Triplets' Last Mission.

Triplets' Last Mission.
Masih Di Penginapan



Kembali Jovan menelponnya. 


"Apa sih ini anak? Kenapa mengganggu saja, aku sedang bekerja!" kesal Chen. 


"Ada apa lagi?" tanyanya. 


"Chen, apa kau menemukan istrimu? Baru saja aku melihat Tuan Zi, dia membeli bahan makanan juga. Apakah malam ini, Tuan Zi dan istrimu akan makan malam bersama?"


"Aku telah menemukan kelinciku. Mungkin, malam ini aku memakan kelinciku ini dengan lahap. Dia telah di curi oleh rubah jantan yang menyebalkan, beruntung saja aku sudah menemukannya," jawab Chen. 


"Kurasa otakmu memang sudah tidak waras. Sudahlah, aku akan segera memasak untukmu. Aku sudah membeli semuanya. Mungkin setengah jam lagi aku akan sampai di penginapan,"


Jovan menutup kembali telponnya. Lin Aurora tahu jika kelinci yang dimaksud oleh suaminya itu adalah dirinya. Tatapan tajam Chen juga membuat Lin Aurora mati gaya. 


Suasana menjadi hening kembali. Jika bekerja, Chen memang tidak bisa di ganggu. Sampai pada akhirnya, Chen pun memulai percakapan dan suasana menjadi berubah. 


"Aku marah, tapi kamu tidak membujukku?" tanyanya.


"Chen, ah tidak! Suamiku, aku tidak tahu jika Kak Zi ...." ucapan Lin Aurora terhenti kala Chen menatapnya dengan sinis, di saat dirinya menyebut Tuan Zi dengan sebutan kakak. 


"Maksudku Tuan Zi. Mengajakmu ke pegunungan seperti ini. Aku pikir, dia mengajakku makan saja di tepi Kota dengan menikmati alam. Ternyata, saat kita ingin kembali, malah hujan," jelas Lin Aurora dengan menunduk.


"Aku benci dengan orang yang membohongiku. Sejak kecil aku sering sekali di bohongi dan itu rasanya sangat sakit," ungkap Chen. 


"Jika kamu tidak bahagia bersamaku, kamu bisa pergi meninggalkan aku. Aku tidak ingin membuatmu selalu terkurung dalam belenggu cinta yang tak sehat ini," ucap Chen dengan lirih.


"Aku tidak bisa terus-terusan menyakitimu, hanya karena aku dendam kepada ayahmu. Lin Aurora, Aku memiliki dua adik perempuan dan juga dua Ibu, jika aku menyakiti hatimu, maka sama saja aku menyakiti mereka," 


"Aku tidak ingin sampai ada wanita yang aku sayangi terluka. Sebelum rasaku tumbuh, kau bisa meninggalkan aku, jika kau tak bahagia hidup bersamaku." tukas Chen kembali memijat ponselnya. 


Lin Aurora menatap suaminya dengan tatapan yang penuh cinta. Dia tidak mungkin tidak bahagia bersama dengan Chen. Sebab Chen lah, Lin Aurora tahu dunia yang sebenarnya itu seperti apa. Lin Aurora meraih tangan Chen, kemudian menggenggamnya. 


"Aku selalu bilang, aku mencintaimu. Apakah kamu tidak bisa berusaha mencintai diriku juga? Apa kau tidak bisa membuka hati untukku?" tanya Lin Aurora.


"Apakah wanita bernama Puspa itu, jauh lebih baik dariku. Jika iya, aku akan belajar darinya, supaya kamu menyukaiku juga," lanjut Lin Aurora dengan menggebu-gebu. 


Chen menatap mata sang istri. Kemudian dia menggelengkan kepala. Kembali menatap layar ponselnya. Saat itu, Lin Aurora baru tahu jika dagu Chen terluka dan memiliki lebam. 


"Apa ini? Kamu terluka? Bahkan ada lebam juga di dagumu. Apa kau terjatuh, Chen?" tanya Lin Aurora menyentuh dagu suaminya.


"Shh," 


"Sudah tau luka, malah di pencet segala," desis Chen. 


"Aku akan tutup lukamu dengan plester. Tunggu sebentar, aku akan mengambilkan untukmu!" 


Lin Aurora membuka tasnya, kemudian mengambil satu plester untuk suaminya. Ketika hendak memasang plester, wajah Lin Aurora dan Chen saat itu memang begitu dekat. Chen mampu melihat wajah cantik istrinya dari dekat. 


