
Selang satu jam, Tuan Zi mengetuk pintu kamar Lin Aurora. Membuat Chen kesal karena ia masih mengantuk. Dinilai menganggu tidurnya, Chen meminta Tuan Zi untuk diam.
"Tapi aku … Chen, aku__"
Bukannya segera membuka pintu, mereka malah dorong-dorongan dan tidak ada yang mau membukakan pintunya.
"Cepatlah, atau dia akan menerobos masuk," pinta Chen.
"Dalam kondisi seperti ini? Chen, kau lihat aku belum mengenakan sehelai pun!" desis Lin Aurora berbisik-bisik.
"Nona Lin! Apa kau di dalam? Nona Lin!" Tuan Zi terus memanggil seraya mengetuk pintu kamar.
"I-iya, tunggu sebentar!" sahut Lin Aurora berteriak.
Lin Aurora segera memakai pakaiannya. Kemudian membuka setengah pintu lagi dan menyapa Tuan Zi. "Iya, ada apa, kakak Zi?"
Tuan Zi kembali kecewa karena Lin Aurora hanya membukakan setengah pintu untuknya. Namun, tetap saja Tuan Zi menghormati bapa yang Lin Aurora lakukan.
"Kupikir, kamu sudah terbangun sejak tadi. Apa kamu, baru bangun tidur? Apakah tidurmu nyenyak, Nona Lin?" tanya Tuan Zi, dengan raut wajah khawatir.
"Um, aku tidak apa-apa. Semalam hanya tidak bisa tidur karena hujan deras. Kakak Zi, kamu datang ke sini sepagi ini … Apakah ada sesuatu?"
Tuan Zi hendak mengajak Lin Aurora pulang pagi itu juga. Ada pekerjaan mendadak bagi Tuan Zi. Tentunya atas perintah Chen. Diam-diam, Chen meminta Jovan untuk menghubungi pihak perusahaan, supaya menelpon Tuan Zi dan memintanya untuk masuk hari itu juga.
"Um, Kakak Zi sebelumnya aku minta maaf. Bukan menolak ajakan Kak Zi. Hanya saja … hanya saja, te-temanku akan datang ke sini untuk menjemputku siang nanti. Ji-jika tidak keberatan, mohon untuk tinggalkan aku di sini, bagaimana?" Lin Aurora begitu gugup karena berbohong.
"Kamu yakin?" tanya Tuan Zi.
Lin Aurora mengangguk perlahan. Bagaimana tidak? Lin Aurora tidak mungkin meninggalkan suaminya yang sudah ada di depan matanya. Tuan Zi menanyakan kembali kepada Lin Aurora untuk itu.
"Apa kamu yakin mau menunggu temanmu itu? Jika bisa, aku akan menunggu temanmu sampai datang, bagaimana?" Tuan Zi masih kekeh.
"Ah, jangan!" tolak Lin Aurora langsung.
"Hah, kenapa?" tanya Tuan Zi kembali.
"Bu-bukan apa-apa. Tapi tidak baik menunda pekerjaan lagi. Bagaimana jika Tuan muda itu tahu, jika kakak Zi bekerja tidak profesional? Bisa-bisa, nantinya kakak Zi bisa di pecat, loh!" seru Lin Aurora.
Tuan Zi berpikir sejenak. Di dalam, Chen sudah manggut-manggut merasa dirinya akan menang. Sebab, Chen yakin jika Tuan Zi lebih mementingkan pekerjaan. Tentara, di luar dugaan. Tuan Zi, malah tidak peduli jika dia akan di pecat.
"Aku tidak peduli itu. Bagiku, kamu yang paling penting saat ini," ucap Tuan Zi dengan tegas kepada Lin Aurora.
"Haduh, salah lawan!" kesal Chen dalam hati.
Dia beranjak dari ranjangnya. Berjalan menuju kamar mandi dan akan mulai mandi pagi itu. Sementara Tuan Zi, mendengar ketika Chen menutup pintunya.
"Apa ada seseorang di dalam?" tanya Tuan Zi.
"Jangan pernah mengorbankan pekerjaanmu demi diriku. Tuan Zi__"
Belum juga Lin Aurora memberi penuturan kepada Tuan Zi, datanglah Jovan membawa makanan yang dengan wajah sedikit lesu. Membuat Tuan Zi terkejut dengan kedatangannya.
