Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Upin Ipin Yang Tersesat



"Terima kasih kami sudah mau menemaniku sampai kemari, Nona Lin," ucap Tuan Zi dengan lembut. 


"Ini semua juga berkat Tuan Zi. Jika bukan Tuan Zi yang mengambilkan cuti untukku, bagaimana mungkin direktur Liu mau memberiku izin?" sahut Lin Aurora. 


Tuan Zi tersenyum. Senyumannya memang manis, tapi belum mampu mengalahkan pesona Chen di mata Lin Aurora. 


"Aku sudah pernah mengatakan padamu, bukan? Jika kita sedang berdua, jangan pernah memanggilku dengan sebutan Tuan," lanjut Tuan Zi. "Kamu bisa memanggilku dengan Zin'er atau__" 


"Bagaimana jika saya memanggil dengan sebutan kakak? Tuan Zi, sudah bagaikan kakak bagi saya," Lin Aurora menyela. 


"Kakak? Kamu menganggapku sebagai kakak?" tanya Tuan Zi. 


Lin Aurora mengangguk. Ada aura kekecewaan di wajah Tuan Zi. Meski memiliki rasa suka, Tuan Zi belum berani mengatakannya. Apalagi, baru saja mendengar jika wanita yang ia sukai hanya menganggapnya sebagai kakak. Itu jauh lebih menyakitkan daripada di anggap sebagai teman.


"Jika boleh tau, pria seperti apa yang kamu sukai?" tanya Tuan Zi.


"Sebenarnya, saya sudah memiliki seseorang di hati saya, kakak Zi. Dia adalah seorang pria yang sangat mencintai keluarganya. Perilakunya sangat baik, meskipun terkadang menyebalkan. Hanya saja … cintanya tidak mudah untuk di gapai," ungkap Lin Aurora menjadi murung. 


Chen masih bertanya-tanya, tentang apa yang mereka bicarakan karena tidak kedengaran dari jauh di persembunyiannya. "Sebenarnya apa yang sedang mereka bicarakan, ya?" gumamnya dengan menggaruk-garuk kepalanya.


Tiba-tiba saja, datanglah seorang pria berusia sekitar 45 tahunan menarik lengan Chen dan Jovan. "Ternyata kalian di sini? Ayo, sekarang sudah waktunya syuting. Untuk apa kalian bersembunyi di sini?" ucapnya dengan menarik lengan mereka.


"Tututututu-tunggu! Syuting apa? Dimana?" Jovan terkejut karena dia juga tidak tahu mau dibawa kemana dirinya. 


"Tuan, mohon maaf. Tapi kami bukan aktor, untuk apa kami syuting segala?" protes Chen.


"Banyak alasan! Jika kalian malas-malasan seperti ini, bagaimana nama kalian akan naik menjadi superstar? Ayo, semuanya sudah menunggu. Kalian ini__"


Mendengar kegaduhan di belakang, Lin Aurora menoleh ke arah suami dan sepupunya. Sayangnya, Lin Aurora tidak melihat wajah Chen saat itu. 


"Ada apa dibelakang sana?" tanya Lin Aurora penasaran. 


"Mereka terlihat memakai baju tradisional. Mungkin di sini sedang ada syuting. Memang sudah biasa, kawasan pedesaan di sini selalu di gunakan sebagai latar syuting ala kerjaan," jawab Tuan Zi.


"Oh, begitu. Tapi kenapa suaranya seperti tidak asing bagiku, ya?" gumam Lin Aurora.


"Ih, kau ini. Tentu saja tidak asing lagi, bukankah mereka aktor? Pasti juga sering wira-wiri di televisi," 


Lin Aurora pun membuka tas besarnya. Di dalam sana ada kue yang sudah Lin Aurora beli untuk ulang tahun Tuan Zi. Begitu senangnya Tuan Zi mendapatkan kejutan itu dari Lin Aurora. 


"Jadi, yang kamu bawa sedari tadi, adalah kue ulang tahun untukku?" tanya Tuan Zi haru. 


"Benar, kakak, ayo tiup lilinnya. Buatlah permintaan sebelum kakak meniupnya," ucap Lin Aurora sudah fasih memanggil Tuan Zi dengan sebutan kakak. 


Tiba di lokasi syuting, Chen dan Jovan hanya saling menatap. Mereka sama-sama tidak berpengalaman dengan berakting. Sudah berkali-kali Chen dan Jovan mengatakan jika mereka bukanlah aktor yang sesungguhnya. Tetap saja sutradara tidak peduli akan itu.


 


"Astaga, kami bukan aktor kalian! Kenapa kalian tidak percaya kami?" Chen mulai kesal.


"Berhenti berlagak dan baca saja skripnya. 15 menit lagi kita akan take, mengerti!" sentak sutradara. 


Jovan berusaha menjelaskan kepada mereka tanpa harus membuka identitas. Membuat Chen semakin kesal karena tak dapat memantau istrinya lagi. Ketika melihat lebel pada beberapa kru di bajunya, ia baru saja teringat sesuatu. 


