Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Doble Date? (Belum)



Bingung dengan apa yang hendak di masak, Aisyah mengusulkan makan mie sore hari itu. Asisten Dishi tak membiarkan Aisyah menyentuh peralatan dapur, dengan sigap dirinya yang hendak memasak untuk gadis yang ia cintai. Sudah selama 3 bulan, Asisten Dishi terus dibayangi oleh Aisyah. 


"Aku tidak tahu lagi. Ada apa denganku ini? Kenapa aku bisa sangat mencintai Aisyah, sedangkan aku tau jika dia adalah anak dari Tuanku sendiri." gumam Asisten Dishi masih mengaduk mie yang ia masak. 


Lima menit kemudian, mie rebus dengan topping irisan sayur telah siap. Tak luma telur rebus dua bagian juga ikut serta berenang dalam kuah mie rebus tersebut. Tidak lupa Asisten Dishi juga menyiapkan air dingin. 


"Tara, silahkan dokter manis. Hanya ini yang bisa dimasak cepat. Atau kamu mau makan nugget?" ujar Asisten Dishi perlahan menyodorkan mangkuk di depan Aisyah. 


"Ah tidak. Bersyukurlah bisa makan apa aja hari ini. Di luaran sana, masih banyak orang yang susah perihal makanan." sahut Aisyah menyiapkan sumpit dan sendoknya. 


Asisten Dishi tahu betul jika Aisyah tak suka bicara ketika makan. Mereka benar-benar menikmati makanan itu dengan sunyi tanpa sepatah katapun. Selesai makan, Asisten Dishi juga membantu Aisyah mencuci piring. Benar-benar seperti pasangan baru yang masih malu-malu. 


"Oh, ya. Ma--"


Belum juga Asisten Dishi mengatakan sesuatu, ponselnya berdering di saku celananya. Tangannya masih banyak busa karena sabun cuci. Ia pun kesulitan akan mengangkat telponnya. 


"Em, Aisyah … tolong kau angkat dulu telponku. Tanganku penuh dengan busa, terima kasih sebelumnya," pinta Asisten Dishi ragu. 


"Hah? Aku? Ambil ponsel di sakumu?" tanya Aisyah. 


Asisten Dishi mengangguk dengan mata penuh harap. "Tapi itu ada di saku belakangmu, Dishi. Aku … A-ku mana mungkin merabanya," sebenarnya, Aisyah juga malu mengatakan itu.


"Ayolah, ini pasti telpon dari Tuan Chen, Aisyah. Aku tidak mungkin tidak mengangkatnya!" seru Asisten Dishi. 


Aisyah menjawab, jika dirinya tidak enak hati jika harus meraba bagian belakang tubuh seorang pria. "Tolonglah, aku …."


Namun, Asisten Dishi terus mendesak Aisyah untuk mengambilkan ponsel miliknya. Akhirnya, mau tidak mau Aisyah memang harus mengambil ponsel tersebut. Kemudian, Ia juga yang menjawab telepon dari kakaknya sendiri. 


"***--" belum juga Aisyah merampungkan salamnya, Chen sudah membentaknya dengan nama Asisten Dishi. 


"Apa-apaan ini? Kenapa kau tidak mengangkat telpon dariku, Asisten Dishi!" tegasnya. Chen juga meminta Asisten Dishi untuk segera membawa Aisyah pulang karena ia sangat khawatir. "Bawa Aisyah pulang secepatnya atau aku akan membunuhmu!" ancamnya.


"Hish, mana dia pakai bahasa Mandarin pula. Aku mana paham …," desis Aisyah menjauhkan ponsel itu dari telinganya.


"Aisyah, kau kah itu yang menjawab?" tanya Chen menggunakan bahasa yang Aisyah pahami. "Baiklah, jika benar dirimu, tolong sekarang pulang. Aku ingin mengajakmu makan malam bersama." imbuhnya dengan nada lebih lembut dari sebelumnya. 


Aisyah tak ingin membuat Chen kecewa. Ia pun meminta Asisten Dishi untuk mengantarnya bertemu dengan Chen sesuai dengan alamat yang sudah dikirim olehnya. Sementara itu, Chen juga menelpon Gwen untuk membawa sekalian Agam untuk makan malam bersama. Gwen yang hendak makan makanan yang ia pesan pun menunda melahapnya, padahal sudah menempel di bibirnya. 


"Iya, bawa sekalian lelakimu itu. Aku juga ingin mengenalnya. Segera dan jangan buat aku menunggu lama." tukas Chen menutup telponnya, lalu tak lama setelah itu, Chen mengirim alamat tempat mereka bertemu. 


