
Pagi hari saatnya Chen mengajak Puspa untuk kembali ke Jogja. Tuan Wang dan juga Nyonya kedua mengantar keduanya ke Bandara. Sementara Jovan, akan mengambil alih pekerjaan Chen di perusahaan. Mustahil memang seusia Chen dan Jovan bisa mengelola perusahan.
Namun, tekad keluarga Wang lain dengan keluarga lainnya. Setelah keluar dari sekolah menengah, keluarga Wang selalu menuntut anak turunnya langsung masuk ke sekolah bisnis.
"Chen, segeralah kembali. Ada hal yang harus kita bicarakan setelah ini," bisik Tuan Wang kepada Chen.
"Baik, Ayah. Aku akan segera kembali, sebab … orang tuaku juga tidak ada di rumah saat ini," sahut Chen mengerti.
Tak ada yang Chen tidak pahami soal Ayah angkatnya. Tidak jauh-jauh dari perjodohan dan bisnis, Chen yakin Ayahnya akan membicarakan tentang bisnis keluarga yang ia serahkan kepada Jovan.
***
Sesampainya di Jogja sudah siang kembali. Perjalanan mereka juga harus tersendat transit di Malaysia. Sebelum mengantar Puspa kembali ke rumah orang tuanya, Chen mengajaknya mengambil mobil terlebih dahulu di rumah Ayahnya.
"Apa Tuan memiliki kunci rumahnya Ayah Yusuf?" tanya Puspa.
"Aku putranya. Tentu saja aku memiliki itu. Tapi … aku tidak bisa menyetir, apakah kamu bisa?" tanya Chen.
"Um, saya bisa. Tapi, saya lebih senang mengendarai motor. Bagaimana jika kita ke rumah saya menggunakan taksi, lalu saya akan mengantar Anda pulang kembali ke rumah, bagaimana?" usul Puspa.
Usul Puspa dipikirkan kembali oleh Chen. Ia memang tidak terbiasa menaiki motor dengan siapapun. Gugup dan takut jatuh juga terus menghantuinya. "Em, baiklah!"
Tak ingin membuat Puspa kecewa, pada akhirnya Chen menerima usulan dari gadis yang ia cintai itu. Mereka segera memanggil taksi untuk melanjutkan perjalanannya.
"Tuan, ketika di sini … Anda mau tinggal dimana?" tanya Puspa.
"Kamu jangan panggil aku dengan sebutan Tuan lagi. Panggil namaku saja, bukankah kita sudah bertunangan?" ucap Chen. "Kau tenang saja. Aku akan tinggal di hotel, jika aku pulang ke rumah … aku akan kesepian tinggal sendirian,"
Puspa menatap Chen dengan rasa iba. Rasa yang dimilikinya semakin meningkat saat tahu bahwa Chen rela melakukan apapun untuknya, termasuk mundur dari perusahaan yang sudah memberikan nama baginya.
"Kenapa tidak ke rumah Mas Tama saja? Bukankah kalian juga sudah mulai dekat?" usul Puspa.
"Iya, agar kau bisa bertemu dengan Tama ketika mau bertemu denganku. Bukan begitu, Puspa? Wah, ide mu itu sangat brilian sekali," sulut Chen salah paham.
"Tuan--"
"Berhenti memanggilku dengan sebutan itu!" ketus Chen.
"Baiklah, Kakak Chen …,"
"Siapa yang kakakmu? Panggil aku Chen!"
"Oh, kamu cemburu?" goda Puspa.
"Siapa yang cemburu? Aku hanya kesal saja, kau memberiku usul untuk tinggal di rumah Tama, sedangkan dia pernah ada dalam hatimu. Kau tunanganku, untuk apa masih berpikir bisa bertemu lagi dengan Tama? Kau pasti masih mencintai dia, bukan?"
Puspa menahan tawanya. Melihat Chen yang sedang cemburu membuatnya ingin menggelitiknya. Tapi, masih ada dinding pemisah yang sangat tinggi diantara mereka 'mahram'.
"Baiklah, bagaimana kalau tinggal di pesantren saja? Bukankah, mereka juga saudaramu?" kembali Puspa memberikan usul.
"Tidak! Aku belum benar-benar dekat dengan mereka. Yang ada, aku akan canggung ketika bersama mereka. Jalan satu-satunya adalah aku tinggal di hotel," jelas Chen kekeh dengan pendiriannya.
"Um, baiklah. Semoga saja kamu tidak tekor hidup di hotel," timpal Puspa mengalah.
"Apa itu tekor?" tanya Chen dengan wajah polos.
"Hahaha, kamus bahasa Indonesia kamu sudah sampai mana saja? Kenapa bahasa itu tidak kamu mengerti, Tuan? Eh, maksud aku, C-Chen--" tawa Puspa masih dipantau oleh Chen.
