Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Ledakan Gedung



Sesekali, Aisyah menoleh ke arah belakang, melihat suaminya berkelahi dengan orang-orang berjas hitam itu dan melihat lengan suaminya tertusuk. Ingin sekali Aisyah kembali dan membantu suami serta Ibunya, tapi sayangnya, Yusuf dan Mas Ijal menahannya.


Aisyah menunjukkan jalan dimana yang dirinya sudah diberitahu oleh Dishi untuk kabur dari gedung tersebut. Namun, Dishi, Rebecca dan Chen terjebak di dalam. Mereka harus menuntaskan misi terakhirnya untuk membuat kerusuhan di dalam dunia hitam itu dengan tuntas.


Tuan Natt, berkelahi dengan Tuan Wang. Nyonya Wang membantu Rebecca mengurus yang lainnya. Sementara Chen dan Dishi, mereka juga sedang melawan anak buah Jackson yang bekerja sama dengan anak buah Tuan Natt.


Setelah mendengar beberapa kali tembakan, teriakan orang di dalam gedung itu, membuat hati Aisyah sakit sekali. Dia terus berdoa untu suami, kakak dan juga Ibunya supaya bisa selamat dan kembali bersamanya.


Butuh waktu lima menit saja akhirnya Aisyah bisa membawa Yusuf dan Mas Ijal keluar. Di luaran sana masih sepi, sehingga memudahkan Aisyah, Yusuf dan Mas Ijal keluar dengan mudah dari area gedung. Namun, siapa sangka?


Waktu menunjukkan pukul 12 malam. Mereka dihadang oleh Jackson dan juga Cindy. Tak ada henti-hentinya mereka berdua menginginkan kematian dari pihak lawannya.


Prok, prok, prok …


Tepukan tangan itu membuat Aisyah, Yusuf dan Mas Ijal menghentikan langkahnya. Mereka bertiga dihadang oleh Jackson Lim dan juga Cindy. Mereka hanua berdua karena semua orangnya telah di bawa masuk ke gedung.


"Aisyah Adelia Putri, binti Yusuf Ali. Mau kemana kalian bertiga?" ucap Cindy.


"Cindy?" Yusuf tidak menyangka jika Cindy tidak pernah kapok. Padahal, sudah sangat lama dia memusuhi Yusuf dan keluarganya.


"Aku takjub dengan suamimu Aisyah. Ternyata, dia pun ingin istrinya tetap hidup? Hahaha, kau telah bertemu denganku, jadi jangan harap kalian bertiga akan hidup!" cetus Cindy.


"Urusanmu denganku. Semuanya tidak ada hubungannya dengan putriku, kenapa kau menyangkut pautkan masa lalu kita keoada putriku?" ujar Yusuf melindungi putrinya.


"Ayah, mereka memang menginginkan aku mati. Jadi, sebaiknya kalian mundur dulu, aku yang akan menangani mereka berdua di sini," Aisyah menarik tangan Ayahnya perlahan ke belakang. "Mas Ijal, bela dirimu juga sangat bagus. Jika nanti aku membutuhkan bantuanmu, maka segera lakukan, ya …," Lanjutnya memberi tangan Ayahnya kepada Mas Ijal.


"Tolong jaha ayahku dulu," Aisyah benar-benar sudah hilang kesabaran lagi menghadapi Cindy dan juga Jackson Lim.


Mas Ijal mengangguk. Dia tidak tahu apa-apa, pikirannya masih kacau karena istrinya masih terkapar tak bernyawa di dalam gedung sana.


"Nak, Jackson Lim bukanlah tandinganmu. Jangan main-main dengannya," desis Yusuf.


Yusuf tahu jika dirinya akan kehilangan istrinya. Maka dari itu, tengah malam di pinggiran kota yang sepi, dia tidak ingin kehilangan Aisyah yang sudah menemaninya sejak Aisyah lahir.


"Majulah--" ucap Aisyah.


Cindy maju terlebih dahulu. Mereka terlibat adu belati dan juga adu skil dalam berkelahi. Seperti sudah memiliki firasat, Dishi melatih Aisyah selama seminggu terakhir. Semua jurus bela diri itu ternyata mampu melumpuhkan Cindy.


Tak mudah bagi Aisyah membuat Cindy kalah, tapi Aisyah mampu membuat lengan dan kaki wanita jahat itu terluka dengan sayatan belatinya.


"Kurang ajar!" teriak Cindy mengeluarkan pistolnya.


Dengan cepat, Aisyah mengelak dari arahan pistol itu dan menabur racun yang sudah Dishi berikan kepadanya beberapa jam lalu di wajah Cindy. Peluru yang keluar dari pistol itu meleset.


