
Seni bela diri Rebecca nyatanya tak sepenuhnya hilang. Hanya saja, ia baru saja melahirkan dan terluka. Membuat tenaganya tidak berdaya dan sulit menghadapi pukulan dari Tuan Wang.
Situasi terlihat sama seperti puluhan tahun yang lalu, di saat mereka sama-sama memperebutkan kekuasaan. Pukulan demi pukulan, luka demi luka terukir di dalam pertikaian itu.
Sampai dimana Gwen datang dan melerai mereka. Pistol yang kerahkan untuk Rebecca, mengarah ke bahu Gwen. Lalu, belati yang di arahkan untuk Tuan Wang, mengarah ke bahu sisi lain Gwen hingga….
Dor!
Satt…
Tembakan dan sayatan itu melukai kedua bahu Gwen yang saat itu kesehatan Gwen sedang tidak baik-baik saja.
"Gwen!" teriak Tuan Wang dan Gwen bersamaan.
"Kalian kenapa … kenapa mengacaukan usahaku menikahkan kakakku?" ucap Gwen mulai lemas, terkulai ke tanah.
Tuan Wang langsung menangkap tubuh Gwen. Tak ingin terjadi apapun dengan janin yang dikandung Gwen, Tuan Wang segera menutupi luka calon ibu itu menggunakan sobekan kemejanya.
Wrekkkkk
Suara sobekan baju itu jelas terdengar. Rebecca tak mengerti dengan hati Tuan Wang. Benar Tuan Wang sangat membenci dirinya. Akan tetapi, Rebecca tidak menyangka jika Tuan Wang sesayang itu kepada Gwen.
"Kita harus segara membawanya ke rumah sakit. Kau segera kabari keluarga yang lain, jelaskan kepada mereka. Pasti mereka mendengar suara tembakan baru saja," pinta Tuan Wang, wajah nya sangat panik. Segera ia memanggil Jovan dan memintanya membawa ke rumah sakit terdekat.
Jovan pernah datang ke sana, jadi ia tahu dimana rumah sakit terdekat. Sebab, ia pernah di ajak jalan-jalan oleh Ayyana, kakak sepupu Chen.
"Paman, sebentar lagi kita akan sampai ke rumah sakit. Tolong tutupi terus luka Nona Gwen, dia sedang hamil. Takutnya--"
Plak!
Tuan Wang memukul bahu Jovan.
"Jangan bicara sembarangan! Fokus menyetir dan jangan mengguruiku!" tegas Tuan Wang.
Gwen masih setengah sadar. Ia melihat betapa khawatirnya seorang Tuan Wang kepadanya. Hati Tuan Wang memang keras, namun ia hanya luluh kepada kekasihnya di masa lalu. Dan kini, Tuan Wang juga mampu di luluhkan hatinya oleh ketiga anak dari pembunuh kekasihnya di masa lalu.
Setelah mendapat penanganan, Tuan Wang dan Jovan masih menunggu dengan cemas. Sementara di pesantren, Chen sudah mendengar suara pelepasan peluru itu, dan langsung menghadang Rebecca ketika Rebecca masuk.
"Ibu, apa Ibu memang tidak mau mendengarkan aku?" tanya Chen.
"Sayang, kamu dan Tuan Wang kenapa harus berkelahi. Dimana Tuan Wang sekarang?" sahut Yusuf.
Chen tak sengaja melihat belati Rebecca yang ada darahnya. Langsung ia menanyakan dimana Tuan Wang dan siapa yang terluka.
"Darah?"
Mendengar ucapan Chen, semuanya menjadi melihat ke tangan Rebecca. "Ibu, itu darah siapa? Apa kau terluka?" Chan begitu khawatir dengan Ibunya.
Meski Chen tidak di besarkan olehnya, tetap saja Chen adalah anaknya. Chen begitu tulis kepada Rebecca, namun Rebecca malah mengecewakannya.
"Ini, ini, darahnya ... Gwen," ungkap Rebecca dengan sedikit suara bergetar.
Semuanya syok, Agam yang baru saja duduk itu pun kembali berdiri dan langsung menanyakan dimana istrinya. "Ibu, dimana Gwen sekarang?" tanyanya.
"Dia dibawa ke rumah sakit oleh Tuan Wang dan Jovan," jawab Rebecca.
Semua menjadi panik, tapi Chen berhasil membuat semuanya tenang. Kemudian ia meminta Yusuf, Agam dan hanya Rebecca yang datang.
"Ini urusan harus diselesaikan. Dan yang memiliki urusan belum selesai ini adalah Ibu. Jadi, Ayah sebagai pawang Ibu, harus mendampinginya. Agam sebagai suami Gwen, harus menemaninya, paham?" tegas Chen.