"Astaga, kenapa dia ada di depan pintu kamarnya Lin Dan Chen?" batin Jovan, seketika zumba karena saking terkejutnya. Sembari, tangan kirinya mengangkat wadah makanan dengan mata terbelalak.
"Tuan Jovan, anda di sini?" Tuan Zi menyapa dengan menoleh ke kanan-kiri. "Apakah Tuan Muda Wang juga ada di sini juga?" lanjutnya.
Lin Aurora menepuk keningnya sendiri. Jovan dan dirinya sedang senam jantung karena Tuan Zi, Chen malah santai menikmati hangatnya berendam di dalam.
"Um, itu … aku mau … um--" Jovan mulai bingung mau menjawab apa. Takutnya, Tuan Zi tidak akan percaya dan malah menimbulkan masalah bagi Lin Aurora.
"Um, Jovan adalah temanku!" seru Lin Aurora. Dia tahu jika Jovan kebingungan hendak menjawab.
Tuan Zi menoleh kearah Lin Aurora. "Tuan Jovan, teman kamu? Bagaimana bisa?" tanyanya lagi.
"Kami berteman sejak kecil. Teman yang aku ceritakan tadi, adalah Jovan. Bukan begitu, Jovan?" Lin Aurora bahkan tidak memanggilnya dengan sebutan 'Tuan' seperti ketika mereka di tempat kerja.
Jovan menganggukkan kepalanya dengan cepat. Apapun yang Lin Aurora katakan, kali itu Jovan iyakan saja. Dengan jantung berdebar-debar, Jovan bergeming. "Biarkan saja, yang terpenting uangku tidak hilang karena Chen." batinnya mulai terluka.
Selalu saja Jovan menjadi kambing hitam diantara Lin Aurora dan Chen. Tapi, tetap saja Jovan tidak marah, hanya kesal karena baginya, sepupu dan istrinya itu kurang waras. "Atur saja, Lin Aurora, atur saja. Aku ngikut saja lah__"
Berharap Tuan Zi cepat pergi, Jovan mengajaknya untuk bergabung sarapan. Namun, karena pekerjaan sudah tidak bisa ditinggalkan lagi, Tuan Zi menolak ajakan Jovan tersebut.
"Maaf, Tuan Jovan. Bukannya saya lancang menolak niat baik anda dan Nona Lin. Entah kenapa, direktur Liu meminta saya untuk segera ke kantor, jadi saya harus kembali dulu," alasan Tuan Zi, memang berkat Chen dan Jovan yang mengaturnya.
"Jika Lin Aurora akan pulang nanti bersama anda, itu akan membuat hati saya tenang. Saya telah mengenal anda sudah lama, Tuan Jovan. Jadi, saya tidak mungkin meragukan anda," lanjut Tuan Zi dengan santun.
"Jika begitu, saya mohon pamit dulu," Tuan Zi tersenyum kepada Jovan. "Nona Lin, kabari saja aku jika kau membutuhkan apapun nantinya. Aku tinggal dulu, ya. Selamat berlibur." tukasnya, undur diri.
Masih dengan perasaan kecewa karena tidak bisa full bersama wanita yang di sukainya, Tuan Zi berbalik dengan mengepalkan tangannya. Dia juga berjanji, jika suatu saat nanti, pasti bisa memiliki Lin Aurora seutuhnya.
Baik Lin Aurora ataupun Jovan bisa bernapas lega saat itu. Mereka saling memandang dan Lin Aurora mempersilahkan Jovan masuk ke kamarnya.
"Apa kau gila? Kenapa kau datang sepagi ini, Jovan!" ketus Lin Aurora.
"Hah, aku tidak bisa tidur semalam. Jadi aku menyibukkan diri dengan memasak. Kakakmu memutuskanku begitu saja. Itu sangat, sangat membunuh rasaku, apa kau tau itu!" kesal Jovan dengan menaruh makanan yang ia bawa sedikit kasar.
"Jika hatimu terluka karena kakakku, kenapa kau menyalahkan aku?" protes Lin Aurora.
"Cih, aku tidak menyalahkanmu, bodoh! Kakakmu saja yang tidak berperasaan! Dia meninggalkan aku demi pria lain, menyebalkan!"
Mereka berdua pun terlibat adu mulut tentang perasaan mereka masing-masing dan permasalahan mereka sendiri. Memang tidak nyambung, tapi terdengar sangat heboh hingga membuat Chen kesal dan mengguyur keduanya menggunakan air bekas rendamannya.