Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Pertemuan Kembali (Agam dan Gwen)



"Aku harus bertemu dengan Mami!" sentak Gwen. 


Chen menahan lengan Gwen. Kemudian berkata, "Jangan berani-beraninya kau protes dengan Ibuku. Kau akan memiliki adik, harusnya kau senang, bukan?"


"Akulah anak bungsu, dan tidak boleh ada yang menggantikan posisi itu!" Gwen masih tidak 


Aisyah mencubit lengan adiknya kala itu. Gwen memang terlihat marah, Aisyah bukan tak terima jika dirinya akan menjadi kakak lagi. Melainkan, ia masih berpikir, jika Gwen masih seperti anak kecil dan belum siap menjadi kakak. 


Akhirnya, muncul ide untuk Aisyah mengerjai adik nakalnya itu. "Ayah, sebentar lagi ayah akan punya mantu. Si bungsu yang baru naik pangkat ini sudah ada yang melamarnya, loh!" seru Aisyah dengan senyuman. 


"Apa?" tanya Yusuf terkejut. 


"Kak Chen juga pernah bertemu dengan pria itu. Mohon pencerahannya, Kak Chen. Aku pamit dulu mau ke apotek. Assalamu'alaikum, semuanya, tata …," meski Aisyah selalu tegas dengan siapapun, tapi ia juga bisa saja jahil dengan orang lain. 


"Hayuk, Asisten Dishi. Kau ikutlah bersamaku!" ajak Aisyah menyentil bahu Asisten Dishi. 


Yusuf masih saja memasang wajah lucunya. Kemudian bertanya dengan Chen siapa lelaki yang melamar Gwen itu. 


"Oh, jangan tanya aku, Ayah. Aku sibuk, masih ada oleh-oleh dari Negaraku yang harus aku keluarkan, permisi Assalamu'alaikum!" Chen akhirnya juga kabur. 


"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Yusuf dengan ekspresi wajah yang masih belum tahu apa-apa. 


"Sial! Kedua kakakku ini  … Lihat saja, bagaimana cara aku membalas kalian berdua. Huh, ini juga bagaimana cara menjelaskan kepada Ayah?" umpat Gwen.


Ketika Gwen hendak kabur, Yusuf menahan lengannya dan meminta Gwen untuk menjelaskan ucapan Aisyah sebelumnya. Yusuf memang sayang kedua putrinya itu, sehingga tak ingin melihat kedua putrinya tak salah dalam memilih pasangan hidup. 


"Ayah aku--" 


"Duduk dan ceritakan apa yang kakakmu katakan tadi. Ayah ingin tau, pria seperti apa yang berani melamarmu itu!" tegas Yusuf. 


"Ayah kalau udah tegas begini, pasti susah diajak bercandanya. Masa iya aku bilang kalau aku juga baru kenal, sih?" Gwen tengah berperang dengan batinnya.


Saat itu, Gwen masih beruntung. Ketika Gwen hendak menjelaskan tentang siapa yang telah melamarnya, Rebecca terbangun dan memanggil Yusuf. Sementara itu, Chen masih sibuk membawa barang yang ia bawa dari Tiongkok untuk orang tuanya. 


"Kita masih harus bahas ini. Nanti kita bicara lagi, Gwen." desis Yusuf. 


Gwen menghela nafas panjang. Masih ada waktu untuk merangkai kata supaya Ayahnya tidak berprasangka buruk kepadanya, meski itu tidak mungkin Yusuf lakukan. Ia pun keluar tanpa pamit dengan siapapun, berjalan sambil terus mengomel sendiri. 


Ketika keluar dari gang rumahnya, tak sengaja ia bertabrakan dengan Agam yang kala itu tengah membawa beberapa kantong plastik berisikan pupuk dan bibit tanaman. "Aduh, pakai nabrak orang se--" 


Tak sengaja mereka dipertemukan kembali sebelum rencana Agam melamarnya terjadi. Keduanya hanya diam dan saling menatap. Seperti ada alunan musik yang indah ketika adegan itu terjadi. Tatapan mereka di sadarkan dengan adanya anak kecil yang main menerobos di tengah-tengah mereka. 


"Assallamu'alaikum warahmatullahi wabbarokatuh," salam Agam langsung menundukkan pandangannya. 


"Wa'alaikumsallam, Mas Agam ada di sini?" Gwen sendiri menjadi bingung mengapa Agam ada di daerah tempat ia tinggal.


