Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Tingkah Random



Pulang dari pedesaan, membuat Chen dan Lin Aurora sedikit canggung. Mereka diam saja dan membiarkan Jovan terus mengoceh tiada henti. Akhirnya, Chen dan Lin Aurora memilih untuk tidur karena memang tidak ada yang hendak ia katakan. 


-------------------------------------------


Sehari berlalu. 


Sarapan pagi itu memang masih mengalami kecanggungan. Bahkan, semalaman Chen tidur bersama Jovan di kamar lain. Masih sangat jelas terbayang kala Chen bersentuhan dengan Lin Aurora di penginapan waktu itu. 


Jika kebanyakan wanita yang merasa canggung setelah melakukan hubungan badan, di sini malah Chen yang seperti terus menghindar karena malu.


Pagi ketikan akan sarapan, Chen turun dari kamarnya dan segera ke meja makan. Di sana ada Jovan yang sedang menyiapkan makannya. 


"Istrimu mana?" tanya Jovan, sembari menyiapkan makanan yang baru saja dia masak. 


"Mana aku tau, aku kan semalam tidur di kamarmu," jawab Chen santai.


"Dih! Jahat sekali dirimu itu. Membiarkan istrimu tidur sendiri? Sungguh meh--" Jovan memang banyak bicara setelah gagal bersama dengan Lin Jiang.


Meski Chen sendiri sedang dalam kecanggungan yang luar biasa, tetap saja Chen memikirkan sepupunya itu dengan baik. Chen memberikan pekerjaan yang lumayan menguras tenaga, supaya nantinya tidak lagi kepikiran dengan Lin Jiang. 


Kemudian, setelah selesai bekerja, barulah Jovan langsung tidur karena kelelahan. Begitu juga dengannya, Chen tidak ingin mengingat kejadian malam di penginapan karena itu benar-benar membuatnya tidak enak hati kepada Lin Aurora.


"Ada pekerjaan mendadak untukmu. Kau harus ke luar kota, cek semua pekerjaan karyawan kita. Setelah itu jangan langsung ke kantor, kau harus…," 


Ucapan Chen terhenti kala melihat Lin Aurora turun dari tangga. Dia mulai gugup, langsung berbalik dan melihat sarapannya. Segera memakannya, kemudian tanpa menoleh sedikitpun. 


"Pagi swmuanya__" sapa Lin Aurora.


"Pagi juga," balas Jovan, dan Chen dengan lirih. 


"Um, Chen. Aku mau ber--" ucapan Lin Aurora tersela. "Jovan, aku selesai. Aku akan berangkat lebih dulu," sela Chen. 


"Lah, kenapa? Kenapa udahan, Chen? Kan sarapammu sudah banyak," celetuk Lin Aurora.


"Aku ada meeting, permisi," jawab Chen dengan terburu-buru. .


Terburu-burunnya Chen membuat Lin Aurora semakin heran. Hal itu membuat timbulnya salah paham diantara mereka. Lin Aurora merasa senanh sudah menjadi istri sepenuhnya bagi Chen. Tapi, Chen malah tetap diam dan menghindar karena malu. 


"Ada apa dengannya? Kenapa dia terlihat menghindar dariku, sejak kemarin, ya?" Lin Aurora sampai heran sendiri. 


"Entah, aku saja heran. Hari ini, dia begitu antusias mengirimku ke luar Kota. Lalu, tiba-tiba saja perintahnya terhenti ketika kamu turun," Jovan memanfaatkan keadaan. 


"Um, begitu ya?" Lin Aurora menjadi murung. 


Sudah waktunya untuk berangkat bekerja. Jovan mengantar Lin Aurora ke kantornya. Selama diperjalanan, Lin Aurora begitu menjadi pendiam dan hanya menundukkan kepada dengan memainkan jarinya saja. 


Benar-benar berpikir jika dirinya memliki salah yang besar kepada Chen. Lin Aurora pun menghela napas panjang dan membuat Jovan kesal mendengarnya. 


"Astaga, mau sampai berapa kali kau menghelai epribadeh!" celetuk Jovan. 


"Huaa… Aku bingung, kenapa Dia acuh padaku, dan terkesan menghindar dariku. Jovan, apa salahku, huaaa …."


"Astaga, sudahlah!" sentak Jovan. "Kenapa harus menangis, Oh Tuhan!" lanjutnya dengan menggebrak setir mobilnya. 


Seketika, Lin Aurora langsung diam dan merunduk. Betapa sedihnya jika Jovan juga membentaknya. Lin Aurora begitu sensitif perasaannya pagi itu. 


