Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Drama Mafia Aisyah



Langkah kaki Aisyah sangat berhati-hati. Ia pernah mendengar Gwen saat Gwen ikut menyerbu markas musuh bersama Ibunya dulu ketika Di Australia. Ilmu itu Aisyah gunakan ketika memasuki markas Jackson Lim.


"Huh, tempatnya sangat kotor sekali. Bagaimana bisa mereka hidup seperti ini? Setidaknya, kalau markas sederhana mbok ya yang bersih gitu," gumam Aisyah. 


Jika Chen dan Gwen menggunakan sayatan untuk melumpuhkan lawan, Aisyah berbeda. Ia menggunakan obat bius hasil racikan Yue, ibunya Feng untuk membuat lawan tak sadarkan diri. 


Alat yang digunakan Aisyah juga sederhana hanya jarum kecil yang telah di lumuri racun tersebut. Kemudian di masukkan ke bambu dan di tiup. Sehingga tekanan udara dari mulut Aisyah mampu mendorong jarum kecil tersebut dan mengenai leher penjaga. 


"Ah sial! Apa ini? Banyak sekali nyamuknya!"


"Ah!"


"Kenapa nyamuknya juga menyerangku?"


Beberapa penjaga mulai pingsan karena jarum beracun milik Aisyah. Dengan begitu, Aisyah tidak perlu mencelakai orang lain untuk menuju misinya.


"Haih, kenapa mereka berbahasa Mandarin? Aku kan tidak tau mereka ngomong apa!" gumam Aisyah dalam hati.


Setelah semuanya pingsan, Aisyah melanjutkan langkahnya. Sampai di depan pintu markas, langkah Aisyah terhenti. Ia mendongakkan kepalanya dan mencari-cari sesuatu. Takutnya, ada cctv yang memantaunya. 


"Apakah di sini tidak ada cctv? Semoga saja tidak. Akan berantakan jika ada cctv," gumam Aisyah melanjutkan langkahnya.


"Maaf ya semuanya. Kalian bobok dulu, aku akan masuk sebentar. Permisi, mohon maafkan kelancanganku. Semoga izin menggunakan bahasa Indonesia dan Korea ini sudah bisa kalian maklumi, ya. Soalnya aku tidak bisa berbahasa Mandarin,"


Langkah Aisyah semakin ke dalam. Di dalam malah ruangannya semakin kotor. Banyak bekas makanan dan kaleng minuman di sana yang berserakan. 


"Pantas saja mereka jahat. Setan aja banyak di sini, tempat kotor ya tempatnya setan. Pasti mereka temannya setan,"


Aisyah terus bergeming, hatinya terus berbicara supaya tidak merasa takut. Tak lupa ia juga bersalawat supaya bisa menguatkan imannya. Semakin ke dalam, suasananya menjadi beda. Lembab, bau dan udaranya seperti panas. Padahal tempat tersebut tak jauh dari pantai. 


"Hih, makin kesini makin nggak beres. Bagaimana suamiku yang tampan itu bisa bertahan di tempat kotor seperti ini? Malangnya suamiku--" 


Aisyah terus melangkah sampai kakinya membawanya ke ruangan yang ada pagar besinya. Ketika semakin dekat, rupanya disana tempat suaminya di sekap. 


"Astaghfirullah hal'adzim,"


Air mata Aisyah mulai menetes melihat kondisi suaminya yang sangat menyedihkan. Lebam di wajahnya sampai menutupi ketampanannya. Banyak darah yang mengotori bajunya, membuat hati Aisyah merasa sebak. 


"Cindy dan Jackson ini. Haduh, Ayah dan Ibu bisa-bisanya memiliki dua musuh yang model begini," gumam Aisyah. 


Aisyah memberikan sinyal kepada Zhuang untuk tetap waspada. Aisyah mencurigai sesuatu. Ada yang janggal dalam situasi markas tersebut. Sepi dan tak banyak penjaga, Aisyah merasa jika gerak geriknya sudah diketahui. 


"Aku yakin, aku sedang masuk jebakan. Tapi bodoh amat! Allah bersamaku, dan aku harus bebaskan suamiku!" 


Aisyah juga membawa harta yang dicari oleh Jackson Lim. Yakni, stempel keluarga Ling yang memang Gwen berikan kepadanya. Stempel keluarga ada dua macam. Satu milik Tuan Lim dan satunya lagi milik Nyonya Ling, istrinya. 


Kembali menggunakan jarum beracun, Aisyah memulai aksinya lagi untuk membuat pingsan para penjaga yang ada di depan penjara yang kotor tersebut. Saat itu, Dishi lagi istirahat. Dia tidak melihat aksi cerdik istrinya meski memang sudah ketahuan oleh Jackson Lim.


