Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Chen Jatuh Cinta



Hal aneh mulai terjadi setelah Puspa menjadi tunangan Chen selama sehari. Teror boneka yang di patah-patah, boneka dilumuri dengan noda merah dan ancaman untuk Puspa selalu datang bertubi-tubi. Puspa mulai takut tinggal di sana dan menginginkan Chen untuk mengantarnya pulang.


"Tuan, saya mau pulang …." rengek Puspa. 


Akan tetapi, Chen akan membawa Puspa kembali ke Jogja jika dia mengetahui siapa dalang dibalik dari teror itu. "Puspa, mengertilah. Ada aku di sini, kau aman disampingku. Aku akan melindungimu," hibur Chen untuk Puspa. 


"Tuan, apakah salah menjadi tunanganmu ini?" tanya Puspa. 


Puspa tak sama seperti Aisyah maupun Gwen yang pemberani. Ia hanya bisa menangis karena baru perama kali baginya menerima teror menyeramkan. Ingin rasanya Chen memeluk gadis yang akan ia nikahi itu. Akan tetapi, ia tahu bahwa hal itu akan dibenci oleh Tuhan gadisnya. 


"Puspa, bagaimana cara aku bisa memelukmu. Jika Tuhan saja melarang kita bersentuhan? Aku bingung ini, bagaimana cara menenangkan perasaanmu!" Chen mulai panik dan malah menaikkan nada bicaranya. 


"Tuan Muda!" 


Nyonya kedua datang dan memeluk, menenangkan Puspa. Kemudian meminta Chen untuk segera menyelidiki siapa dalang dibalik teror tersebut. Pertama, Chen mengumpulkan semua orang yang ada di mansion untuk pemeriksaan. 


"Jovan, lakukan apa yang aku perintahkan tadi," perintah Chen. 


"Baik, akan aku laksanakan," jawab Jovan sigap. 


Semua orang termasuk Fei lolos dalam pemeriksaan. Tidak ada kecurigaan yang mendalam untuk seluruh orang di rumah. Jovan terus akan mencari siapa seseorang yang mampu melakukan hal sekejam itu. 


_______--


Di ruang baca, Chen dan Jovan sedang berbincang masalah teror itu. Jovan mulai curiga dengan Fei yang memang menunjukkan sisi anehnya ketika sedang bersama dengan Puspa. 


"Jika benar dia … aku akan langsung mengirimnya ke Afrika!" kesal Chen. 


"Chen, apa kau tidak kasihan dengan wanitamu? Semakin lama dia selalu di sisimu, aku yakin dia akan terluka, Chen. Iya kalau kau bisa melindunginya selalu. Kalau saat kau lengah, bagaimana?" 


Chen mulai memikirkan apa yang dikatakan sepupunya itu juga termasuk kebenaran. Jika Puspa selalu bersamanya, mungkin akan ia mampu melindunginya dengan mudah. Namun, akan tiba waktunya nanti mereka sedang tidak bersama. 


"Tapi, selama semingguan ini … hatiku berkata lain. Apa benar aku jatuh cinta padanya?" gumam Chen dalam hati. 


Tiga hari berlalu. Jovan mampu menemukan jejak teror itu dari kamar Fei. Dimana Fei selalu membuang struk pembelanjaan online dengan membeli banyak boneka anak-anak. Saat itu, Jovan mengajak Chen untuk keluar sebentar dengan mengetes Fei jika sedang berdua dengan Puspa di rumah melalu cctv yang ia miliki. 


"Puspa, tiket buat besok sudah ada. Jadi, kamu sudah harus berkemas sekarang. Aku akan keluar dulu," ujar Chen dengan merapikan kancing pergelangan tangannya. 


"Iya, Tuan. Setelah membantu Nyonya Kedua, saya akan segera berkemas," jawab Puspa dengan senyuman. 


Pergilah Chen bersama dengan Jovan. Tidak lama kemudian, di susul oleh Nyonya Kedua yang ingin menghadiri rapat bersama Tuan Wang. Kini, Puspa hanya berdua saja dengan Fei di rumah. Sementara para pelayan sedang libur karena memang ada cuti liburan perayaan di tanggal China.


Apa yang dikatakan Jovan ternyata terjadi juga Fei menghampiri Puspa dan berani mengusirnya. Fei bahkan mendorong Puspa sampai terjatuh. 


"Asisten Fei, ada apa dangan, Anda?" tanya Puspa berusaha berdiri. 


"Kamu ini keras kepala juga, ya? Aku sudah memperingati dirimu untuk pergi dari sini. Bahkan aku juga telah memberimu uang untuk meninggalkan Tuan. Kenapa masih saja terus di sini, hah!" sentak Fei.


"Maksudnya?" Puspa masih berpikiran positif jika yang terjadi saat itu hanyalah kesalahpahaman saja. 


