Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Rencana Licik Chaterine



Meninggalkan kisah Chen yang sibuk dengan persunatannya, Aisyah dan Dishi sibuk mencari informasi tentang Chaterine yang semakin hari kian menjadi-jadi.


"Sayang, pagi ini aku ada pekerjaan sebentar. Tuan memintaku untuk ke markas, meneliti beberapa dokumen penting. Sepertinya, aku akan telat jemput kamu nanti," ucap Dishi. 


"Kak Chen? Sibuk mau menikah, juga bisa ngasih pekerjaan, kah?" tanya Aisyah. 


"Katanya sih ini penting. Ya sudah, aku antar Ilkay ke sekolah dulu, ya. Assalamu'alaikum," pamit Dishi, tak lupa mencium kening istrinya. 


"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh, hati-hati!"


Terpaksa, Aisyah harus berangkat ke kampus sendiri. Sang sahabat datang menjemput dirinya. Meski hanya mengajak berangkat naik kereta, jika ada temannya, Aisyah akan jauh lebih tenang.


"Suamimu kemana?" tanya Bora. 


"Dia berangkat bekerja. Ada pekerjaan yang mendesaknya," jawab Aisyah menyajikan air minum untuk sahabatnya. 


"Ada hal yang ingin aku katakan padamu. Tapi, aku takut suamimu akan marah jika mengetahui hal ini," lanjut Bora mendekati Aisyah. 


Mendapat respon dari Aisyah, Bora pun mengatakan saat sepupunya, Tuan Jin, memberi peringatan untuk menjauhi Aisyah. Fakta yang Tuan Jin ketahui adalah, Chaterine berusaha merebut Ilkay karena di rasa, Ilkay adalah miliknya. 


"Apakah yang dikatakan sepupumu itu, adalah benar?" tanya Aisyah. 


"Hm, aku rasa benar. Aku paling tau, jika seseorang itu sedang berbohong atau bicara dengan jujur," jawab Bora. 


"Aisyah, aku tau Ilkay adalah anak angkatmu. Tapi, apakah Chaterine itu adalah Ibu kandungnya? Lalu, mengapa sampai anak itu ada dibawah asuhan dirimu?" lanjut Bora semakin penasaran. 


Bora sangat baik dan menghargai dirinya. Tanpa Bora, mungkin Aisyah akan kesulitan berbaur saat di kampus. Ia pun menceritakan segalanya kepada Bora, gadis berusia 23 tahun itu juga paham apa yang dikatakan sahabatnya, Aisyah. 


"Aku benci dengan orang seperti Chaterine ini. Tenang saja, Aisyah. Aku akan selalu mendukungmu, hm?" ujarnya menonjolkan wajah manisnya itu. 


Aisyah tak ingin mengambil pusing hal itu. Ia percaya kepada suaminya yang akan terus membantunya jika masalah itu menyangkut Ilkay. Mereka pun berangkat ke kampus setelah sarapan bersama. 


Saat di kereta, tak sengaja mereka bertemu dengan Tuan Jin yang berpakaian rapi dengan tas biola di tangannya. Aisyah sadar akan kehadiran Tuan Jin, kemudian menanyakan kepada Bora. 


"Hey, itu sepupumu, bukan?" bisik Aisyah. 


Bora mencari-cari dimana sepupunya berada. Saat ia melihat, barulah Bora mengangguk cepat. "Mau kemana dia?" gumamnya. 


"Kelas akan datang dua jam lagi. Apa kamu penasaran dengan sepupumu itu?" bisik Aisyah. 


"Ide bagus! Ayo, kita ikuti dia. Siapa tau, kita akan mendapat petunjuk tentang guru menyebalkan itu!" desis Bora. 


Stasiun pertama adalah tempat tujuan Tuan Jin. Terlihat ia terburu-buru meninggalkan kereta. Aisyah dan Bora mulai beraksi mengikutinya. Meninggalkan stasiun, Tuan Jin ternyata masuk di cafe yang cukup terkenal di kota itu. Ia duduk dengan tenang dan memesan secangkir kopi di mejanya. 


"Apa yang Oppa lakukan di sini? Ini sangat jauh dari rumahnya," bisik Bora. 


"Apakah dia ingin mengajar di tempat lain? Lihatlah, dia membawa biolanya," sahut Aisyah. 


Tempat duduk mereka persis di belakang kursi Tuan Jin. Hal yang membuat kedua mahasiswi itu semakin terkejut adalah, hadirnya Chaterine di sana. 


"Chaterine?" gumam Aisyah. 


Bora melihat ekspresi Aisyah yang tak biasa saat melihat wanita yang datang menghampiri sepupunya itu. "Ai, Aisyah! Kau mengenal wanita itu?" tanyanya. 


