
"Hish, dimana ayah angkat ini? Mengapa dia tidak menjawab pesanku?"
"Rifky, ada apa?" tanya Aisyah.
"Ah, tidak ada. Aku hanya sedang melihat jam, lihat arlojiku … bagus, 'kan? Aku memungutnya di tempat sampat tadi." ujar Gwen menunjukkan smartwatchnya.
"Kenapa? Kau naksir denganku?" lanjut Gwen.
"Mulutmu lebih menyebalkan dari sikapmu. Sudahlah, kamu habiskan makananmu, setelah ini kita akan cuci piring!" kesal Aisyah.
Gwen masih memikirkan cara agar dirinya tak bisa menunjukkan identitas aslinya sampai situasi benar-benar pas. Sore itu, Gwen membantu Aisyah mencuci piring dengan riang.
Melihat Aisyah dan Gwen mencuci piring, Yusuf teringat dengan Airy dan Rebecca yang waktu itu dihukum olehnya dan Adam karena melakukan kesalahan.
"Kenapa mereka sama persis? Andai saja, putraku dan putriku yang lain masih bersamaku,"
"Re, rencana apa yang kamu lakukan ini? Sampai kamu mempertaruhkan rumah tangga kita?"
"Apakah dia sudah menemukan putra kita?"
Sejak awal, Yusuf sudah mengetahui apa rencana yang Rebecca buat. Hanya saja, Rebecca yang terlalu terburu-buru menyikapi ancaman dari Cindy.
Ponsel Yusuf berdering. Ia mendapat telpon dari Yue yang sudah mengetahui dimana Cindy berada.
"Assallamu'alaikum,"
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabbarokatuh,"
"Aku sudah menemukan alamat Cindy, namun masih rahasia. Bisakah kamu menunggu Pak Bos?"
"Mengapa aku harus menunggu?" tanya Yusuf.
"Becca sedang ada di Tiongkok, apa kamu akan menemuinya sekarang? Aku rasa tidak, bukan?"
"Lalu, sampai kapan? Aku ingin menyatukan keluargaku kembali, Yue."
"Yas i know. Tapi, semua masih butuh waktu. Aku akan kabari jika ada perkembangan lagi,"
"Ini sudah sembilan tahun, aku kurang sabar bagaimana?"
Yusuf menutup telponnya, kembali ke dapur dan siap memasak lagi. Datanglah Aisyah dan Gwen melapor bahwa mereka sudah selesai cuci piring.
Kemudian, Yusuf meminta Aisyah untuk membawa Gwen belajar di pesantren. Awalnya Gwen menolak karena ia tidak ingin belajar sama sekali, namun karena penuturan Yusuf, akhirnya ia mau pergi ke pesantren.
"Tapi aku masih mau dengan ayahku, kenapa malah aku dibawa ke pesantren. Tempat apa itu?" batinnya.
Ketika di jalan, mereka bertemu dengan seorang wanita yang cantik dan baik hati. Rupanya, wanita itu adalah seorang ustadzah di desa tempat tinggal Aisyah dan Yusuf.
"Assalamu'alaikum, Aisyah. Mau ke pesantren, ya?" sapa wanita itu.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, ustadzah. Iya, mau ke pesantren seperti biasa …." jawab Aisyah.
"Dih, sudah tau seperti biasa ke pesantren, masih aja nanya nih betina!" kesal Gwen dalam hati.
"Oh, ayah kamu … masih di restoran, kah?" tanya ustadzah tersebut.
Aisyah hanya tersenyum ketika ustadzah tersebut menanyakan ayahnya. Entah mengapa pikiran Gwen langsung buruk kepada ustadzah itu.
"Kan, langsung nanyain ayah. Pasti nih orang naksir sama ayahku. Tidak boleh! Ayah hanya boleh menikah kembali dengan Mamiku! Mereka harus bersatu, aku akan menjadi penghalang bagi mereka. Lihat saja kau!" umpat Gwen.
Akhirnya Aisyah dan ustadzah itu berpisah, sehingga Gwen bisa menanyakan siapa wanita tersebut.
"Siapa tadi?" tanya Gwen.
"Dia salah satu ustadzah di desa ini. Sering ngajar ngaji anak-anak desa gitu. Kenapa?"
"Aku rasa dia suka dengan ayah. Eh, ayahmu maksudku," desis Gwen dengan memutar bola matanya.
"Memang, tapi aku sih tidak ingin ikut campur masalah orang dewasa. Ayo, kita harus ke toko dulu, aku ingin memberikanmu baju koko dan sarung baru," ajak Aisyah.
Aisyah sengaja mengalihkan pembicaraan, karena dalam hatinya pun ia tak sudi jika ibunya tergantikan oleh wanita lain. Ada harapan di diri Aisyah yang ingin bersatu kembai dengan keluarga lengkapnya. Kedua orang tua kandung dan kedua saudari kembarnya.
