Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Kisah Cinta Dalam Diamnya Aisyah.



Feng menempati mes di restoran, dimana Yusuf sering istirahat di sana. Sebab, tiga hari lagi dirinya akan ikut seminar di Thailand bersama dengan Aisyah. Dirinya terpilih juga untuk penyuluhan di desa terpencil di sana. 


"Apa? Kalian akan ke Bangkok dan meninggalkan aku sendirian?" Gwen merasa terkejut. 


"Tidak! Aku harus ikut pokoknya, cuma tiga hari juga, 'kan? Aku ikut!" serunya. 


"Gwen, mereka sedang bekerja. Lalu, kamu mau apa di sana?" tanya Yusuf. "Tapi, Feng. Kenapa Aisyah tidak cerita dengan Paman, ya?"


Feng mengatakan bahwa memang Aisyah masih ragu akan pergi ke sana. Sebab itulah Aisyah belum membicarakan hal itu kepada Ayahnya. 


"Pokoknya aku harus ikut, enak aja mereka pergi ke luar negri, aku nggak di ajak. Hm, harus cari ide!" Gwen terus berperang dengan hatinya untuk mewujudkan keinginannya tersebut. 


Waktu malam telah tiba, Yusuf mengajak Feng sekalian makan malam di rumah. Rebecca juga tidak tega jika Feng harus tinggal di mes restoran. Rebecca menyarankan agar Feng menginap di rumah itu selama ia berada di Jogja. 


"Bi, aku tidak enak hati dengan tetangga di sini," jawab Feng dengan lirih. "Lagipula, sudah terbiasa juga kan aku tidur di mes jika berkunjung ke sini?" imbuhnya. 


"Setelah makan, kita lapor ke Pak RT untuk kamu bermalam, ya," sahut Yusuf. 


"Tapi, Paman--"


"Sudahlah, Ko. Kenapa harus keras kepala, sih? Bukankah besok juga kamu akan mengantarku pagi-pagi sekali? Biar sekalian aja gitu," potong Aisyah menambahkan kuah sayur di piring Feng. 


"Sudah, ya. Ketika makan, jangan ada lagi yang bicara. Aku tidak suka itu!" tegas Aisyah. 


Akhirnya Feng setuju untuk menginap di rumah itu. Gwen yang masih marah dengan Aisyah hanya diam dan menikmati makanannya dengan khidmat. 


"Mau kemana mereka, besok?" gumam Gwen dalam hati. "Mereka kalau udah bertemu, selalu aja nggak pernah ajak aku kalau jalan-jalan, awas saja kalian, ya!" gerutunya. 


Tengah malam, Gwen tidak bisa tidur, ia memikirkan bagaimana caranya bisa ikut ke Bangkok bersama saudaranya dengan izin mereka juga tanpa harus ada drama. 


"Kenapa aku juga ingin ke sana, ya? Pasti ada sesuatu di sana? Tapi apa?"


"Apakah di sana banyak cogan? Atau banyak Sultan? Haih, bencong mah banyak!"


Bagi Gwen, memang selalu ada cara untuk mencapai keinginannya. Setelah berpikir panjang, akhirnya Gwen menemukan ide cemerlang itu. Memang usai menikah lagi, Rebecca meminta Willy untuk mengurus usaha di Bangkok. 


Di sisi lain, rupanya Chen juga sering menemui Willy hanya sekedar menanyakan kabar tentang keluarga kandungnya. Itu sebabnya Chen juga akan ke Bangkok saat itu juga. 


"Kan, ide cemerlang! Aku ini cerdas, sangat cerdas. Makanya aku paling cantik di rumah, haih bobok ah ...." 


Acara apa yang ingin Aisyah hadiri besok pagi? 


Ya. 


Suara adzan subuh sudah berkumandang. Seperti biasa jika tidak ada halangan keluarga kecil ini selalu menyempatkan sholat subuh di masjid. Meski Gwen sangat susah diberi tahu, tetap saja jika melaksanakan kewajibannya, ia tidak pernah telat. 


Usai pulang dari masjid, "Nanti, kalian mau ke mana?" tanya Gwen ketus. 


"Tau ustadz Khalid, nggak?" sahut Feng. 


Gwen mengangguk. 


"Nah, dia mau nikah hari ini. Aisyah dan aku juga di undang. Maka dari itu, kita mau datang," jelas Feng. 


"Buset, ustadz Khalid? Ustadz yang rumahnya paling pojok itu? Kampung sebelah?" tanya Gwen heboh. "Kak, bukankah kamu naksir dengannya? Kupikir hubungan kalian istimewa ... ternyata epribadeh, cin--" ucapan Gwen terputus karena mulutnya di bungkam eh Aisyah. 


Ustadz Khalid adalah salah satu santri di pesantren Darussalam. Usianya terpaut 8 tahun, waktu itu Aisyah memang memiliki perasaan dengan ustadz tersebut. 


Namun, ketika cintanya mulai merekah, rupanya ustadz Khalid sudah dijodohkan dengan wanita lain. Cinta dalam diamnya hanya Aisyah sendiri yang merasakan. 


Mengapa Gwen dan Feng bisa tahu perasaannya? Sebab, Aisyah memang hanya cerita kepada dua saudaranya itu. Meski Gwen selalu memberi kode kepada ustadz Khalid, tetap saja ustadz Khalid tidak pernah meresponnya. 


Hahaha ya Allah, kasihan sekali sholehahnya kita.