
Kedatangan Chen bersamaan dengan kedatangan Aisyah dan Feng di Bandara Internasional Suvarnabhumi. Mereka telah tiba di waktu yang sama di ibukota Negara Seribu Pagoda itu. Mereka juga sempat jalan depan belakang keluar dari bandar. Lalu, berpisah kembali karena Aisyah dan Feng sudah dijemput dari dinas kesehatan di sana.
Chen merasakan kehadiran saudarinya, jantungnya berdebar kencang, dan air matanya mulai menetes tanpa membendung. "Ada apa denganku? Kenapa jantungku berdebar dengan cepat seperti ini?" gumamnya dalam hati seraya menyentuh dadanya.
Tanpa Chen sadari, bahwa adiknya baru saja berdiri dibelakangnya. Ia pun menoleh, namun Aisyah sudah tidak ada lagi di sana. Air matanya juga tiba-tiba menetes tanpa sebab, hatinya juga merasakan kegelisahan yang tidak tahu apa penyebabnya juga.
"Tuan, mobilnya sudah datang. Mari, kita akan segera bertemu dengan Tuan Wil." ucap Asisten Dishi mempersilahkan Chen ke mobil.
Kembali, Chen melihat sekeliling. Mencari sumber kegelisahannya, namun waktu telah mendesaknya untuk pergi. Sementara itu, Aisyah juga tiba-tiba ingin sekali rasanya menyentuh cincin yang melingkar di jari jemarinya.
"Ada apa?" tanya Feng.
"Aku hanya merasa, jika saudaraku ada disini juga, Ko," jawabnya. Aisyah mengusap cincin itu terus menerus.
"Iya, kan aku ada di sini. Lalu, siapa lagi?" Goda Feng.
"Ck, bukan kamu, Ko. Tapi, aku merasa Kak Chen ada di sini. Di sekitar kita sini," tegas Aisyah
"Mungkinkah dia ada di sini, Syah?"
Feng berharap jika yang dirasakan Aisyah itu suatu kenyataan.
Feng pun tak menampik kenyataan jika Chen ada di negara itu. Bagaimanapun juga, latar keluarga Chen bukan keluarga sembarangan, jika ia sampai ke luar negri, itu bukan hal yang mustahil baginya.
"Tujuan kita ke mana setelah seminar dan penyuluhan lainnya selesai?" lanjut Aisyah.
"Grand Palace, tempat ini sih seperti bangunan suci gitu. Kebanyakan di sini wisatanya wisata religi, jadi gimana? Apa mau ke tempat wisata mana?"
"Lah, aku nanya malah Koko balik nanya. Koko pernah ke sini, 'kan?" tanya Aisyah lagi.
Feng pun mengangguk. "Kalau begitu, harusnya kamu yang lebih tau, dong!" seru Aisyah.
Feng hanya tersenyum, kemudian ia mengatakan bahwa dirinya baru sekali mengunjungi Negara Seribu Penggoda itu.
"Syah,"
"Dalem,"
"Rencana mau nikah tahun kapan?" tanya Feng.
"Nggak usah kepo, diri sendiri jomblo nanya orang kapan nikah,"
"Ya, kalau aku masih pengen berkarir. Kan aku nanya kamu, karena kamu anak gadis. Bukankah anak gadis biasanya ada perjodohan dari keluarga, ya?"
Aisyah terdiam. Ia melupakan tradisi perjodohan itu dalam hidupnya. Setelah mencintai seseorang dan bertepuk sebelah tangan, Aisyah tak ingin lagi mencintai orang dalam diam lagi.
Dalam diri Aisyah, jika memang dirinya diberi kesempatan mencintai seorang pria lagi dalam waktu dekat, ia akan menyatakan cintanya meski akan sakit jika tertolak.
"MasyaAllah, hebatnya saudaraku ini. Jadi, mau berani ungkapin perasaan, nih?" goda Feng.
"Ko, sekali lagi kamu menggodaku ... kupastikan kau akan jadi jomblo seumur hidup!" ancam Aisyah menujuk wajah saudara sipitnya itu.
"Hey, Makmur. Aku akan menikah lebih dulu darimu, ingat itu!" pekik Feng menyipitkan matanya.
"Nggak usah di sipit-sipitin, kesannya malah jadi merem. Dah lah, jangan ganggu aku!" kesal Aisyah memalingkan wajahnya.
Sama halnya dengan Gwen, Aisyah juga sering kali berantem dengan Feng dengan dilandasi masalah sepele. Mereka juga bakal saudara kembar yang selalu menghabiskan waktu luang bersama dibandingkan dengan saudara yang lainnya.
