
Aisyah dan Asisten Dishi sampai di rumah. Aisyah tak dapan menemukan Ibunya di kamar. Kemudian, Aisyah pergi ke kamar Gwen. Ia melihat adiknya itu tengah mencoba semua gamis miliknya. Bahkan, gamis yang belum pernah dipakai saja, Gwen coba dengan berlenggak-lenggok di depan cermin.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," salam Aisyah. "Wah, ada apa ini? Kenapa semua bajumu keluar dari habitatnya?" tanya Aisyah.
"Wa'alaikumsallam, coba tebak?" ujar Gwen dengan senyum sumringahnya.
"Em, menang lotre? Dapat cowok tajir, dapat hadiah undian, atau dapat pulsa nyasar?" goda Aisyah.
Godaan yang dilontarkan Aisyah membuat Gwen memasang wajah datar. Gwen duduk di samping saudarinya dan mengatakan bahwa pria yang melamarnya di Bandara akan datang malam nanti untuk melamarnya.
"Apa? MasyaAllah, kau yang betul, Gwen?" tanya Aisyah terkejut.
"Kakak ih! Nggak percaya? Ku bisa buktikan nanti malam. Mas Agam akan datang melamarku!"
Aisyah tersenyum, kemudian memeluk adiknya sembari mengucapkan selamat. Ia turut bahagia mendengar adiknya akan segera dilamar oleh pria. Diketahui selama ini, jika ada pria yang datang ke rumah, pasti akan melamar Aisyah. Tapi kali ini, Gwen lah yang akan dilamar.
"Ibu?" tanya Aisyah. "Ah, Mami ke pesantren tadi dijemput Kak Ayyana, ngasih kabar kalau nanti malam aku mau dilamar." jawab Gwen.
Aisyah keluar dengan senyum bahagia, lalu menceritakan kabar baik itu juga kepada Asisten Dishi. Keduanya mutuskan untuk istirahat sejenak, lelah karena perjalan yang baru saja mereka lakukan.
Masih di hari bahagia, Gwen akhirnya m emutuskan baju mana yang akan ia kenakan untuk malam nanti. Sementara Aisyah masih sibuk tidur di kamarnya. Ia harus menyiapkan persiapan untuk mengambil spesialis nantinya.
Waktu malam telah tiba. Sesuai rencana Agam jika dirinya akan datang tepat jam 8 malam bersama dengan Ustadz Khalid yang tak lain adalah saudara sepupunya sendiri. Setahu AIsyah, mereka berdua hanya bersahabat, bukannya bersepupu.
Keluarga pesantren juga sudah menunggu kedatangan Agam ke rumah. Gwen sendiri masih sibuk dengan tutorial hijab simpel lamaran.
"Ini benar alamatnya, Gam?" tanya Ustadz Khalid.
"Iya, Mas. Kenapa memangnya?" tanya Agam dengan mengerutkan alisnya. "Siapa yang akan kamu lamar?" Ustadz Khalid memastikan lagi, diantara Aisyah dan Gwen, siapa yang akan ia lamarkan untuknya.
Ketika Agam menyebut nama Gwen yang akan dilamar, perasaan Ustadz Khalid sedikit lebih heran lagi. Sebab, seorang Agam malah memilih gadis seperti Gwen dibandingkan dengan Aisyah yang seharusnya lebih cocok dengannya.
"Kamu yakin dengan niatmu? Istri dan adikku juga sudah membawa banyak mahar seperti ini. Apakah …." belum juga Ustadz Khalid mengakhiri ucapannya, Rafa sudah membuka pintu dan melihat tamunya.
"Eh, rupanya kalian sudah datang, ya? Mari silahkan masuk. Semua keluarga juga sudah berkumpul menunggu kedatangan kalian." sambut Rafa dengan ramah.
Agam heran mengapa Rafa ada di sana. Agam mengenal Rafa karena memang dirinya menjadi mitra bisnis Adam selama 3 tahun terakhir. "Bukankah dia putranya Mas Adam, ya?" batin Agam.
Selama bermitra, memang Agam selalu memanggil Adam dengan sebutan Mas. Bukan Ustadz maupun paman. Sebab, mereka memang kenal dari komunitas jual beli bibit dan ternak lainnya.
