Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Malam Berbalut Kasih



"Aku butuh bantuanmu. Kirim uang ke rekening yang Aku kirimkan baru saja. Aku akan menggantinya lebih dulu padamu," ucap Chen melalui teleponnya. 


"Baik, Tuan. Aku akan transfer sekarang."


Tak lama kemudian, Dihiasi mengirim bukti transfer kepada Chen. "Nih, buktinya. Kirim segara ke nomor pria menyebalkan itu!" ketus Chen memberikan ponselnya padanya. 


Lin Aurora bingung mencari kontak dirinya di ponsel suaminya. Sampai pada akhirnya, Lin Aurora sadar jika nomornya belum di save oleh suaminya sendiri. Hanya ada lima nomor saja di kontak ponsel suaminya. 


"Kamu tidak pernah menyimpan nomorku?" tanya Lin Aurora. 


Chen langsung mengggeleng. 


"Tega sekali. Aku istrimu, bagaimana bisa kamu tidak menyimpan nomor istrimu sendiri?" lanjut Lin Aurora. 


"Kita setiap hari bertemu, terkadang juga berpisah masih ada nomor rumah yang bisa aku hubungi. Jadi buat apa lagi aku menyimpan nomormu?" 


Mendengar alasan dari suaminya membuat Lin Aurora menjadi kesal. Setelah mengirim bukti transfer itu kepada Tuan Zi, Lin Aurora pun langsung merebahkan tubuhnya ke ranjang, dimana sebelumnya ia ingin meminta maaf karena telah membuat suaminya marah padanya. 


Kini, sebaliknya Lin Aurora yang merajuk dengan Chen. Chen pun masih belum peka terhadap istrinya, malah dengan percaya dirinya, menanyakan ada apa kepada istrinya. 


"Ada apa? Baru saja aku merajuk, dan kamu masih bertanya ada apa? Sebenarnya aku ini memiliki arti apa bagimu?" Lin Aurora meraih ponselnya sendiri, dan pergi keluar meninggalkan Chen. 


BLAM!!


Suara pintu di banting. Begitu keras Lin Aurora membanting, hingga Tuan William yang ada di ruang baca. Meski begitu, Chen masih saja cuek. Dia hanya memutar bola matanya dan kembali membaca.


"Apa ini? Kenapa dia suka semaunya sendiri? Ganti uang ya ganti saja, kenapa harus begitu, sih? Menyebalkan!" 


Lin Aurora turun dan duduk di kursi rotan depan kolam renang. Dia memainkan ponselnya dan meminta saran kepada Aisyah, untuk membuat Chen kembali baik padanya. Sebab, meski Chen cuek, dulu Chen selalu tersenyum meski itu hanya sebentar. Tapi, setelah Chen mengetahui bahwa Lin Aurora bekerja sebagai office girl di perusahaannya yang jarang dia kunjungi, selalunya memasang wajah masam dan cueknya baik tingkat.


"Lin~" 


Tuan Wang memanggil Lin Aurora dengan suara beratnya. Lin Aurora menoleh, "Ayah mertua. Anda ...." begitu malunya Lin Aurora karena terus mengumpat tentang suaminya. 


"Apa Chen membuatmu marah?" lanjut Tuan Wang bertanya. 


Tak bisa menjawab, Lin Aurora hanya menggeleng. Ketika Tuan Wang hendak bertanya lagi, ponsel Lin Aurora berdering. "Um, Ayah, Lin menerima telepon. Bolehkan, Lin menjawab dulu?" 


Tuan Wang mengangguk. Lin Aurora keluar dan segera menjawab teleponnya. Penelpon itu adalah Tuan Zi. Menanyakan, "Bukti transfer itu, apakah dari kakakmu?" 


Lin Aurora menjawab, "Benar, Tuan Zi. Kebetulan, kakakku menelpon. Dan aku menceritakan semuanya. Jadi, kakakku ingin mengganti secepatnya," 


Tuan Zi berterima kasih akan itu. Tapi, ia menjadi sedikit kecewa karena merasa tidak ada alasan lagi untuk mendekati Lin Aurora. Tuan Zi menyukai Lin Aurora sejak pertama berjumpa. 


"Nona Lin, apakah aku boleh minta tolong?" tanya Tuan Zi. 


"Besok, adalah hari ulang tahunku. Selama 15 tahun terakhir, aku sudah tidak pernah merayakan ulang tahunku. Maukah kamu menemaniku menghabiskan waktu? Besok aku akan membantumu cuti, bisakah?" 


