
"Nona, saya bisa menemani anda sampai pagi. Tapi, apakah kita harus …."
Ucapan terhenti kala Yu Liu tiba-tiba mencium pipinya. Feng menggenggam erat celananya. Demi sepupunya, dia rela melakukan itu. Ide dari Tama, ternyata bukan hanya di situ saja. Tama mengajak Dishi keluar tepat petang hari karena waktu itu sangat cocok untuk mereka melarikan diri.
"Xia, kamu tetap bawa belati dan peluit ini. Jangan jauh-jauh dariku, dan jangan pernah melakukan tindakan yang merugikan dirimu sendiri. Apa kamu paham, dengan apa yang aku maksud?"
Tama memberi arahan kepada Xia untuk menjalankan misi melarikan dirinya. Jika Tama membawa Dishi, maka Xia akan lebih dulu pergi dan segera menunggu di mobil saja.
"Tapi, bagaimana jika aku tertangkap? Rubah wanita itu, pasti juga menyadari bahwa kita memiliki rencana melarikan diri ini. Aku tidak yakin jika dia se-polos itu," ujar Xia.
"Yakinkan dirimu, dan percaya kepada dirimu sendiri. Kamu pasti bisa, segera pergi dan aku akan akan menyusulmu membawa Dishi," bisik Tama.
"Lalu, Kak Feng?" lanjut Xia.
"Dia orang yang bisa diandalkan. Pasti akan melakukan yang terbaik untuk kita. Kita berempat pasti akan pulang segera, hm?" Tama meyakinkan Xia sekali lagi.
Perasaan Xia sudah tidak enak ketika ide itu di sepakati. Xia menduga, pasti Yu Liu akan mengirim orang untuk mencari darah perawan. Dan naasnya, hanya Xia yang masih perawan di desa itu.
Tama sudah mulai beraksi membawa Dishi keluar dari kediaman Yu. Sementara itu, Xia malah tidak sengaja melihat pelayan Yu Liu sedang bicara berdua di halaman samping kediaman Yu.
"Nona memerintahkan kita untuk membunuh gadis itu. Bagaimana ini? Apakah kita akan melakukannya?" tanya salah satu dari pelayan tersebut.
Mendengar kabar buruk itu, membuat Xia terkejut sampat matanya terbelalak. Kembali salah satu pelayan itu mengatakan jika memang tidak ada perawan lain yang ada di desa tersebut. Di mana para gadis merelakan keperawanannya hanya untuk menyelamatkan diri dari kekejaman Yu Liu.
"Mereka mengincarku? Aku akan mati di desa ini?" gumam Xia dalam hati.
Tak terasa, air matanya mulai mengalir di pipinya. Awalnya ketika mendengar jika keluarga Wang dan kakak tercintanya meninggal, Xia memang ingin ikut mereka pergi. Namun, selama satu bulan dirinya hidup dibawah asuhan Tama dan Feng, barulah Xia menyadari jika hidup itu memang sangat berarti.
"Aku harus bagaimana? Wanita itu sangat kejam. Aku bukan ahli bela diri, aku hanya ahli racun. Bagaimana cara melindungi diriku sendiri?" Xia panik sendiri.
Kakinya berjalan mundur perlahan dan tidak sengaja menyenggol pot bunga yang ada di sisinya. Suara pecahan pot bunga yang di senggol Xia membuat dua pelayan Yu Liu terkejut.
"Siapa di sana?" teriak salah satu dari pelayan tersebut.
Xia semakin bingung karena dirinya belum tahu seluk beluk rumah kediaman kuno tersebut. Langkah kaki dua pelayan itu semakin mendekat dan Xia malah kakinya kaku tak bisa kabur.
Tiba-tiba saja, ada tangan yang menarik lengannya dan satu tangannya membekap mulut Xia. Membawanya sembunyi dari dua pelayan yang hendak membunuhnya itu. Awalnya Xia meronta karena dinilai orang tersebut akan membunuhnya. Namun, Xia menjadi menangis kala melihat siapa yang telah menyelamatkan nyawanya itu.
"Kak Tama?" gumamnya dalam hati.
