
Dalam ruang kerjanya, Chen masih sibuk dengan pekerjaan yang ia bawa pulang. Ia kesal dengan Fei yang tidak bisa diandalkan seperti Asisten Dishi.
"Fei ini, aku akan mengirimnya ke departemen saja. Untuk apa dia bekerja di sisiku, kalau aku juga yang harus mengerjakan sendiri!" kesalnya.
Tak lama kemudian, Fei mengetuk pintu ruang kerjanya dengan membawakan Chen kopi dan makanan ringan. "Tuan, saya datang membawakan kopi untuk Anda,"
"Berikan itu kepada Puspa dan minta dia yang mengantarkan kepadaku!" perintah Chen.
"Tapi, Tuan. Ini sa--"
"Lakukan!" bentak Chen sebelum Fei menyelesaikan ucapannya.
Tak memiliki kuasa apapun, Fei akhirnya hanya mengalah dan menjalankan perintah yang diberikan oleh Tuannya. "Baik, Tuan." Dengan wajah kecewanya, Fei berjalan ke kamar yang ditempati oleh Puspa.
Di depan pintu kamar, Fei masih menggertak giginya dengan kekesalannya di tolak oleh pria yang dicintainya.
"Apa istimewanya gadis ini? Kenapa Tuan mau gadis ini yang mengantarkan kopinya?"
Sebelum Fei mengetuk pintu, Puspa sudah membukanya lebih dahulu. Membuatnya terkejut dengan adanya Fei di depan pintu.
"Astaghfirullah hal'adzim. Asisten Fei, kenapa Anda di depan pintu kamar ini?" tanya Puspa mengusap dadanya karena terkejut.
Dengan tatapan datar, Fei memberikan kopi dan camilan itu kepada Puspa. "Ambil ini!" serunya.
"Saya tidak minum kopi hitam, Asisten Fei," sahut Puspa, beranggapan kopi yang dibawa Fei adalah untuknya.
Wajah sinis Fei sangat jelas menunjukkan bahwa dirinya kesal karena cemburu. "Tuan memintamu untuk membawakan ini ke ruang kerjanya, Nona. Berikan dan segera lah! Atau Tuan akan marah," ucapnya masih dengan ketus.
"Ta-tapi apa bedanya Anda dan saya yang memberikan kopi ini? Bukankah itu sama saja, kopi ini juga akan datang padanya?" tanya Puspa.
"Ck, berikan saja! Tuan hanya ingin Nona yang mengantarkan ini. Saya permisi dulu!" cetus Fei meninggalkan Puspa yang masih bingung di depan pintu.
Fei sangat kesal, ia bahkan sampai melukai tangannya sendiri dengan garpu kecil yang ada di tangannya. Cintanya kepada Chen sangat besar hingga membuatnya kehilangan kesadaran diri.
"Aku tidak boleh dari gadis itu. Tuan Chen, hanya milikku! Kami tumbuh bersama, tidak mungkin jika Tuan tidak memiliki perasaan kepadaku, 'kan?" gumamnya.
Di samping itu, dengan terpaksa Puspa mengantarkan kopi beserta cemilan itu ke ruang kerjanya Chen. Sesampainya di depan pintu, ia mendapati pintunya terbuka lebar. Puspa melihat seorang pria yang sangat gila kerja sedang berada di depan laptopnya.
Tak … tak… tak.
Begitu suara ketikan keyboard di laptopnya. Puspa terus mengamati wajah serius Chen ketika bekerja.
"Selama di kantornya, dia begitu antusias semangat dalam kerja. Bahkan bisa profesional dalam memperlakukan aku seperti karyawan juga di sana," gumam Puspa.
"Aisyah benar, dia adalah pria yang bertanggungjawab. Jika aku membimbing dia dalam agama, bukan hanya aku yang mendapatkan pahala. Tuan Chen ini, pasti akan menjadi pria yang arif dan bijak," imbuhnya masih memandang pria berusia 22 tahun itu.
Chen bukanlah CEO dalam perusahaan yang didirikan oleh Ayahnya. Namun, ia selalu bekerja keras untuk membuat perusahaannya maju dan juga ingin membuat lapangan pekerjaan yang sebanyak-banyaknya.
"Puspa, kau kah itu?"
Pertanyaan Chen memecah lamunan Puspa. Dengan senyuman, Puspa masuk dan memberikan kopi beserta camilan itu di mejanya.
"Kopinya, Tuan," ucap Puspa.
"Kalau begitu … biarkan saya aja yang membuatkan kopi baru untuk, Tuan. Bagaimana?" usul Puspa.
