
Malam di kamar. Malam tidur bersama untuk yang pertama kalinya setelah mereka menikah, meski itu adalah malam kedua. Saking sunyinya, bahkan bunyi detik jam saja sampai terdengar sangat jelas.
"Memang kalau dah nikah begini, ya?" tanya Gwen.
Posisi mereka saat ini hanya berbaring sedikit berjauhan dengan menatap langit-langit ternit. "Em, Mas juga tidak tahu, Dek. 'Kan ini pertama kalinya Mas menikah," jawaban Agam malah membuat Gwen tertawa.
"Tidak tahu apa memang Mas Agam bersikap sok tidak tahu? Mas kan juga guru ngaji, masa iya tidak tau, sih? Kak Aisyah yang hanya guru ngaji anak-anak dan dokter saja tau, loh!" seru Gwen dengan tawa kecilnya.
Agam terdiam, kemudian tersenyum menertawakan dirinya yang sok polos, padahal memang dirinya tahu bagaimana seharusnya orang yang sudah menikah. Ketika membenarkan posisi tidurnya, tiba-tiba Gwen memeluknya dengan menyandarkan kepalanya di dada Agam. Membuat agam terkejut dan tak bergerak.
"Di rumah Ayah, aku selalu tidur memeluk guling besar, karena di sini adanya Mas Agam, jadi aku peluk Mas Agam saja. Sudah boleh, 'kan?" celetuk Gwen terus menggerak-gerakkan kepalanya mengusel Agam.
"Jika Mas khilaf, bagaimana?" bisik Agam.
"Kan sudah jadi suami istri, melakukan itu pun juga tidak haram, bukan?" ucapan Gwen memang tidak ada salahnya. "Ehem, kenapa Mas? Gugup, ya? Deg degan gini jantungnya," sambung Gwen terus mempererat pelukannya.
"Bagaimana tidak deg degan, Dek. Ini kali pertama Mas bersentuhan dengan lawan jenis kecuali Umi dan Esti, adik kandung Mas sendiri," jawab Agam dengan memberanikan diri mengusap kepala istrinya.
"Mas," panggil Gwen.
"Dalem," jawab Agam dengan kelembutan.
"Rambutku berwarna seperti ini, apa Mas tidak keberatan? Jujur, rambut berwarna terang ini sangat menggangguku. Kak Aisyah dan Ayah selalu melarangku jika aku ingin mengubahnya dengan warna hitam," Gwen mulai bercerita lagi.
"Kamu cantik dengan rambut berwarna seperti ini. Syukuri apa yang kamu punya, Dek. Yang Mas tau, rambut kamu meski berwarna, tapi sehat loh, lembut gini," jawaban Agam mampu membuat Gwen senang.
Bagi Gwen, Agam ini sangat mirip dengan Ayahnya. Selalu bicara dengan lembut dan juga sangat menjaga ucapannya. Meski memiliki suami seorang anak pemilik pesantren bukanlah keinginannya, tapi Gwen sangat mensyukuri, mendapatkan sosok Ayah dalam diri suaminya.
"Mas Agam tuh mirip banget dengan Ayah, Om Abang Raihan, Kakung Syakir gitu. Terima kasih sudah mau memilihku sebagai istrimu, Mas. Aku_" ungkapan Gwen terhenti, ia tertidur di pelukan suaminya.
"Loh, kok, berhenti? Dek, kamu tidur?"
"Dek?"
Agam tersenyum sembari memeluk istrinya kembali. Lalu, ikut memejamkan matanya dan mulai datang ke alam mimpi. Dalam hati Agam, ingin sekali memanggil Gwen dengan nama Kalina. Sebab nama Kalina lah yang cocok disandingkan dengan sebutan 'Dek'. Akan tetapi, Agam berusaha untuk tidak memanggil namanya, agar terdengar tidak buruk kala dirinya memanggilnya dengan nama Gwen.
Malam pertama mereka dilewatkan lagi. Mereka hanya tidur bersama sambil berpelukan. Tidak melakukan olahraga malam atau pemanasan lainnya hingga subuh nanti tiba. Sementara di Tiongkok, Chen masih sibuk dengan pekerjaannya tanpa di temani Asisten pribadinya, sebab Asisten Dishi sedang ditugaskan di Amerika menghandle beberapa pekerjaan yang Chen.
"Namanya Ilkay, aku suka dengan Ilkay, jika aku jadi Ibunya, siapa yang akan mengira? Aku terlalu bahagia jika menjadi Ibunya seperti Aisyah,"
"Dasar ulat ijo. Kenapa juga aku selalu memikirkannya. Ini sangat menyebalkan!" kesal Chen menggertakkan giginya.
