Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Minta Anak



Malam semakin larut, Gwen masih menunggu suaminya yang masih belum kembali dari sore tadi. Gwen masih kesal karena suaminya tiba-tiba mendiamkannya.


"Awas saja kalau pulang. Aku akan mengeluarkan jurusku, agar Mas Agam tidak lagi marah padaku!" dengusnya, sambil memakan gurame bakar yang dikirimkan oleh Tama. 


"Hum, Mas Tama memang murah hati. Aku hang suasana hatiku sedang buruk, dia langsung mengirimkan aku makanan? Uh, semoga saja, dia jadi pengusaha muda yang sukses nantinya, biar aku kecipratan kaya," celetuknya masih menikmati makanan kainnya yang dikirim oleh Raffa. 


"Heh, soto yang dikirim Mas Raffa juga nggak kalah nikmat. Yang ini bungkusan dari paman Ilyas pekerjaan baru di restoran Ayah. Tapi ini buat Mas Agam, semoga saja tidak marah lagi padaku,"


"Aku juga yang membuatnya marah. Jadi, aku harus keluarkan jurus jitu agar Mas Agam tidak mengabaikanku lagi, yes!" serunya. 


Setengah jam kemudian, Agam kembali dari pesantren. Mendengar suara suaminya mengucapkan salam, Gwen bergegas keluar menyambut kepulangan suaminya dengan senyum lebar di bibirnya. 


"Wa'alaikumsallam, ayo masuklah! Haih, aku sudah menunggumu sejak lama. Lihatlah, keluargaku mengirimkan banyak makanan untuk kita malam ini, aku sudah menyiapkan untukmu, Mas. Mari makan!" 


Gwen sangat bersemangat menyiapkan makan malam untuk suaminya. Namun, Agam menolaknya dengan halus, "Kamu makan saja, Mas tidak lapar--"  


Tak berapa lama mengucapkan bahwa dirinya tidak lapar, suara gemuruh perut Agam terdengar jelas ditelinga Gwen. "Haha bohong! Itu suara apa?" goda Gwen. 


"Mas akan makan di pesantren," sahut Agam membalikkan badannya.


"Eh," kata Gwen menahan lengan suaminya. Kini, ia berdiri di depan Agam dengan memasang wajah memelas.


"Ya Allah imutnya … Ah tidak! Aku tidak boleh terpana, ini belum wak--" batin Agam meronta-ronta kala melihat wajah imut istrinya. 


"Huaa… Mas Agam udah bosen sama aku? Jika bosen bilang aja, apa salahku ya tegur aku. Jangan diamkan aku gini, huaaa….,"


"Nggak enak tau di cuekin mulu. Aku salah tadi mengabaikan Mas Agam. Tapi kan hanya sebentar, kenapa Mas Agam mendiamkan aku sampai malam?"


"Aku pengen nangis, aku nggak berguna jadi istri. Ayah, aku pengen nyusul Ayah dan Mami ke Australia aja! Aku nggak mau sama Mas Agam, Mas Agam sudah bosen sama aku!"


"Mas Agam nggak sayang lagi sama aku, Mas Agam mengabaikan aku, hua…. Mami--"


Cup! 


Agam mengecup kening Gwen dengan lembut. Membuat Gwen terdiam seketika. Agam tersenyum dan memeluk Gwen dengan kelembutan. "Maaf, ya? Jangan nangis lagi, nanti cantiknya hilang loh. Maafin Mas, ya?" ucapnya masih dalam memeluk Gwen. 


"Mas hanya ingin menggodamu saja. Bukan karena Mas sudah nggak sayang. Mas malah sayang banget sama kamu," lanjut Agam. 


"Tapi Mas Agam cuekin aku! Nggak enak tau di cuekin. Kalau aku salah, Mas bisa tegur aku. Jangan diamin aku kek begini, sakit tau!" rengek Gwen membenamkan wajahnya dalam pelukan suaminya. 


"Sudahlah, mari kita makan dan Mas akan memberi kamu sedikit ilmu," tutur Agam menuntun sangat istri ke meja makan. 


Bahkan, Agam juga yang mengambilkan nasi di piring Gwen. Tidak mungkin baginya akan tega terus mendiamkan sangat istri.


Istri yang menyenangkan adalah istri yang menyempatkan diri untuk melepas suami bekerja setiap pagi.


Sungguh, istri yang mampu menyebarkan aroma wangi kasih sayangnya, perhatiannya dan cintanya kepada suaminya adalah gudang emas yang tak ternilai harganya.


"Wahai istri, bisakah kamu menyambut suamimu sepulang kerja dengan menyenangkan? Baik siang, sore bahkan malam hari?" lanjut Agam setelah menjelaskan adab istri ketika suami pulang bekerja. 


Maksudnya, diri suami tersusun dari daging, tulang dan otot. Di saat sakit, dia butuh ketenangan, pada saat sedih, dia butuh kebahagiaan, dan pada saat letih, dia butuh akan istirahat.