"Kita sudah aman, ayo segera pergi!" tangan yang sebelumnya untuk membekap mulut Xia, Tama gunakan untuk menarik tangan gadis berusia 15 tahun itu, supaya segera meninggalkan tempat mengerikan tersebut.
Namun, Xia malah menahannya. Dirinya masih kepikiran karena nantinya akan menjadi korban dari Yu Liu berikutnya. Dengan gilanya, Xia tiba-tiba mencium bibi Tama dan membuat Tama terkejut.
"Hei, apa-apaan kamu!" Tama reflek melepaskan genggaman tangannya dan mendorong Xia.
Xia yang gugup, langsung melepas pakaian atasnya dan meninggalkan dalaman atas saja. Tama langsung memalingkan pandangannya dan bahkan membelakangi Xia. "Kamu ini kenapa?" lanjut Tama lagi."Apa kau sudah tidak waras?"
"Tidak ada cara lain lagi, Kak Tama. Ayo, kita melakukan itu, aku mohon--" Xia memutar balik tubu Tama dan memohon supaya Tama mau membantunya.
"Xia, kamu jangan aneh-aneh. Ini sudah mau malam, jangan memancingku seperti ini!" tegas Tama, kembali memalingkan pandangannya.
"Wanita jahat itu menginginkan darah perawan. Aku dengar dari dua pelayan tadi, jika sudah tidak ada lagi gadis perawan di desa ini. Hanya aku yang bisa mereka korbankan. Kak, aku tidak mau mati konyol seperti itu. Tolong, kau bisa lakukan itu denganku, aku mohon selamatkan hidupku ...." Xia sampai bersimpuh dan menyatukan kedua tangannya memohon kepada Tama.
Tama bingung sendiri. Tak mungkin baginya menodai seorang wanita, karena ibunya juga seorang wanita. Tama memang lelaki modern yang memang hidup sesuai zamannya. Tapi soal iman, dia juga sudah berjanji kepada Penciptanya untuk tidak melakukan hal yang dibenci oleh Sang Pencipta.
"Bangun, Xia. Berdirilah dan pakai pakaianmu. Aku bisa melindungi kamu dengan cara lain. Maaf, tapi aku tidak bisa melakukan ini," kata Tama membantu Xia berdiri.
"Kak, aku rela memberikannya padamu. Tapi aku tidak mau mati konyol di sini dengan di minum darahku oleh siluman rubah itu, aku mohon--" lagi-lagi Xia memohon.
"Astaghfirullah hal'adzim, kuatkan hambamu ini ya Allah. Situasi apa ini, Ayah, Ibu, tolong aku," batin Tama mulai tertekan.
Suara langkah kaki beberapa orang terdengar mendekat ke ruangan tempat keduanya sembunyi. Tanpa memakai pakaiannya kembali, Tama langsung menarik tangan Xia untuk menghindari para pelayan itu.
Genggaman tangan Tama begitu kuat, sehingga membuat Xia merasakan ada sesuatu pada perasaanya. Jika Tama memandang Xia sama bagaikan seorang adik, Xia malah sebaliknya.
Langkah kaki Tama semakin cepat membawa Xia keluar. Sebelumnya, Dishi sudah lebih dulu ke luar dari kediaman itu karena memang harus menyiapkan mobil sampai ke dalam. Apapun yang terjadi, Tama, Feng, Dishi dan Xia harus keluar dari desa tersebut.
Di saat Tama dan Xia berlari, mereka ketahuan oleh pelayan yang sebelumnya memang mencari Xia untuk dijadikan korban awet muda Yu Liu selanjutnya.
"Hei, berhenti!" teriak pelayan tersebut.
"Bagaimana ini, kak. Mereka melihat kita. Sekali celup saja bagaimana, kak? Bukankah itu juga nantinya sudah membuatku tidak perawan lagi?" Xia masih sempat-sempatnya mikir hal negatif itu lagi.
"Dalam mimpimu!" ketus Tama dengan tatapan wajah datarnya.
Segera Tama menarik tangan Xia kembali dan mempercepat larinya menuju pintu utama kediaman Yu.