelas Tama.


"Kakak!" teriak Xia.


"Barang-barang yang lain sudah ada yang dikirim ke Jogja sebagian karena memang penting dan perlu di simpan. Tapi semua yang ada di sini saat ini, akan di lelang malam nanti," lanjut Tama.


Mendengar teriakan Xia, Sachi pun langsung berlari kearahnya. Menanyakan apa yang terjadi kepada Tama dan Xia. "Ada apa?" tanyanya. Tapi, sayang sekali pertanyaan Sachi tidak di jawab oleh Tama maupun Xia. 


"Ini barang milik keluarga Wang! Kakak siapa bisa seenaknya melelang harta kami?" ketus Xia. 


"Um, sayangnya ... memang ini sudah menjadi keputusan tiga keluarga. Keluarga Wang, termasuk Ayah kandungmu, keluarga kandung Kakakmu Chen, dan juga keluarga Lim," lanjut Tama dengan senyum sinisnya. 


"Kakak!" teriakan Xia menandakan jika dirinya tidak setuju. 


Tama juga mengatakan bahwa setelah rumah itu terjual, ayah kandung Xia dan juga ayah kandung Jovan akan meminta harta itu masing-masing 30% dan 40% sisanya milik Aisyah. Keluarga besar Wang sudah sepakat dengan diskusi itu. 


Tak hanya itu saja. Tama juga mengatakan jika harta milik Chen sementara di pegang oleh Aisyah. Setelah Aisyah lebih baik nanti, barulah semua wasiat yang Chen tulis, akan diumumkan. 


Setelah Tama selesai menjelaskan, tiba-tiba saja Xia menangis. Gadis 15 tahun ini memang terlihat seperti gadis umur 19 tahun karena tubuhnya yang bongsor. Meski tinggi dan besar, tetap saja wajah Xia tidak menolak jika dirinya masih berusia 15 tahun. 


"Huaa ... kakak jahat! Jika semuanya di lelang, lalu aku harus tinggal dimana?" rengek Xia. 


"Kamu bisa tinggal bersama kakak, kita akan menjadi teman baik, bagaimana?" Sachi berusaha menenangkan Xia. 


"Kamu bisa kembali ke luar negri. Atau bisa pulang ke ayah kandungmu. Soal pendidikan, kamu tidak perlu khawatir karena Chen sudah menyiapkannya," sahut Tama. 


"Huaaaa ...." tangisan Xia semakin menjadi-jadi.


Sachi pun menegur Tama untuk bersikap lebih lembut dengan anak yang baru beranjak remaja itu. 


"Hey, kenyataan, hidup, dan juga takdir itu memang tidak selalu manis. Jadi, aku mengatakan ini karena__" 


"Huaaa ...," 


Ucapan Tama terhenti di saat Xia menangis dengan kencang. Datanglah Feng yang kembali karena tidak jadi pergi ke club'. Mendengar ada yang menangis dari dalam kediaman Wang, membuat Feng yang baru saja sampai langsung berlari dan melihat apa yang terjadi. 


"Ada apa?" tanya Feng. 


Xia semakin menangis kala melihat Feng datang. Feng tahu berurusan dengan siapa, dia pun pamitan kembali dengan beralasan ada panggilan darurat dari rumah sakit. 


"Feng!" panggil Tama sedikit lega.


"Oh, baiklah. Aku akan segera datang," Feng bersandiwara menerima telpon. "Tama! Kau urus saja baiknya. Aku harus ke rumah sakit, ada panggilan darurat!" teriak Feng sembari berlari. 


"Mampus, aku dewe sik repot. Hoaasss ... astaghfirullah hal'adzim--" Tama mencoba menenangkan dirinya sendiri.


Setelah Feng pergi, Xia masih saja menangis. Tangisannya membuat Tama pusing dan meminta Xia untuk segera diam. "Tolonglah, kau diam dulu. Biarkan semua orang bekerja dengan tenang, barulah kita bicara lagi nanti, oke?" 


"Um, maaf jika saya merepotkan. Bisakah anda mengajaknya ngobrol dulu? Saya harus ... Anda lihat sendiri, bukan? Perkiraan saya sangat banyak," Tama sampai memohon kepada Sachi untuk membantunya bebas dari Xia.


Sachi paham dan dia pun membawa Xia ke kamarnya. "Xia, tunjukkan kamarmu ada di mana. Apakah kamu ingin mendengar kisah lucu dari Tuan muda Chen?" dengan menyebut nama Chen, ternyata mampu membuat Xia jauh lebih baik. 


Langkah Xia sedikit lambat meninggalkan Tama. Matanya sangat tajam menatap Tama, seolah ingin keluar dari tempatnya. Tatapan itu bagi Tama sangat mencurigakan, dia pun segera memalingkan wajahnya dan mulai bekerja kembali.