Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Kecurigaan Feng.



Di malam yang sunyi itu, mereka makan malam bersama. Syamsir dan Aom tidak ingin tahu lebih dalam dengan urusan Aisyah, sehingga mereka memutuskan untuk segera istirahat. Mee Noi juga sudah kembali ke rumahnya sendiri. 


Namun, hal yang membuat tegang malam itu adalah Feng. Tatapan Feng tak pernah lepas ke arah Chen. Kecurigaannya bertambah ketika ia tidak bisa makan asam seperti Aisyah. Cara menolaknya pun sama. 


"Tidak, aku tidak makan yang ini!" tolak Aisyah dan Chen bersamaan. Mereka saling menatap lagi. 


Buah mangga yang dikirim dari kepala desa memang masih masam. Sehingga, baik Aisyah maupun Chen menolak buah tersebut. 


"Darimana asal kalian?" tanya Feng lebih lanjut. 


"Kami--" ketika Asisten Dishi hendak menjawab, Chen menyelanya. 


"Kami dari Amerika. Kenapa kau menanyakan hal seperti ini?" sela Chen. 


"Begitukah? Siapa nama kalian? Kami tidak mungkin membiarkan kalian tetap tinggal jika kalian adalah orang jahat. Kami tidak ingin nyawa warga terancam!" sungut Feng. 


Tatapan kecurigaan Feng membuat Chen dan Asisten Dishi tidak nyaman. Mau tidak mau, Chen harus mengaku sebagai orang lain, agar identitasnya terlindungi. 


"Namaku Yuan, lalu dia Asistenku, namanya Dishi. Kami memang dari Amerika. Kau tak lihat gen dalam tubuhku ini?" kesal Chen. 


"Gen boleh orang barat, postur tubuh, kulit dan matamu memang menandakan orang barat. Tapi namamu ini ... nama orang Tionghoa, bukan? Lalu, rambut hitam ikalmu ini ... heh, perpaduan seperti apa ini!" sentil Feng. 


"Tuanku, tinggal di Tiongkok selama sembilan tahun. Kemudian pergi ke Amerika sampai dia dewasa dan kami baru kembali. Ini, kami sedang melakukan perjalanan bisnis. Bukan begitu, Tuan Yuan?" sambung Asisten Dishi. 


Feng semakin curiga dengan mata biru Chen. Sebab, mata biru itu berbeda dengan mata biru milik orang barat pada umumnya. Namun, Feng masih menyimpan dugaan itu, sampai semua benar-benar terbukti bahwa pria terluka di depan matanya adalah Chen, sepupunya. 


Asisten Dishi menyiapkan tempat tidur untuk Chen. Mereka terpaksa harus tinggal sampai Chen sembuh dari lukanya. Sementara itu, Aisyah masih terbangun dan terus menyentuh dadanya. 


"Di sini sama sekali tidak ada sinyal. Pria itu, jika aku lihat lebih jauh lagi ... kenapa dia mirip sekali dengan Gwen?" 


Perlahan, mata Aisyah tertutup. Larut dalam mimpi indahnya ketika masih kecil bermain bersama dengan Gwen di sebuah taman yang indah. Ketika keduanya bermain, muncullah seorang anak lelaki dengan mata biru yang menghampiri mereka. 


"Kau siapa? Sini, mainlah bersama kami!"


"Hey, kenapa kau hanya diam? Siapa namamu?"


Perlahan, sosok lelaki itu menghilang. Sebelum menghilang, anak lelaki itu menyebutkan namanya sendiri. Bahwa namanya adalah Chen. Aisyah terbangun karena Feng membangunkannya. 


Tak terasa waktu salat subuh tiba. Bersama dengan Syamsir, mereka pergi ke belakang bergantian wudhu. 


"Ada apa? Macam orang sariawan saja tak banyak cakap. Sehat kah?" tanya Syamsir. 


Aisyah dan Feng hanya diam saja. Lalu, Feng baru angkat bicara setelah Syamsir masuk ke gedung lagi. 


"Sepertinya ... aku mengenali pria yang terluka itu, Aisyah," ujar Feng memecah keheningan pagi itu. 


"Asistennya bilang, saat Tuannya kecil sampai besar, dia tinggal di Amerika. Bagaimana Koko bisa mengenalinya? Jangan ngadi-ngadi ngapa!" seru Aisyah tidak percaya. 


"Jika memang dia pria yang aku kenal ... apa kamu tidak ingin tahu siapa dia?" lanjut Feng. 


"Sudahlah, waktunya salat akan segera habis. Sebaiknya kita cepat wudhu. Pagi ini, kita harus masak dua porsi lebih untuk mereka." ujar Aisyah masih tak percaya jika Feng mengenali Chen. 


Meski Aisyah tidak mempercayainya, Feng tetap akan mencari tahu siapa pria yang terluka itu. Sebab, Feng memang memiliki kesan terhadap Chen di masa lalu.