
Dengan sekuat tenaga, Aisyah segera membawa Chen dan Asisten Dishi keluar dari sisi hutan bagian utara itu. Lalu, segera membawanya ke desa. Mereka bertemu dengan Mee Noi yang sedari tadi sudah mencari Aisyah.
"Dokter, kamu dari mana saja? Aku panik ketika mendengar suara tembakan dan segera mencarimu," terlihat sekali jika Mee Noi memang khawatir.
"Kalian bisa bahasa Inggris?" tanya Asisten Dishi.
"Diamlah! Banyak bicara hanya akan membuat kalian kehabisan tenaga dalam situasi seperti ini!" bentak Aisyah. "Sebaiknya, kita segera kembali ke desa. Pria ini terluka." sambungnya.
Asisten Dishi tersentak mendengar ucapan Aisyah yang persis seperti ucapan Tuannya. Bahkan, nada bicaranya saja sama-sama tegas dan membuatnya sedikit gemetar.
Hari sudah gelap. Akhirnya mereka sampai juga di gedung desa. Tanpa minum dan istirahat terlebih dahulu, Aisyah langsung menangani luka Chen.
"Aisyah, siapa mereka? Dan apa yang terjadi pada mereka?" tanya Feng yang baru saja selesai sholat maghrib sesuai dengan yang dijadwalkan nya.
"Aom, tolong kamu masak untuk kami semua, ya. Minta bantuan Bang Syamsir juga," pinta Aisyah. "Ko, tolong bantu aku ambilkan alkohol dan beberapa antibiotik. Pria ini terluka dengan sayatan dan kehilangan banyak darah!" imbuhnya.
Tanpa protes lagi, Feng segera menyiapkan apa yang diperlukan adik sepupunya itu. Dengan sangat telaten, perlahan juga Aisyah membuka kancing baju Chen. Namun, dihalangi oleh Chen sendiri dengan menahan tangan Aisyah. Kulit mereka bersentuhan, membuat jantung keduanya kembali berdebar.
"Kau mau apa?" rintih Chen.
"Aku seorang dokter. Aku sudah di sumpah untuk profesional dalam mengerjakan tugasku," jawab Aisyah dengan tegas.
"Kau tidak boleh menyentuhku. Dimana Asistenku! Asisten Dishi!" teriak Chen menampik tangan Aisyah.
Perlahan, Chen melepaskan tangan Aisyah dan membiarkannya mengobati lukanya. Baik Aisyah dan Chen sama-sama heran dengan dirinya. Selama hidup, Aisyah hanya bisa membentak Gwen ketika adiknya itu bersalah dan selalu menentang pembicaraannya.
Selain itu, Chen juga tidak pernah mematuhi siapapun juga selamat hidup. Termasuk kedua orang tua angkatnya. Rupanya, hal itu membuat Feng dan Asisten Dishi juga ikut terheran-heran.
"Dia, Asiyah? Denganku saja dia tidak segalak ini, bagaimana mungkin bisa dengan pria asing bisa galak? Padahal pria ini juga tidak salah," gumam Feng dalam hati.
"Nona ini sangat hebat. Selama ini, belum pernah ada yang membentak Tuan hingga membuatnya patuh. Apakah dia jodoh Tuan?" batin Asisten Dishi mengamati keduanya.
"Apa kalian ini seorang Mafia? Selama ini, tidak ada kejadian seperti ini di sini. Aku mengkhawatirkan penduduk desa jika kalian di serang lagi." ucap Mee Noi memecah keheningan.
"Tenang saja--" kata Aisyah dan Chen bersamaan. Mereka pun kembali saling menatap.
"Tenang saja, mereka yang berkelahi tadi meninggal secara perlahan. Tapi tidak semua, kemungkinan, akan ada lagi pasukan para pelayat itu," jawab Aisyah. Para pelayat (karena memakai baju serba hitam)
"Tidak, mereka tidak berani mengusik penduduk di sini. Mohon maaf, kami akan segera pergi malam ini, jadi jangan khawatir." sahut Asisten Dishi.
"Tuanmu terluka parah. Dia tidak bisa pergi malam ini. Tunggulah sampai dia lebih baik. Aku permisi dulu, akan aku siapkan makanan untuk kita makan malam ini." tukas Aisyah merampungkan tugasnya.
Feng merasa mengenali siapa pria yang terbaring di depannya itu. Namun, ia masih ragu jika pria itu memang Chen kecil yang selama waktu lalu selalu mengajaknya berdebat. "Apa dia Tuan Muda Wang? Chen, kakak kandung Aisyah?" batin Feng hanya menduga