Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Kehamilan Sangat Mantan Putri Mafia Yang Gesrek



KEHAMILAN MANTAN PUTRI MAFIA GESREK


Siang hari, Agam memang membawa Gwen pergi keluar. Ia membawa Gwen ke sebuah  klinik terdekat. "Kenapa kita kesini? Mas sakit, kah?" tanya Gwen bingung. 


"Tidak, tapi kamu yang harus periksa," jawab Agam. 


Gwen menyeritkan alisnya. "Hah? Kenapa? Aku kan sehat!" serunya. 


"Alhamdulillah iya, kamu sehat. Tapi periksa dulu, ya_" ujar Agam membelai kembali kepala sangat istri. 


Pertanyaan-pertanyaan mulai muncul, dugaan aneh juga su'udzon-an Gwen juga mulai berdatangan mengarah ke suaminya. Ia merasa dirinya gila, itu sebabnya suaminya membawanya ke klinik. 


"Wes, angel! Aku gila, kah? Kenapa aku harus periksa kalau aku tidak sakit? Wong aku waras juga!" seru Gwen dalam hati. 


"Nyonya Gwen Kalina Lim!"


Sedang sibuk berperang dengan hatinya, nama Gwen akhirnya di panggil. Agam menggandeng tangannya dan mengajaknya ke dalam ruang periksa. 


Sesampainya di dalam, Gwen bingung kala ia bertemunya dengan dokter kandungan, bukan dokter umum. "Loh, kan dokter kandungan? Kenalan kita ke sini, Mas? Aku ndak hamil loh … apa kamu yang hamil?" celetuk Gwen. 


Agan tersenyum. "Nanti juga tau, kok, siapa yang hamil," jawab Agam masih dengan menggandeng Gwen dan menuntunnya duduk. 


Gwen semakin bingung kala dokter bertanya apa yang dikeluhkan. "Yo nggak tau, wong aku nggak sakit, kok!" cetus Gwen dengan tatapan mencurigai. 


"Hm, baiklah. Ayo, Nyonya Gwen bisa berbaring terlebih dahulu," pinta dokter. 


"Eh, buat apa?" tanya Gwen bingung. 


"Ya diperiksa," jawab dokternya ikutan dengan suara manja. Dokter kandungannya pria. 


"Lah, kan saya sehat. Untuk apa diperiksa? Nggak ah!" tolak Gwen. 


Setelah dibujuk oleh Agam dengan kelembutan, akhirnya Gwen mau juga naik ke tempat periksa. Diperiksa lah Gwen, kebingungannya semakin menjadi-jadi kala Dokter sedikit menekan perut bagian bawahnya. 


"Astaghfirullah hal'adzim, kenapa di tekan? Kan jadinya pengen pipis. Dokter ih!" protes Gwen. 


Setelah beberapa langkah pengecekan, dokter pun kembali ke mejanya. Mencatatkan sebuah resep, dan bertanya kepada Gwen tentang menstruasi. "Kapan Nyonya Gwen terakhir kali menstruasi?" tanyanya. 


"Apa peduli dokter?" ketus Gwen. 


"Eh, kok gitu? Tidak baik tau," tegur Agam. "Ayo, jawab yang benar, kapan kamu terakhir menstruasi?"


"Ya … ya, kapan, ya? Sepertinya sebelum kita ke Korea deh. Kenapa aku jadi lupa, ya?" jawab Gwen juga lupa-lupa ingat. 


"Kapan kalian ke Korea?" tanya Dokter. 


Tatapan Gwen berubah sinis kepada dokter. Gwen mengira jika dokter menyela pembicaraannya dengan suami tercintanya. 


"Ih, dokter apaan, sih! Nggak baik tau nyela omongan orang! Kebiasaan!" ketusnya. 


"Eh?"


Dokter pun di buat bingung. Dengan tenang, Agam mengatakan kapan mereka pergi ke Korea. Sebab, dokter memang mengatakan bahwa Gwen telah mengandung selama dua bulan. 


"Hah?" Gwen ternganga. "Bagaimana bisa hamil dua bulan? Kan dua bulan lalu masih hamil, hanya bilang ini yang belum, tapi terlewat, sih," jelas Gwen dengan protesannya. 


Dokter menjelaskan, bahwa dalam pemeriksaan medis memang akan dihitung dari tanggal terakhir menstruasi. Masih tidak menyangka jika dirinya hamil, Gwen hanya diam dan tenang tidak lagi emosian seperti semalam. 


Di perjalanan pulang saja, Gwen hanya fokus pada pemikiran tentang hamil dan melahirkan. Pemikiran itu bahkan sampai nyasar jauh ke proses kelahiran. Gwen membayangkan waktu melahirkan teriak, teriak dan terus teriak kesakitan. 


