
Acara berlangsung dengan lancar. Usai mengadakan tasyakuran, Chen beserta yang lainnya masih duduk berkumpul di ruang tamu, rumah Airy dan Adam.
"Ada apa? Kenapa kau menatapku seperti itu?" ketus Chen kepada Ayyana, yang memang terus mengamatinya.
"Hah? Ternyata bukan hanya denganku saja. Bahkan dengan kakaknya saja, dia begitu?" gumam Lin Aurora dalam hati.
Ayyana memberikan hadiah untuk Chen. Di susul oleh Anthea, Gehna dan juga Rafa. Mereka memberikan masing-masing hadiahnya langsung ke tangan Chen.
"Apa ini? Apakah memang seperti ini adatnya?" tanya Chen bingung.
"Tidak, hanya saja … ini pemberian kami sebagai bukti rasa sayang kami kepadamu. Selamat, dan semangat untuk selalu istiqomah," jawab Rafa.
"Apa itu istiqomah?" lanjut Chen masih bingung.
"Nanti akan Paman jelaskan. Sekarang lebih baik, buka dulu hadiah dari kakak-kakakmu," sahut Raihan menepuk-nepuk bahu Chen.
Sebenarnya, Chen hanya bingung mengapa dirinya mendapatkan hadiah. Seumur hidupnya, ia belum pernah mendapatkan hadiah yang begitu berarti dari orang terdekat. Bahkan, ulang tahunnya saja tidak pernah dirayakan karena Chen membenci hari itu.
"Al-Qur'an?" tanya Chen ketika membuka hadiah dari Rafa. "Peralatan salat? Hadiah yang sangat bermanfaat. Hm, apa ini?" lanjutnya mengangkat sebuah kotak yang lumayan berat.
"Buka saja, itu juga dariku," ucap Rafa, hadiah pertama yang Chen buka adalah, dari Rafa.
Sebuah ukiran kaki dan tangan Chen sewaktu bayi dulu. Chen lahir di rumah sakit, kaki dan tangannya pasti akan di cap setelah lahir. Rafa sengaja memberikan hadiah itu, untuk mengingatkan bahwa Chen adalah bagian keluarga pesantren meski tidak tumbuh besar bersamanya.
"Ukiran ini dari kayu? Telapak tangan dan kaki kecil ini … adalah milikku?" tanya Chen.
"Benar, aku sendiri yang mengukirnya. Dulu, waktu kau akan menikah dengan sahabat saudarimu, aku datang ke rumah sakit dan meminta data dirimu. Mengukir butuh waktu yang lama, sampai dimana kau gagal bersamanya," jelas Rafa.
"Aku lanjutkan kembali, setelah Aisyah menikah. Dan baru jadi kemarin, hahaha, semoga kamu suka, Chen," lanjutnya dengan terus mengusap tangannya yang penuh dengan luka, akibat tersayat pisau.
Chen melirik ke tangan Rafa. "Tapi, kenapa namanya Rasya Fahreza Putra? Apakah itu, nama yang pernah diberikan kepadaku?" tanya Chen.
Rafa mengangguk.
"Terima kasih, aku suka hadiahnya. Ini sangat berharga, aku akan selalu menjaganya," ucap Chen, sulit mengapresikan diri.
Kemudian, Chen membuka hadiah dari Gehna. Isinya adalah gamis pria, dan beberapa parfum yang dibawa pulang oleh suaminya dari Tarim. Hadiah dari Anthea juga tak jauh dari hal yang sederhana. Begitu ingin mereka menghabiskan waktu bersama dengan Chen di saat kecil.
"Ini dari … kak Ayyana? Aku buka, ya?"
Hadiah dari Ayyana adalah, sebuah kaca yang dimana di dalamnya ada foto masa kecil semua putra putri pesantren dari masa kecil Aisyah, Akbar, Kabir dan Syakir. Yang di kaca itu hanya foto masa kecil.
"Ini sangat indah, apakah ini masa kecil Ibuku yang cantik?" tanya Chen mengusap foto Ibunya.
"Tentu saja! Lihatlah, betapa miripnya dirimu dengan Ibumu. Ini masa kecil nenek kita, nenek Aisyah. Wajahnya juga sama persis dengan Aisyah, bukan?" jawab Ayyana.
Perlahan, air mata Chen menetes kala menyentuh semua foto tersebut. Chen menanyakan mengapa Ayyana memberikan hadiah itu.
