
Sampailah di mana Puspa pamit karena waktu sudah sangat larut. Aisyah dan Gwen banyak sekali mengobrol bersamanya. Mereka sampai tidak mengingat waktu jika mengobrol.
"Ini sudah jam 10 malam, sebaiknya aku harus pulang. Besok atau lain kali, kita ngobrol lagi, ya. Selamat juga untukmu, Gwen. Akhirnya Gwen duluan yang menikah," ucap Puspa.
"Terima kasih, lain kali main lagi, ya," Gwen memeluk Puspa dengan tulus.
"Em, ini sudah larut. Bagaimana jika aku mengantarmu pulang?"
"Eh, apa ini? Kamu tidak boleh ke mana-mana. Lagian dia datang sendiri, kenapa harus diantar pulangnya?" ketus Chen.
Chen tak ingin Aisyah mengantar Puspa pulang, karena kondisi Aisyah belum stabil baginya. Chen juga tak ingin menyuruh Gwen, karena dia sudah tidak boleh keluar rumah jauh-jauh ataupun sendirian. Apalagi meminta Asisten pribadinya, itu semakin tidak mungkin.
"Terus siapa yang mau nganterin Puspa, Kak Chen. Kan kasihan kalau dia pulang sendiri," ujar Aisyah.
"Yang pasti bukan aku!" cetus Chen memalingkan wajahnya.
"Sebentar, ya. Kamu jangan pulang sendirian, oke?" Aisyah meminta Puspa untuk menunggunya sebentar.
Aisyah menginginkan kakaknya mengantar sahabat masa kecilnya itu pulang ke rumahnya. Tentu saja Chen langsung menolaknya. Dia tidak ingin merepotkan dirinya, hanya untuk mengantar seorang gadis yang belum ia kenal sama sekali.
"Siapa aku? Biarin dia pulang sendiri!" Chen masih saja dingin.
"Dia sahabatku, Kak," sahut Aisyah.
"Tapi bukan sahabatku," terang Chen.
"Baiklah kalau begitu. Jangan pernah bicara denganku lagi, karena Kak Chen tidak ingin menuruti keinginan aku. Jadi, lebih baik mulai malam ini, jangan lagi bicara denganku!" hardik Aisyah.
"Haih, bercandanya tidak asik! Baiklah, aku akan mengantar dia pulang. Hanya demi dirimu," seru Chen mengalah.
"Nah, seperti itu. Ini baru kakakku yang tampan," puji Aisyah memeluk lengan saudara kembarnya itu.
"Sudah dari dulu," ungkap Chen dengan pipi yang menggebu.
Mau tidak mau, Chen harus mengantar Puspa pulang. Mereka lebih memilih jalan kaki karena rumah mereka berdekatan meski berbeda desa. Selama di jalan, Chen hanya diam saja dengan pandangan lurus ke depan.
"Em, akhy? Bolehkah sa__"
"Aku akan mencekikmu jika kau terus memanggilku dengan sebutan itu. Panggil aku Tuan Wang!" ketus Chen.
"Baiklah," Puspa mengalah. "Bolehkah saya bertanya?" imbuhnya.
"Hm," jawaban dari Chen yang sangat mengesalkan.
"Tuan Wang ini dari Tiongkok, 'kan? Jika begitu, bolehkah saya bertanya tentang Ko Feng?" tanya Puspa.
"Tidak!" jawab Chen singkat.
"Baiklah, kalau begitu … bisakah saya melihat wajahnya? Dulu kami ber--"
"Tidak boleh!" belum juga Puspa mengungkapkan apa yang hendak diucapkan, Chen sudah memutusnya.
"Kalau boleh tahu, apa alasan Tuan Wang menolak?" tanya Puspa dengan nada yang lembut.
Chen melirik ke arah Puspa. Kemudian menghentikan langkahnya, ia membuka topi yang dipakai di kepalanya. Lalu, memakainya di kepala Puspa dengan sedikit kasar.
"Jangan banyak tanya, dan jangan bicarain Feng lagi. Sekarang, jalan lurus, segara pulang karena aku sudah lelah dengan semua pertanyaanmu ini," desis Chen dengan wajah yang sangat dekat dengan wajah Puspa.
"Em, ya tapi kenapa? Saya kan cuma nanya kabar Ko Feng dan juga ingin sekali melihat Ko Feng yang sekarang, hanya itu, Tuan Wang," tanya Puspa masih penasaran.
"Aku bilang tidak, ya, tidak! Kenapa kau memaksa? Apa kau suka dengannya? Bukankah wanita sepertimu yang memakai penutup kep--"
"Ah iya, jiblab. Memakai jiblab__"
"Jilbab, Tuan Wang," Puspa membenarkan.