"Sampai kapanpun, orang tua dari putraku adalah Ai dan Asisten Dishi. Aku Ayah yang buruk, tidak pantas mejadi Ayah bagi Ilkay,"
"Saat Ilkay tahu bahwa akulah Ayahnya … kulihat hanya ada kepedihan dalam matanya. Itu sangat buruk dan sangat melukai hatiku. Aku harus bagaimana?"
"Ai, kamu adalah orang yang paling baik. Tapi kenapa harus Asisten Dishi yang kamu pilih. Kulihat ada sesuatu diantara mata kalian kala kalian bertemu. Apakah dengan memisahkan kalian seperti ini? Aku akan berdosa?" gumam Chen di kegelapan malam di ruang kerjanya.
Saat sedang merenung, datanglah Xia membawakan teh hangat untuknya. Melihat Xia membuat Chen murka teringat dengan kejahatan yang telah Ibunya lakukan dengannya juga dengan keluarga kandungnya.
"Kak Chen, aku datang membawakan kau minuman hangat dan beberapa cemilan," ucap Xia.
"Untuk apa kau datang kemari? Apakah rasa malu itu sudah tiada di wajahmu?" ketus Chen.
"Maksudnya apa, Kak? Ibuku yang berbuat jahat, kenapa aku yang disalahkan? Huaa … aku hanya ingin berbuat baik kepadamu, kenapa kau semarah ini denganku? Apa kau benar-benar tidak pernah menyayangiku?" rengek Xia seperti anak kecil.
Alih-alih ingin membuat Chen peduli dengannya, rengekan Xia malah hanya membuat Chen semakin marah dan mengusir Xia dari ruangannya. "Pergi, atau aku akan membunuhmu di sini, pergi!"
Xia langsung berlari keluar dengan wajah ketakutan. Namun, saat keluar, bibir yang sebelumnya merengek itu, berubah dengan senyuman licik. "Saat kau makan dan minum yang aku berikan itu, malam ini kau akan menjadi milikku dan aku akan akan menjadi Nyonya Wang dan semua hartamu bisa aku miliki tanpa bantuan Ibuku lagi, selamat malam, Kak tercintaku …."
Kejutan lain adalah, di malam yang semakin larut itu, Puspa sampai di rumah keluarga Wang dengan membawa beberapa buah tangan. Ia datang dengan tujuan ingin mengambil beberapa berkas milik Aisyah yang terbawa oleh Asisten Dishi, guna untuk mengurus keberangkatannya ke Korea bersama dengan Ilkay.
"Alhamdulillah, akhirnya aku sampai di rumah, Tuan Chen. Tapi, kenapa sangat sepi, ya? Apa karena aku terlalu malam datang ke sini? Haih, kenapa juga aku berinisiatif datang ke sini? Aku juga belum pamit dengan Abi, apakah mungkin Abi akan marah denganku nanti?" gumam Puspa masih mondar mandir di depan gerbang keluarga Wang.
Terbesit dalam ingatan Puspa kala dirinya pernah di botakin karena ikutan Gwen mengintip santri putra mandi di sungai. "Aku ke sini, pasti nanti Aisyah akan membantuku bicara dengan Abi, bukan? Bodohnya aku, kenapa aku semangat sekali ingin datang kemari?"
Penjagaan kediaman keluarga Wang sangat ketat. Puspa harus menunjukkan identitas terlebih dulu kepada penjaga, baru penjaga akan mempersilahkannya masuk kala mendapatkan izin dari Nyonya ke dua, karena saat ini, Cindy sekalu Nyonya pertama telah di usir oleh Tuan Wang karena telah menyembunyikan putranya Chen selama lima tahun.
"Nona, apa anda bisa berbahasa Inggris?" tanya penjaga memanggil Puspa kembali.
"Iya, saya bisa. Apa saya sudah diperbolehkan Tuan rumah untuk masuk?" jawab dan tanya Puspa dengan lembut dan senyuman manisnya.
"Nyonya kedua kami ingin bertemu. Masuklah, dan nanti anda akan diberi izin untuk bertemu dengan Tuan muda kami jika memang anda layak," jawab penjaga itu mempersilahkan Puspa masuk
"Terima kasih," ucap Puspa membungkukkan sedikit badannya. "Izin apa lagi? Siapa Nyonya kedua ini?" Puspa terus bertanya dalam hati.