Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Pemuda Desa. dan si Syamsir Beban Regu



Masing-masing regu di dampingi oleh perawat maupun dokter dari pribumi agar bisa berkomunikasi meski akan ada perbedaan dalam berbahasa sedikit. 


Mereka berempat di sambut dengan ramah oleh kepala desa dan seluruh warga. Keadaan desa itu sangat menyeramkan bagi Syamsir yang penakut. 


Meski menggunakan obor dan listrik hanya ada di gedung besar dan balai desa, tetap saja baginya sangat menakutkan. 


Jamuan makan malam juga berlangsung khidmat. Mereka mulai bercengkrama dengan baik. Makanan yang disiapkan juga sesuai dengan selera Aisyah, Feng dan juga Syamsir sebagai seorang muslim. Hanya sayuran dan tanpa adanya daging di sana. 


"Jika boleh tau, dokter ini dari mana? Satu negara, atau beda negara?" tanya Mee Noi, anak kepala desa yang baru saja pulang dari Ibu Kota. 


"Akhirnya ada yang bisa Bahasa Inggris, setelah melewati badai khuvukiland, huft!" desis Syamsir. 


"Kau, bisa--" ucapan Aisyah terputus dengan senyuman manis Mee Noi. 


"Aku seorang mahasiswa dari Kota. Aku baru saja pulang setelah mendengar jika ada kunjungan dokter di desa kami. Namaku, Mee Noi," jelas Mee Noi mengulurkan tangannya kepada Aisyah. 


Aisyah enggan menolaknya, sebab itu bukan daerahnya dan di sana sensitif sekali akan kepercayaan. Aisyah meraih tangan Mee Noi dan segera melepaskannya. 


"Aku akan jelaskan kepadanya nanti," batin Aisyah. 


"Mee Noi, nama yang bagus. Apa artinya?" lanjut Aisyah menghangatkan suasana. 


"Mee Noi, artinya sangat lucu. Sebaiknya aku tidak mengatakannya kepadamu, atau kau akan menertawakan aku nantinya." lagi-lagi, senyum Mee Noi mampu membuat keraguan Aisyah akan desa itu mulai memudar. 


Usia Mee Noi juga tak jauh berbeda dengan usia  mereka. Dengan kemampuannya dalam berbahasa, ia mampu akrab dengan ke empat pedagang di tempat tinggalnya tersebut. 


"Lalu, namamu?" tanya Mee Noi. 


"Mee Noi, apakah hanya di sini saja keberadaan listriknya?" tanya Feng. 


"Em, iya. Ini saja, aku buatkan dari itu," tunjuk Mee Noi di benda penangkapan cadangan cahaya matahari. "Jika mendung, listrik di gedung ini akan padam." imbuhnya. 


"Besok, aku dan warga akan gotong royong membantu kalian. Sebaiknya  kalian beristirahatlah." Mee Noi meninggalkan mereka. 


Malam sunyi mereka lewati dengan ketegangan. Pasalnya, Syamsir terus saja merasakan ada aura-aura negatif dalam gedung tersebut. 


"Bagaimana pula ini? mengapa hanya ada satu lampu di ruangan ini?" keluh Syamsir. "Macam mane saya boleh tido bila macam ni, ha?" imbuhnya. 


"Tolong, jangan mengeluh terus. Sebaiknya, kita istirahat saja dulu. Besok, kita baru bersihkan ruangan ini bersama dengan warga," sahut Aom. 


Mereka memutuskan untuk istirahat di dalam tengah malam nan sunyi itu. Malam itu, Aisyah tak bisa tidur karena terpikirkan dengan jantung yang berdebat ketika dirinya tiba di Bandara pagi tadi. 


"Ada apa, ya? Aku merasakan kehadiran Kak Chen di sini. Tapi, apa mungkin kita bisa bertemu di tempat seperti ini?" gumamnya. 


Tiba-tiba, ia dikejutkan dengan Syamsir yang terbangun. Syamsir hendak buang air, namun ia takut pergi ke toilet sendirian. 


"Aisyah, boleh tak kalau kau hantar aku ke tandas?" pinta Syamsir. 


"Apa?" 


"Tak salahkah? Kamu minta aku yang mengantarmu?" tanya Aisyah. 


Syamsir terus memohon supaya Aisyah mau mengantarnya toilet yang ada di luar gedung tersebut. Aisyah merasa canggung jika harus mengantar Syamsir sendirian, ia pun berusaha membangunkan Feng dan Aom. Akan tetapi, mereka tak mau bangun dan malah menyuruhnya untuk menemani Syamsir.