Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Usai....



Malam itu, sesuai dengan keinginan Chen, Aisyah dan Gwen menemaninya tidur. Gwen tidur di sisi kanan dan Aisyah tidur di sisi kiri Chen. Chen sama sekali tidak membedakan antara Gwen dan Aisyah. Hanya saja, kasih sayangnya lebih di tonjolkan untuk Aisyah karena memang Gwen tidak ingin diperhatikan secara berlebihan oleh orang seposesif Chen.


Waktu juga berjalan sangat cepat. Sampai dimana Chen harus kembali ke Tingkok karena memang di sana tempat ia tinggal. Sementara itu, masalah pendaftaran pernikahan juga sudah selesai. Tuntas sudah urusan Aisyah dan Asisten Dishi di Jogja, hingga mereka juga harus kembali ke Korea. karena pendidikan Aisyah tak lagi bisa di tunda.


****************


Satu bulan berlalu. Kehidupan triplets sudah semakin membaik dan berjalan seperti pada umumnya. Akan tetapi, sampai saat itu Yusuf dan Rebecca belum juga ada kejelasan dimana mereka berada. Semua orang, semua keluarga juga sudah mencarinya, tetap saja nihil.


Gwen sudah memeriksa tabungannya. Sekali lagi, ia mendapat notifikasi ada uang yang masuk ke tabungan pribadinya yang dikirim oleh Ustadz Khalid yang saat itu masih di Malaysia. Sampai uang pembangunan hampir lunas, Agam belum tahu jika uang itu sudah dibayar lunas oleh istrinya sendiri kepada keluarga Syifa.


Selama itu juga, Agam selalu membayar dengan cara mengirimnya kepada Ustadz Khalid. Kemudian oleh Ustadz Khalid di kirimkan kembali kepada Gwen. "Sebentar lagi lunas.Alhamdulillah sekali Mas Agam tidak mengetahui tentang uang ini," gumamnya selalu waspada  di saat dirinya menerima uang transferan dari Ustadz Khalid.


Di saat hangatnya rumah tangga mereka, Syifa kembali hadir dengan wajah tebalnya. Sudah hampir setengah tahun ia pergi entah kemana setelah gagalnya pernikahannya dengan Ustadz Khalid.


"Kedatanganku ini, pasti akan memuat wanita menyebalkan itu kesal. Lihat saja, aku sudah mempunyai bukti jika dia malah bermain api dengan kakak iparnya sendiri. Gwen, akhirnya kamu kena sekarang!" gumamnya dengan menyeringai.


Syifa menemui Agam ke tokonya, toko pertanian yang lumayan besar di Kota itu. "Assallamu'alaikum,"salamnya.


"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabbarokatuh,"


"Kamu ... Syifa?" tanya Agam.


Syifa mengangguk, membuka kaca mata hitamnya dan tersenyum menggoda Agam. "Tentu saja, siapa lagi? Sudah lama kita tidak bertemu, Ustadz. Apa kabar, kamu?" tanyanya.


"Ahamdulillah baik," jawab Agam tanpa bertanya lagi. Ia lebih menyibukkan diri mencatat semua barang masuk dan keluar di tokonya.


Syifa merasa kesal karena Agam mengacuhkannya. Sampai pada akhirnya, ia menanyakan hal yang seharusnya tidak ia tanyakan. "Bagaimana dengan hubungan rumah tangga kalian? Apakah Gwen sudah mengadung?" lanjut Syifa.


"Belum," jawab Agam.


"Sialan, dia cuek banget! Bagaimana ini? Apa aku harus langsung memanahnya? Hum, aku tes sekali lagi lah," gumam Syifa dalam hati.


Syifa mengejek Gwen jika Gwen tidak bisa memiliki keturunan. Tentu saja hal itu membuat Agam sedikit tersinggung. Astaghfirullah hal'adzim. Kenapa kamu mengatakan itu?" Agam menanyakannya.


"Ya, sudah setengah tahun lebih kalian menikah. Tapi Gwen belum juga memberi Ustadz Agam keturunan. Jika tidak mandul, lantas apa?" ujar Syifa.


"Jodoh, maut dan rezeki itu adalah rahasia Allah, Syifa. Kamu juga tau itu, mengapa masih di pertanyakan?" jelas Agam.


Semakin kesal karena Agam sama sekali tidak menanggapinya, Syifa pun memberikan kabar buruk tentang Gwen masalah rahasianya dengan Ustadz Khalid yang tidak diketahui oleh Agam sendiri.


"Ckck, kasihan kamu, Ustadz. Istri nggak hamil-hamil, di selingkuhi pula. Mana selingkuhanya sama kakak iparnya pula!" ungkap Syifa dengan mengeluarkan buktinya.


"Maksudnya? Kamu kenapa jadi su'udzon begini, sih? Kamu memang ada bukti jika istriku dan kakakku sendiri memiliki hubungan? Jika kamu tidak bisa membuktikannya, jatuhnya jadi fitnah, loh!" kata Agam masih bersikap baik kepada Syifa.