"Astaghfirullah hal'adzim," ucap Agam, segera menepi dan menghentikan mobilnya. "Ada apa, Dek?" tanyanya panik. 


"Aku takut," rengek Gwen. "Kalau pas lahiran sakit, nggak? Terus punyaku bakal lebar nggak? Mas nanti bosen pula karena punyaku lebar. Terus aku gendut, nggak cantik, nggak imut dan nggak manis lagi, huaa … Mas jangan tinggalin aku yah, kalau aku berubah jadi emak-emak berdaster sein kiri belok kanan," 


Celotehan Gwen membuat Agam semakin pusing. Agam menarik napas panjang dan berusaha tetap sabar. Teringat, saat Ibunya tengah mengandung Esti adiknya.


"Allaziina aamanuu wa tathma'innu quluubuhum bizikrillaah, alaa bizikrillaahi tathma'innul-quluub," ucap Agam sembari membelai lembut kepala istrinya. Kemudian mengecup keningnya. 


"Doa apa itu?" tanya Gwen sinis. "Apa artinya?" 


Artinya: (Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (Q.S ar-Ra’d: 28 )


"Sayang, usia kehamilan kamu baru memasuki trimester pertama. Masih jauh untuk menuju persalinan. Kenapa kamu panik sendiri?" tegur Agam. 


"Jika kamu merasa takut, ada Mas di sini, ada Allah yang selalu bersama kita, ada keluarga juga yang bisa kamu tanyai. Kenapa harus dibuat panik sendiri?" tuturnya dengan lembut. 


"Kalau aku tak cantik lagi, gimana? Mas pasti ninggalin aku dan cari yang lain," emosi Gwen berubah lagi. 


"Sejak kapan kamu cantik?" goda Agam. 


Gwen semakin merengek, ia tidak terima jika suaminya tidak mengakui kecantikannya yang terpancar seperti lampu sorot panggung. Agam tak henti-hentinya menggoda sangat istri yang kala itu memang sedang panik. 


"Hey, tidak mungkin Mas cari yang lain. Satu saja sudah membuat hidup Mas bercahaya, apalagi dua. Berasa punya cahaya ilahi dong," lawaknya. 


"Mas jahat! Hamilin aku!" kesal Gwen. 


"Lah, kan kamu juga mau. Bukannya terakhir kali kamu yang selalu minta, ya? Kok, sekarang nyalahin Mas, sih?" 


"Tapi kan Mas Agam yang di atas terus. Berarti Mas yang salah, lah!" protes Gwen. 


"Iya, Mas yang salah. Maaf ya, cantik," Agam memeluk Gwen kembali. Berharap emosinya stabil dan tidak bicara yang aneh-aneh lagi. 


Mereka pun melanjutkan perjalanan. Sebelum pulang, Agam juga mengajak Gwen mampir dulu di toko milik Ayyana, karena ada keperluan yang ingin mereka beli. Sekaligus, Gwen ingin mengatakan bahwa dirinya hamil. 


Ayyana, usianya baru 32 tahun. Wajahnya masih terlihat manis dengan mata sipitnya. Meski kedua orang tuanya asli keturunan Jawa, tapi Ayyana mirip dengan Gu, yang memiliki darah Korea. (Pasti kalian ingat sejarah Ayyana dan Anthea) 


Meski dirinya telah menyandang status janda beranak satu, dirinya belum kepikiran lagi mau menikah. Ia hanya akan fokus dengan masa depan anaknya dan juga menemani kedua orang tuanya menjalani masa tua. 


"Assalamu'alaikum, Kak Ay! Adikmu yang paling imut telah datang! Sambut aku!" teriak Gwen. 


Puk! 


Sebuah pukulan kecil mendarat di kening Gwen dari buku yang Ayyana bawa. 


"Sakit," jerit Gwen. 


"Kau perempuan sudah bersuami, kenapa kelakuan masih kek bocah. Datang dengan teriak-teriak seperti itu. Kau ini istri Ustadz, jagalah martabat suamimu," tegur Ayyana. 


"Assalamu'alaikum, Kak Ayyana," salam Agam. 


"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh," 


"Nah gini kan enak. Hanya akan ada 1 teh buat Ustadz Agam. Kau, buat sendiri!" ketus Ayyana. 


Tak hanya kepada Chen saja, Ayyana juga sering menggoda semua adik-adiknya sampai membuat mereka kesal. Meski begitu, semua adik-adiknya selalu menyayanginya. Selalu membantu di kala adik-adiknya mengalami kesulitan.