Apa yang dikatakan Chen memang ada benarnya. Segera Agam, Yusuf dan Rebecca ke rumah sakit. Sebelumnya, Jovan sudah mengirim alamat rumah sakitnya kepasa Chen.
Di sisi lain, Chen merasa kesal dengan Tuan Natt. Jika semuanya bukan karenanya, sejarah tidak akan pernah ada yang namanya pertikaian antara tiga keluarga itu. Keluarga Lim, Wang dan juga Hao.
"Ayahmu telah membuat seluruh keluargaku kacau, Lin Aurora. Di dalam tiga keluarga itu, adalah keluargaku semua. Lihatlah, bagaimana caraku untuk membuat pelajaran kepada kalian semua," ucap Chen dalam hati.
Usai akad, Raihan dan Adam masih belum memperbolehkan mereka tinggal dalam satu kamar. Sebab, bagi kedua ustadz itu, mereka boleh melakukan kewajibannya setelah mendaftarkan pernikahan mereka secara resmi.
"Aku sudah besar dan aku tau batasan. Aku akan tetap membawa Lin Aurora ke kamarku," Chen mulai keras kepala.
"Tapi, Chen--"
"Paman Adam dan Paman Rai jangan risau. Aku pria berakhlah, punya etika juga. Lusa aku akan memawa Lin Aurora pulang. Setelah itu, kami akan mendaftarkan pernikahan kami. Resepsi, kami akan mengikuti keputusan keluarga," Chen mengatakan itu dengan raut datar. Aura dingin menyelimuti dirinya.
Raihan dan Adam tak lagi bisa mengatakan hal lain. Memang itu adalah urusan Chen sendiri. Jika nasihat mereka di terima, mereka akan senang dan jika di tolak, merek juga tidak akan merugi.
Malam itu, suasananya menjadi sedikit lebih tegang. Pasalnya, memang kesalahan Tuan Wang dan Rebecca sangat fatal. Di acara begitu, mereka malah mengeluarkan emosi dan dendam pribadinya.
Di rumah sakit.
Agam melihat Tuan Wang masih mondar-mandir di depan UGD. "Tuan Wang, bagaimana ...," tanya Agam khawatir.
"Putriku masih ada di dalam. Aku benar-benar bodoh telah melukainya. Pasti dia kesakitan sekali. Kamu, jangan beritahu Aisyah tentang ini, ya. Dia sedang bahagia bersama suaminya, aku tidak ingin putriku yang satunya lagi merasa terbebani pikirannya," jawab Tuan Wang panjang kali lebar.
Di samping Agam, Yusuf malah bingung sendiri dengan Tuan Wang yang sangat perhatian kepada putrinya, dan malah memilih bermusuhan dengan istrinya.
"Sayang, aku Ayah kandung Gwen, 'kan?" bisik Yusuf.
"Iya," jawab Rebecca.
"Aku yang mendidik, membesarkan dan selalu memanjakannya dari usia sembilan tahun sampai mau menikah, 'kan?" lanjut Yusuf.
"Iya,"
"Aku juga yang jadi wali nikahnya, bukan?"
"Iya,"
"Kenapa si Tuan Wang ini malah yang memberikan perhatian lebih pada putriku. Bahkan, ia juga begitu perhatian kepada Aisyahku. Apakah aku sudah harus pensiun?" imbuh Yusuf masih saja berbisik.
Rebecca menepuk keningnya. Kemudian menjelaskan jika Tuan Wang sangat menyayangi Chen, sampai apa yang Chen sayangi, pasti Tuan Wang akan menyayanginya juga.
"Hadeh, kalau seperti itu, aku memang harus pensiun jadi ayah si kembar, nih? Sayang sekali, aku tidak mau, ah!" Yusuf merajuk.
"Ayah, jangan seperti ini. Tuan Wang tidak memiliki anak. Si kembar juga sudah pada dewasa, jadi biarkan saja. Yang penting, Rifky tetap sepenuhnya milik kita," bisik Rebecca.
"Siapa bilang? Rifky adalah adiknya Chen, jadi adiknya Chen juga harus menjadi milikku. Apa kalian keberatan? Ingat Nona Lim lah yang membuatku tidak bisa memiliki keturunan," sahut Tuan Wang.
"Jadi, meskipun kau memiliki sepuluh anak sekalipun, mereka akan menjadi hakku juga, paham!" ketus Tuan Wang memalingkan wajahnya.
Suasana tegang malah menjadi sedikit mengherankan bagi Agam dan Jovan. Mereka sama-sama tidak paham dengan jalan pikiran Tuan Wang dan Rebecca yang masih salin bermusuhan, tapi selalu rebutan anak untuk mengakui mereka satu sama lain sebagai orang tuanya.