Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Pengertian Nikah Siri



Hari demi hari terlewati. Urusan Aisyah dan Asisten Dishi di Australia juga hampir selesai. Setelah melaksanakan kencan buta, Chen juga ikut serta dalam pencarian kedua orang tuanya. Luka di kaki Leo juga berangsur-angsur membaik. Ia sudah kembali ke Korea lebih dulu. 


Hampir satu minggu, Yusuf dan Rebecca belum juga ditemukan keberadaannya. Malam sebelum kembali ke Jogja, Aisyah dan Asisten Dishi mengungkapkan keinginannya untuk menikah secara agama terlebih dahulu. 


Awalnya, Chen menolak mentah-mentah karena kedua orang tuanya belum kembali, Aisyah malah ingin menikah. Hal itu, perlu melibatkan Rifky, Rafa dan juga Adam untuk memutuskannya. 


Pada akhirnya, mereka mendapat hari baik, untuk melakukan ijab qobul di pesantren dengan di saksikan para santri saja. "Kembali bersamaku ke Jogja, kak. Aku masih membutuhkanmu sebagai wali nikahku," ucap Aisyah. 


Pandangan Chen masih tidak terima jika Aisyah harus menikah lebih dulu. Tapi, setelah ia pikir kembali. Memang ada benarnya jika Asisten Dishi menikahinya saat itu. Dengan menikah segara agama terlebih dahulu, maka ia bisa melindungi Aisyah tanpa halangan lagi. 


"Hum, baiklah. Ayo, kita pulang ke Jogja," akhirnya Chen patuh.


Mereka membawa Rifky sekalian ke Jogja. Tak ada yang merawatnya jika tetap di Australia. Meski Aisyah juga tidak bisa membawa Rifky ke Korea, namun keluarga lain yang di pesantren siap mengurus Rifky sampai Yusuf dan Rebecca kembali. 


*********


Sebelum kedua saudara dan saudari kembarnya datang, Gwen tengah berbincang dengan suaminya di ruang tamu sembari menonton televisi. 


"Mas, beri aku pencerahan tengah nikah siri dong," ujar Gwen sibuk memakan kacang mete nya. 


Nikah siri adalah bentuk pernikahan yang dilakukan di bawah tangan berdasarkan ajaran agama atau adat istiadat dan tanpa pengakuan resmi dari hukum negara karena memang tidak tercatat di Lembaga Milik Negara/KUA.


Hukum nikah siri dalam Agama berbagai macam ulama berpendapat suatu pernikahan yang sah jika rukun syarat pernikahan tertunaikan atau terpenuhi, yaitu, hadirnya calon pengantin laki-laki dan perempuan, hadirnya dua orang saksi, adanya maskawin atau mahar, adanya ijab dan qobul. Jika semuanya terpenuhi, maka nikah siri sendiri sah secara agama.


"Kenapa Kak Aisyah memilih nikah siri dulu, ya? Kenapa nggak langsung menikah tercatat saja di negara? Kan resepsi bisa nyusul," celetuk Gwen polos. 


"MasyaAllah, itu jauh lebih bagus. Mereka berdua memiliki seorang putra," 


"Tapi tidak kandung, Mas Agam …," sela Gwen. 


"Iya semua orang tau itu. Tapi, kakak Aisyah ini kan paham agama. Ditambah lagi, Asisten Dishi juga sekarang telah menjadi sedang muslim, mereka tau fara menghindari zina, sayangku," tutur Agam menyentil hidung istrinya. 


Zina itu seperti candu. Jika seorang sudah ketagihan, maka akan selalu ketagihan dan ketagihan. Zina itu salah satu dosa besar, tidak hanya nikmat tetapi merusak badan, jiwa, batin, menimbulkan kegelisahan, menyempitkan rejeki, dan lain-lain.


وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا


Maknanya : “Dan Tidaklah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu Perilaku yang keji dan jalan yg buruk.”(QS Al Isra; 32)


Rasulullah SAW bersabda: “Nikah itu sunnahku, barangsiapa yang tidak suka, bukan termasuk golonganku!” (HR. Ibnu Majah, dari Aisyah r.a)


Gwen mengangguk-angguk seperti sudah paham saja. Sampai ia bertanya, "Apa mereka boleh anuu … Itu, setelah menikah siri?" 


Pertanyaan yang sangat meresahkan. Antara Gwen hanya pura-pura tidak tahu, atau memang polos tidak mengetahui ilmu tersebut. Di sisi lain, Gwen memang sedang memancing hasrat suaminya untuk melakukan hubungan intim. 