"Hiks, hiks, hiks," Lin Aurora menangis. 


"Lah, kenapa menangis? Haduh, maafkan aku. Aku tidak bermaksud membentakmu, Lin. Maafkan aku, ya__" Jovan panik setengah mati.


"Mampus! Aku membuat istri Chen menangis. Bagaimana ini?" batin Jovan mulai tidak tenang. 


Jovan meminta maaf kepada Lin Aurora dan memintanya untuk jangan menangis. Dia juga menjelaskan kepada Lin Aurora jika dirinya benar-benar tidak bermaksud. 


"Aku ingin turun. Kau jangan lagi mengantarku!" Lin Aurora merajuk. 


Dia keluar dari mobilnya, di susul oleh Jovan, mencoba menenangkan Lin Aurora dan membujuknya untuk masuk ke mobil kembali. Namun, Lin Aurora tetap kekeh tidak mau masuk ke mobil. 


"Aku tidak mau, Jovan!" sentak Lin Aurora.


"Maafkan aku, aku tidak akan membentakmu lagi ataupun mengatakan apa saja yang membuat hatimu terluka. Tapi tolong, jangan seperti ini …," Jovan sampai bersimpuh menggenggam tangan Lin Aurora untuk mau masuk ke mobil dan berangkat bersamanya. 


Jika Lin Aurora tidak mau, pasti Chen akan memberi Jovan hukuman yang tidak masuk akal karena telah membuat Jovan semakin gila. 


"Aku tetap tidak mau!" Lin Aurora tetap menolaknya.


Sampailah dimana Tuan Zi melihat perdebatan antara Lin Aurora dan Jovan di pinggir jalan. Hal itu membuat ya harus turun dan melihat apa yang terjadi kepada mereka. 


"Bukankah, itu Nona Lin Dan Tuan Jovan, ya? Mengapa mereka terlibat perdebatan di pinggir jalan?" Tuan Zi bergumam. 


Tuan Zi memarkirkan mobilnya tepat di belakang mobil Jovan. Kemudian turun dan bermaksud melerai mereka. "Ada apa ini?" tanyanya tiba-tiba. 


Keduanya terkejut melihat Tuan Zi datang secara tiba-tiba dan langsung bertanya. "Eh, Tuan Zi. Anda kenapa di sini? Ada apa?" tanya Jovan basa-basi. 


Berharap jika Chen tidak ada di sekitar tempat itu dan melihat Tuan Zi juga. Urusannya bisa lain lagi jika melihat pria yang selalu membuat Chen cemburu itu. 


"Hehe, hanya perdebatan kecil antara sahabat saja, Kok. Tidak ada masalah lain, bukan begitu, Lin Aurora?" Jovan merangkul Lin Aurora supaya terlihat jika memang mereka hanya bertengkar karena masalah sepele. 


Lin Aurora terpaksa mengikuti apa yang Jovan katakan. Namun,. Lin Aurora juga tidak mau lagi masuk ke mobil Jovan dan memilih untuk berjalan kaki ke kampus. 


"Eh, tunggu. Nona Lin, kenapa anda tidak mau berangkat bersama dengan Tuan Jovan? Bukankah, memang sudah biasanya kamu selalu diantar eh Tuan Jovan," imbuh Tuan Zi dengan tutur kaya yang lembut.


"Sebenarnya, kami berdebat karena dia mau menikah tanpa memberitahuku. Makanya aku marah, dan tidak mau masuk lagi ke mobilnya. Begitu," jelas Lin Aurora mengeluarkan air mata palsunya lagi. 


Dibuat terkejut, Tuan Zi bahkan tertipu dan mengucapkan selamat kepada Jovan dengan menjabat tangannya. Seketika, raut wajah Jovan berubah menjadi datar. 


"Lin Aurora, sungguh alasan yang kurang logis!" ketus Jovan dalam hati. "Itu hukuman karena kau tadi membentakku, bukan malah memberi informasi tentang suamiku yang menghindariku, malah memanfaatkan keadaan!" sahut Lin Aurora dengan menaikkan wajahnya. 


Seolah, mereka sedang bicara lewat dalam hati. Tuan Zi menawarkan diri untuk memberikan Lin Aurora tumpangan. Dengan senang hati, tanpa penolakan ini itu seperti biasanya, Lin Aurora akhirnya mau berangkat bersama dengan Tuan Zi. Kemudian Jovan pun menjadi meradang.