"Aku sudah sering kali membuat kau mengerti. Kau juga sampai ketakutan, apa itu masih kurang?" desis Fei menarik baju Puspa, kemudian melemparnya lagi. 


"Aduh!" jerit Puspa kesakitan. 


Puspa mulai memahami apa yang dikatakan oleh Fei. Tak lama kemudian, Puspa bertanya, "Apakah bonek itu dari Anda, Asisten Fei?" 


"Astaghfirullah hal'adzim, Ya Allah," sebut Puspa masih berusaha tenang. 


"Fei, KAMU BENAR BENAR KETERLALUAN!" teriak Chen dari balik pintu. 


Plak! 


Tamparan keras itu mendarat di pipi mulus Fei yang selama ini ia rawat demi menarik perhatian Chen. 


"Tuan, Anda menampar saya?" tanya Fei mulai berlinang air mata.


"Lalu, siapa dirimu sehingga aku tidak bisa menamparmu?" sulut Chen.


Fei mengepalkan tangannya. Tangan yang gemeteran itu mampu menunjukkan bahwa dirinya begitu sangat sakit hati kepada perlakuan Chen padanya.


"Saya mencintai Anda, Tuan Chen. Nona Puspa menjebak saya, sehingga saya terpaksa harus mengakui apa yang tidak saya lakukan, Tuan. Saya mohon, tolong Tuan percaya kepada saya," Fei sampai bersimpuh memohon kepada Chen. 


Akan tetapi, kebusukan Fei sudah terekam bukti nyata oleh Jovan. "Dan gadis kampungan ini. Atas dasar apa dia mampu menjadi tunangan Anda, Tuan?" imbuh Fei belum puas.


"Bukankah Anda memiliki tunangan juga yang telah Tuan Wang siapkan? Untuk alamat Anda mengakui wanita murahan ini menjadi tunangan, Tuan?" Fei masih berkelit.


Plak! 


Tamparan berlanjut dari Jovan yang saat itu sudah lelah mendengar bualan Fei. Diketahui, Jovan ini menyukai wanita yang telah dijodohkan oleh Chen. Jadi, Jovan tidak sudi jika nama wanita yang disukainya, keluar dari mulut wanita jahat seperti Fei. 


"Tuan, gadis aneh ini tidak pantas untuk, Tuan. Tak bisakah Anda melihat saya? Saya yang tumbuh besar bersama Tuan!" terang Fei. 


"Kamu bertanya, atas dasar apa aku mengakui dia sebagai tunanganku?" desis Chen. 


Fei mengangguk. "Aku mencintai dirinya. Hal ini lebih penting dari apapun. Meski kamu mengungkit wanita yang dijodohkan denganku, itu tidak akan merubah perasaanku padanya!" jelas Chen menggunakan bahasa yang Puspa ketahui. 


"Tidak!" teriak Fei. 


Fei masih saja menolak kenyataan bahwa Chen mengakui perasaannya kepada Puspa. Ia masih terus mengorek keburukan yang ada pada Puspa, meski itu adalah suatu kebohongan yang ia ungkapkan. 


"Tidak, Tuan. Anda jangan tertipu olehnya. Apa yang dia lihat pada diri Tuan hanyalah karena Tuan memiliki harta melimpah dan jabatan saja. Selebihnya, saya yakin jika Tuan hanya dimanfaatkan saja dan akan dia campakkan ketika Anda sudah miskin!" tuduh Fei kepada Puspa. 


Tuduhan Fei yang di lontarkan kepada Puspa membuat Chen kesal. Ketika Chen hendak menamparnya lagi, Puspa menghalangi. Tak ingin terus diam, akhirnya Puspa bicara dan mulai membela dirinya sendiri. 


"Yang benar-benar tulus mencintai Tuan di dunia ini hanya--"


"Benar!" Puspa menyela ucapan Fei. "Memang benar jika saya menerima Tuan Chen hanya berdasarkan kekuasaan dan kekayaannya. Lalu … Anda mau apa, Asisten Fei?" tantang Puspa. 


Hahaha … Tawa Fei sangat keras saat itu. Seolah dia sangat puas telah membongkar keburukan Puspa dihadapan Chen. 


"Dengar tidak, Tuan? Wanita ini benar-benar murahan! Dia tidak layak di samping Anda!" serunya dengan wajah bringas. 


"Jika memang itu benar … aku sungguh sangat bersedia. Selama dia ada di sampingku, bersamaku, aku bersedia memberikan apa yang dia inginkan," ucap Chen dengan tenang.


"Dan untuk dirimu, enyahlah dari hadapanku sekarang. Jangan pernah muncul lagi di depanku!" usir Chen. "Jovan, bawa dia dan kirimkan ke Afrika." perintah Chen untuk Jovan. 


Tanpa ragu lagi, Jovan menyeret Fei keluar dan meminta orangnya untuk segera mengirim ke Afrika. Puspa mendekati Chen dan mengatakan bahwa yang ia katakan kepada Fei bukanlah suatu kebenaran.