Mata yang indah dengan bibir yang tipis itu membuat Chen terpana. Tanpa berpikir lagi, Chen meraih tengkuk Lin Aurora dan mencium bibirnya. Mata Lin Aurora membelak, ia terkejut tiba-tiba saja Chen menciumnya. 


Bukan hanya sekedar menempelkan bibir, Chen bahkan memainkan bibirnya itu. Kemudian, melepasnya dengan perlahan. "Aku tidak suka melihatmu pergi dengan pria lain," ucapnya. 


"Bahkan dengan Jovan pun, aku tidak suka kalian pergi berdua," sahut Chen. "Hanya aku yang boleh menemanimu pergi kemana saja, paham?" tegas Chen. 


Lin Aurora pun mengangguk-angguk. Tiba-tiba saja, Chen menyentuh pinggang Lin Aurora dan membuatnya semakin terkejut. Air dingin yang sebelumnya memang di siapkan oleh Lin Aurora mengompres lebam Chen, malah Chen gunakan untuk membasahi tangannya, kemudian memegang pinggang ramping milik istrinya.


"Shh, Chen__" 


"Kamu cantik jika sedang seperti ini. Tak bisakah kau selalu masang wajah seperti ini di depanku?" Chen mulai terbuai.


"Jangan seperti ini. Airnya dingin sekali, bagaimana jika aku sakit?" protes Lin Aurora tersipu malu. 


Chen tersenyum. "Jika kau sakit, maka aku yang akan menyembuhkanmu di atas ranjang. Mau coba?" bisik Chen. 


"Kau ini, jangan seperti ini. Tanganmu menyentuh apa, Chen!" 


Kemesraan itu hilang ketika ada seseorang yang mengetuk pintu. Segera Chen menurunkan tubuh sang istri memintanya untuk membuka pintunya. 


Orang itu adalah Tuan Zi. Dia membawakan bahan makanan untuk Lin Aurora dan beberapa camilan untuknya juga. Masih dengan membuka pintu setengah saja, Tuan Zi pun menanyakan, "Wajahmu kenapa merah seperti itu? Apa kamu baik-baik saja? Kamu tidak sakit, 'kan?" 


"Um, ini ... ini karena, aku sedang menggunakan masker. Iya, masker kecantikan," jawab Lin Aurora gugup.


"Oh, aku pikir kamu sedang sakit. Baiklah jika begitu, kamu makan ya. Besok pagi-pagi sekali, aku akan mengantarmu pulang. Hari ini, aku sudah mengambilkan cuti dua hari untukmu," kata Tuan Zi memberikan kantong plastik yang berisikan makanan ringan dan juga minuman soda. 


"Terima kasih, Kakak Zi. Selamat istirahat untuk, Kak Zi," Lin Aurora tersenyum kepada Tuan Zi. Hal itu membuat Chen kesal. 


"Kamu juga, selamat istirahat. Sampai berjumpa besok pagi." Tuan Zi akhirnya pergi. 


Perlahan, Lin Aurora menutup pintunya. Ketika berbalik, ia terkejut Chen sudah ada di belakangnya dengan melipat tangannya. Terlihat jelas di wajah Chen, jika dirinya sedang kesal. 


"Kau tersenyum padanya?" tanya Chen dengan ketus. 


"Iya, karena memang harus begitu. Kenapa memangnya?" jawab Lin Aurora.


CUP!


Kembali Chen mengecup bibir istirnya. "Akan ada satu kecupan untuk satu senyuman kepada pria lain. Jadi, kamu jangan macam-macam. Jika lebih dari tiga kecupan, maka ...." tatapan Chen ke tubuh Lin Aurora bagian bawah. 


Seketika, Lin Aurora langsung menutupi bagian daada dan bawahnya. "Kemana matamu dan otakmu berada, Chen?" 


"Kau sudah tahu jawabannya. Jadi, untuk apa aku menjawab? Ayo, buka! Dia membawakan apa saja untuk kita makan," Chen langsung mengalihkan pembicaraan.


Bukan hanya mengalihkan pembicaraan, Chen juga merebut kantong plastik berisikan makanan itu dari tangan istrinya. 


"Kau tidak mau membuangnya?" tanya Lin Aurora.


"Apa kau pikir aku bodoh? Ini makanan yang tidak harus mengeluarkan uang. Untuk apa aku membuangnya. Lihatlah, dia membelikan kita minuman juga. Haih, aku sungguh haus sejak tadi." 


Lin Aurora tidak bisa menebak apa yang diinginkan oleh suaminya. Sebentar baik, sebanyak marah dan sebentar lagi terlalu protektif padanya. Hal itu membuat Lin Aurora bingung dengan sikap suaminya..