Jika pekerjaan adalah ladang perjuangan, pergumulan, peras keringat dan banting tulang, maka hendaknya rumah tidak berwujud sebagai tempat kerja. Sejatinya, rumah ideal adalah berwujud lain dan berbeda sama sekali dengan ruangan dan suasana di kantor.


"Rumah harus menjadi tempat peristirahatan yang tenang, nyaman, teratur, penuh kasih dan cinta. Apalagi, disambut istri dengan senyuman, pasti lelah suami akan menjadi lillah dalam rumah tangganya," tutur Agam. 


"Mas tau, lagian ini baru pertama kali ini kamu bersikap seperti tadi. Jadi, Mas hanya menggodamu saja, jarang sekali bisa membuat mantan mafia menangis," ejek Agam menyuapi Gwen. 


"Hih, Mas Agam jahat! Aku pikir Mas Agam nggak sayang lagi sama aku," Gwen masih merengek saja seperti anak kecil. 


Kembali ke topik permasalahan, Agam mempertanyakan tentang hal yang mengganggu pikiran istrinya sore tadi. 


"Apa ini karena undangan yang diberikan oleh Syifa?" tebak Agam. 


Gwen mengangguk. "Iya, dia mau menikah dengan Ustadz Khalid. Kenapa? Dan  ... Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Ustadz Khalid mau menikahi wanita rese seperti dia?" 


"Dek, kamu tanya nggak alasan Syifa mau menikah dengan Mas Khalid?" sahut Agam. 


"Mana sempat, dia udah bikin aku emosi duluan. Jadi kita ribut sebentar tadi. Tapi, aku baru saja mengirim seseorang untuk menyelidiki masalah ini," jawab Gwen. 


"Sebenarnya, kita tidak perlu ikut campur masalah orang lain. Tapi, ini sangat aneh saja. Kenapa tiba-tiba Mas Khalid mau menikah dengan Syifa?" gumam Agam. 


Agam menceritakan hubungan Ustadz Khalid dengan Syifa yang tidak memiliki koneksi sebelumnya. Agam tidak ingin su'udzon terlebih dahulu, tapi memang Agak menduga jika ada sesuatu dibalik pernikahan itu. 


"Sudahlah, kita bahas ini besok lagi saja. Malam ini, kita makan dengan baik dan membahas tentang kita, bagaimana?" ujar Gwen dengan manis. 


"Tentang kita?" tanya Agam dengan mengerutkan dahinya. 


"Iya!" seru Gwen sembari mengangguk-angguk. 


"Memang kita, kenapa?" tanya Agam masih belum mengerti. 


"Hish, ayo kita pergi bulan madu. Aku pengen punya baby segera. Bisakah, Mas?"


Uhuk-uhuk... 


Saat itu, Agam sedang makan sampai tersedak karena istrinya meminta anak padanya. 


"Lah, kok? Minum buruan!" Gwen memberikan segelas teh hangat yang sudah ia siapkan. 


"Kita menikah belum ada satu bulan, kamu sudah minta anak?" tanya Agam. 


"Iya lah! Kita juga baru melakukan itu sekali, mana bisa jadi. Kata Mami, kita harus melakukannya berkali-kali, kalau bisa 2 kali dalam sehari," celetuk Gwen dengan polosnya. 


Kembali Agam tersedak mendengar ucapan istrinya yang tidak bisa di saring itu. "Kamu bicara gini nggak di pilah dengan baik dulu, Dek. Kan Mas jadi kaget," 


"Kita hanya berdua, kenapa harus memilah kata? Pokoknya kita harus liburan, terus bulan depan atau bulan berikutnya, pengennya kita sudah ada kabar baik, gitu," Gwen masih saja membahas anak kepada Agam. 


"Hari ini, kamu bertemu dengan siapa? Mas ingin tau kamu main kemana saja, Dek?" tanya Agam dengan senyum terpaksa. 


"Oh, tadi aku main dengan Mbak Tini, kenapa?" jawab Gwen. 


"Kamu main sama dia? Pantas saja yang dibahas bikin anak," gumam Agam dalam hati. 


Di meja makan, Gwen terus saja mengatakan apa yang tetangganya ungkapkan. Bahkan gaya-gaya saat berhubungan badan juga dikatakan oleh Gwen kepada Agam, sehingga membuat Agam hanya bisa menepuk keningnya. Tetangga yang bernama Mbak Tini ini sudah menikah sebanyak 4x, bahasanya juga sering mengarah ke hubungan seksual yang berlebihan. Membuat Gwen ternodai pikirannya, hingga kini menyebarkan virus kepada suaminya. Apakah Agam setuju untuk melakukan perjalanan bulan madu? 


Kemarin yang nanya IG, aku ada IG. mampir ya... tapi jarang aktif juga hehe. Ig ku Dhewhy97