Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Kepolosan Gwen



Setelah santri itu pergi, Gwen segera memuntahkan makanan yang masih tersangkut di mulutnya. Segera berkumur dengan air es agar racunnya tidak menyebar. 


"Makanan ini, aku harus segera mengirimkan kepada orangku," gumam Gwen sambil membungkus kue yang dari santri itu. 


"Aku yakin santri itu di ancam atau mungkin hanya dijadikan sebagai alat. Syifa, kenapa kamu sejahat ini? Bukankah ini hanya akan mencoreng nama baikmu dan keluargamu jika ketahuan?" batin Gwen. 


"Halo, datanglah ke rumah. Ambil sampel makanan yang aku berikan kepadamu. Bawa segera ke lab untuk di uji coba. Markas harus selalu terkunci, dengar?" perintah Gwen kepada orang kepercayaannya. 


Hari itu, Gwen benar-benar dibuat waspada oleh kelakuan Syifa. Akan tetapi, ia tak ingin membuat Agam terlibat dalam masalah itu. Tak ingin sangat suami terjebak dalam kejahatan yang Syifa lakukan. 


Sebelum gelap, Gwen menerima laporan tentang siapa Syifa, bagaimana latar belakang keluarganya dan juga semua hutang yang dimiliki oleh pesantren kepada orang tua Syifa. 


"Hm, tak salah lagi. Di balik suksesnya keluarga Syifa. Dia terlibat dengan pengkhianat negara. Ini tidak bersih, aku harus meyakinkan kembali orang tuanya," Gwen menyeringai, ia mengetahui sesuatu yang asik untuk ia mainkan. 


"Paman Chris, akhirnya kau datang. Besok temani aku ke rumah orang ini, aku ingin membuat perhitungan padanya!"


"Paman, aku hanya ingin membantu suami dan kakak ipar saja! Tidak ada yang lain!"


"Iya aku tau, tidak ada nyawa melayang kali ini. Kasihan suamiku, menanggung dosaku nantinya," 


"Iya aku mengerti, siapkan uang yang aku butuhkan juga, oke?"


"Paman Chris, ayolah!"


"Oke, selamat sore."


Gwen memang tidak suka mengambil keputusan dengan gegabah. Apa yang akan dilakukannya pasti sudah dipikirkan secara matang-matang. Terlebih lagi, ia sudah mulai berubah dari Gwen yang dulu. 


Malam hari, Agam kembali membawa makanan dari pengajian. Agam menanyakan apa yang dilakukan oleh istrinya saat dirinya ada pekerjaan di luar kota. Gwen menjawab, "Aku merasa kesepian, tak bisakan meminta salah satu santri untuk menemaniku di sini, Mas?" rengek Gwen dengan manja. 


"Boleh, dong. Kamu pilih saja dari pesantren. Nanti Mas yang akan meminta izin kepada Mas Khalid. Ada lagi?" 


"Aku ingin kerja," sambung Gwen. 


"Begitu kesepiannya ya, Dek? Bahkan kamu sampai meminta izin untuk bekerja?" tanya Agam sedikit kecewa. 


"Tapi kalau tidak boleh, aku tidak memaksa. Hanya saja ... ada satu yang mungkin akan bisa menggantikan kata bekerja itu," celetuk Gwen. 


"Apa itu?" tanya Agam polos. 


Tatapan mata Gwen menjadi tajam, sesekali memainkan alisnya naik turun. Memberi kode dengan kode yang sama saat dirinya hendak meminta anak kepada suaminya. Agam langsung peka dan kemudian pipinya memerah. 


"Dek--" sebut Agam dengan lembut. 


"Dalem, Mamas ... Ayo!" Gwen begitu semangat jika sudah menggoda suaminya. 


Gwen memalingkan pandangannya dengan kesal. "Ck, masih saja ditanya!" serunya.


"Menjadi seorang ibu itu tidak mudah. Mas hanya tidak tega saja jika nantinya kamu akan merasa tertekan karena belum ada kesiapan," tutur Agam. 


"Semuanya kan akan berjalan sesuai dengan alur dari Allah, Mas. Siap nggak siap kalau udah di kasih, ya kita bisa apa?" cetus Gwen. 


Agam meraih tangan istrinya, menggenggamnya dengan erat. Kemudian membisikkan, "Jika mau ... bilang aja mau, minta baik-baik. Nggak usah ngode," 


Gwen langsung menatap suaminya. "Memangnya Mas mau?" tanyanya dengan polos. Dengan pelan, Agam mengangguk. Menyentuh kepala istrinya dan mengatakan bahwa dirinya akan memberikan apapun yang diminta oleh istrinya selagi dirinya mampu. 


Malam itu, malam yang syahdu bagi pasangan ini. Memadu kasih dan berharap segera memiliki momongan. Setelah selesai, mereka langsung mensucikan diri dan membahas masalah Ustadz Khalid yang akan menikah beberapa hari lagi. 


"Teh hangat buat, Mas," kata Gwen memberikan segelas teh hangat untuk suaminya. 


"Terima kasih, ya---" ucap Agam. 


Gwen duduk di samping Agam yang saat itu duduk di karpet lantai di kamarnya. Hendak menanyakan masalah Syifa kepadanya. 


"Mas," 


"Dalem,"


"Aku mau menentang dan membatalkan pernikahan Ustadz Khalid dan si beruk itu!" seru Gwen tanpa basa-basi. 


Uhuk, uhuk, uhuk.... 


Agam sampai tersedak kala meminum teh hangatnya. Bagaimana tidak, Gwen langsung mengatakan tujuannya. 


"Eh, bisa-bisanya tersedak air," Gwen menjadi panik. 


Agam menatap istinya dengan keheranan. "Dek, kamu sehat, 'kan?" tanya Agam. Niatnya menggoda, tapi Gwen malah sudah merajuk duluan. "Mas Agam ngatain aku gila?" kesal Gwen. 


"Astaghfirullah hal'adzim, bukan seperti itu maksud, Mas. Tapi kamu tiba-tiba bilang begitu, Ma pikir kamu belum kembali dari alam lain saat kita anu tadi," suara Agam menjadi sedikit pelan. 


"Ih, aku serius, Mas. Aku menentang pernikahan mereka. Aku akan mengganti calon mempelai wanitanya!" seru Gwen. "Lalu, aku akan meminta mempelai wanita memakai cadar. Menculik Syifa dan sete--" belum juga Gwen menjelaskan sampai akhir, Agam sudah tertawa hingga berbunyi ngik-ngik. 


"Ih ... kok, ngetawain, sih!" kesal Gwen. 


Agam masih belum berhenti tertawa. Sampai akhirnya Agam bisa menjelaskan mengapa dirinya tertawa. "Dek, kamu pikir kita di Negara bagian mana? Sepertinya, kamu kebanyakan nonton drama china tema kerajaan deh," kata Agam masih menahan tawanya. 


"Jika kamu bisa mengganti mempelainya, maka pernikahan tidak akan sah. Sebab, nama dan bin-nya tetap nama Syifa. Terus, yang ada nanti kamu akan dipidana, ini Negara hukum, Bu Bos ...." lanjut Agam menyentil hidung mancung Gwen. 


Gwen berpikir kembali, ia baru mengerti apa yang dijelaskan suaminya mengenai hukum. Jadi, ia harus memikirkan rencana lain agar bisa membatalkan pernikahan Ustadz Khalid.