
"Liontin itu--"
Asisten pribadi Chen keburu datang dan memberikan Chen makanan. Tangannya diturunkan dari kaca mobil, sehingga Adam tak bisa melihatnya lagi.
"Kamu tolong urus dia. Aku tidak sengaja membuatnya terluka," perintah Chen kepada Asistennya.
"Anda melukainya menggunakan belati?" tanya Asistennya.
"Tidak!" jawab Chen tegas.
"Lantas?" lanjut Asistennya.
"Aku membuka pintu dan … ya, dia kena pintu ini," tunjuk Chen merasa bersalah dengan wajahnya yang lucu layaknya anak-anak.
"Astaga, Tuan Muda--"
"Apa? Kau akan memarahiku? Lalu, siapa yang selalu memberimu gaji? Apa kau sudah bosan menjadi pendampingku? Katakan!" bentak Chen.
Bentakan Chen sampai terdengar oleh Adam yang ketika itu sedang membantu Pak sopir memperbaiki mesin mobil. Asisten Chen terpaksa turun dan membayar ganti rugi kepada Adam serta meminta maaf atas namanya. Adam tidak jadi pergi karena dimintai tolong oleh Pak supir untuk membantunya memperbaiki mobil.
Sungguh Adam berhati mulia, ia tidak mempermasalahkan hal itu karena Chen masih anak-anak. Di dalam mobil, Chen masih berusaha belajar Bahasa Indonesia agar bisa komunikasi di Jogja selama ia tinggal di sana. Agar memudahkan dirinya ketika Asistennya sedang tak lagi bersamanya.
"aku harus bisa menguasai bahasa di sini. Jika tidak, aku akan kesulitan sendiri." gumam Chen membuka kamusnya.
Sementara itu, kecurigaan Adam kepada Chen semakin besar karena liontin itu ada di pergelangan tangan Chen. Adam mencoba bertanya-tanya kepada Asisten Chen tentang mereka.
"Anda mahir sekali berbahasa Indonesia, apakah anda asli orang lokal?" tanya Adam.
"Tidak, Tuan. Saya asli Tiongkok, kebetulan sekali, saya suka belajar bahasa asing, dan memang bahasa Indonesia banyak sekali yang belajar bahas ini, jadi saya mempelajarinya," jawab Asisten Chen.
"Tapi bahasanya sudah sangat baik. Oh, iya … kalian dari Tiongkok, tinggal di mana? Saya bisa mencarikan tempat yang bagus di sekitar sini."
Adam terus menatap Chen dari luar mobil, begitu juga dengan Chen yang semakin yakin jika Adam ada kaitannya dengannya. Usai memperbaiki mobil, Chen meminta Asistennya untuk menyelidiki tentang Adam dan semua latar belakangnya secara detail.
Sejak pertemuannya dengan Chen, Adam jadi diam ketika sampai di restoran milik Yusuf. Di sana, Yusuf tengah memasak untuk Rebecca, Rebecca akan pulang hari itu juga. Ia menyempatkan diri untuk makan di restoran yang banyak kenangan indah dalam hidupnya.
"Pak Dhe, kenapa diam saja? Tidak biasanya Pak Dhe seperti ini?" tanya Aisyah.
"Pak Dhe sedang berpikir," jawab Adam.
"Heleh, emang bisa berpikir?" ledek Gwen.
Plak!
Tamparan kecil dari Rebecca ke pipi Gwen. Rebecca heran dengan putrinya sendiri yang semakin lama malah semakin menjadi-jadi. Baginya, dahulu Gwen suka diam dan menutup diri.
Setelah bertemu dengan Ayah kandungnya, sifatnya menjadi berubah lebih ceroboh, suka bercanda berlebih dan bahkan tidak sopan kepada orang yang lebih tua.
"Ibu, jangan selalu main tangan, itu tidak baik untuk Gwen--"
"Jika ingin Gwen berubah lebih baik, tegur dan berikan dia pengajaran. Aku yakin jika Gwen bisa berubah. Bukan begitu, Gwen?' lanjut Asiyah dengan lembut.
"Hey, Mami memang sedikit rada-rada. Aku sudah kebal dengan tangannya itu," sahut Gwen. "Tunggu sebentar, Mi. Aku akan menulis biaya pertanggung jawaban atas tindakan Mami tadi!" seru Gwen mengambil pulpen dan kertas di dapur.
Tidak dengan Rebecca saja, Gwen juga pernah meminta ganti rugi kepada Airy karena Airy sudah memarahinya ketika Gwen naik ke atas pohon rambutan mengajak santri laki-laki di pesantren.
