Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Rencana Aisyah dan Keromantisan Gwen Yang Gagal



Setelah semua sibuk dengan pekerjaan masing-masing yang dibawa pulang ke Jogja, Aisyah sendirian tengah membaca materi dan beberapa buku-buku untuk mengejar ilmu kembali. Ia akan meneruskan pendidikannya yang sempat ia tunda karena amnesia sementara. 


Siang itu, kala semua sibuk dengan tugasnya sendiri, Aisyah di temani Ilkay sedang duduk manis di depan taman kecil yang ada di depan rumah Uti Leah dan Kakung Ruchan. Rumah paling bersejarah di keluarga pesantren. 


"Mama, Kay boleh nggak sekolah dan berkumpul dengan semua anak-anak di sana?" tanya Ilkay menunjuk ke arah anak-anak santri yang berusia dibawah 7 tahun.


"Boleh banget, Sayang. Nanti, Ilkay pilih sendiri mau sekolah di mana, ngaji dimana. Mama selalu akan mendukung Ilkay pokoknya," jawab Aisyah mengecup kening Ilkay. 


"Mama, kenapa Mama baik sekali sama, Kay?" sambung Ilkay, dirinya tau bahwa ia bukanlah anak kandung Aisyah. 


"Karena kamu anak Mama. Tentu saja Mama sangat menyayangi anak Mama yang pintar ini," celetuk Aisyah menyentil dahi Ilkay. 


"Aw, hehehe. Mama tunggu Kay besar. Saat besar nanti, Kay yang akan jagain Mama. Mama, Ayah, Bibi Gege dan Paman Chen, kita akan selalu bersama, bukan begitu, Ma?" Ilkay mengatakan itu dengan wajah polosnya. 


"Ayah?" tanya Aisyah heran. 


"Iya, Ayah. Tadi, aku main dengan anak yang di sana itu," Ilkay menunjuk santri kecil yang saat itu sedang belajar bersama diluar ruangan. "Dia bilang, ketika dia pulang, Ayah dan Mamanya selalu tidur bersama dan menceritakan banyak sekali cerita kesatria," 


"Lantas, kenapa Ayah dan Mama tidak tidur bersama dan menceritakan kisah kesatria padaku?" pertanyaan Ilkay membuat Aisyah sedih. 


Setahun Ilkay, Ayahnya adalah Asisten Dishi yang sedari tadi sudah sibuk dengan pekerjaannya. Ilkay juga belum tahu, alasan Ayah dan Makanya tidak bisa tidur bersama. 


"Hey, anak ini comel sekali. Ayah dan Mamamu masih sibuk. Bukankah Bibi Gege mu baru saja menikah? Pasti semua orang belum sempat tidur bersama,"


Ayden datang mengusap kepala Ilkay dan memintanya bermain bersama Bibi Gege (Gwen) karena sebentar lagi, Gwen akan dibawa ke rumah Adam. 


"Paman, katakan kepada Mama. Supaya malam ini, Mama dan Ayah tidur bersama menceritakan kisah yang bagus untukku, oke?" lalu kemudian, Ilkay pergi begitu saja meninggalkan salamnya kepada Aisyah dan Ayden.


Ilkay berlari menuju rumah Airy, yang dimana keluarga semuanya memang sedang berkumpul di sana. Sementara Chen sudah kembali ke Tiongkok, pagi tadi untuk urusan penting. 


"Kak Ayden, ngapain sih di sini. Aku lagi males bicara sama kamu!" ketus Aisyah. 


"Kok, kakak, sih? Oppa! Bedain dong saat manggil aku dan yang lainnya," sulut Ayden.


"Kakak!"


"Oppa!"


"Kakak Ayden Lee!" teriak Aisyah. 


"Oppa! Tak bisakah kau memanggilku dengan sebutan, Oppa?" Ayden tidak mau di samakan dengan cara Aisyah memanggil Chen. 


"Hih, kenapa juga tidak mau di panggil, Kakak? Apa salahnya? Kan kakak juga artinya," kesal Aisyah. 


"Kamu manggil Faaz dengan sebutan Abang. Terus manggil Feng dengan sebutan Koko, manggil Tama dengan Mas. Masa iya aku di samain dengan Chen. Panggil aku Oppa!" terang Ayden dengan hidung kembang kempis. 


Aisyah menyipitkan matanya. "Hih, geli tau!" elaknya dengan memukul kecil bahu Ayden.


