
Di lain tempat, Agam dan Gwen bersiap untuk pulang sore nanti. Mereka tengah mengemas semua barang miliknya. Ketika Gwen hendak mengambil sarung yang ada di samping Agam, kakinya tak sengaja menyandung kaki meja sehingga membuatnya terjatuh dalam pangkuan sangat suami.
"Aduh," jerit Gwen.
Meski sudah hampir setengah tahun mereka menikah, debaran itu masih ada. "Jantung Mas Agam berdebar lagi?" bisik Gwen.
"Kamu selalu membuat jantung Mas berdebar. Apakah sekarang bisa kamu turun dulu? Posisi ini sangat aneh, Dek," sahut Agam dengan senyuman manisnya.
"Um, kalau aku nggak mau, bagaimana?" goda Gwen.
"Kalau kamu nggak mau, maka aku akan mengigit pipimu," Agam juga mulai pandai menggoda.
"Begitukah? Coba buktikan!" seru Gwen meraba dada suaminya.
Keduanya jatuh cinta setelah menikah, tak heran bagi mereka jika masih merasakan debatan meski telah menikah hampir setengah tahun. Tanpa basa-basi lagi, Gwen langsung mengecup bibir suaminya dengan gigitan kecil dan meninggalkan luka kecil di bibir suaminya.
"Aw," jerit Agam. "Kamu menggigit bibir Mas?" kata Agam menyentuh bibirnya.
"Bibir seseksi ini, kalau tidak di gigit kan sayang sekali. Hehe, Mas Agak kenapa selalu terlihat cerah sih wajahnya, bikin insecure aja deh!" Gwen masih nyaman berada di atas tubuh suaminya.
"Kamu cantik, untuk apa insecure?" balas Agam menyentuh pipi istrinya.
Selama di Korea, mereka belum menghabiskan waktu yang benar-benar berduaan. Tak enak hati bagi mereka jika melalukan hubungan intim di rumah Aisyah.
"Mas~" Gwen terus saja menggoda Agam agar mau melakukan itu.
"Ini masih di rumah Kakak kamu. Malu dong!" seru Agam dengan suara lembutnya.
"Hish, kita kan suami istri. Kenapa harus malu? Mereka pasti juga akan maklum, 'kan? Lagian nggak ada orang juga di rumah, kecuali kita berdua," celetuk Gwen dengan tangannya yang mulai nakal bergerilya.
Agam menahan tangan Gwen. Ia memberikan ide jika ingin melakukan itu, sebaiknya pergi mencari hotel saja. Tapi, karena sore hari mereka hendak pulang, maka Gwen sudah tak ingin lagi. Agam pun tersenyum melihat pipi istrinya yang menggebu karena merajuk.
"Uluh-uluh, jadi ceritanya ngambek ini? Ayo dong senyum, ini liburan loh! Masa begitu, maaf deh~" bujuk Agam agar Gwen tak lagi merajuk.
"Siapa yang ngambek?" cetus Gwen.
"Lah ini, apa?" Agam menoel-noel pipi Gwen seperti menoel-noel kue apem saja.
Keduanya hanya bisa bercanda di dalam rumah. Sebab, memang Gwen tak ingin jalan-jalan keluar karena merasa sedang tidak enak badan.
Sejauh itu, Chen dan Feng masih saja memperdebatkan masalah kecil. Di perusahaan besar milik keluarga Ayden, mereka malah terus membahas hal yang sudah lalu, di saat Feng tiba-tiba memperlakukannya dengan tidak baik.
"Ikut denganku!" Chen menarik kerah baju Feng dengan kasar dan membawanya ke tangga darurat.
"Lepaskan aku, brengsek!" tepis Feng.
"Aku merasa ada sesuatu yang salah padamu. Katakan yang sebenarnya, atau aku akan membuatmu tak bisa pulang dari sini," desak Chen.
"Sebaiknya, kau menjauhlah dariku. Serasa aku ini ingin menjadi monster jika ada di dekatmu!" usir Feng.
"Cih, aku juga malas berada di dekatmu!" cetus Chen tidak mau kalah.
"Haih, aku dengar perusahaan milik keluarganya di retas. Aku jadi kasihan dengannya. Jika dia sampai bangkrut, nanti aku akan carikan pekerjaan yang cocok untuknya," batin Chen dengan sok tahu-nya.
