
"Gelang itu …." tunjuk Aisyah.
"Ada apa? Kenapa--"
"Awas!" teriak Aisyah menghalangi tubuh Chen dari lesatan peluru.
Dor!
Suara tembakan itu sangat keras. Aisyah terluka di bagian bahunya. Beruntung tidak melukai bagian yang serius. Feng, Asisten Dishi, Syamsir dan juga Aom segera mendekati Aisyah dan Chen saat itu.
"Kau terluka?" Chen panik. "Tolong kau obati dia dulu, aku dan Asisten Dishi akan mengejar siapa orang yang telah berusaha menembakku!" pinta Chen kepada Feng.
"Tidak!" reflek, Aisyah menahan tangan Chen di bagian telapak tangannya. "Sebaiknya kita segera pergi dari sini. Aku takut, semua warga di sini malah tidak akan aman jika kita masih di sini." imbuhnya.
Semua orang menjadi diam. Mereka sama-sama berpikir, apa yang dikatakan Aisyah ada benarnya juga. Akhirnya bersamaan dengan berakhirnya penyuluhan yang dilakukan Aisyah, Feng, Syamsir, Aom dan juga Chen beserta Asisten pribadinya, berpamitan pulang menggunakan mobil yang sudah disediakan dari kantor pusat detik itu juga.
Namun di sisi lain, Mee Noi mencegah Aisyah dan tenaga medis lainnya untuk pulang. Mee Noi meminta Chen dan Asistennya yang harus pergi dari desa itu.
"Apa alasanmu menahannya di sini, Tuan Noi?" desis Chen.
"Ini semua karena kau. Lihatlah! Dia masih butuh perawatan, harusnya kau yang pergi dari desa ini lebih dulu. Kau sudah sembuh, bukan? Silahkan pergi!" sentak Mee Noi sembari mendorong bahu Chen.
"Cukup! Aw, sakit!" lirih Aisyah menahan sakitnya luka yang tertembak.
Aisyah tak ingin Mee Noi menyalahkan Chen. Tak tahu mengapa bagi hatinya, Aisyah hanya tidak ingin ada orang yang menyalahkan Chen atas apa yang sudah terjadi. Sesegera mungkin, Aisyah meminta Syamsir dan juga Aom membereskan semua barangnya. Lalu, berpamitan dengan semua warga.
Mee Noi kesal Aisyah lebih membela Chen yang baginya orang asing daripada dirinya yang sudah kenal lebih dulu. Mee Noi tak ingin menemui Aisyah saat mereka berpamitan.
"Em, kau yang menyebabkan Aisyah terluka. Maka dari itu, kau yang harus menggendongnya sampai ke mobil. Kau ikut kami sampai ke kantor pusat, oke? Thanks." pinta Feng membawa beberapa alat medisnya masuk ke mobil.
Asisten Dishi berbisik, "Tuan, bukankah kita juga harus pulang ke hotel lebih dulu? Ini sudah 4 gari kita di sini, bagaimana barang-barang kita di sana?"
Chen menjawab, "Di sana ada orang kita. Sebaiknya memang aku harus tanggung jawab dengan Dokter ini."
Dengan ucapan maaf, Chen meminta izin untuk menggendong Aisyah. Lebih bingungnya lagi, Aisyah menyetujui begitu saja. Padahal, sudah biasanya Feng akan membantu dirinya. Kala itu, Feng terkesan sengaja meminta Chen yang masih orang asing bagi dirinya untuk membantunya. Aisyah bergumam dalam hati, "Kenapa Koko membiarkan aku digendong oleh laki-laki lain? Bukankah ... Tuan Yuan ini adalah orang asing? Aku juga kenapa mau digendong olehnya.
Terlihat sekali Chen sangat gagah ketika menggendong Aisyah. Tatapan Aisyah juga terus terpana kepada wajah yang tak asing Chen. Aisyah semakin merasa sedang melihat Ibunya lewat wajah Chen saat itu. Belum lagi, rambut ikal milik Chen juga sama persis dengan miliknya dan juga Ayahnya.
"Kenapa kau mau di panggil dengan nama Yusuf, Tuan Yuan? Bukankah kamu bukan orang muslim?" tanya AIsyah.
"Yusuf adalah nama Ayahku. Lantas, kenapa aku tak boleh memakai namanya jika aku bukan orang muslim?" jawab Chen.
