
Yusuf membawa ketiganya pergi dari sekolah. Membawa mereka ke rumah dan menyelesaikan urusan yang masih tertunda. Di sana, Willy juga sudah datang dengan wajah rasa bersalahnya,
Tak tok tak tok ….
Suara detik jam sampai terdengar jelas karena suasana menjadi hening. Mereka saling menatap dan menahan sejuta pertanyaan atas hal yang terjadi selama sembilan tahun sudah lamanya.
"Pertama aku yang ingin bertanya kepada anak tikus ini!" bentak Rebecca menoel kepala Gwen.
"Aku sudah katakan, jangan menyentuh kepalaku, Mami! Apa Mami sudah bosan hidup?" sulut Gwen.
Yusuf dan Aisyah menepuk keningnya secara bersamaan.
"Apa kamu tidak bisa menjaga perilakumu, anak tikus?" kali ini Rebecca mencomot bibir Gwen.
"Moon maap ini saya mengganggu. Wahai Ibu tikus, dia anakmu sendiri, mengapa anda menyebutnya anak tikus kalau bapaknya seorang manusia?" sahut Yusuf sedikit kesal.
"Oh, hehe ya maaf."
Dalam situasi itu, hebatnya Gwen berani mengaku salah karena sudah kabur dari rumah. Ia juga minta maaf karena tidak jujur kepada Yusuf dan Aisyah mengaku sebagai orang lain. Namun, bukan Gwen namanya jika tidak menyebut nama Willy yang juga ikut dalam drama konyol itu.
"Willy! Aku selalu bilang kepadamu, bukan? Kenapa kamu tidak menjada putriku, dan malah pacaran dengan kekasihmu itu, hah?" bentak Rebecca.
"Ya agar Nona menceraikan aku," jawab Willy. "Em, bagaimana kalau malam ini kita bercerai, dan besok kita bercerai di pengadilan. Masalah kalian, aku tidak ingin ikut campur lagi, Nona …," imbuhnya.
"Kau mau mati di sini, Willy?" desis Rebecca.
"Ibu, apa kamu tidak mau kembali dengan Ayah? Apa Ibu tidak mau mewujudkan keluarga yang aku dan Rifky, oh Siswanto, ih maksud aku Gwen … untuk menjadi keluarga yang lengkap?" tanya Aisyah dengan lembut.
"Nglawak nih anak, ngapain kamu sebut aku Siswanto juga, Aisyah?" kesal Gwen.
Rebecca terdiam. Tatapan mata Yusuf masih begitu dalam kepada Rebecca. Cinta yang tertunda selama sembilan tahun masih selalu ada dalam hatinya. Yusuf juga ingin sekali kembali bersama Rebecca dan mencari putranya bersama-sama.
"Mas,"
"Em," suara lembut Yusuf meneduhkan hati Rebecca.
"Aku minta maaf telah membuat keputusan yang terburu-buru waktu itu. Aku menyesal berpisah denganmu, tapi semua ini aku lakukan juga untuk putra kita," ucap Rebecca menangis.
"Putra kita ada pada Cindy, aku tidak ingin dia menghasut putraku. Maka, aku memisahkan kedua putri kita juga agar putra kita tidak merasa sakit sendiri,"
"Aku sungguh--" Rebecca yang biasanya pandai berkelit, kini hanya bisa menangis memohon maaf kepada Yusuf.
Tangan Yusuf hanya bisa mengepal, ia sudah bukan suaminya lagi yang bisa membelai kepala Rebecca kapan saja. Willy mengajak Aisyah dan Gwen keluar lebih dulu agar orang tuanya mampu menyelesaikan masalah mereka yang belum usai.
"Re, apa kabar kamu?" tanya Yusuf dengan lembut.
"Tidak baik, aku sungguh tidak baik, Mas. Aku sungguh tidak merasa baik setelah perpisahan itu," jawab Rebecca.
"Tapi kamu menikah dengan Willy. Mengapa kamu ingin bercerai dengannya?" lanjut Yusuf.
"Kamu masih saja tidak peka," gumam Rebecca.
"Re … aku bukan barang yang ditinggalkan begitu saja dan dia ambil kembali dengan mudah. Kamu membuatku sakit dengan perpisahan itu. Apakah kamu juga akan menambah luka dengan kamu ingin bersamaku kembali?" ucap Yusuf.
"Maaf …."
"Butuh waktu hampir 4 bulan untuk kembali bersama. Apakah di waktu itu juga kamu bisa menemukan putra kita?"
Ucapan Yusuf menandakan lampu hijau yang sangat terang bagi Rebecca. Itu pertanda jika Yusuf juga ingin kembali bersama membina rumah tangga yang sempat gagal sebelumnya. Mereka memang ditakdirkan bersama meski cobaan besar sudah menerpa rumah tangga mereka.
"Itu saja? Aku tidak akan menyerah untuk membuatmu jatuh cinta lagi padaku. Lihat saja nanti!" ketus Rebecca.
