Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Dishi Terluka Lagi



Sarapan.


Aisyah takjub karena Dishi telah menyiapkan sarapan untuknya. Menu masakan kesukaan Aisyah yang sudah lama tidak pernah dihidangkan oleh tangan suaminya.


"Apa kamu yang memasak ini, Tuan Dishi?" tanya Aisyah, matanya masih tertuju dengan semua hidangan di atas meja.


"Kamu pikir masakan siapa lagi? Hanya ada kita berdua, kan, di rumah ini?" Jawab Dishi sedikit ketus.


Tatapan Aisyah berubah drastis kala mendengar jawaban dari Dishi. Dia pun menatap suaminya itu dengan tatapan datar, seolah jika dirinya kesal padanya.


"Kenapa jawabannya ketus seperti itu? Kamu pikir, kamu adalah kak Chen, kah? Kenapa kamu berlagak seperti kakakku!" Aisyah tak mau kalah.


"Oh--" jawab Dish.


"Heh, oh, doang?" Aisyah mulai kesal.


"Makan, atau aku akan menghabiskan semuanya. Nona Aisyah Putri Handika!" seru Dishi.


"Itu nama nenekku! Aku Aisyah Adelia Putri, kampret!" sentak Aisyah tak terima.


Mereka hanya berdebat tidak jelas satu sama lain. Membuat keduanya terlihat tidak memiliki jarak sandiwara itu. Pada dasarnya, mereka sefrekuensi, hanya saja malu jika menunjukkan sifat aslinya ke muka umum.


Setelah selesai sarapan, Dishi juga sudah mandi dan bersiap mengantarkan Aisyah ke rumah sakit. Awalnya Aisyah tidak mau karena Dishi harus istirahat, tapi Dishi memaksa dan akhirnya Aisyah terbujuk.


"Apa kamu yakin, Tuan Dishi? Mengantarku …?" tanya Aisyah ketika sudah di dalam mobil.


"Aku memang tidak mengingat kisah kita. Tapi aku tidak bodoh sampai tidak tahu menyetir, apalagi membaca plang jalanan," ketus Dishi.


"Dih, gitu amat! Aku hanya mengkhawatirkan dirimu. Menyebalkan!" umpat Aisyah lirih.


"Apa kau sedang menggerutu tentangku? Apakah aku sepenting itu?" sahut Dishi, sudah mendekati wajah Aisyah kala itu.


Aisyah menoleh dan mereka pun saling menatap satu sama lain. Hanya ada jarak sekitar lima jari saja diantara wajah keduanya. Jantung mereka pun berdebar seperti momen di saat pertama kali bertemu.


"Aku jatuh cinta lagi terhadap istriku sendiri. Cinta ini sangat manis, sehingga aku sulit untuk menjauh dari cintaku ini," gumam Dishi dalam hati.


"Apa dia tidak mengingat apapun tentangku? Apakah hanya masa lalunya saja yang penting, sehingga aku tidak ada dalam ingatan kecil yang tersisa di otak konyolnya itu?" Aisyah pun tak ingin kalah bergumam dalam hati.


Usai sarapan, Dishi sungguh ingin mengantar istrinya ke rumah sakit. Awalnya Aisyah masih ragu dengan daya ingat suaminya. Namun, karena tidak ingin berpisah lebih awal juga bersama suaminya, Aisyah pun menerima tawaran Dishi untuk mengantarnya ke rumah sakit.


Selama di perjalanan, keduanya hanya diam saja. Sesekali saling mencuri pandang dengan harapan bisa menatap wajah masing-masing lebih lama lagi.


"Ada apa?" tanya Dishi memecah keheningan.


Aisyah menggeleng saja.


"Apa aku setampan itu, sehingga kamu mau mendekatiku dan juga menjadi istriku?" Dishi menggoda lagi.


"Sudah aku jelaskan. Kita menikah, karena kami yang mengejarku, kamu yang mengajakku menikah, kamu menjadi mualaf katanya juga karena aku yang mengingatkanmu akan Tuhan. Belum cukup sampai di sana, aku ha--" celotehan Aisyah terhenti.


"Coba katakan lagi bagaimana aku mengejarmu," ucap Dishi lirih, tanpa melihat sama sekali ke arah Aisyah.


"Ya kamu datang padaku dan …." Ungkapan Aisyah kembali terjeda. Bagaikan ada suara alunan lagu romantis mengiringi aksi dari Dishi yang tiba-tiba mencium bibir istrinya.


