
Sesampainya di kantor polisi, Dishi dan Theresia langsung menemui sopir tersebut. Setelah hasil interogasi selesai, sopir di nyatakan tidak bersalah karena cctv menunjukkan kecelakaan itu diakibatkan oleh kecerobohan Xia dan dua teman sekolahnya.
"Tunggu, aku tahu siapa mereka berdua ini!" Theresia mengenali dua siswi itu. "Hash, benar-benar mereka,"
"Kakak tampan, dia adalah siswi yang selalu melakukan perundingan di sekolah. Xia selalu menjadi target utama mereka," ungkap Theresia.
Theresia mengungkapkan bagaimana perlakuan dari dua siswi tersebut terhadap Xia. Awalnya, Dishi tidak percaya jika Xia memilih untuk mengalah. Seperti yang diketahui olehnya, bahwa Xia bukan gadis yang mudah menerima penindasan dalam dirinya. Ada banyak nyawa yang telah mati ditangannya melalui racun mematikan racikannya sendiri.
Namun, semua keraguan itu terjawab ketika Theresia mengatakan bahwa Tama lah asalan pertama untuk Xia berbuat baik di sekolah. Dishi semakin khawatir dengan rasa yang seharusnya belum tumbuh itu.
"Kakak tampan, apa yang harus kita lakukan terhadap dua siswi menyebalkan ini?" tanya Theresia menghancurkan lamunan Dishi.
"Kami akan memanggil mereka dan orang tuanya sekalian datang kemari. Awalnya kami merasa jika mereka ini sedang bergurau. Tapi mendengar ungkapan dari gadis ini, kita menjadi yakin bahwa korban memang sedang dirundung oleh mereka," ujar polisi di sana.
"Tapi mereka masih dibawah umur. Bagaimana dengan sekolah mereka juga? Bukankah Ini sudah memasuki ujian akhir untuk kelas tingkat akhir sekolah menengah pertama?" tanya Dishi.
"Benar. Tapi jika tidak ditindaklanjuti dengan tegas, maka kasus-kasus perundungan di setiap sekolah tidak akan pernah usai. Kita sebagai orang dewasa, harus mendisplinkan mereka dengan membuat efek jera," jawab polisi.
"Kakak, apa yang dikatakan pak polisi benar. Kita harus membuat mereka ini jera. Supaya tidak ada korban pembullyan lagi di sekolah," sahut Theresia.
"Jika anda setuju dengan saran yang kami berikan, maka tolong silakan membuat tuntutan terhadap kedua siswi tersebut. Selanjutnya biar hukum yang menangani mereka," lanjut polisi.
Sebenarnya Dishi tidak ingin memperpanjang masalah. Namun, jika tidak mengikuti saran polisi, meka akan banyak calon penerus bangsa yang memiliki sikap buruk seperti itu.
"Baiklah, saya mewakili wali dari korban, dan juga sebagai kakak dari korban, saya akan membuat tuntutan atas perundungan yang telah terjadi."
Tak lupa, Dishi memberi kabar kepada Aisyah jika dirinya sedang ada dikantor polisi bersama de gan Theresia. Awalnya, Aisyah masih bersikap baik karena Dishi menyertakan penjelasan alasan dirinya ke kantor polisi. Namun, Theresia membuat ulah dengan mengirim foto mereka berdua di sana.
"Wah, sedang mengabari istrinya, ya?" tanya Theresia.
Dishi mengangguk.
"Coba kulihat!" seru Theresia merebut ponsel milik Dishi. "Ciss …."
Foto tersebut dikirim ke nomor Aisyah, dan kebetulan langsung di buka olehnya. Dishi menganga, gak menyangka jika gadis yang bersamanya itu bukan hanya cerewet, melainkan usil juga.
"Kamu--"
"Bercanda, istrimu pasti juga tidak marah. Bukankah kalian sudah saling percaya, sehingga memutuskan untuk hidup saling berjauhan? Pasti juga istrimu tidak akan cemburu denganku yang masih remaja ini," celetuk Theresia.
Mau bagaimana lagi, foto yang sudah dikirimkan tidak bisa ditarik kembali karena foto tersebut sudah dibuka oleh Aisyah sendiri. Aisyah yang baru saja selesai melakukan pekerjaannya, melihat foto tersebut pun menjadi tersedak karena saat itu juga dirinya sedang minum.