"Oh, maaf. Tidak seharusnya aku menanyakan keyakinan orang. Maaf, ya." ucap Aisyah. Lalu, Chen menjawab dengan cepat, "Tidak masalah."
Setelah semuanya masuk ke mobil, tak selang berapa lama mereka pun berangkat. Feng mengatakan jika kemungkinan Aisyah harus memakai tangan orang lain untuk melakukan aktivitas lainnya. Sebab, luka itu cukup dalam sehingga membuat otot lengannya tidak kuat digunakan mengangkat barang yang sedikit berbeban berat.
Selama dalam perjalanan, pandangan mata Aisyah tak pernah lepas dari gelang berliontin tak sing milik Chen. Ia sangat ingat sekali, jika Feng, Rafa dan sepupu laki-laki lainnya memiliki liontin itu. Aisyah terus menebak Chen dalam hatinya.
"Di mana Koko menyimpan liontin itu? Kurang ajar, apakah dia sengaja? Biasnya juga dia selalu menyimpannya di sakunya," umpat Aisyah dalam hati.
"Lalu, siapa Tuan Yuan ini. Liontin ini hanya Paman Adam yang membuatnya. Tidak mungkin mampu dimiliki orang lain. Apakah dia ... oh, agar bisa memastikan lagi. Sebaiknya aku putar cincinku ini, supaya Tuan Yuan ini bisa melihat permata merah yang ada di cincin ini." Aisyah memutar cincinnya tepat di depan Chen.
"Hish, drama apa lagi ini, Syah. Kenapa kamu menunjukkan cincinmu, heh!" kesal Feng dalam hati dengan lirikan maut.
Ketika melihat liontin Chen, Feng baru sadar jika dirinya juga memilikinya. Sia-sia Feng menyembunyikan liontin miliknya. Ia pun gemas dengan rencana gagalnya. "Hash! Apa-apa ini? Kenapa juga nih si bule setengah pakai tuh liontin di tangannya." kesalnya.
Rencana Aisyah berhasil, Chen melihat cincin yang dipakai olehnya. Membuat Chen berpikir jika itu memang itu cincin yang ia buat, berarti Aisyah adalah saudari kembarnya yang berhijab.
"Cincin ini ...?" tunjuk Chen.
"Why? Kenapa dengan cincinku? Cantik, bukan? Saudara laki-lakiku yang memberikannya kepadaku. Tapi, aku belum ketemu lagi setelah 13 tahun lamanya. Kenapa, Tuan Yuan?" ucap Aisyah semakin menunjukkan cincin miliknya.
"Cincin ini sangat cantik. Pasti saudaramu sangat menyayangimu," Chen membuang pandangannya ke luar kaca mobil.
Ia terus berpikir, jika cincin itu memang darinya, Aisyah adalah saudari kembarnya. Chen akan merasa bersalah karena dirinya sempat jatuh hati dengan saudari kandungnya sendiri.
"Apakah Dokter ini adalah Aisyah saudari kembarku? Lalu kenapa dia ada di sini? Jika iya ... aku akan merasa bersalah karena aku telah jatuh hati dengannya. Kenapa setelah aku bisa jatuh cinta dengan wanita, wanita itu malah adikku sendiri!" ucap Chen dalam hati.
Perjalanan saat itu sangatlah panjang, memakan waktu cukup lama karena jalur yang mereka tempuh jalur yang jauh.
Sementara itu, Gwen sudah tidak sabar lagi ingin menemui Aisyah dan menyatukannya dengan Chen. Mau tidak mau, Pak Raza memang harus mengalah. Demi misi terselesaikan dan ia bisa kembali ke rumahnya.
"Aku rasa, aku telah menemukan jodohku, deh, Pak Raza," ucap Gwen membuka percakapan.
Mendengar kata jodoh, Pak Raza langsung menoleh ke Arab Gwen dengan tatapan tak percaya. "Jodoh? Maksudnya?" tanya Pak Raza.
"Iya, jodoh. Di negara ini, aku sudah bertemu dengan orang yang sama sebanyak 2x. Dia tinggi, tampan, bermata biru. Ahh, pasti dia orang kaya!" seru Gwen.