Ayyana menjawab, "Masa kecil adalah masa yang paling indah. Aku tidak tau, bagaimana kau menjalani masa kecil, Chen. Hanya saja, aku ingin kamu tau, bahwa kami di sini, selalu menginginkan kamu hadir di masa kecil kami. Jadi, aku berpikir hadiah ini adalah hadiah paling tepat,"
"Meski aku kurang maksud apa yang dikatakan olehmu, tapi ini lumayan lah. Terima kasih," ucap Chen menyimpannya dengan baik.
Semua orang tua yang ada di sana senang melihat kerukunan antara saudara. Hal itu pernah para orang tua lakukan juga, mereka tak merasa gagal menurunkan sikap mereka kepada anak-anaknya.
Usai berkumpul, semuanya pulang ke rumah masing-masing. Chen sendiri juga sudah sampai di kamarnya. Menatap semua hadiah yang diberikan oleh para kakaknya.
Semua hadiahnya memang istimewa. Namun yang paling istimewa dari Rafa dan Ayyana. Chen terus mengusap ukiran telapak tangan dan kakinya kala masih bayi merah. Ada liontin ukiran yang sengaja Adam ukir juga tergelantung di sana.
"Rasya Fahreza Putra … Nama yang bagus. Tapi, aku tidak bisa mengganti namaku sekarang," gumamnya.
"Bagaimanapun juga, Nama yang sekarang adalah pemberian dari orang yang sudah membesarkanku. Tapi, aku tidak terima dengan apa yang telah Cindy lakukan kepadaku!"
Dilanjut, Chen menyentuh hadiah dari Ayyana, yang rupanya bisa menyala, karena adanya lampu kecil di setiap sudut kacanya.
"Jika melihat ini, aku merasa bahwa aku benar-benar memiliki keluarga besar yang saling menyayangi tanpa harus bersaing dalam bisnis,"
"Ah, cantik sekali masa kecil Ibuku. Eh, ini siapa? Tengil banget, oh … Ada namanya di setiap poto, Airy Calista Putri Handika? Huh, ternyata si tengil ini adalah Bibi Airy,"
Tak terasa, mata Chen mulai terpejam. Meski dirinya sudah mulai merasakan cenut-cenut di bagian itunya, tetap ia tahan karena Dokter mengatakan tidak butuh waktu lama akan sembuh.
"Sial, rasanya pengen pipis,"
"Hish, menyusahkan sekali!"
Tidurnya merasa tak nyaman, tak bisa terlelap dengan tenang. Chen pun beranjak membuka pintu, berjalan ke ruang tengah dan duduk di sana.
Di saat yang tepat, Jovan menelponnya. Memberikan kabar, jika ia telah menerima bukti, jika memang ada tujuan lain dibalik perjodohan tersebut.
"Baiklah, lalu bagaimana. Apa kau sudah memberitahu Ayahku?" tanya Chen.
"Aku belum sempat ke rumahmu, Chen. Besok aku coba ke sana. Aku baru saja pulang dari perbatasan menjemput sepupu laki-laki Lin Aurora," jawab Jovan.
"Terus kabari aku. Banyak sedikitnya pergerakan, segera kabari aku," tegas Chen.
"Baik,"
"Shh, sial. Gatal sekali!" umpatnya lirih.
"Kenapa kau mendesah? Apa yang sedang kau lakukan, Chan?" tanya Jovan penasaran.
"Bukan urusanmu!" sentak Chen, menutup teleponnya.
Tak lama kemudian, datanglah Rebecca dari dapur. "Loh, Chen? Kamu belum tidur?" tegurnya.
Chen menggeleng. Rebecca pun mendekati putranya dan duduk di sampingnya. "Kenapa belum tidur?" lanjut Rebecca.
"Aku tidak bisa tidur, Ibu," jawab Chen lembut.
"Apa itunya sakit?" tanya Rebecca.
Chen menggeleng lagi. "Aku sakit ketika melihat luka-luka yang ada di tubuh dan wajah Ibu. Apakah Ibu belum mau bercerita?" tanyanya kembali.
Rebecca terdiam, lalu meminta Chen untuk merebahkan kepalanya di pahanya. Mengusap rambut putranya dengan penuh kasih. Dan mengatakan untuk tidak membalas dendam kepada siapapun yang telah menyakiti keluarganya.