Malam telah tiba, Chen merasa bosan dan ingin berjalan-jalan sebentar ke luar komplek. Ia penasaran dengan informasi yang diberikan Asistennya kepadanya tentang keluarga kandungnya di sana.
"Pria itu--"
"Sebenarnya dia ini siapa? Kenapa dia bersama dengan Ayahku?"
"Siapa dia? Dia juga selalu masuk dalam mimpiku." gumam Chen.
Tak sengaja juga, Adam melihat Chen yang masih berdiri di kejauhan sana. Ia semakin curiga dengan kedatangan Chen ke restoran Yusuf. Sadar Adam melihatnya, Chen pergi terburu-buru sampai menambak Aisyah dan Gwen yang saat itu hendak menyusul Yusuf.
Bruk!'
"Aduh, kamu mau mati, ya? Ganti rugi!" kesal Gwen.
Gwen terjatuh dan meminta ganti rugi kepada Chen yang saat itu masih berdiri tegak.
"Kau yang cari mati. Katakan! Mau seperti apa caramu mati!" sulut Chen. "Lalu, aku harus ganti rugi apa? Aku sama sekali tidak menyentuh dan melukaimu!" Chen mengatakan itu menggunakan bahasa Inggris.
"Dih, sok Inggris pula! Sebelum kau membunuhku, aku yang akan membunuhmu lebih dulu," Gwen tidak mau kalah.
Mereka berdua reflek mengeluarkan belatinya masing-masing. Mereka berdua juga sama-sama mengarahkan belatinya kearah berlawanan. Di saat itu juga, Asiyah melihat liontin yang ada di pergelangan tangan Chen. Ia paham sekali jika liontin itu sama dengan yang dimiliki Feng dan sepupu laki-laki lainnya.
"Liontin itu--" batin Aisyah.
Belum juga Aisyah selesai mengingat, kedua sadari dan saudaranya sudah saling menyerang. "Anak mafia dari mana kamu?" desis Gwen.
"Itu bukan urusanmu!" seru Chen dengan nada datar.
"Cukup! Kenapa kalian harus saling melukai cuma gara-gara tabrakan aja, sih? Apakah tidak ada cara lain untuk menyelesaikan permasalahan ini?" Aisyah mencoba menengahi perselisihan itu.
Tanpa Chen dan Gwen sadari, mereka sama-sama menurunkan belatinya dan menuruti apa yang dikatakan oleh Aisyah. Chen sendiri sampai bingung mengapa dirinya mau menuruti perkataan orang lain, ia tidak sadar jika memang Aisyah yang selalu bisa meredakan amarah keduanya nanti ketika dewasa.
"Sial, mengapa aku menuruti ucapan gadis bertudung ini?" batin Chen. (bertudung nggak tuh hahaha)
"Kenapa aku jadi ikut nurut sama Aisyah, sih? Benar dia lahir duluan, tapi … aku rasa otakku konslet, makanya mau menurut dengannya," gumam Gwen dalam hati.
"Sudah? Bisakah kalian tidak bertengkar lagi? Ayo saling minta maaf!" bentak Aisyah.
"Bahasa Inggrismu lumayan juga," puji Gwen.
"Iyalah, memangnya kamu … semua pelajaran nggak bisa," jawab Aisyah sinis.
Tak ingin bermasalah dengan Aisyah dan Gwen, Chen mengalah dan memberikan beberapa lembar Yuan kepada Gwen dan pergi begitu saja. Namun, langkahnya terhenti ketika Yusuf memanggil nama Aisyah dan Gwen, dan mereka menyebutnya Ayah kepada Yusuf.
"Ayah? Bukankah itu sebutan untuk …," Chen membalikkan badannya.
Melihat Aisyah dan Gwen dalam pelukan Yusuf, ia menduga jika kedua gadis seusianya itu adalah kedua saudarinya. Chen merasa senang jika kedua saudarinya sudah bersama, meski belum bisa selalu bersama.
"Jika gadis berambut pendek itu ada di sini, bukankah seharusnya Bibinya Feng … oh, bukan. Bibinya Feng adalah Ibuku, berarti Ibuku juga ada di sini?" batin Chen menoleh kesana-kemari.
"Mereka belum bersatu, aku dengar jika Ibu akan berpisah dengan Ayah angkat saudariku,"
"Aku senang melihat kalian telah bersama. Tunggu aku, aku akan membuat Ibu angkatku menderita lebih dulu, baru aku akan datang kepada kalian. Aku berjanji, ini janjiku, Ayah, Ibu. Aku berjanji." Chen mengepalkan tangannya lagi.
Ia kembali ke rumah dan menceritakan semuanya kepada Asistennya.