Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Ada Apa Dengan, Chen?



Terlalu kuat Chen menarik, membuat Puspa kehilangan keseimbangan dan akhirnya terjebur di bathtub tepat di atas tubuh Chen.


Byur! 


Seluruh air menjadi tumpah dan membasahi tubuh Puspa. Mereka saling menatap, kembali diperlihatkan mata cantik Chen yang berwarna biru itu. 


"Apa kau belum puas melihatku?" desis Chen.


"Astaghfirullah, eh nggak boleh sebut pas di kamar mandi. Maafkan saya, Tuan Chen. Saya tidak bermaksud lain," antara gugup dan takut perasaan Puspa kala itu. 


Bajunya basah dan membuat lekuk tubuhnya terlihat sangat jelas. Chen menarik handuk kecil yang sebelumnya terlempar di sisi bathtub, lalu menutup tubuh bagian atas Puspa yang sangat menonjol itu. 


"Pakai ini, atau kau akan melahirkan sembilan bulan kemudian!" celetuk Chen beranjak dari bathtub. 


"Ulurkan tanganmu, ini darurat! Jika tidak, berendamlah kau semalaman di situ," sulut Chen masih dengan nada yang angkuh. 


Puspa terpaksa meraih tangan Chen, berdiri dengan menutupi tubuhnya. Kemudian Chen meminta untuk tetap di sana, sementara dirinya mengambilkan handuk untuk gadis berusia 21 tahun itu. 


"Sial, ukurannya jauh lebih besar daripada punya gadis-gadis yang selalu mengelilingi diriku. Hampir saja aku ingin--" gerutu Chen dengan menampar dirinya supaya sadar jika yang sedang dipikirkannya, adalah kesalahan. 


"Sadar, dia bukan wanita yang seperti mereka. Kau tidak bisa merusaknya, bahkan Tuhannya akan marah besar kepadamu, Chen!" 


Sebagai laki-laki normal, Chen tidak salah jika memiliki hasrat ketika bersama dengan wanita dengan kondisi Puspa saat itu. 


"Ini ambillah, jika kau tidak membawa baju ganti, ada baju Aisyah yang ia tinggalkan di kamarnya. Kau bisa ambil ke sana," ucap Chen memberikan handuk kepada Puspa. 


"Dimana kamar, Aisyah?" tanya Puspa dengan suara lirih. 


"Ada di kamar nomor 2 dari kamar ini. Pintu kamarnya berwarna putih dengan ukiran bunga. Di situlah kamarnya, Ayahku sangat menyayanginya, jadi dia memiliki kamar yang--" belum juga Chen selesai menjelaskan, Puspa sudah bergegas pergi. 


"Assalamu'alaikum!" pamit Puspa. 


Menahan malu, Puspa tak ingin lagi semakin lama bersama dengan Chen. Ia hanya takut jika ada setan yang melintas kala mereka berdua di kamar. 


"Ada apa dengannya?" gunanya Chen. 


Sesampainya di kamar milik Aisyah, Puspa langsung mengganti pakaiannya. Ia sudah membawa pakaian ganti sendiri, kemudian mengeringkan rambutnya memakai hairdryer yang ada di kamar tersebut. 


"MasyaAllah, kamar Aisyah ini jauh lebih mewah dibanding kamarnya yang ada di rumah Bibi Rere," gumam Puspa terus menatap tiap sudut kamar yang serba berwarna putih itu. 


"Aisyah ini selalu beruntung. Semua orang menyayangi dia. Apa mungkin karena memang dia adalah gadis yang baik dan selalu mementingkan kepentingan orang lain? Jadi, Allah mengirim orang untuk menyayanginya?" 


"Bahkan, orang tua angkat Tuan Chen saja memperlakukan Aisyah seperti putrinya sendiri."


Meracau sendiri dan akhirnya terpejam. Puspa bersyukur memiliki sahabat seperti Aisyah dan Gwen. Dua saudari yang selalu mendukung satu sama lain. Menjadikan dirinya begitu iri menginginkan saudara seperti mereka berdua. 


Terlahir menjadi anak tunggal baginya sungguh sangat tidak menyenangkan. Puspa terbiasa melakukan apapun sendirian. Orang tuanya juga sangat protektif kepadanya. Menjadi satu-satunya harapan juga untuk kedua orang tuanya. 