"Jovan! Ikutlah denganku!" Chen menarik tangan Jovan dan mengajaknya bicara. 


"Ada apa? Kau tidak lihat aku sedang kesal? Ini juga, mereka salah paham kepada kita karena pakaian ini. Apa kau puas sekarang? Hash, harusnya aku tetap tidur di rumah!" 


Tak dapat di pungkiri jika Jovan marah. Memang hatinya sedang rapuh dan saat itu malah ada kesalahpahaman yang besar. Namun, Chen memiliki ide lain dibandingkan mengintai istrinya. 


"Apa itu?" tanya Jovan. "Sekarang apa yang lebih penting dari mengekor istrimu yang pergi dengan pria lain, Chen Yuan Wang!" Jovan semakin gemas dengan tingkah sepupunya. 


"Berisik sekali. Jangan panggil nama lengkapku di ini," desis Chen membungkam mulut Jovan. 


"Tanganmu bau sekali, Chen. Kau barusan memegang apa? Huek," Jovan sampai mual ketiak Chen membungkam mulutnya.


"Hahaha, aku meremash daun itu," tunjuk Chen dengan senyum konyolnya. (Aku tambahin h, takut kesensor)


Pada dasarnya, mereka juga masih berusia 23 tahun yang selalu kekanak-kanakan. Chen menunjuk lebel pada lengan salah satu kru yang saat itu bajunya tengah di lepas dan di gantung ke dahan pohon. 


"Iya aku melihatnya. Aku tidak buta dan aku bisa membaca. ZhouHao intertaiment ... ZhouHao? ZhouHao intertaiment? Chen, ini--" otak Jovan masih loading. 


Chen menyeringai sembari mengangguk-angguk. Ada sesuatu di kepala mereka, memiliki pemikiran yang sama dan langsung paham akan sesuatu. 


ZhouHao intertaiment adalah milik keluarga besar Feng. Dimana nama ZhouHao adalah rumah produksi yang tak kalah maju dengan perusahan lainnya milik keluarga besar Feng. 


"Dengar, di sini kita memiliki saham yang memang hanya sedikit. Jika kita bisa melangkah lebih jauh lagi, ZhouHao intertaiment, akan menjadi milik keluarga Wang. Bukankah mereka dulu merampas perusahaan elektronik kita yang lain? Ini jalan terbaik untuk mengembalikannya kerugian kita waktu lalu," bisik Chen. 


"Lalu istrimu?" tanya Jovan. 


"Dia cinta padaku, pasti dia akan setia padaku. Ayo, kita mulai berakting!" Chen sangat percaya diri bahwa dirinya mampu berakting dengan baik. 


Setelah membaca isi skrip yang diberikan oleh pembuatannya, Chen dan Jovan menganga. Mereka memang besar di Kota yang sama. Tapi, mengenai aksara China tradisional, mereka tidak pernah mempelajarinya lebih lanjut lagi. 


"Pak sutradara! Kenapa dengan bahasanya? Bahasanya mengapa seperti ini? Aku sebagai apa di sini?" tanya Chen sembari protes kepada sutradaranya sembari memukul skripnya. 


"Kenapa kau bertanya padaku? Dimana managermu? Apa kau buta? Kau seorang aktor, kau bisa baca, 'kan!"


Bukannya menjawab jawaban, Chen malah mendapat hinaan dari sutradara tersebut. Membuat Chen hampir saja mengeluarkan belatinya. Beruntung Jovan melihatnya, lalu bisa mencegah Chen bertindak konyol di lokasi syuting. 


"Apa-apan kau ini? Kau mau mati di sini? Banyak kamera di sini, mereka juga orang film dan media. Sekali saja tindakanmu salah karena gegabah, reputasimu bisa hancur," bisik Jovan. 


"Aku kesal dengannya. Untuk apa dia membentakku, aku hanya bertanya kenapa dialognya bahasanya seperti ini," Chen berbelit. 


Jovan mengatakan bahwa dirinya bisa mengajarinya perlahan. Peran yang diberikan kepada Chen adalah peran sebagai Kaisar yang memiliki tempramen buruk. Sedangkan Jovan, sebagai adik dari Kaisar, seorang pangeran yang energik dan memiliki sifat konyol.


"Apa-apaan ini? Aku baru saja putus cinta, malah diberi peran seperti ini? Benar-benar mereka mau dibunuh!" berbalik, Jovan kesal karena perannya tak sama dengan suasana hatinya. 


Chen menahan kerah baju Jovan, kemudian memintanya untuk duduk dan mengajaknya mencoba berakting dengan baik. Kesalahpahaman itu akan digunakan Chen sebaik mungkin untuk merampas kembali harta yang pernah di curi oleh keluarga Hao. 


Lalu, bagaimana dengan istrinya? Next masih mau ngakak sama Chen, atau scene Aisyah nih?