
"Dia adik angkat Mami, Gwen. Jackson Lim, anak dari orang tua Mami, cucu dari Kakek Lim dan nenek Ling," jawab Rebecca dengan suara lemah.
"Apa?" Gwen tersentak. "Kurang ajar! Aku ak--" ucapan Gwen terhenti kalau Agam menyentuh tengannya.
"Alangkah baiknya, jika kita tidak mengambil keputusan dengan emosi. Duduk kembali, dan tolong tenanglah. Sabar, dan istighfar," tutur Agam.
Suara lembut Agam mampu membuat Gwen menurut. Teringat sosok Yusuf yang dengan sabarnya, mengubah seorang mafia kecil bringas menjadi wanita muslimah seperti Rebecca.
"Semuanya akan baik-baik saja. Kamu tidak perlu ikuti campur masalah keluarga, jika kamu tidak dimintai tolong. Ini bukan masalah solidaritas antara saudara, tapi memang seperti ini kenyataannya. Kamu dengarkan saya, saya yakin jika Allah akan melindungi saudari kamu, Dek," tutur Agam.
Gwen hanya mengangguk, ia paham apa yang disampaikan suaminya, meski bahasanya tak mampu ia terima. Sebab, Aisyah sudah bagaikan Ibu baginya.
Acara malam akan ditiadakan oleh Gwen dan Agam. Mereka akan mengadakan dia bersama dengan para santri juga memohon kesembuhan Aisyah dan Asisten Dishi.
Sementara itu, Aisyah dan Asisten Dishi masih dalam perawatan. Luka tusuk keduanya memang cukup dalam, namun keduanya mampu bertahan meski sampai tak sadarkan diri.
Chen meminta pihak rumah sakit untuk menjadikan satu ruangan antara Aisyah dan Asistennya. Guna lebih mudah untuk mengintrogasi keduanya.
Sampailah Yusuf dan Faaz di rumah sakit. Mereka menanyakan keadaan Aisyah dan Asisten Dishi kepada Chen dan Feng.
"Mama," teriak Ilkay.
"Ilkay, kamu … heh, Paino! Kenapa kamu bawa Ilkay ke sini, sih?" Feng memukul Faaz karena telah membawa
"Ya … Aku nggak tahu kalau Ilkay harus tetap di rumah. Lihat, dianya nangis mulu, Bang!" seru Faaz tak mau disalahkan.
"Sejak kapan kamu manggil aku, Abang? Dih, sok akrab," ketus Feng.
"Feng, sebenarnya anaknya ini anaknya siapa? Kenapa dia manggil Aisyah dengan sebutan, Mama?" tanya Yusuf penasaran.
Feng belum akan membuka mulut sebelum Aisyah sendiri yang menceritakan siapa Ilkay sebenarnya kepada siapapun. Akhirnya, ia hanya menjawab bahwa hanya Aisyah dan Asisten Dishi yang bisa menjelaskan.
"Tapi kamu dan si cupu ini yang bawa anak ini ke sini. Jadi siapa dia?" ketus Chen.
"Heh, sembarangan kalau ngomong. Ganteng gini dibilang cupu! Lagian aku juga hanya menjaga dia, aku nggak tau siapa anak ini!" cetus Faaz tak terima dipanggil cupu oleh Chen.
Chen, Feng dam Faaz malah beradu mulut. Ketiganya tak pernah bisa akur jika bertemu. Meski itu kali pertama Chen bertemu dengan Faaz, tapi pada dasarnya memang Chen sangat angkuh dengan saudara sepupunya. Ia tak pernah sejalan dengan para saudara sepupunya.
"Kalian ini kenapa, sih? Bisa nggak jangan ribut. Ini rumah sakit, bukan hutan!" tegas Rafa.
"Bang Rafa, nih si anak China ini yang mulai duluan," Feng mulai menyalahkan Chen.
"Sadari diri, woy! Kau yang China dan Korea, Paijo! Aku keturunan barat gini dibilang China, matamu minus?" sahut Chen.
"Heh, minusku hanya 1,5, kau mau apa?" Feng merasa terhina.
"Si cupu ini yang memulai. Kalian berdua menang, ya--" ucapan Chen belum selesai sudah di sela oleh Faaz.
"Wey, cupu lagi. Kak Chen kau ini, ya. Aku beda dengan Ko Feng. Dia China, tapi aku juga keturunan barat tau!" sela Faaz.
"Eh, buset! Rasis kalian, ye. Ku kasih kalian racun baru tau rasa!" Feng mulai tak terima.