Feng kembali melihat ada orang dari Jackson Lim yang memantau mereka. Itu sebabnya Feng tidak ingin terlihat akrab dengan Chen. Di sisi lain, rupanya Chen menyadari itu dan meminta Jovan untuk berhati-hati.
"Ada orangnya Jackson Lim. Sebaiknya, kita berhati-hati dalam bertindak," bisik Chen.
"Aku tau, mereka sudah mengikuti kita sejak kita tiba di sini. Apa yang sebenarnya ingin mereka lakukan? Bahkan, aku kemarin melihat bawahan Tuan Natt juga di sini." balas Jovan dengan berbisik juga.
Hidup di dunia hitam memang tak pernah merasa tenang. Harta berlimpah, usaha berkembang pesat, namun semua itu tidak menjamin kebahagiaan.
Berbeda dengan hidup Gwen dan Agama yang terlihat sederhana dengan hanya menjadi guru ngaji, peternak dan juga terjun di pertanian. Cukup itu adalah yang diinginkan. Sisanya, biarkan kasih sayang dan kebahagiaan yang membuktikan kokohnya hubungan rumah tangga maupun keluarga.
Setelah mengantar Aisyah ke kampusnya, Asisten Dishi menelpon beberapa orang kepercayaannya untuk menjaga Ilkay kalau di sekolah. Sementara dirinya, berusaha agar bisa memperpanjang waktu tinggal di Negri Gingseng itu lebih lama lagi.
"Sayap kanan telah aku perintahkan untuk mengawasi Jackson Lim dan Nyonya pertama. Jadi, untuk kalian, kirim aku beberapa orang berjaga di sekolah putraku,"
"Dan lagi, carikan aku pemilik lama apartemen yang ada di sebelah apartemen Nona Aisyah, secepatnya!" perintah Asisten Dishi dengan tegas.
"Sementara, aku akan handle pekerjaan kantor dari sini. Perusahaan sudah stabil, jadi aku tidak perlu datang lagi ke sana," gumamnya dengan menggenggam erat stir mobilnya.
Asisten Dishi kembali ke apartemen Aisyah untuk mengambil dokumen penting perusahaan untuk di berikan kepada Chen yang saat itu masih ada di perusahaan milik keluarga Ayden.
Ketika ia masuk, Asisten Dishi melihat keharmonisan antara Gwen dan Agam yang sedang santai menikmati saluran musik di televisi.
"Assalamu'alaikum, oh, maaf saya mengganggu," salam Asisten Dishi langsung membalikkan badan, kala Gwen sedang menempel kepada suaminya.
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh, Asisten Dishi. Kok, kamu bisa masuk?" Gwen langsung melepas pelukannya.
"Em, iya Nona Gwen. Saya diberi tahu, password apartemen ini," jawab Asisten Dishi gugup.
"Ih, curang! Kamu tau, Ayden Oppa tau, kenapa aku enggak?" protes Gwen tidak terima karena merasa dibedakan.
"Kalau itu, saya tidak tahu, Nona. Mungkin karena Nona jarang datang, makanya Ibunya Ilkay tidak memberitahu password apartemen ini kepada, Anda. Soalnya, Tuan muda dan juga Tuan Hao tidak tahu password apartemen ini," jelas Asisten Dishi dengan tenang.
Gwen baru paham. Tidak heran lagi baginya jika Asisten Dishi dan Ayden mengetahui password apartemen milik saudari perempuannya itu. Dirinya memang baru kali itu datang setelah menikah. Aisyah juga tidak membedakan antara dirinya dengan Chen. Sebab, Chen juga tidak mengetahui password apartemen peninggalan kakek dan neneknya itu.
"Ya sudah, aku mau keluar sebentar. Bisakah kamu memberitahuku passwordnya? Aku takut, ketika aku dan suamiku kembali nanti … pas nggak ada orang di sini," pinta Gwen dengan mengadahkan tangan seperti anak kecil yang mau meminta permen.
Dengan senang hati, Asisten Dishi mengirimkan password itu melalui pesan singkat kepada Agam. Membuat Gwen kesal karena merasa dirinya tidak di percaya oleh saudarinya sendiri.
Asisten Dishi sangat terburu-buru, ia meminta Agam untuk menjelaskan alasan dirinya mengirimkan password kepadanya, bukan malah kepada Gwen selalu saudara kandung dari pemilik apartemen. Dengan lembut dan tenang, Agam menjelaskan sedetail mungkin alasan Asisten Dishi memberikan password itu kepadanya.