Agam hanya diam saja, jantungnya masih berdegup kencang ketika melihat Gwen hadir dihadapannya. Ia terus beristighfar dalam hatinya, meminta untuk dikuatkan hatinya kala sedang bersama dengan Gwen. 


"S-saya?" Agam kembali gugup. "Saya baru saja membeli pupuk dan beberapa bibit tanaman. Kebetulan, mitra usaha saya ada yang tinggal di daerah sini. Kamu sendiri, kenapa bisa di sini? Bukankah masih ada waktu 3 hari untukmu kembali?" tanya Agam. 


"Mas Agam kenapa, sih? Kalau bicara denganku, pasti nggak mau lihat aku. Apakah aku tak layak untuk dipandang?" 


Agam terdiam sejenak. Kemudian menjelaskan, "Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara ***********. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat." (QS. An-Nur [24] : 30) 


"Oh, menghindari zina, ya?" tanya Gwen mengerti. "Lalu, ada berapa macam bentuk zina itu?" lanjut GWen masih berusaha memandang wajah Agam. 


Pertama, mata bisa berzina. Zinanya  adalah pandangan (yang diharamkan). Zina kedua telinga adalah mendengar (yang diharamkan). Lidah (lisan) bisa berzina, dan zinanya adalah perkataan (yang diharamkan). Tangan bisa berzina, dan zinanya adalah memegang (yang diharamkan).


Kaki bisa berzina, dan zinanya adalah ayunan langkah (ke tempat yang haram). Hati itu bisa berkeinginan dan berangan-angan. Sedangkan ******** membenarkan yang demikian itu atau mendustakannya. (HR. Bukhari no. 6243 dan Muslim no. 2657)


Bagaimana tidak tersentuh hati Gwen. Di samping Agam adalah pria yang sayang dengan keluarga, ia juga begitu paham dengan agama. Bukankah pria seperti itu yang memang diidamkan semua wanita? Pria yang mampu membimbing ke jalan yang Allah ridhai.


"Lalu, bagaimana kondisi Umi saat ini?" lanjut Gwen. 


"Umi masih saja dengan keadaan yang sama, Dek. Belum ada perubahan dan masih sering berpikiran negatif tentang hidup beliau," jawab Agam menghela nafas panjang. 


Sebenarnya, Gwen ingin sekali mempertanyakan kapan Agam akan melamarnya karena Ayahnya sudah mengetahui tentang lamaran di Bandara itu. Namun, hati nurani Gwen menolak untuk menanyakan hal itu, karena ia tahu bahwa pria yang telah melamarnya ini sedang dalam kondisi yang tidak baik-baik saja. 


"Kalau begitu, aku pulang dulu As--"


"Tunggu, Dek!" Agam menahan langkah kaki Gwen. 


"Iya?"


Agam tersenyum dengan mata berbinar, kemudian berkata, "Bilang kepada orang tuamu, InsyaAllah saya akan datang malam nanti untuk melamar kamu, Dek. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, sampai bertemu nanti malam, ya. Kirimkan saja alamat rumah kamu lewat pesan nanti," ucap Agam segera berlalu. 


"Wa'alaikumsallam ...." jawab Gwen menyentuh dadanya. "Weh, deg degan gini, ya. Kok bisa?" gumamnya dalam hati. 


"Mana tangan gemeteran juga pula. Kupingku juga ikut panas weh!" 


Gwen masih tidak percaya jika Agam akan melamarnya malam nanti. Ia bergegas pulang hendak memberitahukan kabar itu kepada orang tuanya. 


Itu memang sudah janji dari Agam akan melamar Gwen ketika mereka dipertemukan kembali. Sebab, jodoh memang akan kembali kepada Tuannya meski jalannya harus berliku. 


Sesampainya di rumah, Gwen melihat Chen sedang duduk bersama kedua orang tuanya. Mereka terlihat begitu akrab sehingga membuat air kata Gwen menetes. 


"Aku bahagia sekali melihat Mami dan Ayah dapat bertemu dengan anaknya yang hilang. Dengan begini, aku tidak akan sedih saat pergi setelah menikah nanti," batin Gwen. 


"Melihat senyum Mami, membuatku sangat senang. Dulu, ketika kami masih di Australia ... Mami selalu saja marah-marah jika tidak berhasil menemukan keberadaan Kak Chen." imbuhnya. 


Satu misi telah dilaksanakan oleh Aisyah dan Gwen saat itu. Masih ada misi lain di masa mendatang yang belum terencana. Yakni membuat Cindy mencapai karmanya.