Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Kabar Bahagia (Adek Baru)



Antara Feng dan Asisten Dishi selesai. Mereka ikut masuk dan segera memberikan kue yang dibuatnya sendiri kepada Aisyah. Sebelum Asisten Dishi meminta maaf, ternyata Aisyah sudah lebih dulu meminta maaf padanya. 


"Maaf untuk tadi pagi," ucap Aisyah. 


"Seharusnya, aku percaya padamu dan mempertahankan Ilkay," sambungnya. 


"Aku juga minta maaf karena telah kesal padamu. Lihatlah, aku dan Ilkay membuat kue untukmu tadi. Semoga saja kamu suka, ya. Ini aku buat sesuai dengan arahan putra kita," Asisten Dishi memebrikan kue itu. 


Ketika menerima kue itu, Jovan tersadar bahwa di jari manis Aisyah ada cincin lain yang tidak bisa. "Cincin pemberianmu masih ada, lalu yang di jari manis adikmu itu cincin apa?" bisik Jovan. 


Chen memperhatikan jari manis Aisyah ketika Jovan mengatakan hal itu. "Hey tunggu!" teriakan Chen membuat semuanya terkejut. 


"Kak Chen!"


"Chen!" 


"Paman Chen!"


Semua berteriak padanya. "Cincin apa itu? Dari siapa dan maksudnya apa?" tanyanya dengan wajahnya yang sengit. 


Semua langsung melihat ke arah jari manis Aisyah. Mesih belum menjawab pertanyaan Chen, ia kembali bertanya, "Ai, jawab! Dari siapa cincin itu?" 


"Itu dari Ayahku. Semalam, Ayahku melamar Mama. Bagaimana Paman, bagus bukan cincinnya?" celetuk Ilkay. 


"Anak ini benar-benar ceriwis sekali," desis Aisyah. 


"Hah, kau akan naik ke pelaminan di urutan terakhir, Chen. Hahaha mampus!" ledek Ayden. 


"Bagus, Asisten Dishi. Aku akui keberanianmu ini. Kudoakan lancar jaya sampai kalian menikah, ya!" timpal Feng. 


"Wah, Kak Aisyah. Tak kusangka, kamu juga mau menikah akhirnya. Cie--" goda Gwen. 


Pipi Aisyah dan Asisten Dishi sudah memerah. Tak henyinya Gwen dan Ayden terus menggdoanya sampai Chen kesal. 


"Asisten Dishi, berani-beraninya kau melamar adikku tanpa meminta izin dariku!" sulit Chen tak terima.


"Tuan, tapi saya sudah melamar Mail, eh, Aisyah. Ke Tuan Yusuf dan Nyonya Rebecca secara langsung, tiga hari lalu," jelas Asisten Dishi dengan sedikit takut. 


"Apa?"


Semuanya memang belum mengetahui kenyataan bahwa Asisten Dishi telah melamar Aisyah lebih dulu ke orang tuanya. Sampai Feng dan Ayden memberikan tepuk tangan kepada Asisten Dishi berkata keberaniannya. 


"Asisten Dishi, kau mau aku patahkan kakimu, hah …?" disaat Chen hendak mendekati Asistennya, Aisyah malah mengalanginya dengan menatang. "Mau apa?" ketusnya. 


Dengan senyuman pepsodent, Asisten Dishi merasa menang. Sebentar lagi, dia akan menjadi suami Aisyah dan Ayah Ilkay yang resmi di kartu keluarga. 


"Jadi Ilkay akan beneran jadi anak kalian?" tanya Chen dengan nada melemah. 


"Chen, ini semua demi kebaikan Ilkay, bukan? Bahkan, dia sekecil itu saja bisa mengerti, kenapa kau harus sepeti itu. Tak ada ruginya juga kan bagimu?" sahut Feng, tos dengan Ilkay. 


"Ayah tenang saja. Selamanya, Ayah tetap menjadi Ayahnya Kay. Hanya saja, memang mulai sekarang, Kay harus manggil Ayah dengan sebutan Paman. Darah lebih kental daripada air, Ayah!" ucap Ilkay dengan kepolosannya. 


"Tuan~" panggil Asisten Dishi. 


"Hish, jangan sentuh aku! Aku merajuk!" Chen kembali duduk dengan merebut kue yang ada di tangan Aisyah. Kemudian, memakannya sendiri. 