Permintaan Tuan Zi membuat Lin Aurora meradang. Bagaimana bisa Lin Aurora menemani pria, sedangkan dirinya sudah memiliki suami. Akan tetapi, jika Lin Aurora mengungkapkan jati dirinya, maka identitasnya di kantor akan diketahui oleh semua orang. Bisa saja, orang dari Ayahnya akan menargetkan kejahatan lain ke perusahaan tersebut. 


"Ayahku gila harta dan buta akan dendam. Jika aku mengatakan siapa aku, maka bisa jadi perusahaan itu akan di usik oleh Ayahku. Banyak karyawan yang akan menjadi korbannya," gumam Lin Aurora dalam hati.


"Tidak! Aku akan mencari cara untuk menolaknya besok,"


"Kita lihat besok, Tuan. Saya harus, memikirkannya lagi. Um, selamat malam dan terima kasih atas pertolongan Tuan sore tadi," 


Lin Aurora menutup teleponnya. Tak lama kemudian, dia mendapat pesan dari Lin Jiang, jika Ayahnya, Tuan Natt, memiliki niat buruk di acara resepsi nantinya. 


"Kakak, aku akan serahkan semuanya kepadamu. Aku akan menjaga keluarga suamiku dari sini. Terima kasih informasinya." -, pesan balasan dari Lin Aurora. 


Tak lama kemudian, datanglah Chen membawakan mantel untuk istrinya yang berdiri di halaman rumah. "Semakin malam, udara semakin dingin. Pakailah mantelmu, jika kau sakit, aku ikut repot," katanya dengan memakaikan mantel tersebut. 


"Kau mengkhawatirkan aku?" tanya Lin Aurora semangat. 


"Dalam mimpimu!" jawab Chen dengan ketus. 


"Hish, kenapa kau datang ke sini? Bukannya kau sedang marah padaku? Apa kau sudah memaafkanku?" kembali Lin Aurora tidak sabaran jika di dekat suaminya. 


Chen memutar bola matanya. Kemudian berjalan perlahan, membelakangi istrinya dengan kepala mendongak ke atas. "Ternyata udaranya sejuk juga," ucapnya. 


"Benar!" sahut Lin Aurora. "Apakah kau ingin jalan-jalan sebentar ke luar? Jika, iya ... mari, kita jalan bersama!" 


Sebelum mengangguk, Chen menatap dulu Lin Aurora. Di terangi oleh rembulan malam, wajah Lin Aurora begitu bercahaya di pandangan Chen. Wajah yang bulat, hidung yang kecil dan mata sipit Lin Aurora terlihat sangat menawan. 


Perlahan, Chen mulai terbuai. Ia menyentuh pipi istrinya. Di dekati wajah istrinya, dengan tatapan yang dalam. Hampir saja bibir keduanya saling bertaut, Chen tersadar  kemudian menggoda istrinya dengan menipu wajahnya. 


"Apa yang kau pikirkan?" tanya Chen. 


"Kupikir ... kau akan--" Lin Aurora mengigit bibir bawahnya. 


"Pikiranmu sangat kotor. Masuklah, cuacanya sudah semakin dingin. Aku tidak ingin masuk angin!" Chen mengajak istrinya masuk. 


Gurauan Chen, harusnya di terima sebagai candaan juga. Namun Lin Aurora, sudah terbawa perasaan, sehingga dirinya harus nekat bertindak. 


"Chen--" Lin Aurora menahan tangan Chen. 


"Ada apa?" 


"Aku mencintaimu," ucap Lin Aurora, kemudian mengecup bibir suaminya. 


CUP!


"Aku tahu kau belum bisa membalas cintaku. Tapi aku percaya, jika suatu saat nanti, kau bisa mencintaiku dengan tulus. Setelah masalah Ayahku, bisakah kita hidup sederhana tanpa ada campur tangan dunia Mafia, Chen?" 


Mata Chen masih masih menatap wajah Lin Aurora. Keinginan sederhana Lin Aurora, ternyata bukan hanya dia saja yang menginginkannya. Chen juga menginginkan hidup yang biasa saja. 


"Baiklah, mari kita masuk!" giliran Lin Aurora yang menarik tangan Chen.


Saat Lin Aurora melangkah, Chen manrik tangannya, kemudian memeluknya dan mencium bibirnya. Mata Lin Aurora membelak, sekian lama, Chen baru bisa sedekat itu dengannya. 


"Di-dia ... berinisiatif?" batin Lin Aurora. "Dia, me-menciumku?" 


Di bawah indahnya rembulan malam, Chen dan Lin Aurora berciuman dengan pelukan mesra. Di kamar atas sana, Jovan melihat Chen dan Lin Aurora sedang berciuman. 


"Heh, mereka ini memang susah di tebak. Sebentar bertengkar, sebentar pula berbaikan. Bahkan ciuman di bawah langit saja tak malu? Cih, menyebalkan!" kesal Jovan.