"Terserah mau percaya atau tidak. Aku tidak peduli, Ustadz. Aku tidak fitnah juga, lihatlah ini ... jika mereka tidak memiliki hubungan apapun, kenapa Ustadz Khalid selalu mengirim uang selama lima bulan terakhir. Gih, tanyakan saja! Awas, sakit hati. Tapi kalau sakit hati ... aku akan selalu ada untuk Ustadz, kok. Assallamu'alaikum,"


Setelah mengatakan semua itu, Syifa pergi begitu saja. Bahkan ia juga meninggalkan bukti yang ia miliki sebagai bentuk fitnahnya kepada Gwen. Agam tidak ingin percaya begitu saja. Sebab,bukti yang Syifa berikan hanyalah bukti transaksi transfer saja. Bukan hal lainnya lagi.


"Tapi, untuk apa Mas Khalid selalu transfer uang sebanyak ini kepada istriku? Jika untuk keperluan pesantren, bukankah Mas Khalid langsung transfer ke aku, ya? Itu saja juga tidak pernah telat. Lalu, uang apa ini?" Agam mulai pusing.


Sesampainya di rumah, Agam tidak langsung menanyakannya kepada Gwen. Padahal, suasana hati Gwen saat itu sedang baik. Gwen menyambut kepulangannya dengan menyajikan makanan yang ia masak sendiri. Selama satu bulan terakhir, Gwen sengaja ikut khursus masak hanya demi suaminya.


"Assallamu'alaikum," salam Agam.


"Wa'alaikumsallam warhamatullahi wabbarokatuh. Eh, Mas sudah pulang, ya. Sini-sini, sore ini aku bikin sesuatu loh. Tadi diajarkan di kelas memasakku. Mas cobain yah!" sambut Gwen dengan manjanya.


Agam semakin tidak percaya jika istrinya akan mengkhianati dirinya dengan menjalin hubungan terlarang dengan kakaknya sendiri. "Astaghfirullah, apa yang kamu pikirkan Agam! Mana mungkin istrimu seperti itu? Dia wanita paling istimewa, mengapa kamu jadi kepikiran dengan apa yang dikatakan Syifa?" Agam mulai berperang dengan hati dan pikirannya.


"Tapi uang itu ... aku harus tetap menanyakannya. Aku tidak ingin salah paham ini semakin belarut dan hanya akan menimbulkan penyakit hati," lanjutnya masih berdebat dengan hatinya.


Gwen begitu antusias kala menyajikan masakannya kepada suami. Terlihat sangat bahagia karena pada akhirnya, ia bisa memasak untuk suaminya. Masih dengan keraguan, Agam belum mampu menanyakan tentang uang itu. Ia bingung ingin memulainya dari mana. Pada akhirnya, ia hanya bisa istighfar dan terus berdoa agar apa yang dikatakan Syifa hanyalah salah paham saja.


Semakin memikirkannya, semakin resah pula hati dan perasaan Agam. Malam itu, saat di ruang tamu, Agam hanya berdiam diri duduk termenung tanpa melakukan apapun. Gwen yang sadar jika suaminya sejak pulang menjadi aneh, ia pun mendekatinya dengan membawakannya secangkir teh hangat.


"Mas, ada apa?" tanya Gwen. "Tehnya_"


"Astagfirullah hal'adzim, Ya Allahu Ya Rabb," sebut Agam dengan tangannya yang mulai dingin.


"Kok nyebut? Kenapa? Sedang ada masalah, ya? Cerita dong!" dengan polosnya Gwen duduk persis di samping suaminya, dengan harap suaminya mau berbagi keluh kesahnya.


Kembali Agam menarik napas panjang dan menghembuskannya secara perlahan. Lalu, menggenggam tangan istrinya dan menciumnya. "Sayang," panggilnya.


"Dalem--" Gwen pun merasa janggal dengan sikap suaminya itu. Memang selalu mesra dalam setiap harinya, hanya saja bagi Gwen, malam itu suaminya memang sedang aneh.


Perlahan, Agam mengeluarkan bukti transfer selama lima bulan itu kepada Gwen dan meminta penjelasannya. "Mas mau nanya tentang ini, tapi kamu jangan marah, ya ...,"


Setelah menerima bukti tersebut, Gwen malah langsung marah-marah tidak jelas dan menuduh suaminya sudah tidak lagi mempercayai dirinya sampai harus mencari bukti seperti itu. Kemarahan Gwen semakin menjadi-jadi di saat Agam memberitahu bahwa bukti itu pemberian dari Syifa. Gwen masuk ke kamarnya sembari membanting pintu.


Next kita bahas mengapa Gwen marah-marah tidak jelas, padahal Agam menanyainya secara baik-baik dengan kelembutannya.