***


"Alhamdulillah, ternyata di sini juga bisa salat subuh. Aku pikir, karena latar belakang keluarga Tuan Chen yang itu … Aku akan di penggal jika salat di sini," gumam Puspa menghela napas. 


Puspa keluar dari kamar, menuju dapur mencoba membantu beberapa pelayan yang ada di sana. 


"Um, bisa saya membantu?" tanya Puspa menggunakan bahasa Inggris. 


"Tidak, Nona. Biarkan kami mengerjakan tugas kami sendiri," ucap salah satu pelayan yang ada di sana. 


"Saya tidak memiliki pekerjaan lain. Saya hanya akan bosan jika menunggu di dalam kamar saja," Puspa masih berharap bisa melakukan pekerjaan lainnya. "Aku akan mengepel, dan mengelap semua benda di sini, berikan aku lap!" 


Puspa terus saja memaksa para pelayan itu, sampai pelayan lain tidak mampu menahannya lagi. Akhirnya, ketua pelayan memberikan kain lap supaya Puspa bisa mengelap sebagian pernak-pernik yang ada di ruang depan. 


Ketika Puspa asik membersihkan beberapa guci, tiba-tiba Chen datang dan menahan tangan Puspa yang kala itu masih memegang lap kotornya. "Siapa yang memberimu lap?" tanya Chen dengan nada emosi. 


"Em, saya yang mau sendiri mengelap guci-guci ini, Tuan Chen," jawab Puspa dengan suara lembutnya. 


"Aku menanyakan siapa yang memberimu lap, bukan untuk apa kamu memegang lap. Katakan!" sentak Chen merebut lap dari tangan Puspa. 


"Be-beliau seorang bapak-bapak berpakaian rapi," jawab Puspa sedikit gugup.


"Semua pelayan di sini berpakaian rapi, ulat ijo. Katakan yang jelas bagaimana ciri-ciri pelayan itu!" bentakan Chen membuat seluruh isi rumah terbangun termasuk Xia yang terkurung di kamarnya. 


Xia di kurung di kamarnya oleh Nyonya kedua karena berniat menjebak Chen dengan obat perangsangg. Nyonya kedua sangat marah kepada Xia dan mengurungnya di kamar sampai Xia mampu berpikir jernih dan merenungi kesalahannya. 


"Beliau berkumis dan …,"


"Pelayan Mo!" Chen memanggil pelayan itu dengan berteriak. 


"Waduh, gawat! Mana ekspresinya begitu pula. Good bye, Puspa!" gerutu Puspa dalam hati. 


Tak lama kemudian, datanglah orang yang bernama Pelayanan Mo yang sebelumnya memberikan kain lap kepada Puspa. Chen dan Pelayanan Mo menggunakan bahasa Mandarin yang jelas Puspa tidak ketahui. 


"Healah, lagi-lagi pakai bahasa itu. Aku mana tau apa yang mereka bicarakan," gumam Puspa dalam hati. 


Di percakapan Chen, ia sangat marah kenapa Pelayan Mo memberikan tamu pekerjaan rumah. Pelayan Mo menjelaskan jika Puspa  ingin ikut bersih-bersih rumah. 


Mendengar penjelasan Pelayan Mo, Chen melirik ke arah Puspa dengan lirikan mencurigakan. Ia memberikan lap itu kembali kepada Puspa dan meminta Puspa melakukan banyak pekerjaan. 


"Kau sangat ingin mengerjakan pekerjaan rumah, bukan? Jadi, ikutlah dengan Pelayan Mo dan mulailah bekerja. Hitung-hitung, itu adalah bayaran di mana kamu sudah menginap dan menikmati fasilitas kamar adikku, permisi," ucap Chen pergi dengan memberikan kain lap itu ke tangan Puspa. 


"Tapi, Tuan muda, apa ini tidak_" sela Pelayan Mo. 


"Putrimu belum kembali, bukan? Gantikan saja tugas putrimu kepadanya. Dia pasti dengan senang hati akan melakukannya. Jika dia tidak mau, usir dia pulang dan jangan berikan apa yang dia inginkan sampai dia masuk ke rumah ini!" tegas Chen kembali ke kamar atas. 


Puspa bingung apa yang dibicarakan Chen dengan Pelayan Mo di depannya. Yang ia tahu, hanya Chen menginginkan dirinya bekerja sampai berkas yang dibutuhkannya sampai ke tangannya.