"Ingat, suamimu masih ada di luar. Jangan genit dengan laki-laki lain. Sudahlah, kalian menginap di sini saja malam ini. Aku akan memperkenalkan Gwen dengan keluarga yang lain sebagai putriku, bukan sebagai Rifky palsu lagi." celetuk Yusuf.
Senyuman yang selama ini pudar telah kembali lagi di bibir Yusuf. Meski cintanya masih dengan pria lain, namun cintanya itu masih bisa untuk di harapkan kembali. Begitu juga dengan doanya yang selalu ia panjatkan untuk bisa menemukan putranya kembali.
Sore itu, Rebecca juga bersilaturahmi kepada keluarga di pesantren. Akhirnya keheranan Raihan dan Adam mengenai Gwen terjawab sudah. Mereka memang melihat jika Gwen ini mirip sekali dengan Rebecca Airy kecil waktu lalu.
Meski Airy selalu saja ribut dengan Gwen, tetap saja Airy menyayangi Gwen seperti ia menyayangi Aisyah. Gwen juga di sambut baik, dari sebelumnya.
"Gwen, perasaan pas bayi rambut kamu pirang deh. Kenapa sekarang jadi item kek hati emakmu gitu?" cetus Airy.
"Kak Airy, hati aku nggak hitam tau. Jahat ih!" kesal Rebecca.
"Nih anak kenapa juga di cukur pendek begini? Jelek tau!" kembali Rebecca menoel kepala Gwen.
"Sudah aku katakan sampai mulutku berbusa. Jangan pernah menyentuh kepalaku, Mami! Kenapa Mami ini seneng banget sama kepalaku, sih?"
Semua orang tertawa mendengar keluhan Gwen kepada Maminya. Sejak Gwen bisa bicara, memang Gwen selalu membantah apa yang dikatakan oleh Rebecca. Sama halnya dengan Airy, Gwen juga tidak bisa sejalan pikirannya dengan Airy yang mengharuskan mereka selalu bertengkar setiap kali bertemu.
Untuk pertama kalinya, Gwen menginap di rumah Yusuf sebagai putrinya. Ia menerima banyak sekali baju baru yang menunjukkan jika dirinya adalah anak perempuannya dari Yusuf dan juga Adam.
Masih memperdebatkan masalah rambut dan tingkah Gwen. Rebecca terus saja menggoda putrinya sampai bertengkar hebat. Beruntung, Aisyah ada ditengah-tengah mereka.
"Apakah kalian berdua juga selalu berdebat seperti ini?" tanya Aisyah.
"Bukan lagi, tapi emang aku kesel sama Mami. Dia nggak ada hati banget tau nggak sih misahin kita!" seru Gwen melipat tangannya.
"Itu urusan orang tua, Gwen. Kenapa kita harus ikut campur? Bersikaplah selayaknya anak-anak, jangan seperti ini," tutur Aisyah.
"Akan berdosa jika anak selalu berdebat dengan orang tua," imbuh Aisyah.
"Anak Mami yang satu ini, sangat sholehah. Kenapa Mami tidka membawamu saja dulu, ya …." ucap Rebecca membelai wajah Aisyah.
"Jika Ibu membawaku, pasti sifatku juga akan sama dengan Gwen sekarang, percayalah, hehehe," celoteh Aisyah.
"Sama aja, kalian berdua memang bermulut tajam. Tak heran jika kalian adalah anakku." gumam Rebecca.
Kebahagiaan menyelimuti hati Rebecca dan Gwen. Akhirnya mereka bisa bertemu dengan Aisyah dan Yusuf kembali. Meski mereka belum bersama kembali, tetap saja Rebecca bahagia melihat kedua putrinya bisa akrab seperti itu.
Mengingatkan dengan putranya yang mungkin saat ini sedang sendirian di lain tempat. Rebecca mengatakan keluhannya atas kerinduan kepada putranya kepada Yusuf. Mereka duduk berdua di teras dan menceriakan bagaimana caranya harus bisa menemukan putranya yang diculik Cindy sembilan tahun lalu.
"Cindy ada di tiongkok, bukan?" tanya Yusuf.
"Mas tau?"
"Yue yang mengatakannya. Katanya dia melihat Cindy keluar dari supermarket. Tak jauh dari tempat tinggalnya," jawab Yusuf.
"Aku harus kembali ke Tiongkok!" seru Rebecca.
Ketika Rebecca beranjak, Yusuf menahan lengannya. Meminta untuk duduk kembali di sampingnya dan memikirkan bagaimana caranya untuk mengambil putranya kembali dari tangan Cindy.
Yusuf meminta agar Rebecca tinggal sebenar untuk memberikan waktu bahagia kepada Aisyah. Sementara dirinya akan bersedia tinggal di restoran agar tidak terjadi fitnah nantinya.
Selain itu, malam itu juga Willy akan menggugat Rebecca agar bisa menyatukan Rebecca dan Yusuf kembali bersama. Selama menikah, Willy dan Rebecca juga tidak ada perasaan apapun, hanya demi Gwen supaya ia tidak kehilangan figur Ayah ketika berada jauh dari Yusuf.