"Ah itu lah! Belibet sekali bibirku. Sudahlah, segera pulang dan jangan merindukan aku, oke?"
"Hah?" Puspa hanya menganga ketika Chen dengan percaya dirinya mengatakan bahwa ia tak boleh merindukan Chen.
Tak lama kemudian, sampailah di rumah yang lumayan berkelas. Rumah itu semuanya berwarna putih, menambah anggunnya bangunan yang sudah mewah itu.
"Ini rumah Abi, saya,"
"Nggak tanya!" seru Chen.
"Terima kasih sudah me__"
"Demi Aisyah," jawab Chen sebelum Puspa mengatakan.
"Tuan Wang, nggak mau mampir dulu?" anjur Puspa dengan ramah.
"Tidak, aku ingin pulang. Selamat malam, dan selamat istirahat, salam," ketus Chen berpamitan.
Setelah Chen tak terlihat lagi, Puspa baru sadar jika topi yang sebelumnya di kenakan Chen ada bersamanya. Puspa akan mengembalikan esok hari, ia pun masuk ke rumahnya dengan senyuman tenang.
~~
Di depan rumah, Asisten Dishi dan Aisyah sedang duduk berdua menunggu Chen kembali. Asisten Dishi mempertanyakan ingatan Aisyah itu benar-benar hilang atau hanya rencananya saja untuk memberi pelajaran bagi Gwen.
"Baiklah, hanya kita berdua di luar. Sekarang katakan, rancana apa yang kamu rencanakan ini?" tanya Asisten Dishi.
"Rencana apa yang kamu maksud?" tanya Aisyah.
"Aisyah, tolong! Terakhir kali kita mempunyai rencana ingin memberikan pelajaran kepada Gwen, bukan? Kecelakaan ini dan ingatan kamu tidak benar-benar terjadi, 'kan?"
"Apa yang kamu katakan ini, Dishi?" tampik Aisyah. "Kamu pikir semua ini hanya rekayasa? Aku jatuh terlempar dari mobil, kepalaku bocor, hilang ingatan, itu kamu pikir, aku hanya pura-pura, gitu?" sambungnya.
"Kalau aku pura-pura, nggak mungkin aku 5 hari di rumah sakit, Dishi!" tegas Aisyah.
Asisten Dishi meminta maaf. Ia tak tahu jika semua itu adalah rencana Tuhan, bukan rencana Aisyah. Asisten Dishi hanya khawatir dengan keadaannya sekarang. Terlebih, Aisyah hanya dirinya, yang bukan keluarga. Tapi malah melupakan Chen yang jelas-jelas adalah kakaknya.
"Rencana? Kak Aisyah ada rencana membuatku mendapatkan pengajaran apa?" rupanya, tak sengaja Gwen mendengar pembicaraan mereka.
Asisten Dishi menceritakan rencana mereka. Dari rencana acuh, hingga Aisyah hendak pindah ke kosan. Mendengar hal itu, membuat Gwen mengerti satu hal, Aisyah sangat menyayanginya, dan ingin dirinya menjadi lebih baik lagi sebelum pernikahan dilangsungkan.
"Jadi, sebelum kecelakaan malam itu, aku dan Gwen baru saja bertengkar, ya?" tanya Aisyah.
Asisten Dishi mengangguk, "kalian bertengkar dari pagi sampai malam tak saling berkabar. Ya karena memang suatu hal yang sepele, sih, menurutku. Tapi mungkin, mood kalian memang sama-sama sedang buruk, jadi salah paham deh," ungkap Asisten Dishi dengan pengertian.
"Yah, pasti Gwen sakit terluka hatinya. Aku belum bentak berkata seperti itu. Dia dari kecil jarang dapat kasih sayang dari Ibu, jadi aku berusaha menjadi Ibunya, tapi ... aku malah membuat hatinya terluka," sesal Aisyah.
"Sudahlah, semua juga sudah terjadi. Lebih baik, saat ini kamu fokus dengan menyembuhkan ingatanmu, oke?" ucap Asisten Dishi.
Mereka saling tersenyum, Asisten Dishi benar-benar sangat lembut memperlakukan Aisyah. Aisyah juga sangat berterima kasih, karena Asisten Dishi lah, ia jadi tahu, terkahir kali yang terjadi antara dirinya dengan saudari kembarnya.
"Kak Aisyah, aku pernah bersyukur memiliki Kakak seperti kamu. Benar yang orang katakan, kakak perempuan pertama itu bagaikan sosok pengganti ibu yang harus selalu dihormati, karena marahnya, akan jauh lebih menyakitkan daripada dimarahi oleh ibu kandungnya sendiri,"
"Terima kasih, kamu sudah hadir jadi kakakku, bukan bayanganku." tukas Gwen, kembali ke kamarnya.