"Bukankah kamu akan banyak mengeluarkan uang jika tinggal di hotel? Nah, ketika kamu mengeluarkan uang banyak, dan jika dipikir itu merugikan, bisa disebut tekor," jelas Puspa semakin berani menertawakan Chen.
Tanpa aba-aba, Chen mencium bibirnya karena sudah tidak tahan menahan gemasnya wajah tunangannya yang saat itu mengejek dirinya. Tak lupa ia menutupi ciumannya menggunakan ponselnya, agar supir taksi tidak menyaksikannya.
Jantung keduanya berdebat hebat, hingga ciuman itu berakhir saat tujuan mereka telah sampai. "Ibu, bapak, tujuan sudah sampai," ucap sopir taksi.
Puspa langsung melepaskan diri dari ciuman itu. Lalu, mendorong sedikit kuat tubuh Chen agar menjauh dari dirinya. "Apa yang kamu lakukan?" bisiknya.
"Kami calon istriku, kenapa kita tidak boleh melakukan ini?" jawab Chen.
"Menyebalkan! Kita tidak boleh bersentuhan sebelum menikah. Aku tidak yakin jika kamu tidak tau itu!" kesal Puspa keluar dari taksi.
"Wife? Wife itu artinya istri. Oh… Jadi mereka suami istri, hampir saja su'udzon," gumam sopir taksi dalam hati.
Setelah membayar, Chen menyusul Puspa keluar. Ia juga minta maaf dengan apa yang dilakukannya.
"Maafkan aku," ucap Chen lirih.
Puspa memandangi Chen dengan keheranan. Ia mengerutkan alisnya dan meletakkan jari telunjuknya di bibirnya. "Tuan muda angkuh, rupanya bisa minta maaf, ya?" ejek Puspa.
"Ya sudah, aku pulang!" kesal Chen.
"Eh, tunggu dong. Aku maafin dan aku minta maaf juga. Tapi lain kali, jangan di ulangi lagi, oke?" tutur Puspa dengan lembut.
"Tergantung," cetus Chen.
"Kok, gitu? Nggak boleh, ya. Sabar, katanya mau jadi muridku, jadi harus sabar--" celetuk Puspa.
"Aku pulang!" Chen masih saja membuang muka dari Puspa.
Seharusnya, Puspa yang marah karena ia merasa dirugikan dengan ciuman pertama dari Chen. Akan tetapi malah sebaliknya, Chen begitu kesal saat Puspa berani mengejeknya saat sudah berada di negaranya sendiri.
"Kita masuk dulu, ya. Bukankah kita mau membahas pernikahan dan mulafnya kamu?" ucap Puspa.
"Kamu setuju dengan pernikahan itu? Bukan karena ingin mengasihani diriku, 'kan? Aku pantang untuk di kasihani," ketus Chen.
"Lihat saja, aku akan membuatmu menyesal jika berani menolakku. Jika bukan karena Tuhanmu, aku sudah memakanmu sejak tadi!" sulit Chen dalam hati.
"MasyaAllah, kenapa dia jadi seperti anak kecil yang gede ambek? Aku tidak menyangka jika aku benar-benar mau menerimanya," lanjut Puspa dalam hati.
Kedatangan meraka di sambut oleh Abi-nya Puspa dengan baik. Meski sedikit memasang wajah jutek, namun Abi-nya Puspa adalah orang yang baik, gak jauh dari Yusuf sikapnya.
"Jadi, kalian sudah bertunang beneran? Waktu itu bukan main-main?" tanya Abi.
"Tuan, jika saya main-main, mungkin saya tidak meminta anda untuk menyaksikan acara pertunangan itu. Apakah saya terlihat seperti main-main?" jelas Chen tegas.
"Allahu ya Rabb, sikapnya sama seperti Ibunya yang galak. Tapi jika dia beneran serius dengan Puspa, apa alasan aku menolaknya?" ucap Abi dalam hati.
"Tuan tidak perlu khawatir. Saya siap meninggalkan dunia bisnis saya dan hidup selayaknya orang biasa bersama dengan putri Tuan. Kesederhanaan, hidup serba sederhana, tidak lagi keluar negri untuk berbisnis, saya sudah pikirkan semua itu," ungkap Chen dengan sedikit angkuh.
"Heleh, kau anak orang berada. Satu perusahaan milikmu bangkrut saja, itu tidak membuatmu jatuh miskin seketika," sulut Abi dalam hati.
"Tuan, apakah Anda sariawan? Kenapa Anda tidak bicara?" tanya Chen.
Pertanyaan Chen membuat Puspa tertawa. Sejauh mereka hidup bersama, Puspa baru melihat Abi-nya tidak mampu berkutik di depan orang yang baru ia kenal. Selama itu, ia hanya akan kalah dengan Yusuf saja. Bahkan dengan dua sahabat Yusuf, Fatur dan Daus, masih bisa ia melawan.
Apakah Chen mendapat restu?
Kakak-kakak, aku lupa nama bapaknya Puspa siapa. Ada yang ingat? komentar ya hahaha