"Tapi, apa kamu mau dia menjadi ibu tirimu?" tanya Gwen.
"Tentu saja tidak!"
"Aku akui, memang dia seorang wanita yang sangat baik dan lemah lembut. Tapi mengapa, aku merasa jika Ibuku akan kembali kepada ayah dan aku," jawab Aisyah penuh harap.
Sesampainya di toko, Aisyah meminta Gwen menunggunya. Aisyah yang akan mencarikan beberapa baju dan baju koko untuk dipakai Gwen.
"Iky, kamu tunggu dulu di sini. Karena tinggi dan postur tubuh kita sama, aku bisa mencarikan baju baru untukmu dengan mudah, oke?" pinta Aisyah.
"Heh, kenapa gitu? Aku mau milih juga kali!" sulit Gwen.
"Rifky, sudahlah! Jika kau ikut masuk, yang ada malah nambah lama. Duduk yang bener!" seru Aisyah mendudukkan Gwen dengan kasar.
"Ih, kasar!" protes Gwen.
"Astaghfirullah hal'adzim, ya maaf." ucap Aisyah.
Sementara Aisyah masuk ke toko, Gwen menunggunya di depan toko. Di sana, ia tengah duduk dengan anak seusia dengannya. Seorang gadis yang terlibat seperti anak keturunan Tionghoa.
"Hehe, godain ah. Biar seperti anak lelaki sungguhan."
Gwen mendekati gadis kecil tersebut. Kemudian, memberikn sebatang coklat yang ia bawa dari dapur restoran ayahnya.
"Hem, gadis. Apa kabar?" tanya Gwen mulai menggoda.
"Alhamdulillah baik, kenapa kak?" jawab gadis tersebut.
"Kenalan dong,"
"Boleh,"
"Namaku Rifky, namamu siapa?"
"Oh, aku Bella, Kak."
Mendapat respon baik, Gwen melanjutkan aksinya untuk menggoda gadis kecil bernama Bella tersebut.
"Em, ayahmu--" ucap Gwen terputus. "Ayahmu pasti jaksa, ya?"
"Bukan!" jawab Bella.
"Em, kalau begitu … ayahmu seorang dokter,"
"Bukan!"
"Ayahmu seorang guru?"
"Bukan kak!"
"Oh, kalau begitu ayahmu …."
"Bella anak yatim, ayah ada di kuburan. Kakak sengaja buat aku sedih, ya? Huaaa Mama …."
Bella menangis memanggil mamanya. Pedagang pinggir jalan di sana sampai menghampiri mereka, menyalahkan Gwen yang membuatnya menangis.
"Aku, a-aku hanya … aku hanya ingin kenalan saja, kok. Serius, nggak ada maksud lain," Gwen membela diri.
"Bohong! Aku lihat mencubitnya," sahut seorang anak laki-laki gendut yang ikut campur dalam keributan itu.
"Woy, ahh ajak gelud ini bocah. Dusta! Si gendut ini berbohong, aku tidak mencubitnya, beneran!" kekeh Gwen.
"Haduh, ini Aisyah kemana, sih?" gumamnya.
Semuanya menghakimi Gwen. Orang dewasa juga yang tidak tahu apa yang terjadi malah menyalahkan Gwen karena tampil Gwen yang seperti anak jalanan.
Mendengar ada keributan di luar, Aisyah dan Ayanna keluar dari toko. Toko baru tersebut milik Ayanna sendiri.
"Ada apa ini? Bapak-bapak, ibu-ibu semuanya?" tanya Ayanna bingung.
"Ini nih, anak jalanan ini mencubitnya. Gadis kecil yang malang, dia yatim piatu. Eh, malah nih anak menghinanya karena tidak memiliki ayah," ujar salah satu pedagang tersebut.
"Lihatlah, siapa orang tua dari anak ini. Pasti tidak mendidiknya dengan benar. Pasti orang tuanya juga malu memiliki anak seperti dirinya!" desis Ibunya Bella.
"Jangan bawa orang tuanya dong, Bu. Kita ngga tau apa yang dilakukan anak ini kepada anak ibu sebenarnya. Kita tanya anaknya baik-baik," tutur Ayanna.
"Neng Ayanna juga pernah nakal, 'kan? Orang tua neng Ayanna saja dulu sampai ngeluh, bagaimana dengan anak jalanan ini?" sahut pedagang tersebut.
Ayanna keras terintimidasi, ia marah jika ada orang yang menyenggol orang tuanya. ketika Ayanna ingin menyangkal pedagang tersebut, Gwen sudah berteriak lebih dulu.
"Cukup!"