"Uhuk!"
"Apa-apaan ini? Hilang ingatan yang hilang ingatan saja, kenapa sampai dia berfoto dengan wanita lain dan mengirimkannya kepadaku? Apa dia sudah bosan hidup, atau memang dia tidak ingin mengingat kenangan bersamaku?" ketus Aisyah.
"Iya, aku sangat kesal, marah dan ingin sekali memakan orang! Ahh!" teriak Aisyah. "Lihat saja Dishi, saat kamu mengingat tentangku, siapa aku, aku akan membuatmu merasakan hal yang sama! Menyebalkan!" Aisyah terus menggerutu, dan membuat Bora tidak paham dengan apa yang dikatakannya.
Aisyah meninggalkan Bora begitu saja, dia masuk ke ruangan timnya dan terus menatap foto tersebut dengan mata yang berapi-api.
"Lihatlah senyum bodohnya ini. Ingin sekali aku menggosokkan wajahnya ke sakuku!" Aisyah masih kesal.
"Aku cemburu!"
"Haaaaa!"
"Kapan ingatanmu pulih, Dishi? Seharusnya Ko Feng dan Mas Tama membawa dia kemari, di hadapanku, lalu aku bisa membenturkan kepalanya ke dinding,"
"Eh, kenapa aku sangat kejam? Dia suamiku, aku mencintainya. Aghhrrr, perasaan ini membuatku gila!"
"Dishi, cepat kembali, aku merindukanmu__"
Aisyah terus saja memandang foto suaminya yang tengah bersama dengan gadis muda tersebut. Namun, rasa cemburunya tidak melebihi dengan rasa kerinduannya terhadap suaminya. Aisyah mengirim pesan kepada Feng untuk segera membuat Dishi sembuh dan bisa berkumpul kembali bersamanya.
Di waktu yang bersamaan, mencegah adanya kesalahpahaman antara hubungan yang sedang jauh itu, Dishi menelpon Aisyah untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Masih mempertahankan kan emosinya, Aisyah pun menjawab dengan suara yang tenang meski hatinya memberontak ingin memukul keras wajah suaminya itu.
"Halo, ada apa anda menelponku Asisten Dishi? Kulihat, anda sedang berkencan dengan kekasihmu, mengapa anda menelponku?" tanya Aisyah.
"Anda?" batin Dishi. "Dia jelas marah kepadaku. Ahh, aku tidak tega membuatnya marah seperti ini. Pasti dia merasa terluka," sambungnya dalam hati.
Jika dipikiran Dishi, Aisyah menangis dan terluka, sebaliknya di posisi Aisyah, dirinya malah ingin sekali mengeluarkan jurus mematikan untuk suaminya sendiri.
"Um, yang ada di dalam foto itu bukan seperti yang kamu pikirkan," ucap Dishi menenata ucapannya.
"Oh, memangnya aku memikirkan apa, Asisten Dishi? Anda saja yang terlalu berpikir, aku biasa saja--"
"Gadis ini adalah teman Xia. Aku sedang bersamanya di kantor polisi. Beberapa waktu yang lalu, Xia mengalami kecelakaan hebat yang membuatnya kehilangan banyak darah dan juga kesadaran. Setelah diselidiki ternyata dia baru bertengkar dengan teman sekolahnya. Nah, kemudian temannya ini datang ke rumah Tama, jadi …."
Merasa lega Dishi sudah menjelaskan, tapi Aisyah masih memasang harga tinggi kepada suaminya itu. Dengan bicaranya yang ketus, Aisyah pun menjawab, "Oh, siapa Xia? Lalu bagaimana keadaannya? Apakah itu penting bagiku? Haha, anda ini sangat lucu menjelaskan hal yang tidak penting seperti ini bagiku, asisten Dishi,"
Tapi meski Aisyah menjawab dengan ketus, Dishi tetap merasa lega karena suara Aisyah sudah berbeda dengan awal dirinya menelpon. Dishi tidak ingin semakin mempermainkan istrinya, ia pun hendak bergerak cepat membuat perusahaan stabil dan bisa kembali ke Korea.
"Nona, ta--"
Tutt …. Tutt …. Tutt…
Telpon pin terputus. Aisyah menutup telponnya. Dishi tidak lagi mengganggunya karena dirinya yakin, jika istrinya masih membutuhkan waktu untuk beriskap asing kepada suaminya sendiri.