
Sesampainya di rumah penyuluhan, Aisyah dan Feng menerima tugas di pelosok desa di kota Bangkok. Di mana desa itu jauh akan perkotaan dan orang di sana masih kental dengan hal mistis.
"Ko, serius ini? Desa ini sangat jauh dari kota, apakah kita akan sanggup?" bisik Aisyah.
"Syah, tenang saja. Hanya seminggu, bukan? Lagipula, kita juga berempat dengan perawat. Berdoa saja supaya Allah menjaga kita di sana," jawab Feng dengan tenang.
"Mualaf, Ko?" tanya Aisyah heran, karena sebelumnya Feng adalah seorang agnostik. Ia mempercayai adanya Tuhan, namun tidak menganut agama manapun, dikarenakan tuntutan keluarga yang masih gandeng di nama belakangnya.
Feng menceritakan kisah hijrahnya kepada saudari galaknya itu. Ia mengatakan bahwa dirinya resmi menjadi seorang muslim sejak dua tahun yang lalu, dengan tanpa diketahui oleh siapapun. Dirinya memilih untuk menjadi seorang muslim dengan bimbingan orang yang berpengalaman di Tiongkok sana.
Hidup jauh dari orang tua, lalu hidup dalam keluarga beragama budha dan juga memiliki usaha gelap seperti itu tak mudah ia lalui sendirian. Akhirnya, setelah ia bisa mencari uang sendiri, Feng baru memutuskan untuk menjadi seorang muslim.
"Kenyataannya, aku terlahir juga sebagai seorang muslim. Ayah muslim dan Ibuku mualaf, jadi ... aku harus berpikir dengan matang untuk memutuskan semua ini, Syah. Apakah aku memilih jalan yang salah?" ujar Feng dengan senyum manisnya.
Aisyah menyeka air matanya yang mengalir begitu saja dari bola matanya. Ia terharu mendengar bahwa saudaranya, kini memiliki satu keyakinan yang sama setelah melewati banyak proses. Memang, sejak kecil ia tinggal di rumah yang beragama Budha. Ia kesulitan dengan belajar tentang agama Muslim sendiri.
"Ko, entah kenapa aku bahagia sekali mendengar ini. Tetap istiqomah, ya, Ko. Aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu," ucap Aisyah dengan mereka air matanya.
"Aamiin!" jawab Feng semangat.
Perjalanan yang mereka lalui tidak lah mudah. Aisyah dan Feng sebagai dokter, lalu dua lainnya seorang perawat perempuan dan juga seroang perawat laki-laki. Nama dari perawat perempuan itu bernama Aom dari Bangkok, dan perawat laki-laki bernama Syamsir dari Malaysia.
Tujuan mereka ke Samut Songkhram. Dimana banyak desa kecil di sana yang belum dibilang kawasan modern seperti di Ibu Kota. Perjalanan yang mereka tempuh juga memakan waktu malam sampai malam hari.
"Ni kat mana pula? Kenapa tak de street lights kat sini? Gelap gulita sangat ini!" seru Syamsir mulai mengeluh.
"Astaghfirullah hal'adzim, kamu jangan mengeluh, Abang. Bismillah saja, semoga kita dapat menjalankan tugas dengan baik di sini," Aisyah mencoba membuat suasana hati Syamsir lebih tenang.
"Mohon, untuk kalian gunakanlah bahasa yang aku pahami. Bahasa Inggris misalnya. Tapi, aku juga bahasa Melayu, cuma sedikit saja soalnya bisanya," sahut Aom yang tak paham apa yang Syamsir dan Aisyah katakan.
"Sudahlah, sebaiknya kita tenangkan diri, jangan panik. Kita hanya seminggu saja di sini, yakinlah pada diri sendiri, oke?" Feng pun juga ikut serta dalam kegelisahan malam itu.
Di tengah malam, akhirnya mereka baru sampai di tempat tujuan. Di sana, sudah ada listrik. Namun, listrik itu hanya ada di balai desa dan juga gedung besar yang akan mereka jadikan klinik nantinya.
Nanti mau ada nuansa horor!