"Sebenarnya, aku lebih tua darimu, 'kan? Kalau begitu, kamu harus memanggilku apa …," goda Aisyah. 


"Ogah!" sulut Ayden mengeluarkan formulir pendaftaran mahasiswa baru di Universitas di Seoul. 


"Kamu yakin mau ke Korea? Oke, waktu itu belum ada Ilkay. Lalu, Ilkay mau bagaimana?" tanya Ayden. 


"Aku akan membawanya. Dia putraku, harus ikut denganku," jawab Aisyah. 


"Ai, kamu serius, bisa? Belajar dan mengurus anak itu tidak mudah. Kenapa kamu tidak titipkan dia di pesantren saja? Di sisi lain dia dapat pendidikan bagus,  di sisi lain juga dia tetap bersama dengan keluarganya di sini," usul Ayden. 


"Dia putraku, aku bisa mengurusnya!" seru Aisyah. 


"Ai, kamu bukan malaikat, bukan juga seorang Dewi atau seorang Ratu yang semuanya bisa kamu hadapi dengan sendirinya. Suatu kamu akan membutuhkan seorang pendamping," tutur Ayden.


"Kamu juga perlu keluarga. Jangan pernah berpikir kamu bisa melakukan semuanya sendirian, Ai. Ubah pola pikirmu yang keras kepala ini. Waktumu bebas telah tiba, kau tak perlu lagi menjadi kakak dan seorang putri yang sempurna," tuturan Ayden tak ada salahnya. 


Tempat Aisyah cerita hanya dengan para sepupunya. Mereka tau betul Aisyah selalu memaksa dirinya sempurna agar bisa menjadi contoh baik bagi Gwen. 


"Jujur, Ai. Aku lebih suka lihat kamu yang dulu. Kamu yang ceria, selalu menebar senyuman. Celotehan lucu kamu juga aku rindukan, tapi ... semenjak masuk sekolah menengah atas, aku rasa kamu semakin jauh dariku, Ai. Bisakah kamu kembali seperti Aisyah yang dulu?" 


Aisyah menghela napas panjang, menatap Ayden seraya menyentuh bahunya dengan lembut. "Oppa, gwenchana." ucapnya dengan nada lirih. 


Ketika Aisyah dan Ayden membahas pendidikan di Seol. Di rumah Airy, Gwen dan Agam sudah siap untuk berangkat. 


"Semua barang-barang kamu hanya ini, Dek?" tanya Agam. 


"Hehe, iya. Aku lebih suka uang daripada beli barang-barang yang kurang aku perlukan," jawab Gwen dengan meringis. 


"Baiklah, kalau gitu Mas telpon dulu seseorang yang akan menjemput kita," ujar Agam mengeluarkan ponselnya. 


Namun, Gwen menahan tangan Agam dan mengatakan, "Tunggu, bisakah kita berangkat menggunakan mobilku? Um, bukan mobilku, sih. Tapi itu pemberian Ayah," ucapnya. 


Agam tersenyum, "Tidak perlu. Di rumah ada mobil, kok. Tapi, memang tidak sebagus mobil itu, bagaimana?" 


Mereka saling menatap satu sama lain. Tangan Gwen masih saja menyentuh tangan Agam. Jatuh cinta setelah menikah, bagi Gwen adalah tantangan yang lebih menarik dibandingkan dengan mencari uang dengan memalak kakak-kakaknya. 


"Mas, kita--"


"Bibi Gege!" 


Belum juga Gwen menyatakan sesuatu, Ilkay mengganggunya dengan memanggil namanya dengan keras. 


"Bibi Gege! Kamu di mana?" teriak Ilkay. 


"Kamu bicara dan mainlah dulu dengan Ilkay. Mas mau beri kabar dulu orang rumah, jika kita akan pulang hari ini, assalamu'alaikum," Agam menyentuh dan mengusap kepala Gwen dengan lembut, kemudian keluar dari kamar. 


Agam berpapasan dengan Ilkay yang saat itu tengah mencari Gwen. "Paman, apa kau melihat Bibiku yang cantik, istrimu itu," tanya Ilkay. 


"Dia ada di kamar, Ilkay masuk saja," jawab Agam. 


"Terima kasih, paman. Kau sangat baik seperti Ayahku. Tidak tau Ayahku (Dishi) itu sekarang ada di mana," celetuk Ilkay berjalan menuju kamar yang Gwen tempati. 


Uhuy, kenapa Ilkay mencari Bibi Gwen?