"Apa ini? Uhuk, uhuk, Jackson!"


"Sial! Ini bubuk sangat mematikan. Kurang ajar kau!" giliran Jackson Lim yang maju.


Tiba-tiba saja menyerang, Aisyah belum siap dan dia pun terluka lengannya. Setelah menusuk lengan Aisyah, Jackson Lim langsung mencabut belatinya. Mengalir dan mengucur deras darah yang keluar dari lengan Aisyah.


"Aisyah!" teriak Yusuf.


"Mas Ijal, bantu tangkap dia!" teriak Aisyah.


"Baik!"


Ketika Cindy hendak menghalangi aksi Mas Ijal, Yusuf menotok tubuh Cindy dan akhirnya ia pun pingsan. Mas Ijal segera menahan tangan Jackson Lim.


"Kau merencanakan pembunuhan besar di gedung itu. Ada kakakku, suamiku, Ibuku dan sahabatku. Maka malam ini, kau juga akan merasakan hal yang sama dengan apa yang mereka rasakan, Paman Jackson Lim--"


Aisyah menyayat tangan Jackson Lim dan kemudian menabur bubuk racun itu di luka sayatannya. Tubuhnya tiba-tiba kejang-kejang, Mas Ijal pun menjelaskan tangannya. Kemudian menjauh.


Kedua penjahat abadi itu kejang-kejang sevara bersamaan. Tak lama kemudian, keluar darah dari bibirnya dan menghembuskan nafas terakhir.


Yusuf mengecek napas mereka. "Innalilahi wainnailaihi roji'un," ucapnya.


"Aku membunuh orang, Ayah. Aku membunuh orang?" Aisyah menjadi lemas sendiri. Yusuf segera menangkapnya.


Lokasi kematian Jackson Lim dan juga Cindy tidak jauh dari gedung. Mereka juga masih mengenakan pakaian formal. Segera, Mas Ijal mengendarai mobil yang sebelumnya di kendarai oleh Dishi menjauh dari gedung tersebut.


Sekitar 10 menit, gedung itu meledak dan terbakar. Aisyah menangis sejadi-jadinya melihat ledakan yang berujung kebakaran gedung itu. Suami, kakak, ibu, sahabat dan juga keluarga Wang ada di sana. Betapa hancurnya perasaan Aisyah saat itu.


Sekitar beberapa menit, datanglah pemadam kebakaran dan sejumlah polisi. Ingat dengan kata-kata suaminya, Aisyah segara pulang ke kediaman Wang untuk mengamankan koper kecil berwarna kuning di kamarnya.


"Ayah, Mas Ijal, kita harus segera pulang. Ada sesuatu yang masih harus aku selesaikan," ucap Aisyah.


Sebelum itu, Yusuf akan tetap tinggal untuk mengetahui perkembangan dari kebakaran gedung itu. Mas Ijal lah yang mengantar Aisyah pulang ke kediaman Wang.


Ketika ingin masuk ke rumah, Aisyah menerima telepon dari Tuan Jin. Seolah dia sangat tahu jika dirinya sedang memerlukan bantuan dari orang lain.


"Tuan Jin?"


"Halo, Tuan Jin!"


"Ai, kamu ada dimana? Saya sudah sampai di depan kediaman rumah kakak kamu," ucapnya.


"Mas Ijal, kita keluar dulu. Temanku sudah ada di luar. Siapa tahu, dia bisa membantu kita nantinya," Aisyah mengajak Mas Ijal keluar lagi dari kediaman keluarga Wang.


"Aisyah, dia lawan apa kawan? Takutnya, dia malah--" Mas Ijal menjadi waspada.


"Aku mengenalnya lumayan lama. Ayo, Mas! Takutnya nanti dia yang dalam bahaya jika lama-lama di luar!"


Aisyah menarik tangan Mas Ijal dan mengajaknya segara menemui Tuan Jin. Ketika membuka gerbang, Aisyah benar-benar melihat Tuan Jin ada di luar sana.


"Tuan Jin? Kau datang? Aku benar-benar takut hari ini, aku takut, Tuan Jin. Darah, tembakan, perkelahian dan juga bunuh saling membunuh terjadi di depan mataku," Aisyah begitu panik.


"Stt, tenanglah. Tenang, Ai. Mari kita masuk dulu, kita bahas yang lainnnya di dalam."


Tuan Jin dan Bora memang sudah sangat akrab dengan Aisyah. Itu sebabnya Tuan Jin memanggil dengan nama 'Ai' saja. Itu memudahkan untuknya memanggil Aisyah.