"Kok tanya begitu, sih? Mas yakin kalau mereka menikah tujuannya untuk saling melindungi. Ayah dan Ibu kan belum kembali, jangan mikir yang aneh-aneh, deh!" seru Agam. 


"Ya, boleh. Tapi sebaiknya jangan dulu, tidur bareng boleh. Tapi sebaiknya kalau mau itu, yang ditunda sampai pernikahan mereka terdaftar kembali ke KUA," jelas Agam mendorong pipi istrinya yang saat itu benar-benar dekat sekali. 


"Apa mereka juga nanti akan menikah ulang jika di KUA?" tanya Gwen lagi. 


"Bukan menikah ulang, tapi ijab qobul ulang. Biar lebih afdol," jawab Agam. 


"Lah, buat apa mereka nikah sekarang kalau ujung-ujungnya nggak boleh anuu dan harus menikah lagi?" protes Gwen. 


Nikah siri menjadi haram, jika upacara 'sakral' tersebut hanya dijadikan alasan untuk menghalalkan hubungan biologis. Mencari kepuasan hasrat ****, tanpa ada niat membangun mahligai rumah tangga.


"Katakanlah kepada laki-laki mukmin, hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara ***********." Al-Quran surah An-Nur ayat 30.


Sebaliknya, Islam membenarkan pelaksanaan nikah siri jika dilakukan sebagai perantara terlaksananya pernikahan resmi, berdasarkan peraturan pemerintah.


"Oh, paham daku. Baiklah, ayo kita lakukan itu!" ajak Gwen menggandeng lengan suaminya. 


"Dek, apa maksudnya?"  tanya Agam tersipu. 


"Hey, kita harus lembur Mas. Nggak ingat dokter bilang apa? Ikhtiar kita hanya kurang di itu aja. Mas sih, sok sibuk. An--" ucapan Gwen terhenti kala suaminya mencium pipinya dengan belaian lembut tangannya di pipi sebelahnya. 


"Sttt, jangan sampai setan mendengar apa yang kita bahas ini. Jika mau, ayo salat isya' dulu. Besok juga harus bangun pagi, mau menyambut kedua kakak kamu kan, Dek?" ujar Agam.


Hubungan mereka kian romantis meski sudah sudah hampir menikah selama setengah tahun dan belum mendapatkan momongan. Belum lagi, keduanya juga sangat mencintai satu sama lain. Gwen yang sebelumnya kesal karena Agam tidak memberitahu apakah Kakaknya akan melakukan hubungan setelah ijab qobul, malah menjadi romantis sendiri dengan memeluk sangat suami sembari berbisik, "Tangkap aku jika bisa!"


Gwen melepaskan pelukannya, dan berlari menuju kamar. Mereka saling kejar-kejaran bak serial India dengan lagu yang sangat familiar. Berhasil mengejar sang istri, Agam menahan tangan Gwen saat Gwen hendak bersembunyi di belakang pintu kamar.


"Eits, mau kemana?" tanya Agam dengan suara lembutnya. Disudutkan lah tubuh Gwen di pinggir pintu, tangan kanan Agam menyentuh dinding, tangan kirinya mendongakkan wajah manis Gwen yang masih terlihat menawan. 


"Pengen," bisik Gwen menyapu bibir suaminya dengan lembut. 


"Di sini? Nggak boleh tau!" tutur Agam.


"Kalau bisa, kenapa enggak?" jawab Gwen menggoda seraya menyapu leher suaminya dengan sedikit menggunakan hasrat yang sudah tak tertahan. 


"Jangan di sini, nggak boleh. Kita manusia harus punya adab. Kita ke sana, bagaimana?" ucap Agam berbisik. Pipinya memerah dan tangannya menjadi berkeringat. 


Tanpa menunda waktu lagi, Agam menggendong tubuh istrinya ke ranjang. Perlahan demi perlahan, mereka beradu dalam selimut, keringat demi keringat menetes hingga membuat selimutnya basah. Kali ini, mereka sama-sama menikmati permainan itu. 


Hingga waktu bergulir sampai setengah jam, mereka juga belum usai. Semakin berkeringat, semakin mereka merasa baik, sampailah mereka di suatu puncak pendakian. Keinginannya memiliki seorang anak juga di sematkan di setiap doa kala mereka berhubungan.


Mantap rada detail.