Mata Aisyah membelak. Kedua mata bulat itu semakin membulat karena tidak tahu harus bereaksi bagaimana lagi ketika suaminya sendiri mencium bibirnya secara tiba-tiba. Ingin menolak, tapi mereka sudah sah, tapi Aisyah masih ragu karena Dishi belum mengingat kembali siapa dirinya.


"Apa kau sudah gila?" Aisyah mendorong tubuh Dishi dengan kasar. "Kita memang suami istri. Tapi kau melupakan tentang aku dalam ingatanmu, sama aja kita berzina meski kita adalah pasangan sah!" tegas Aisyah.


"Pikiranmu masih belum ingat jika aku adalah istrimu. Bagaimana bisa kamu berbuat seperti ini, Tuan Dishi!" sentak Aisyah.


Tatapan Dishi menjadi menurun. Ia menunduk dan mengucapkan maaf kepada sang istri. Kemudian, mengungkapkan jika dirinya sudah mengingat siapa Aisyah yang sebenarnya. Dishi tidak mengatakan jika dirinya berbohong atas ingatannya yang hilang tersebut. Takut jika Aisyah akan marah, maka terpaksa Dishi harus mengatakan jika dirinya sudah mengingat siapa Aisyah yang sebenarnya.


"Maksudnya apa? Kamu mau mempermainkan aku?" ketus Aisyah dengan tatapan waspada.


"Ai, aku sudah ingat segalanya meski belum semuanya dengan detail. Aku Dishimu, dan kamu Ai-ku," ungkap Dishi meyakinkan kembali kepercayaan istrinya yang mulai goyah.


"Aku tidak percaya!" Aisyah malah terlihat ketakutan kala Dishi hendak menyentuh lengannya. "Jangan sentuh aku!" sentaknya.


Aisyah yang merasa bingung tidak peduli mobilnya berhenti di mana, dirinya turun dari mobil meninggalkan Dishi. Merasa bersalah, Dishi pun menyusul keluar. "Ai!" teriak Dishi memanggil istri tercintanya.


"Apakah yang aku lakukan ini sangat fatal? Aku tidak neh membuatnya terluka maupun sakit hati. Aku harus minta maaf dan menjelaskan semuanya," gumam Dishi.


"Ai tu … AISYAH!" teriak Dishi.


DOR!


Suara tembakan begitu keras sampai Aisyah pun menghentikan langkahnya. Aisyah menoleh, melihat suaminya sudah berad di belakangnya menahan serangan belati dan juga satu tembakan.


Belati tajam itu menancap di paha bagian kiri. Lalu peluru mengenai pinggang bagian kiri juga. Tatapan mata Dishi menunjukkan jika dirinya begitu mencintai Aisyah. Sehingga mampu berkorban diri untuknya.


"Kamu aman, aku baik-baik saja. Jangan pasang wajah seperti itu. Tetaplah berlindung di depan tubuhku," ucap Dishi sembari meringis kesakitan. "Aku harus menelpon asistenku untuk mencari siapa orang itu," lanjutnya sibuk mencari ponselnya.


Aisyah bingung. Dia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Kehilangan keluarganya membuat Aisyah tidak ingin kehilangan seseorang yang kita cintai lagi.


"Ayo, segara ke mobil," ajak Aisyah.


Namun, Dishi menahan tangannya. "Tetaplah di sini sementara waktu sampai orang itu pergi," ucapnya serius.


"Apa kau sudah gila? Bagaimana jika penjahat itu sekali lagi menembak dan melepaskan belatinya kepada kita?" Aisyah mulai panik.


Dishi tak menjawab atau menjelaskan apapun. Dia hanya menunduk dan berusaha untuk tidak gerak dari tempatnya. Dishi terus mengamati orang yang menembaknya menggunakan kaca yang ia miliki. Tak lama kemudian orang itu pun pergi.


"Aku lemas sekali, bisakah kamu menyetir sendiri ke rumah sakit? Aku akan pulang saja naik taksi," ujar Dishi menahan sakit.


"Setelah mengatakan bahwa kamu sudah ingat, sekrang sok jadi orang yang kuat? Kenapa kamu melakukan ini, jahat, jahat, jahat!" Aisyah memukuli dada suaminya. Meluapkan segala emosinya karena bingung mau sedih atau bahagia karena suaminya sudah mengingat tentang dirinya.