"Chaterine, dia adalah Chaterine," jawab Aisyah. 


"Sttt, tenanglah! Kita simak saja apa yang akan mereka katakan," bisik Aisyah menutup mulut Bora. 


"Aku tau_"


Pikiran Bora sebelumnya sudah negatif kepada sepupunya itu. Namun, apa yang terjadi? Tuan Jin rupanya malah memperingati Chaterine untuk tidak macam-macam dengan Aisyah, karena ia tidak terima jika Aisyah sampai terluka. 


"Oho! Tuan Jin mengatakan ini, apakah pantas? Dia wanita bersuami, mengapa Anda begitu peduli padanya?" Chaterine mulai menjadi provokator. 


"Ini bukan masalah saya peduli atau tidaknya. Saya korban brokenhome, Nona Chaterine. Saya dulu juga diperebutkan hak asuh saya oleh kedua orang tua saya," ungkap Tuan Jin. 


"Saya sudah nyaman tinggal bersama Ayah dan Ibu tiri saya yang begitu mencintai saya. Tapi, setelah Ibu saya hadir, semuanya hancur. Saya tidak akan berpikir negatif tentang Anda, namun melihat Ilkay … Saya hanya takut, kejadian lampau masalah saya akan berulang kembali pada anak itu," lanjut Tuan Jin. 


Chaterine menghela napas. Kemudian mendekati Tuan Jik seraya berbisik, "Saya tidak seperti Ibu Anda. Ilkay anak saya, dan orang tuanya sekarang hanyalah orang tua angkat yang tidak memiliki ikatan apapun! Sampai di sini paham?" ketusnya. 


"Apa yang dia katakan? Mana ada tidak ada ikatan? Ilkay itu kan anak dari kakakmu, Ai?" desis Bora kesal. 


Tuan Jin menyeringai. Meski Chaterine ingin berbohong sekalipun, pria seperti Tuan Jin ini tidak mudah ditipu. Dia sudah tau kenyataannya jika Ilkay adalah keponakan dari Aisyah, dan memang Aisyah pantas untuk merawatnya. 


"Nona Chaterine, saya peringatkan sekali lagi. Jangan macam-macam!" tegas Tuan Jin. "Jika saya melihat pergerakan Anda keterlaluan, maka saya tidak akan segan lagi, mengerti?" gertaknya. 


Brak! 


Meja tak bersalah pun kena pukul. 


"Anda bukan siapa-siapa, jadi tidak usah ikut campur! Ilkay anak saya, dan saya berhak merebutnya kembali! Ya, benar! Saya menginginkan Ilkay hanya untuk membuatnya sebagai mesin ATM saja supaya bisa memeras Ayah kandungnya, lantas … apa mau Anda?" cetus Chaterine. 


"Saya ingatkan sekali lahir pada Anda. Menjauhlah, jika Anda ingin hidup dengan tenang. Permisi!" 


Setelah mengatakan niat buruknya, Chaterine pergi begitu saja dengan kesal. Usai Chaterine pergi, Aisyah beranjak dan hendak mendekati Tuan Jin, namun di tahan oleh Bora. 


"Apa yang kau lakukan? Jin Oppa akan mengetahui kita nanti," bisik Bora. 


"Dia sudah tahu sejak tadi," ucap Aisyah. 


"Dari mana kau tau?" tanya Bora masih saja berbisik. 


Aisyah menunjuk cermin besar di depan Tuan Jin duduk. Sejak Tuan Jin mengatakan untuk tidak membuat Aisyah terluka, Tuan Jin sudah mengetahui keberadaan Aisyah dan Bora dibelakangnya. 


"Aigo, kupikir kita smart," lirih Bora. 


Aisyah mengajak Bora menemui Tuan Jin. 


"Anda sudah dengar? Maka, lakukan tindakan. Saya akan kembali ke tempat les tersebut, saya akan bantu Anda untuk menjaga Ilkay di sana, permisi," Tuan Jin pergi begitu saja. 


Aisyah merasa tenang kalau Tuan Jin mengatakan akan kembali ke tempat les tersebut. Hanya saja, Aisyah masih tidak mengerti mengapa Tuan Jin begitu baik padanya. Mengambil resiko memperingati Chaterine untuk tidak macam-macam dengannya. 


"Kenapa Kakak sepupumu baik padaku, Bora?" tanya Aisyah. 


"Oh, dia memang seperti itu jika sudah menyangkut anak-anak," jawab Bora. "Ayo, kita pergi sekarang, lain kali aku ceritakan tentangnya." ajak Bora menarik tangan Aisyah. 


Tak peduli mengapa Tuan Jin sangat baik padanya, yang terpenting Aisyah tahu apa maksud dan tujuan Chaterine mendekati Ilkay selama beberapa minggu terakhir.