"Tidak, aku tidak ingin merepotkanmu. Kau calon nyonya di rumah ini, jadi … aku tidak akan membuatmu terlihat seperti pelayan," jawab Chen dengan tegas.
Chen memencet bel, yang dimana itu adalah cara memanggil pelayan di dapur. Chen meminta Pelayan Mo untuk membuatkan coklat hangat dan kopi untuk dirinya dan juga Puspa.
"Coklat hangat juga untuk Nona Puspa. Antarkan di ruang kerjaku!"
"Baik, Tuan."
Puspa diminta duduk di sampingnya. Ia memperlihatkan bagaimana dirinya bekerja untuk perusahaan milik keluarga Wang.
"Kau duduklah, tidak ada pekerjaan, bukan? Aku akan tunjukkan beberapa desain yang sudah dikirim oleh Gwen dan Aisyah," ucap Chen dengan lembut.
Tak ada cara lain untuk menolak. Puspa menurut saja, meraih bangku di samping sofa, dan duduk tepat di samping Chen.
"Aku belum memberikan keputusan, tapi dia sudah memperlakukan aku seperti Nyonya di rumah ini. Apa dia benar jodoh yang Allah berikan kepadaku?" gumam Puspa dalam hati.
Merasa suasana hati Chen sedang baik, Puspa mengutarakan niatnya untuk berkata jujur kepada Chen tentang perasaannya terhadap Tama. Ia juga akan mengatakan, bahwa dirinya akan tinggal selama 10 hari di kediaman Wang untuk memastikan keputusannya nanti.
"Tuan," panggil Puspa.
"Hm?"
"Saya boleh bicara jujur?"
"Tentang apa? Apa kau sudah memikirkan yang tadi siang?" tanya Chen kembali.
"Bukan itu, Tuan. Tapi …," Ucapan Puspa terhenti, jantungnya mulai berdegup kencang karena gugup.
"Katakan, aku sedang dalam suasana baik. Jadi, baik buruk apa yang akan kamu ungkapkan, aku tidak akan berekspresi berlebihan!" tegas Chen.
Puspa menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya dengan pelan. Kemudian, mulai mengungkapkan isi hatinya. "Saya menyukai Mas Tama, Tuan Chen,"
Tangan yang sebelumnya terus mengetik itu, terhenti kala Puspa mengatakan bahwa dirinya menyukai Tama, sepupunya. "Lantas?" tanya Chen.
"Tapi ternyata … Mas Tama tidak demikian," ungkap Puspa dengan air mata yang mulai berlinang.
"Saya tidak ingin pulang lusa, Tuan. Tapi saya ingin menetap di sini selama 10 hari untuk menentukan apakah saya harus menerima Tuan Chen sebagai suaminya saya, atau saya harus memutuskan untuk mencarikan guru lain untuk Anda," terang Puspa dengan air mata yang mengalir di pipinya.
Awalnya, Chen ingin emosi mendengarnya. Chen bukan orang yang penyabar dan semua harus sesuai apa yang ia inginkan. Namun, sesaat Chen teringat akan ucapan Aisyah beberapa hari lalu, "Wanita baik-baik, tidak akan terus nempel di sampingmu jika belum ada ikatan pernikahan. Jika ada wanita yang seperti itu, maka pertahankan. Buat dia nyaman dan buat dia merasa jika kakak adalah pria yang tepat untuknya.
Chen menghela napas panjang, kemudian melihat ke sisi Puspa yang saat itu tertunduk karena takut Chen akan marah.
"Hapus air matamu. Itu keputusan yang sangat bijak. Jika seperti itu, maka aku juga akan berusaha untuk membuatku layak menjadi masa depanmu, Ulat Ijo." kata Chen dengan memberikan sapu tangan miliknya kepada Puspa.
Mendengar Chen tidak marah, sudah membuat hati Puspa lega seperti di siram air dingin yang mengalir. Puspa tidak menyangka jika Chen menerima keputusannya itu.
"Tapi ingat, aku Chen Yuan Wang. Jika aku masih sombong dan angkuh dalam bersikap. Itu memang sudah dasar dari sikapku, aku sendiri yang akan merubahnya. Bukan karena kamu, paham!" ketus Chen tidak ingin kehilangan muka.
Puspa tertawa mendengarnya. Ia mengangguk dan paham, apa yang dikatakan oleh Chen. Malam itu, Chen bekerja di temani oleh Puspa. Terlihat Fei masih saja mengawasi mereka dari balik pintu. Mengepalkan tangannya dan ingin membuat Puspa pergi dari kediaman Wang secepatnya.