Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Ide Gila Feng



"Assalamu'alaikum, Bu. Ibu lagi apa? Ayah …."


"Ayahmu mengetahui kalau kamu ke luar negri, Nak. Tapi percayalah! Ibu mengatasi Ayahmu dengan baik. Nikmati saja pekerjaanmu di sana."


Pak Raza tak ingin Ibunya mendapatkan masalah kembali. Ia akan pulang secepatnya ketika misi Gwen berakhir. 


Di desa, Chen sudah bisa beraktivitas seperti biasa. Lukanya telah mengering, ia bersiap akan kembali ke Kota dulu supaya bisa mendapatkan informasi dari pihak mana yang menyerangnya.


Saat itu, Feng yang baru saja selesai mengemas semua barangnya, ia pun menghampiri Chen dan ingin menggodanya. Feng akan bahagia jika bisa membuat Chen jatuh hati kepada adiknya sendiri. Lalu, suatu saat nanti, Chen akan mengetahui bahwa Aisyah adalah saudari kembarnya dan akan merasa sakit hati. 


"Haha, ide yang bagus, bukan? Sedikit percikan api cinta, setelah itu aku akan beritahu bahwa mereka adalah saudara kembar yang terpisah. Asik, pasti seru nih!" gumam Feng dalam hati. 


Feng pun mendekati Chen dan duduk di sebelahnya. "Sedang apa, Tuan Yuan?" tanya Feng mengikuti alur Chen. 


"Kau tak lihat aku sedang apa?" Chen menunjukkan ponselnya. 


"Oh, lagi mau telpon. Telpon siapa?" tanya Feng lagi. 


Chen tidak menanggapinya sama sekali. Ia sibuk dengan ponselnya dan juga baju yang baru saja kering akan dipakai kembali. "Sialan! Dia mengacuhkanku. Rupanya, sifatnya masih sama saja!" kesal Feng, ia terus bergumam dalam hati.


"Tuan Yuan, lihatlah! Apakah kau tidak tertarik dengan gadis seperti Dokter Aisyah? Cantik, manis, berkarakter pula. Apa kau tidak tertarik?" bisik Feng. 


Chen hanya mengamatinya saja. Feng terus mendorong keyakinan Chen supaya mendekati saudarinya dan memiliki perasaan dengannya. Ide gila Feng itu rupanya diketahui oleh Asisten Dishi yang sejak awal pertemuan menyukai Aisyah. 


Rupanya usaha Feng tidak sia-sia. Chen akhirnya terpengaruh oleh desakannya. Sementara itu, Chen sendiri juga merasakan ada sesuatu dalam hatinya ketika melihat Aisyah. Sebab, sampai saat itu ia tidak tahu apa arti gejolak api yang ada dalam hatinya. 


Chen melangkah perlahan mendekati Aisyah yang saat itu tengah berdiri mengamati kebun bunga yang ada di depan gedung itu. Sembari mendekat, Chen juga terus mengingat kata-kata yang dikatakan oleh Feng tentang keunggulan Aisyah.


Tangan kanannya bergerak, kemudian mengangkat telunjuknya. Masih mengamati Aisyah dengan tatapan yang begitu dalam. Telunjuk Chen perlahan menyentuh pipi Aisyah seraya memanggil namanya dengan lembut "Aisyah," bisiknya. 


Oh, bayangkan telunjuk Chen menyentuh pipi Aisyah. Nakal sekali Feng ini. Mendengar namanya di panggil, Aisyah menoleh dan telunjuk Chen menyentuh lebih dalam di pipi Aisyah. Aisyah dan Chen merasakan seperti ada sengatan listrik yang ada di telunjuk dan pipi mereka.


Mereka saling berpandangan dan menanyakan suatu hal yang belum pernah ia rasakan selama mereka hidup pada saat itu. "Rasa apa ini? Ini bukan jatuh cinta, tapi kenapa aku merasa sayang dengannya. Ini kali pertamanya aku bertemu dengannya." ucap mereka dalam hati bersamaan.


"Maaf, aku ... aku tidak bermaksud melecehkan kamu. Tapi, itu--" Chen gugup untuk pertama kalinya.


"Tuan Yuan, apakah kamu sudah minum obatmu?" Aisyah mencoba mencairkan suasana agar Chen tidak merasa canggung.


Chen mengangguk pelan. "Em, Dokter Aisyah, bisakah kau memanggilku dengan nama Yusuf?" pintar Chen.


Mendengar nama Ayahnya di sebut, Aisyah langsung memasang wajah terkejut. Dia menjadi merindukan Ayah-nya kala itu. Aisyah pun bertanya, "Yusuf? Ada apa dengan nama itu? Bukankah ... nama kamu adalah Yuan?"


"Itu adalah nama Ayahku. Aku sangat merindukannya. Meski aku belum pernah memeluknya menggunakan kedua tanganku ini." ungkap Chen mengadahkan tangannya. Aisyah mengamati tangan Chen dan mendapati gelang dengan liontin yang sama miliki saudara sepupu lelakinya.