~~


Malam yang di nanti telah tiba, mereka melakukan piknik di daerah yang sudah sering Aisyah datangi saat bersama Ayden di sana. Mendirikan tenda dan juga bakar-bakaran bersama. 


Sungguh malam yang menyenangkan di iringi petikan gitar yang dilakukan oleh Jovan dan juga suara merdu Agam kalau bernyanyi. 


"Ustadz kalau nyanyi beda ya pelafalannya. Berasa halal jadinya tuh lagu, hahaha--" celetuk Ayden. 


"Tapi suara Gwen jauh lebih baik daripada saya. Bahkan bisa membuat saya tertidur nyenyak saat itu," ucap Agam memuji istrinya. 


Semua yang kenal Gwen sejak kecil menjadi terdiam, termasuk Feng. Jovan dan Chen yang heran pun ikut menatap Gwen. 


"Ada apa? Kenapa kalian diam?" tanya Chen dan Agam bersamaan. 


"Kamu bilang suara dia jauh lebih baik darimu, Tadz?" tanya Ayden. "Asli, orang kalau sudah jatuh cinta jadi bodoh itu beneran?" sambungnya dengan kembali melahap makanannya. 


"Aku rasa telinga Ustadz butuh periksa deh. Ada dokter Feng di sana. Bisa kali kalau diperiksa," sahut Aisyah. 


"Ih, kalian jahat! Suaraku tuh bagus, cuma nggak merdu saja. Sama aja kek Kak Aisyah, suara dia cempreng kalau nyanyi, serius!" Gwen rupanya tak ingin menerima ejekan itu sendiri dengan membawa Aisyah ke dalamnya. 


Kembali mereka bercanda ria bersama. Tepat di waktu 23.59, mereka di kabari bahwa adik mereka telah lahir di Australia. Kebahagiaan mereka bertambah kala adiknya lahir tepat di ulang tahun mereka yang ke 23 tahun. 


Seorang adik kecil bermata biru dan memiliki kulit putih nanti halus itu diberi nama Rifky Maulana Malik dengan nama panggilan Rifky. Berharap memiliki hati tulus dan lembut seperti kakeknya semasa hidup dulu. 


"Matanya kenapa biru juga? Kenapa anak Mami semua yang cowok berkata biru? Kenapa aku enggak? Malah rambutku yang pirang?" protes Gwen. 


"Selamat Gwen, kau naik pangkat menjadi seorang kakak," ucap Ayden dengan nada meledek. 


"Nggak mau! Aku tetap adik bungsu yang perempuan. Gerlar itu nggakak boleh di geser oleh siapapun!" Gwen masih saja tidak terima dengan semua perhatian kakaknya terbagi dengan adik barunya. 


"Dek, kan masih ada Mas yang akan membuat kamu tidak kehabisan kasih sayang," sahut Agam menenangkan hati istrinya. 


"Huek!"


Semuanya menjadi kesal karena kemesraan pasangan suami istri itu. Meski begitu, Gwen tetap senang memiliki seorang adik. Menjadikannya lebih dewasa jika memiliki seorang adik yang akan menjadikan dirinya sebagai contoh di kemudian hari. 


"Jadi, Ilkay panggil dia apa? Kan dia bukan anaknya Bibi Gwen, tapi anaknya Nenek. Kay jadi bingung deh," Ilkay malah masih bingung sendiri dengan dirinya akan memanggil Rifky kecil dengan sebutan apa. 


"Kenapa kamu bingung, bocah! Kamu bisa memanggilnya dengan sebutan Paman kecil, apa lagi?" usul Jovan. 


"Paman Jovan benar! Yeay, aku memiliki Paman kecil yang bisa aku ajak bermain nantinya, yeay!" sorak Ilkay senang. 


"Tinggal nanti, aku akan menjadi kakak bagi adikku yang akan lahir dari perut Mama, perut Bibi Gwen dan Bibi baik (Puspa) deh!" lanjutnya dengan menunjuk perut Aisyah dan mengusap lembut perut Gwen. 


Di titik itu, Gwen merasa sedikit sedih. Sebab, sudah lima bulan lebih menikah, dirinya belum juga mengandung. Tapi, ada Agam yang selalu menguatkan hatinya. Agam akan menunggu sampai mereka benar-benar diberi kepercayaan oleh Allah sampai nanti Ilkay bisa menjadi seorang kakak.