
"Mama!" teriak Ilkay.
"Ilkay, kamu di sini?" tanya Aisyah.
Ilkay berlari menemui Aisyah. Ilkay juga ingin sekali memeluk Aisyah, dengan dibantu Adam, Ilkay naik ke tempat tidur pasien dan memeluk tante rasa Ibu itu.
"Mama, apakah orang jahat itu yang membuat Mama sakit? Lihat saja, Kay akan cepat besar, dan Kay akan melindungi Mama dari orang jahat, itu. Mama, Kay sangat merindukan, Mama," celoteh Ilkay sembari memeluk Aisyah.
"Kamu sudah bisa bicara? Bahkan kamu bicara menggunakan bahasa Mama? Kamu pintar sekali,"
"Ehem!"
Airy mendeham. Sepasang mata tajam dari tatapan Airy yang membuat Aisyah tahu jika sang Bibi meminta penjelasan tentang siapa Ilkay sebenarnya.
"Kamu berhutang penjelasan kepada kita, Kakak …," desis Adam.
"Abi Adam, hehe, nanti yah … pasti di jelasin, kok. Kalau mau salahin, noh si Junaedi!" tunjuk Aisyah kepada Asisten Dishi.
"Lah, kok aku? Ai, kan kamu sendiri yang bilang, kalau Ilkay harus di adopsi?" tampik Asisten Dishi.
"Iya memang benar aku bilang untuk adopsi Ilkay. Tapi bukan sebagai anak aku dan anak kamu. Hih, tapi sebagai adik aku yang berarti itu anak adopsi ayah sama ibu aku. Masih kurang jelas?" bahkan Aisyah sampai menjelaskan kembali.
"Ya kan tadi aku juga udah bilang kalau aku cuma bawa berkas kita aja. Berkasnya orang tua kamu kan juga nggak kebawa. Kita juga berpisah kan di Tiongkok, Ai. Kamu ih…," Asisten Dishi nggak mau kalah.
"Ya pokoknya kamu yang salah!" ketus Aisyah.
Asisten Dishi menghela napas panjang. "Iya, aku yang salah. Nanti aku yang jelasin, ya. Tuan putriku jangan ngambek lagi, oke?" ucap Asisten Dishi dengan senyuman.
Airy dan Adam hanya menatap keduanya. Membuat mereka heran, bertengkarnya mereka mengingatkan kala mereka muda dulu. Dimana Adam selalu mengalah demi Airy. Begitu juga yang dilakukan oleh Asisten Dishi untuk Aisyah.
"Keuwuan model apa ini? Jasa banting orang nggak?" desis Airy kepada Adam.
"Masya Allah … seperti yang kita lihat, 'kan? Ini sudah waktunya kita pulang, Ma. Kamu lihat sendiri kan, jika kedua muda-mudi yang sedang tertusuk ini sudah baik-baik saja. Bahkan juga sudah bisa adu urat," sahut Adam.
Airy dan Adam menepuk keningnya. Kemudian, mereka berpamitan kepada Aisyah untuk pulang lebih dulu. Sebab, nanti malam akan ada acara lagi untuk Gwen dan Agam.
"Karena kamu sudah waras sekali, bahkan sudah hampir gila tengkar mulu kerjaannya. Makin yakin kalau dia ini keturunan dari Uti Leah dan anaknya Rebecca. Assalamu'alaikum!" pamit Airy sembari menggerutu.
"Assalamu'alaikum, Aisyah, Asisten Dishi. Paman balik dulu, ya. Dadah Ilkay," pamit Adam dengan ramah.
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh,"
Beberapa menit kemudian, Chen Feng dan juga Faaz masuk ke ruang inap Aisyah dan Asisten Dishi. Juga, disertai dengan Yusuf yang sangat menghawatirkan putrinya.
"Ayah, Ibu …?"
"Ibumu di rumah. Ayah nggak ingin dia khawatir, atau sampai kelelahan. Dia kan juga lagi hamil," ucap Yusuf membela putrinya. "Ayah sangat khawatir denganmu, Nduk. Apa yang terjadi ini? Hal apa lagi yang kamu sembunyikan?" tanya Yusuf.
"Aisyah, ayolah. Katakan saja kebenarannya. Untuk apa lagi dirahasiakan jika nanti semakin lama kamu merahasiakan tentang Ilkay, penjahat itu nggak akan ada habisnya untuk membunuh kalian berdua," sahut Feng.