***
Sementara itu, selisih 3 jam dari Aisyah dan Chen, Gwen akhirnya tiba di Bandara Internasional Suvarnabhumi bersama dengan Pak Raza tentunya, dan juga dengan drama yang terjadi diantara mereka.
"Mana paspor dan ponsel saya, " pinta Pak Raza dengan mengadahkan tangannya.
"Ya Allah, kenapa aku harus bertemu dengan gadis seperti ini!" gerutu Pak Raza mencubit pipinya sendiri.
Pak Raza hanya mengikuti langkah Gwen kemana akan membawanya. Masih berjalan cukup jauh dari Bandara, akhirnya Gwen berhenti di bawah pohon yang rindang di tepi jalan.
"Ada apa lagi?" tanya Pak Raza dengan nada kesal.
"Dih, capek tau! Ya istirahat dulu, lah! Sini duduk di sampingku. Jarang-jarang kan duduk di samping cewek secantik aku," Gwen memuji dirinya sendiri.
Melalui ponselnya, Pak Raza mencari hotel yang cocok untuk ia dan Gwen pakai untuk istirahat selama mereka berada di Bangkok.
"Lagi ngapain, sih? Sibuk mulu sama ponselnya dari tadi? Ngabarin pacar?" tanya Gwen. "Eits, emang Pak Raza punya pacar?"
"Hush! Saya sedang mencari hotel untuk kita tidur nanti. Jangan berisik!" jawab Pak Raza sibuk dengan ponselnya.
"What?" Gwen terkejut, ia juga menutupi seluruh tubuhnya menggunakan tangannya dan jaket yang ia bawa.
"Lah, pose apa ini? Nggak usah mesum deh, siapa juga yang mau dengan anak kecil sepertimu," sulut Pak Raza melanjutkan kegiatannya.
"Anak kecil? Woy lah! Ukuran milikku B+, meski nggak segede punyanya artis-artis biru, punyaku ini udah lumayan tau!" kesal Gwen melipat tangannya dan membuang muka dari Pak Raza.
Krik ... krik ... krik.
Suara jangkrik seperti terdengar setelah Gwen mengatakan pernyataan konyolnya itu. Pak Raza terus mengamati Gwen dengan tatapan mencurigai.
"Artis biru, ya? Em, kamu--" pertanyaan Pak Raza terputus.
"Aaa, sudahlah. Aku hanya bercanda tadi, let's go! Kita lanjutkan perjalanan kita." Gwen mengalihkan pembicaraan.
"Gwen, kamu pernah nonton itu?" tanya Pak Raza semakin pemasaran.
"No-nonton apa? Hehe, aku suka nonton film, sinetron, serial atau bahkan drama. Nonton yang mana yang Bapak maksud?" Gwen memang tak tahu malu dalam suatu apapun.
Di jalan itu juga, mobil Chen lewat dengan tujuan ke arah berlawanan. Jantung Chen kembali berdetak hebat saat itu, tentu juga dengan jantung Gwen.
Gwen menyentuh dadanya seraya mendesis seperti orang kesakitan. "Aw!"
"Ada apa? Apa kamu sakit? Jika iya, saya akan segara memanggil taksi dan membawamu ke rumah sakit terdekat, Gwen," Pak Raza terlihat sangat khawatir dengan Gwen.
"Ada apa lagi ini? Kenapa jantung ini tiba-tiba berdetak kencang lagi?" batin Chen memegang dadanya.
"Ada apa, Tuan?" tanya Asisten Dishi.
"Kita berhenti dulu, aku ingin kau membelikanku air minum. Cepat dan jangan membuang waktu!" perintah Chen kepada Asisten pribadinya.
"Baik, Tuan."
Mobil Chen berhenti tepat di sebrang jalan di depan Gwen duduk. Gwen masih merasakan debaran jantungnya yang semakin kuat. Sampai-sampai, ia duduk kembali di kursi bawah pohon itu.
"Gwen, kamu kenapa?" tanya Pak Raza panik.
"Apakah aku akan mati, Pak? Kenapa jantungku terus berdebar seperti ini, dan rasanya sangat sakit. Apakah ini pertanda aku akan mati?" ucapan Gwen malah semakin membuat Pak Raza khawatir.
"Tunggu saya di sini. Saya akan membelikanmu air minum. Tenang, oke? Tarik nafas perlahan dan buah juga secara perlahan. Lakukan itu sampai saya kembali. Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumsalam, buruan!" teriak Gwen.
Merasa tidak nyaman, Chen menurunkan kaca mobilnya. Tak sengaja, kini mereka saling bertatapan dan melihat satu sama lain. Wajah mereka sedikit mirip, dibandingkan dengan Aisyah.
Mereka hanya saling menatap saja, tanpa menegur satu sama lain. Bagi mereka, mereka hanyalah orang asing yang tidak saling mengenal.