Gwen juga tidak ingin kehilangan momen bersama dengan saudara kembarnya. Sudah cukup lama mereka tidak bertemu. Namun, di sisi lain dirinya juga tidak enak hati dengan Agam karena Agam juga sudah memesankan makanan untuknya. 


"Ada apa?" tanya Agam. "Apakah ada sesuatu yang terjadi? Kenapa wajahmu mendadak berubah ekspresi?" sambungnya.


"Kakakku mengajak kita makan malam bersama, saat ini juga. Sedangkan Mas sudah memesankan aku makanan. Aku sih nggak papa makan lagi nanti, tapi Mas bagaimana?" Gwen terlihat tak enak hati.


"Loh, kok, tanya saya. Memangnya saya juga harus itu toh?" tanya Agam lagi. 


Gwen mengangguk, kemudian menceritakan tentang Chen kepadanya dari awal kisah perpisahan. Agam menjadi tidak enak hati jika harus menjadi penghalang berkumpulnya persaudaraan mereka. Sebab, Agam juga pernah merasakan perpisahan seperti mereka. Namun bedanya, Agam mengalami perpisahan yang tak mungkin ada pertemuan kembali.


"Baik, kita akan pergi. Makanan ini kita bungkus saja dan mampir sebentar ke rumah sakit. Biar Esti saja yang makan, bagaimana? Masih ada waktu, bukan?" usul Agam dengan tutur kata yang lembut.


"Wah, aku sungguh beruntung akan menikah dengan dirimu, Mas. Tapi aku sungguh minta maaf, ya. Aku akan mengganti makan malam kita ini nanti setelah kita kembali ke Jogja, bagaimana?" ucapan Gwen sangat manis sekali. Bergaya ingin mentraktir tapi dirinya tak sadar masih menjadi beban keluarga, pengangguran bebas. 


"MasyaAllah … apapun itu, kita kan pasti bertemu lagi. Bukankah saya juga harus melamar kamu ke keluargamu?" tutur Agam. 


Makanan yang mereka pesan sebelumnya telah dibungkus. Segera mungkin mereka sampai ke rumah sakit dan meminta izin kepada Umi untuk pergi bertemu dengan Chen, sang calon kakak ipar. Umi sangat senang, kali ini mengetahui puteranya tidak membohonginya lagi soal calon istri. 


Satu tahun lalu, Agam juga pernah mau menikah dengan seorang wanita pilihan sahabatnya. Namun, wanita itu lebih mementingkan kebebasan berangkat keluar negri untuk menganyam ilmu dibandingkan menikah dengan Agam dan belajar di dalam negri. Sehingga, pembatalan pernikahan itu membuat Umi jatuh sakit sampai sekarang. 


Kedua bersaudari itu berlomba sampai ke tempat tujuan dengan cepat. Sungguh persaudaraan yang unik dan istimewa. Aisyah dan Gwen begitu menyayangi Chen meski tak tumbuh bersama, namun kasih sayang mereka memang tanpa syarat sehingga membuat ketiganya hidup dipenuhi kasih sayang juga dari orang lain. 


"Dishi, jika kita bertemu kakak nanti, kau tetap memanggilku dengan sebutan Dokter, lalu aku memanggilmu dengan Asisten Dishi. Jangan biarkan kakak mengetahui kedekatan kita dulu. Apa kamu setuju?" usul Aisyah. 


"Aisyah, kau jangan khawatir. Aku bisa mati dipenggal jika berani mendekati adik dari Tuanku sendiri. Kita akan bersikap seperti biasa saja." jawab Asisten Dishi menyetujui usul dari Aisyah. 


Butuh waktu 15 menit bagi kedua pasangan ini untuk sampai di tempat yang Chen tentukan. Di sana, Chen juga ternyata mengajak Tuan Wang dan juga Feng bersamanya. Tuan Wang meski orang yang berpengaruh, tetap saja mampu menerima Aisyah dan juga Gwen sebagai putrinya. 


Cit!


Decit ban mobil dan taksi yang dikendarai Aisyah dan Gwen berhasil sampai bersamaan. Aisyah terkejut melihat Gwen bersama dengan Agam saat itu. Meski begitu, Aisyah bahagia jika memang Agam adalah pilihan yang tepat untuk adiknya. 


"Benar apa yang aku pikirkan. Ustadz Agam ini adalah orang yang sama, dengan Ustadz yang selalu bersama dengan Ustadz Khaliq dulu. Jika benar dialah pria yang menjadi jodoh Gwen, aku sangat bahagia untuk mereka. Ustadz Agam ini adalah pria yang sangat sholeh, kasihan juga sih kalau menikah dengan cewek modelan Gwen ini. Hm, semoga saja Gwen mampu berubah!" seru Aisyah dalam hati.