"Apakah dalam otakmu hanya isinya uang? Tak adakah cinta sejati dalam pikiranmu, Gwen?" lanjut Pak Raza bertanya.
"Ada, aku juga menginginkan pernikahan yang sederhana tapi dengan mempelai pria yang sangat mencintaiku. Aku menyukai uang dan menyukai pria tampan ... ya karena aku ingin memoroti uangnya aja, tidak ada hal lain lagi. Tapi untuk mencintai ... sepertinya aku tidak ingin mencintai laki-laki dengan mudah deh," celetuk Gwen.
"Oh begitu ...," timpal Pak Raza.
"Lalu, wanita seperti apa yang Pak Raza idamkan?" tanya Gwen.
"Saya? Saya tidak banyak mengidamkan kriteria wanita. Asal dia mampu menerima saya apa adanya, menyayangi ibu saya seperti ibunya sendiri, itu sudah cukup bagi saya." ucap Pak Raza.
Ucapan Pak Raza itu membuat Gwen semakin mengerti tentang kepribadiannya. Gwen menduga jika Pak Raza memang tipe lelaki yang tak suka aneh-aneh.
Ketika sudah dipertengahan jalan, mereka semuanya bertemu. Saat itu, mobil yang dikendarai Aisyah dan lainnya mogok di tepi jalan. Gwen yang melihat itu langsung meminta Pak Raza berhenti dengan memaksa.
"Woy, berhenti! Berhenti sekarang!" teriak Gwen.
"Astaghfirullah hal'adzim. Ada apa lagi, sih? Kita belum sampai, 'kan? Ada apa?" tanya Pak Raza masih dengan nada bicara yang lembut.
"Itu kokohku! Pasti di dalam mobil itu ada Aisyah. Buruan turun!" Gwen terlihat heboh sendiri.
Saat Gwen turun, dia meneriaki Feng sampai semua orang yang ada di sana menoleh. Akhirnya Aisyah menemukan saudari kembarnya yang kabur dari rumah.
"Gwen, Pak Raza? Kalian kenapa ada di sini? Kawasan di sini sangat berbahaya, loh!" seru Aisyah.
"Assalamu'alaikum, maaf sebelumnya Bu dokter. Ini semua ide dari adik anda," jelas Pak Raza melirik Gwen.
"Kak, aku su--" ucapan Gwen terhenti ketika ia melihat darah yang ada di baju bagian bahu Aisyah. "Apa ini? Kau terluka? Luka tembak ini! Siapa yang menyebabkan kau seperti ini Aisyah! Apa di sini ada Mafia?" tanya Gwen mulai membuat situasi heboh.
"Kenapa dia juga datang? Haih, sudahlah!" gerutu Feng dalam hati.
Dengan bodohnya, Syamsir menunjuk Chen yang telah melukai Aisyah. Chen yang sedang berdiri di samping Feng, langsung ditodong menggunakan belati milik Gwen. Reflek, membuat Asisten Dishi juga menodongkan pistol ke arah kepala Gwen.
"Tunggu! Jangan sakiti dia Asisten Dishi. Dia adalah saudariku!" seru Aisyah turun dari mobilnya.
"Apa?" kecuali Feng dan Pak Raza mengatakan kata itu bersamaan, menggunakan bahasa masing-masing.
Chen melihat ada kalung di leher Gwen. Ia hendak memastikan jika kalung itu memiliki pertama yang sama dengan permata di cincin milik Aisyah. Namun, saat Chen berusaha menyentuh kalungnya, Gwen langsung menepisnya.
Plak!
"Kau mau menyentuh apa? Rupanya kita bertemu lagi di sini, bule!" ketus Gwen.
"Bule? Maksudnya? Em, jangan salah paham, aku hanya ingin melihat kalungmu, sepertinya liontin sangat indah," ujar Chen.
"Hey, bukan liontin Malik! Tapi permata, sudahlah! Kau minta orangmu ini untuk menurunkan senjatanya lebih dulu, atau wajah mulusmu ini akan terluka karena belatiku!" sulut Gwen.
Asisten Dishi tetap menolak karena ia mengetahui, jika belati yang dimiliki Gwen adalah belati milik musuh bebuyutannya. Yakni keluarga Lim yang selama ini bermusuhan dengan keluarga Wang.
Asisten Dishi nih!
Panjang, 'kan? Digantung gak tuh😅