Agam lebih dikejutkan ketika masuk ke rumah Gwen. Ada Syakir yang sudah sepuh tengah duduk di bangku sana. Belum lagi ada Raihan, penerus pemimpin Pesantren Darussalam yang cukup dikenal namanya seperti Almarhum kakeknya dulu, Ruchan.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," salam Ustadz Khalid memecah kebingungan Agam.
"Gam, ayo duduk!" bisik Ustadz Khalid.
Agam bersalaman dengan semua orang di sana. Airy dan Adam juga menyambut kedatangan Agam dan rombongan dengan baik. Saat Agam melihat foto besar di ruang tamu rumah Gwen, ia baru sadar jika Gwen ada bagian dari keluarga pesantren juga.
Di dalam foto itu, ada foto seluruh keluarganya meski semuanya terpisah-pisah sesuai dengan urutan kelahiran. "Itu almarhum Ustadz Ruchan dan istrinya, lalu juga almarhum putri dan menantunya. Jadi …." batin Agam masih saja bergejolak ingin tahu.
"Ya Allah, gadis seperti apa yang ingin aku nikahi ini?" batinnya.
Acara sudah akan di mulai. Lamaran itu juga di hadiri oleh bapak rukun tangga dan kadus setempat. Ustadz Khalid sudah terbiasa berkomunikasi dengan orang lain, dan sudah terbiasa di mintai tolong untuk melamar seperti yang dilakukannya saat itu.
Acara lamaran juga berjalan dengan lancar meski Agam masih tidak menyangka jika gadis yang ia lamar adalah bagian dari keluarga Pesantren. Itu membuat nyalinya semakin menciut karena Gwen bukanlah gadis sembarangan.
Setelah warga dan kadus setempat pamit, mereka melanjutkan rencana pernikahan akan dilaksanakan dimana dan bagaimana. Rupanya, Agam sudah memutuskan akan menikahi Gwen 2 minggu lagi, sembari menunggu kabar baik kesehatan Ibunya yang sedang dirawat di luar negri.
"Mas Agam, saya boleh nanya, nggak?" tanya Adam.
"Tentu saja boleh, Mas. Monggo, mau tanya apa?"
"Mas Agam ini serius pilih Gwen? Maksudnya Mas udah tau sifat dan sikap Gwen yang sebenarnya? Kami hanya tidak ingin Mas Agam malu saja dengan tingkah putri kami ini," tanya Agam.
"Dih, kalian menjatuhkan harga diriku! Kalau Mas Agam tidak mengetahui seperti apa aku, mana mungkin dia melamarku?" ketus Gwen masuk ke dapur.
Bukannya marah ataupun tersinggung, Gwen malah makan dan meluapkan kekesalannya dalam perutnya. Sementara itu, Agam menjawab pertanyaan yang Adam lontarkan kepadanya dengan tenang.
"Seperti apa yang sudah Dek Gwen katakan tadi, Mas. Jika saya tidak paham dengan karakternya, maka saya tidak mungkin menikahinya," jawab Agam. "Meski ini terkesan mendadak, tapi saya yakin, ini sudah jalan yang Allah tentukan untuk kami." imbuhnya.
"MasyaAllah …."
Meski Agam bersikap tenang, ia masih saja syok dengan keluarga Gwen. Tak kuasa menahan bingungnya pikiran, Agam pamit ke toilet dan diantar oleh Chen.
"Mohon maaf, saya boleh numpang ke toilet sebentar?" izin Agam.
"Oh, tentu. Chen, tolong antar!" perintah Yusuf.
Chen mengantar Agam ke toilet. Mereka melihat Gwen yang sedang asik makan di ruang tengah sembari menonton drama china. Begitu tau Gwen malah asik sendiri, ekspresi Chen dan Agam menepuk keningnya hampir bersamaan.
"Kau yakin ingin menikah dengannya?" tanya Chen kembali.
"Bismillah, saya tetap yakin, Mas. Kalau saya tidak yakin, saya tidak akan sampai di sini," jawab Agam penuh keyakinan.
"Syukurlah. Masuk dan segera keluar, kami masih menunggumu!" seru Chen.
Agam segera masuk dan menghela nafas panjang. Dia terus memejamkan mata dan bertanya mengapa dirinya seberani itu melamar Gwen tanpa diselidiki dulu latar belakangnya.
"Mau mundur udah sampai sini, mau maju makin minder. Kenapa Dek Gwen juga tidak bilang kalau dirinya ... ah, harusnya aku juga kalau mana mungkin seorang putri pesantren mau membongkar identitasnya sendiri." gumam Agam.