"Heh, lihatlah. Chen, Feng dan Faaz itu cerminan dari Yusuf, Hamdan dan Falih. Mereka bertiga kan jarang akur, nurun dah ke anaknya," gumam Airy kepada Adam.
"Kakak, aku dengar!" kedalam Yusuf.
Meski ketiganya jarang bertemu atau bahkan ada yang belum pernah bertemu. Namun tetap saja yang namanya sifat itu akan turun dari orang tuanya. Jika dahulu Yusuf, Hamdan juga Falih tidak pernah akur dalam segala hal, maka Chen, Feng dan juga Faaz tak perlu diragukan lagi dari mana mereka mendapatkan sifat itu.
"Ilkay, namanya Ilkay, 'kan? Sini, kita lihat keadaan kakak Aisyah, ya," ucap Airy memanggil Ilkay yang sedari tadi berusaha melihat Aisyah di ruang rawatnya.
"Kakak? Dia Mamaku, bukan kakak!" seru Ilkay.
"Lah, ketus banget kek Gwen. Siapa sih sebenarnya nih anak?" celetuk Airy mencubit hidung Ilkay.
"Mama, jangan gitu, dong. Dia masih kecil, bicaralah yang lembut dan antar dia ke Aisyah," tegur Adam.
"Iya, Abi …,"
"Aku akan urus dulu mereka bertiga. Tolong kalian lihat kondisi Aisyah dan Asistennya Chen, ya, assalamu'alaikum," pamit Yusuf.
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh,"
Airy dan Adam membawa Ilkay masuk menemui Aisyah dan Asisten Dishi yang kata dokter sudah siuman. Pemandangan yang akan dilihat Airy dan Adam jauh lebih membuatnya geleng-geleng kepala dibandingkan dengan kelakuan Chen, Feng dan Faaz. Mereka melihat Aisyah dan Asisten sedang berdebat lucu.
"Bagaimana kamu bisa luka seperti itu? Dan kenyataan apa itu? Aku memintamu untuk adopsi Ilkay sebagai adikku, bukan anakku, Syafrudin!" sulut Aisyah.
"Ai, ini tidak segampang yang kamu pikir. Kamu hanya memberiku waktu tiga hari menyelesaikan semua ini. Berkas yang aku bawa hanya berkas milik kita, aku lupa membawa berkas orang tuamu," balas Asisten Dishi.
"Ya, ini bagaimana? Kita aja bukan suami istri, bagaimana tiba-tiba punya anak angkat?" sahut Aisyah.
"Ya kan kita nanti bisa jadi suami istri. Budaya Amerika dan Indonesia berbeda Ai. Di sana boleh mengadopsi anak meski kita belum nikah," jelas Asisten Dishi.
"Allahu Akbar ... enteng bener ngomong nanti kita bakal jadi suami istrinya. Terus ini cara aku jelasinnya kek mana ke keluarga, ya sallam ...," Aisyah semakin bingung.
Adam dam Airy yang melihat pertengkaran itu, saling berpandangan dengan raut wajah tanpa ekspresi. Kemudian menghela napas seraya Airy mengatakan, "Kita flashback ini? Aku kok lihat Aminah dan Raditya dalam diri mereka, ya?" bisik Airy.
"Bukan hanya Aminah dan Radit aja, Ma. Bahkan Abi melihat Chen dan Puspa seperti melihat Hamdan dan Yue. Tengkar mulu!" sahut Adam mulai ketularan Airy bergosip.
"Tobat, tobat. Nggak ada yang bener ini keluarga, kenapa bisa semakin ke sini semakin aneh," bisik Airy.
"Astaghfirullah, semoga saja semuanya baik-baik saja. Aku lihat, Aisyah ini semakin ke sini, dia terlihat sisi lainnya yang tak pernah kita ketahui," sambung Adam.
"Aku bisa mendengarnya! Yang kalian bicarakan itu adalah Mamaku!" Ilkay tak terima Ibunya di bicarakan oleh nenek dan kakeknya.
Seketika Airy dan Adam terdiam. Masalah-masalah kecil di keluarga memang selalu Airy dengan Adam yang menyelesaikannya. Bukan berarti Raihan dan juga Laila lepas tanggung jawab.
Mereka lebih mengutamakan urusan pesantren dan menyerahkan semua tanggung jawab yang ada pada keluarga kepada Airy dan Adam kecuali, memang itu urusan yang sudah tidak bisa ditangani oleh Adam dan Airy sendiri baru dirinya akan ikut turun tangan.
Apa cerita dibalik luka Asisten Dishi?
Typo maafkan, ya. Author di kejar deadline di tempat menulis lain soalnya