"Maaf, ya. Aku ambil dulu kuncinya, mau bebasin suami soalnya," ucap Aisyah.


"Yes! Terima kasih!" 


Gemencring suara kunci, mampu di dengar oleh Dishi. Ia membuka matanya, dengan tangan keduanya masih diikat ke kanan-kiri, ia berusaha memperjelas pandangannya. Dishi melihat seorang wanita dengan berbaju sedikit ketat dengan jilbab di kepalanya. 


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh, aku akan membuka gemboknya dulu," bisik Aisyah.


"Apa yang kamu lakukan di sini? Apa kamu sudah gila?" tanya Dishi.


"Iya, aku gila. Gila karena kamu tidak pulang-pulang ke rumah. Hampir saja aku mencari suami baru karena kamu tidak pulang," jawab Aisyah berusaha membuka gembok. 


"Di sini sangat berbahaya. Kenapa kamu datang? Sebentar lagi, aku pasti akan keluar, Ai istriku yang cantik," ucap Dishi sedikit geregetan.


Setelah kesal sendiri karena sulit membuka gembok, akhirnya gembok tersebut bisa terbuka. Lengan kaki dan tangan Dishi sampai iritasi karena rantai yang sudah berkarat. Membuat Aisyah sedih melihat keadaan suaminya itu. 


"Dengar, apapun yang terjadi, jangan sampai kamu melepas genggaman tanganku, oke?" ucap Aisyah merangkulkan tangan suaminya kepadanya. 


"Kamu datang kemari, apa tidak takut ketahuan?" tanya Dishi. 


"Haduh,  sejak awal memang aku sudah ketahuan kali," jawab Aisyah. 


"Maksudnya?" tanya Dishi tidak mengerti. 


Belum juga Aisyah menjawab, Jackson Lim dan Cindy sudah datang dengan bertepuk tangan. Mereka datang membawa beberapa orang-orangnya berjas hitam. 


"Aisyah Kalina Putri," sebut Jackson Lim. 


"Haih, aku bilang juga apa. Sejak awal, aku sudah ketahuan. Curiga saja saat aku masuk, mulus-mulus saja langkahku  seperti pantaatnya Rifky," gumam Aisyah. 


"Sudah salah nyebut nama, keras pula suaranya. Aisyah Adelia Putri! Kalina itu milik Gwen, Jackson Lim!" sulut protes Aisyah. 


"Kamu memang tidak memiliki sopan santun. Aku Pamanmu, kenapa kamu menyebut namaku secara langsung seperti itu, keponakanku yang paling cantik…." 


Tatapan sombong Jackson Lim dan juga Cindy membuat Aisyah kesal. Sudah sejak era orang tuanya, mereka selalu berbuat kejahatan. Beberapa kali juga keduanya selalu membuat keluarga Aisyah celaka. 


"Kalian sebenarnya kenapa, sih? Tak bisakah menjadi orang yang baik dan hidup normal seperti orang lain?" tanya Aisyah sembari mengobati luka suaminya. 


"Aku kasihan dengan kalian berdua. Satu mengejar cinta, yang satunya mengejar harta dan menyatukan itu dengan dendam. Apa kalian hidup tenang selama ini?" lanjut Aisyah. 


"Kau menghancurkan wajahku. Maka aku akan membuatmu membayar semua yang kau lakukan padaku, Aisyah!" sahut Cindy. 


Aisyah berhasil membuat Jackson Lim dan juga Cindy membual. Sementara dirinya membalut luka-luka suaminya supaya ketika di gunakan untuk melarikan diri, tidak lagi terbuka lukanya dan mengeluarkan darah. 


"Selesai, semua lukamu sudah aku balut. Mereka memang bodoh!" bisik Aisyah. 


"Lihatlah, aku akan bicara dengan mereka seperti mafia-mafia pada umumnya. Aku seharian menonton drama tentang mafia ini," ucap Aisyah percaya diri. 


"Ya!" teriak Aisyah. 


"Apa kalian menginginkan kemenangan? Bukankah itu akan membuat kalian hancur sendiri? Jika kalian berani, maka kalian bisa melawanku dengan tangan kosong kalian sekarang juga!" 


Aisyah hanya menggunakan aksen Korea saja. Hal itu membuat Dishi menepuk keningnya sediri. 


"Apa kamu bilang? Kamu menantangku?" Jackson Lim merespon. 


Aisyah mengeluarkan stempel keluarga Ling. Dimana stempel itu telah Gwen curi dari kediaman Lim yang lama. Bagaimana reaksi Jackson Lim ketika hartanya di curi?