"Dan ingat, Ai. Mereka mungkin bisa saja membunuh Ilkay karena dia adalah peran penting dalam masalah. Lalu, sampai kapan kamu mau mengorbankan Asisten Dishi lagi?" tutur Faaz.
"Iya, Ai. Kasihan dia. Lihatlah wajahnya, sudah babak belur karena melindungimu," timpal Chen.
Aisyah tak ingin mengungkap jati diri Ilkay sebelum sampai ke rumah. Sore itu juga, Aisyah meminta Yusuf dan Chen mengurus administrasi dan segera membawanya kembali pulang ke rumah.
"Ai, kamu sudah gila? Lukamu ini dalam, apakah kamu ingin membuatku mati muda dengan melihat penderitaanmu?" sulut Chen.
"Aisyah, kenapa? Ada apa ini? Kamu bisa bicarakan masalah ini sekarang, bukan?" tanya Yusuf.
Aisyah melirik ke Asisten Dishi, namun Asisten Dishi malah melengos untuk tidak lagi dilibatkan lebih dalam urusan Ilkay. Bukan maksud Asisten Dishi ingin meninggalkan Aisyah dalam masalah sendirian. Akan tetapi, memang Aisyah harus tegas agar tak ada lagi yang terluka.
"Ada hal yang akan aku dan Asisten Dishi katakan di depan semua keluarga. Ini penting dan yang paling penting banget, aku pengen pulang! Nggak betah aku di infus gini …," Aisyah sedikit demi sedikit berubah. Sifat yang dulu sellau tenang, diam dan menyikapi masalah dengan dewasa, kini malah sebaliknya seperti Gwen yang selalu heboh.
Wanita jika menemukan pria yang tepat, ia tidak akan lagi sungkan menunjukkan sisi aslinya meski itu dengan sikap yang memalukan. Begitu juga dengan Asisten Dishi yang sebelumnya terlihat berwibawa, jika bersama dengan Aisyah malah menjadi konyol dan ceroboh.
Masih mengintrogasi Aisyah dan Asisten Dishi, di pesantren, Gwen dan Agam tetap akan mengadakan tasyakuran seraya doa bersama untuk kesembuhan Aisyah dan Asisten Dishi.
"Dek, ini ada kabar kalau kakak kamu dan Asisten saudara kamu yang lain, akan pulang malam ini," ucap Agam yang saat itu berdua di kamar dengan Gwen.
"Hish, kak Aisyah ini sok strong, deh! Lagi sakit juga, maksain pulang, loh!" certus Gwen.
"Siapa tau, kondisi mereka memang sudah membaik. Alhamdulillah, dong. Akhirnya, malam ini kita bisa berkumpul lagi," tutur agam selalu berpikiran positif.
"Tapi kasihan, dia bakal di rumah sendirian nanti. Ayah dan Mami harus ke Australia dan kak Chen kembali ke Tiongkok," lenguh Gwen bersandar di bahu Agam.
Sontak, membuat Agam hanya diam terpaku, kala sang istri menyandarkan kepalanya di bahunya. Jantungnya berdebar sangat kencang sampai Gwen mendengarnya.
"Mas gugup?" tanya Gwen mengangkat kembali kepalanya.
Agam hanya menggeleng dan mengalihkan pandangannya. "Aku udah boleh nyandar, 'kan?" lanjut Gwen.
Agam mengangguk pelan.
"Terus, kenapa jantungnya deg-degan gitu? Salah, ya?" tanya Gwen lagi.
"Em, itu … saya hanya, em …," jawab Agam gugup.
"Kok, gugup, sih? Kita udah halal, 'kan?"
Agam tidak tahu jika Gwen tengah menatapnya dari sampingnya. saat Agam menoleh ke arah Gwen, wajah mereka begitu dekat. Mereka saling memandang kala itu. Tatapan Agam bisa menghanyutkan dunia Gwen, karena tatapan mata Agam begitu dalam adanya.
"Mas lihatin apa?" bisik Gwen.
"Mata …," jawaban Agam terhenti kala menatap mata Gwen.
"Mataku kenapa?" tanya Gwen lagi.
"Mata kamu cantik, Dek. Cantik sekali," puji Agam tanpa sadar.
"Makasih, alis Mas Agam juga bagus. Tebal dan tatapan mata Mas Agam tajam sekali, aku suka," balas Gwen.
Meeka masih saling memandang. Sampai pada akhirnya, datanglah Raditya yang mengganggu pandang-pandangan ala Gwen dan Agam sore itu.